Senin, 28 Desember 2009

Tomorrow Never Knows*

"God-doesn't-believe-in-the-easy-way."

(A Death in the Family, James Agee)
Saya dan resolusi:

Tahun depan, saya harap cita-cita saya tercapai untuk… Saya ingin menjadi…. Saya ingin melakukanSaya ingin membuat…. Sehingga saya akan… Orang-orang akanSaya akan memiliki… Punya banyak… Bisa melakukan apa saja, termasuk… Dengan begini maka… Selain itu juga… Saya bisa menunjukkan pada semua orang bahwaSaya harap saya akan… Melihat semuanya berubah menjadi… Negara ini menjadi… Semakin… Saya harap dapat… Lebih baik, lebih banyak… Terwujud suatu keadaan yang… Tidak ada lagi… Bersih dariTerbebas dari segala bentukSehingga bisa menjadiyangdan… Agar untuk selamanya kita telah benar-benar… Lalu di dunia yang luas ini akan tercipta… Tidak adaSemua orang saling… Semuanya… Dimana-mana… Semakin banyak yang… Sehingga tak satupun kita temui di wajah mereka… Seperti yang biasa terjadi di… Semuanya… BetapaDan kehidupan ini akan menjadi lebihUntuk kita semua, selamanya, siapapun kita, apapun agamanya, negaranya, latar belakangnya, yang jelas kita semua… Dan demi waktu, saya akanmemberikan semuanya untukAgar kelakSaya berusahasehinggamenciptakanmenghasilkanmerubahmemenangkansehingga hidup saya akanakanakanakan… “

HIJKLMN:

“Resolusi, apa itu berasal dari dalam mimpi atau dari dalam TV?

*Taken from a song with the same title by The Beatles, written by John Lennon/Paul McCartney from the album "Revolver" (1966)

Minggu, 27 Desember 2009

Thank You, Mr. Guttenberg!

"Books are the blessed chloroform of the mind."

(Robert Chambers)

Waktu saya memasuki pintu kota yang tinggi dan bersinar di mana di dalamnya ramai oleh suara hingar-bingar orang-orang yang berteriak, bercekikikan, dipadu dengan suasana gemerlapan yang telah membawa kota ini menuju masa depannya, menuju cita-citanya dari sejak Daendels menancapkan sebuah kayu di tanah yang kini telah dilapisi oleh aspal sebagai alas dari semua peradaban yang lahir di tempat ini, entah kenapa tiba-tiba saya kembali mengingat suatu hari (lupa persisnya) di mana saya, di bawah pengaruh kebosanan, memutuskan untuk membolos kuliah. Sendirian. Di dalam mobil. Menghabiskan waktu tidur di tempat parkir. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Merokok, merokok, merokok. Tidak tahu harus pergi ke mana. Diam. Memperhatikan tahi burung berjatuhan di kaca depan mobil. Bergulat dengan rasa malas. Suntuk. Bingung. Bosan. Jengkel. Dan akhirnya kuputuskan pergi meninggalkan area kampus menuju ke toko buku. Tanpa alasan khusus.

Keputusan ini menggambarkan bahwa semuanya terjadi di luar kehendak bebas. Seperti semacam perjudian, yang penting pergi, kemanapun tidak peduli. Karena toko buku tidak pernah menjadi tempat yang benar-benar saya niatkan untuk kunjungi (dibandingkan dengan toko kaset secondhand atau tempat penjualan DVD bajakan kala itu) kecuali bila memang saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan berada di dalam mobil yang mesinnya menyala. Dan itulah yang terjadi.

Saya tidak mengharapkan apa-apa di toko buku, hanya sebuah suasana baru saja (pelarian mungkin?), sekedar berkeliling melihat-lihat, mengingat-ingat bahwa kira-kira sudah lama sekali terakhir kalinya saya berada di sana atau mungkin saya sudah lupa. Tidak ada yang berubah. Buku-buku di mana-mana. Disimpan di tempat-tempat yang tersebar untuk membedakan mana buku untuk anak-anak mana yang bukan, mana yang komik mana yang bukan, mana yang berbahasa Indonesia mana yang bukan. Dalam beberapa menit mungkin sudah seribu buku yang mampir ke jarak pandang saya. Tidak ada niat untuk membeli karena saya “buta” terhadap buku, dan karena alasan itulah ketika sudah puas mondar-mandir di toko buku dan memutuskan untuk keluar, saya tertarik pada cover sebuah buku yang menggambarkan sosok Adolf Hitler di atas mimbar dengan sebuah sasaran tembak di sekitar kepalanya. Entah mengapa di mata saya cover itu begitu menarik dan mendorong saya untuk membelinya. Dan sejak itu dimulailah pengalaman saya terhadap dunia buku yang lucunya justru diawali dengan melanggar norma utama yang sangat populer: “Don’t judge a book by its cover!”

Buku tersebut berisi tentang persekongkolan di tubuh Nazi untuk menggulingkan dan membunuh sang der fuhrer yang ternyata menemui banyak kegagalan dan menjadi bumerang yang fatal. Kisah tersebut disajikan dengan menarik dan berhasil membawa suasana menegangkan di kamar pribadi saya. Di sini saya menemukan bagaimana kata-kata bila ditautkan satu sama lain, dibumbui dengan beberapa tanda baca, disatukan dalam sebuah kalimat yang membentuk paragraf, dapat mempengaruhi (mengaduk-aduk) perasaan dan pikiran saya dengan caranya yang khas. Terus terang ini pengalaman baru. Dan yang lebih hebat lagi membaca buku dapat memicu mesin-mesin imajinasi saya untuk bekerja, berkembang, tumbuh, berkelana, bahkan menjadi liar. Dari situ dimulai segala macam impian yang muncul, cita-cita, dan harapan yang mungkin diantaranya terkesan naïf, mengada-ada, atau juga terlalu besar untuk ukuran tubuh saya. Semuanya yang belum pernah terpikirkan sebelumnya tiba-tiba hadir, mengetuk pintu kesadaran saya untuk memeperlihatkan wujudnya yang nyata.

Dimulai dari buku non-fiksi pertama itu, selanjutnya berujung pada buku-buku sejenis dengan tema-tema berbeda yang berkisar pada sosial, politik, filsafat, dan ideologi -terutama karena ada sebuah penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku seperti itu sebagai bagian dari jargon perlawanan mereka terhadap kehidupan modern (sebut saja kapitalisme) dengan judul yang menarik dan, tentu saja, cover yang atraktif. Mulailah saya melatih untuk membuka mata saya terhadap kehidupan sosial, kehidupan bangsa ini yang sering diurapi oleh berbagai balsam intrik yang “panas” dan kadang “menyakitkan”, mengajari saya bahwa berkata “tidak” adalah bagian dari kebijaksanaan, menjejali otak saya untuk selalu kritis, untuk berani melawan dan mempertanyakan “segala hal yang diterima apa adanya sekarang”, untuk tidak ragu-ragu menentang arus, dan yang lebih penting belajar untuk lebih lunak terhadap kata hati yang berteriak. Walaupun dengan banyaknya referensi ini sempat menyiksa saya dalam mengadaptasi berbagai sudut pandang yang diberikan terhadap semua hal, termasuk hidup, lingkungan dan diri saya sendiri, karena terkadang begitu kontradiktif dengan apa yang terjadi, dengan norma-norma ataupun kebiasaan mayoritas, namun kesadaran akan banyaknya pilihan dalam hidup ini serta banyak kesempatan untuk menyatakan “diri” di tengah kehidupan lain, memberi saya kekayaan tersendiri di dalam jiwa. Pengaruh dari buku-buku tersebut terlihat secara gamblang dari gambar siluet Che Guevara di tembok kamar dan sikap skeptis saya terhadap beberapa (hampir semua) hal, terutama dunia pendidikan.

Setelah kenyang dengan membaca dan membeli buku-buku non-fiksi (yang memberi saya masukan tentang susahnya hidup yang juga berarti susahnya berkompromi dengan berbagai kepala namun di sisi lain, penting sekali untuk mempertahankan idealisme), rasa lapar lain tumbuh menguasai perasaan saya. Dipicu ketika keinginan untuk membeli buku baru tidak didukung oleh keberadaan buku di toko-toko buku yang berhasil memancing perhatian uang di dompet. Sepertinya semua buku hanya mengulang dan membahas tema-tema yang sudah-sudah. Saya berkeliling dan tidak menemukan apa-apa. Pulang dengan tangan kosong. Didorong oleh rasa kecewa ditambah rasa penasaran saya mencari tahu lewat internet mengenai buku apa yang pantas untuk dibaca. ”The best books of all time”, lalu muncullah daftar seratus novel terbaik versi majalah TIME dan inilah awal perkenalan saya dengan dunia fiksi.

Buku fiksi memberikan jutaan warna baru, sampai ke bentuknya yang tidak terbayangkan, ke dalam diri saya. Seni bercerita yang dituangkan dalam buaian kata dan makna goresan para monster sastra berhasil memeperluas cakrawala saya mengenai kehidupan serta keunikan pribadi manusia dalam menjalani dinamika hidupnya. Walaupun berisi cerita rekaan namun “kekuatan” isinya membawa saya untuk mengarungi dunia lain di mana menjadi manusia adalah pilihan yang patut disyukuri mengingat banyaknya kemungkinan-kemungkinan serta hal-hal besar yang menanti untuk dilaksanakan. Seperti yang dikatakan oleh S.I. Hayakawa: “Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika suka membaca, kita bisa menjalani berapapun banyak dan jenis kehidupan yang diinginkan.” Dan rasanya menakjubkan menjalani pengalaman tersebut. Saat pikiran pergi mengarungi berbagai tempat tanpa batas, melampaui ruang dan waktu.

Saya mengakui saya merasa menjadi seseorang yang lebih baik ketika mengenal buku. Ada banyak hal yang telah selama ini saya percaya ternyata tidak selamanya benar. Ada banyak hal dalam hidup ini yang telah saya ketahui sebelum saya melihatnya. Ada banyak hal yang menunggu di luar sana di dunia ini. Ada banyak hal yang tak terjamah namun dapat dengan mudahnya diraba-raba lewat beribu aksara. Ada banyak hal yang saya sadari tentang siapa saya dan cara untuk menertawakannya. Intinya (atau secara klise), ada banyak hal yang saya tahu.

Saya menemukan banyak cita-cita yang telah dilupakan atau tidak terpikirkan sama sekali. Saya menemukan bahwa apa yang telah menyebabkan kita, bangsa ini, menjadi seperti sekarang, seperti “Indonesia” adalah angka minat baca. Seberapa sering kita terjerembab dalam lubang-lubang dan berdiri statis memperhatikan yang lain berlari melewati kita berkali-kali? Seberapa sering kita duduk dan merencanakan sesuatu yang merupakan pengulangan dari apa yang telah dilakukan negara lain? Dan apakah kita terpacu untuk mengambil bagian dalam sejarah dunia? Sejarah peradaban? Peradaban paling mendasar antara kita, si pencemburu, dan negara lain yang kita cemburui adalah tingkat kebutuhan terhadap buku. Ya, minat baca.

Maka ketika saya memasuki pintu kota tadi lalu berdiri di dalamnya memperhatikan suara hingar-bingar dan cekikikan, saat itulah saya menyadari bahwa kita semua tidak cukup kuat untuk memperkaya jiwa kita dengan baik. Yang terjadi selama ini adalah tubuh, tubuh, selalu tubuh, dan semua tentang tubuh. Tentang apa yang bisa dipenuhi oleh tubuh dari yang alami sampai yang paling musykil sekalipun. Sehingga yang dihasilkan hanyalah suara-suara ini, suara-suara teriakan tanpa nada dan kedalaman, tanpa makna dan irama, hanya teriakan keras yang melolong ke langit-langit meminta sesuatu yang tidak dibutuhkan. Yang terdengar hanyalah suara-suara sengau. Mungkin apabila kita mau belajar untuk bernyanyi, mengisi jiwa kita dengan solmisasi, kita bisa memenuhi udara ini dengan impian masa depan yang lebih nyata. Dan kita akan benar-benar berterima kasih pada tuan Johannes Guttenberg karena telah melahirkan mesin cetak ke dunia ini.

Sabtu, 26 Desember 2009

Persona



"Gossip is the Devil's radio."

(George Harrison)
Bullshit! Itu kata-kata yang terngiang pertama kali di dalam pikiran saya ketika mencerna sebuah berita, atau apapun, dari infotainment. Tidak ada yang menarik, hanya cerita-cerita biasa yang dipoles sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang penting, hanya kabar-kabar pribadi yang disulap menjadi seolah-olah “kepentingan umum”, potret kesempurnaan manusia dalam dunia yang selalu (dan selamanya) menuntut ketidaksempurnaan lewat berkas lampu sorotnya dari atas panggung, lukisan kesenjangan kelas yang tampak sengaja dipulas oleh warna-warna yang tegas, dan ya, itu tadi, kesimpulannya adalah semuanya hanya omong kosong! Sama seperti kisah fantasi lainnya, “dongeng-dongeng” ini hanya menampilkan hiburan yang berbuntut pada angan-angan berkabut untuk menjadi bagian di dalamnya. Suatu hal yang sangat manusiawi, sesuai dengan kodratnya, bahwa kita akan selalu berusaha untuk meniru atau menyerupai orang lain. Orang lain yang terlihat lebih baik, lebih cantik, lebih sukses, lebih kaya, lebih bersinar, lebih sempurna, walaupun sayangnya, tidak lebih nyata daripada dirinya sendiri.

Itulah pencitraan dan bagaimana semuanya itu menjadi begitu menarik sekaligus menghasilkan gemerincing uang. Entah apakah di dalamnya ada unsur membodohi, mempengaruhi, memprovokasi, menjual mimpi, mempertontonkan kemunafikan atau untuk memamerkan secara terang-terangan garis pemisah antar kelas sosial, asalkan “pengemasannya” dibalut dalam nuansa berita serta jargon pentingnya suatu informasi, dan publik merasa (entah bagaimana) kebutuhan informasi-nya terpenuhi, maka semua itu tidak masalah. Tidak dipungkiri juga bahwa kenikmatan dari melahap acara seperti ini adalah keleluasaan penonton untuk menghakimi objek berita, atau sebut saja imej kesempurnaan, dengan kapasitasnya masing-masing sehingga mereka merasa cukup memenuhi syarat untuk menilai semuanya. Untuk menilai suatu kebaikan atau keburukan terhadap berita yang kebenarannya masih menunggu di balik kamera (bahkan kebenaran adalah satu-satunya hal yang tidak perlu khawatir keberadaannya akan diusik oleh banyak pihak, mereka dapat tidur tenang sepanjang waktu). Untuk mendiskusikannya lalu menyebarkannya lagi melewati berbagai bahasa dan persepsi yang berbeda-beda (dan bahkan cenderung berpihak), dari satu mulut ke mulut, sebuah cerita yang isi dan akhirnya terbuka bagi siapa saja untuk memutuskan. Ini mungkin daya tarik yang tidak dimiliki oleh berita jenis lainnya, sebuah kekuasaan untuk menentukan kebenaran di tangan para penonton, karena kebenaran yang asli tidak pernah diijinkan untuk bergabung bersama-sama.

Infotainment adalah sebuah simbiosis antara dua pihak. Para pemburu berita, sebagai pihak yang mencari, menyajikan, meliput, menyebarkan, menginformasikan, dan di lain kesempatan bisa juga turut mencibir secara halus, segala hal yang menyangkut pihak kedua, yang tentu saja kita semua tahu, selebritis, lewat ulah, tindak-tanduk, perbuatan, sensasi, kontroversi, masalah, aib, gaya hidup, dan segala tetek-bengek yang melekat padanya. Selebritis adalah matahari, pusat, yang dikelilingi oleh jepretan kamera dan alat perekam. Hubungan simbiosis ini berlangsung dengan baik, menciptakan keseimbangan di antara keduanya dan dunia yang mereka bentuk. Para pemburu berita jelas membutuhkan selebritis sebagai sumber berita, dan sebaliknya selebritis juga membutuhkan pemberitaan terhadap dirinya. Semuanya berjalan harmonis, sesuai dengan “norma”, hubungan timbal-balik yang setimpal.

Tapi, seperti yang kita tahu, akhir-akhir ini tampaknya ada sedikit masalah. Sedikit masalah yang menguak fakta tentang dunia infotainment dalam negeri. Sebuah sirkus di tengah malam. Ketika dua pihak yang saling berbagi hidup ini akhirnya bersitegang dan bahkan cenderung bersikap “saling bunuh” satu sama lain. Entah siapa yang memulainya tapi perseteruan ini terkesan begitu dramatis, seperti sepasang sahabat dekat yang tiba-tiba berteriak saling membenci. Ya harus saya akui ini menjadi tontonan yang menarik ketika tiba-tiba sang selebritis yang namanya besar akibat frekuensi pemberitaan yang diberikan oleh infotainment bermusuhan dengan infotainment yang membonceng nama sang selebritis untuk meraih penonton. Pengkhianatankah? Emosi sesaat? Atau sekedar rasa muak yang selama ini tak tertahankan?

Ataukah akhirnya seseorang telah melihat tanda “Selamat Datang Realita” lalu merusak segalanya. Karena lucunya, hal ini justru dipicu oleh pengkhianatan terhadap imej kesempurnaan dengan cara beralih untuk mendalami perasaan ketidaksempurnaan manusia yang ditunjukkan lewat amarah dan kekesalan. Ini jelas-jelas telah melanggar aturan. Karena simbiosis telah retak. Karena ternyata kedua pihak tidak selamanya bisa berjalan beriringan. Karena manusia, bagaimanapun juga, siapapun juga, apapun namanya, hanya akan kesal bila segala sesuatu yang melekat padanya selama ini adalah berita omong kosong.

Mungkin pada akhirnya dia sadar bahwa simbiosis ini merupakan hal yang terlalu dilebih-lebihkan. Bahwa sebenarnya rasa saling membutuhkan kedua pihak tidak sebegitu pentingnya sehingga keberadaannya saling bergantung satu sama lain. Karena kalau dicermati apa yang menyebabkan berita-berita dalam infotainment menjadi kumpulan omong kosong adalah fenomena “keselebritisan” di dalam negeri. Apa yang menjadikan seseorang selebritis tampak terlalu mudah untuk dipahami dan untuk beberapa pertimbangan, menjadi sangat tidak adil karena kesempurnaan dalam bahasa yang mereka gunakan hanya mencakup segala sesuatu yang kasat mata. Bukanlah suatu karya yang digodok sebagai bahan berita namun cerita-cerita pribadi tanpa motivasi yang disebarluaskan. Karena memang seperti inilah wajah selebritis kita, tanpa karya nyata, hanya sensasi dan cerita.

Maka tak heran bila baik-buruk dan sepak-terjang para selebritis yang dapat kita nilai hanyalah dari kelakuan mereka. Jadi tidak heran bila para selebritis tanpa karya ini didekati pemburu berita untuk mengorek apapun yang tersedia dan tersisa, yaitu sensasi dan privasi, dan hanya dua hal itu saja. Jika tidak memiliki sensasi maka serahkanlah kehidupan pribadi kepada publik, dan jika kehidupan pribadi tidak cukup menarik maka buatlah sensasi untuk menarik perhatian khalayak. Sedangkan pemburu berita tentunya akan dengan senang hati menyedot semua yang melekat pada selebritis untuk ditukar dengan nilai uang. Mereka bahkan tidak akan segan-segan untuk mendapatkan berita dengan berbagai cara dan membuat berita dari bahan material yang sulit diolah sekalipun. Memburu hingga melanggar batas privasi dengan todongan kamera dan lampu blitz. Kalau begini menjadi terlalu bias untuk menentukan mana yang pantas disebut (maaf) pelacur. Selebritis tanpa karya atau pemburu berita tanpa kode etik? (kedua pihak inilah yang akhirnya menjadi bahan dasar bagi sebagian besar berita infotainment yang kita nikmati)

Kalau mau saling tuduh bisa jadi justru tidak malah memperuncing masalah. Namun yang jelas, seorang selebritis dengan kapasitasnya sebagai pusat sorotan, idola publik, sosok teladan, pujaan masyarakat, seharusnya dapat lebih mampu memberikan inspirasi dan motivasi yang berarti pada para fans-nya lewat karya-karya yang berkualitas dan diakui, bukan hanya lewat keunggulan paras, privasi, serta keterampilannya dalam ber-aji-mumpung. Sedangkan para peliput seharusnya juga dapat lebih jeli dalam memilah-milih topik atau isi berita yang pantas dan bermanfaat untuk disiarkan dengan menjunjung tinggi asas kebenaran, tidak memihak, cerdas, dan selektif dalam menentukan selebritis mana yang pantas untuk dijadikan berita dan mana yang dibiarkan saja sampai berkarat. Kita semua membutuhkan motivasi untuk memacu semangat berubah bukan hanya dijejali dengan omong kosong murahan yang hanya akan memancing reaksi untuk bergosip bukan untuk bangkit dan menciptakan sesuatu. Mengingat frekuensinya yang begitu gencar menguasai jam-jam acara televisi, dari pagi hingga sore, tidak perlu susah untuk mengartikan bahwa sepanjang itulah, waktu produktif kita, kita semua sepakat untuk sama-sama membenamkan diri pada buaian omong kosong yang dibalut sedemikian rupa dengan sangat cantik dan bersinar. Yah, seperti itulah wajah kita semua. Selamat datang.

Sabtu, 12 Desember 2009

Jurnal Seminggu


"Being noticed can be a burden.
Jesus got himself crucified because He got Himself noticed.
So, I disappear a lot."
(Bob Dylan)

Nihil. Saya bertanya pada HIJKLMN tentang bagaimana caranya menghilang. Seperti biasa, Ia tidak langsung menjawab. Ia mengerutkan dahinya agar terlihat seolah-olah sedang berpikir, memutar-mutar kedua bola matanya, menatap saya dengan heran, lalu kemudian menjawab sesukanya. Dan tepat ketika mulutnya hendak membuka untuk menyatakan apa yang baru saja terlitas di benaknya, saya melihat pancaran di mukanya. Pancaran yang menyembunyikan keraguan terhadap apa yang ia pikirkan, ketidakyakinan terhadap jawaban yang akan dilontarkan, dan ketakutan terhadap jawabannya sendiri, atau lebih tepat lagi, ketakutan terhadap reaksi ketidakpuasan saya atas jawabannya. Saya tahu karena saya pernah memiliki pancaran yang seperti itu. Dulu. Atau mungkin juga sampai sekarang. Maka ketika ia menjawab saya tidak mendengarkan apa-apa selain dari gema perasaan yang sama seperti sebelum saya mengajukan pertanyaan tersebut, nihil. Terima kasih HIJKLMN, saya harus pergi.

Hari Selasa saya lupa menghadiri acara pemutaran perdana film pendek seorang kawan lama. Padahal saya ingin sekali datang ke acara tersebut untuk bertemu dengannya, berbicara tentang film, bertukar pikiran tentang film, berbagi ilmu tentang film, tanya-jawab tentang film, dan mungkin bila masih ada waktu, menonton film pendek yang baru selesai dibuatnya itu. Namuan di malam harinya, saya merasa tidak yakin apakah saya memang benar-benar lupa untuk pergi menemuinya. Apa saya lupa untuk pergi ke acaranya? Atau apa saya sengaja melupakannya? Atau mungkin saya justru lupa bahwa saya telah lupa? Atau saya lupa untuk melupakan acara itu? Atau mungkin saya lupa dengan mengapa saya lupa untuk tidak melupakan datang ke acara tersebut? Maka di malam yang sepi saya menelepon HIJKLMN. Ia menjawab dengan suara yang berbeda, terdengar begitu yakin, tidak bergetar dan ketakutan seperti saat ia menjawab tentang pergi ke tempat matahari tenggelam dan sebagainya di pertemuan terakhir. Mungkin ia telah melupakannya.

Kali berikutnya saya berpapasan dengan HIJKLMN di ruang tunggu. Dia tidak melihat saya. Bahkan tidak menyadari kehadiran saya. Alasannya adalah ketika itu ia sedang menikmati sebuah pesta di dalam pikirannya. Pikirannya yang transparan memperlihatkan sebuah keramaian diiringi kebisingan dan tari-tarian. Kesenangan. Hura-hura. Hiruk-pikuk. Gelak tawa. Teriakan. Pesta yang meriah. Dan semua yang hadir adalah perempuan telanjang. Saya bertanya, bolehkah saya masuk ke dalam pikiranmu karena mungkin inilah cara untuk menghilang seperti yang kumaksud, HIJKLMN? Ia menjawab, kenapa? Saya bilang saya ingin tinggal di dalam sana. Ia menjawab, tidak bisa karena sebentar lagi pestanya akan selesai dan semuanya akan kembali seperti sediakala. Dan kemudian ia pergi sementara saya mendengar sayup-sayup suara pesta dalam pikirannya dari kejauhan.

Saya membenamkan diri dalam proses persalinan di ruang segi empat sempit yang suka didatangi nyamuk-nyamuk. Saya bercumbu, bercinta, lalu anak-anakku lahir dengan ramainya. Mereka berkembang cepat dari sebuah huruf yang kesepian menjadi kata lalu bertransformasi menjadi kalimat panjang. Saya mnghitungnya satu per satu. Tak tahu untuk apa saya melahirkan mereka apalagi untuk mengingat janin milik siapa yang kubuahi ini. Mereka keluar begitu saja tanpa seorang ibu yang menjerit dan menahan napas. Anak-anak haram. Apa yang telah terjadi? Apa saya habis memperkosa tubuh seseorang? Siapa? Semua berlalu begitu saja. Saya bahkan mulai menikmati hal ini. Membiasakannya. Menghidupinya. Membaur dengan gerakan waktu. Hingga melupakan gerakan waktu. Sampai HIJKLMN datang mengganggu, melihatku, lalu bertanya, siapa yang telah berhasil memperkosamu?

Pukul 5 pagi Anak Perempuan-ku bernyanyi. Mencoba mengajakku pergi. Suaranya tidak seperti suara anak kecil. Saya tahu ia akan datang. Setiap hari selalu begitu. Tapi saya telah jauh dihisap oleh mimpi. Jauh ke dalam. Ke tempat sunyi hampa udara di mana suara siapapun takkan bisa kudengarkan. Maka saya mengabaikannya begitu saja. Tidak peduli. Saya harap ia tidak terlalu sedih. Hmm sepertinya tidak mungkin. Ia tidak akan pernah bisa bersedih. Lagipula siapa diriku hingga membuatnya bersedih segala. Anak Perempuan-ku adalah ibu segala kehidupan, dia bisa mendapatkan segalanya, termasuk HIJKLMN jika dia mau. Terutama karena di saat seperti ini ia selalu bersikap menyebalkan. Sama seperti dulu ketika saya mengadu padanya bahwa saya telah membuat Anak Perempuan-ku bersedih. Ia malah tertawa sambil menendang pantatku dan berkata, bagiku, justru kamulah yang terlihat menyedihkan. Ha ha ha. Ia tertawa seperti orang gila. Ha ha ha. Suaranya menggema. Mengantarku terbang melesat ke permukaan. Telingaku rasanya hampir meledak karena suara tawanya terdengar semakin keras. Tidak hanya satu. Ratusan. Ribuan. Ribuan sura tawa yang menjengkelkan. Menusuk-nusuk telingaku berkali-kali. Saya tak tahan. Saya berteriak. Dan akhirnya saya bangun. Kulihat HIJKLMN baru saja menendang pantatku (lagi!).

HIJKLMN mengajakku pergi ke tempat yang biasa kami berdua kunjungi. Hari yang panas tidak membakar kulit dan melumerkan keringatku seperti yang sudah-sudah. Jalanan terlihat gemuk dan kekenyangan. Sudah berkali-kali saya meneriakinya untuk muntah, mengeluarkan semua isi perutnya dalam sekali tarikan napas, namun tetap saja ia pura-pura tidak mendengar. Hanya makan, makan, makan, dan terus makan. Tempat-tempat yang kukunjungi kini terasa gersang. Saya tak mengenal bentuknya lagi. Saya tak mengenal warna catnya lagi. Saya tak mengenal isinya lagi. Saya tak mengenal aromanya lagi. Saya tak mengenal orang-orangnya lagi. Bahkan saya merasa canggung karena orang-orang di sana begitu asing sekaligus dominan. Mereka bicara dengan wajarnya, tanpa beban, seolah-olah seperti itulah manusia pada umumnya sepanjang sejarah bumi ini ditulis. Tidak ada lagi perbedaan antara berbisik dan berteriak dan mungkin saat itu hanya saya yang menyadari bahwa kita semua sedang terbalik. Kita semua sedang menghadap ke bawah. Sesuatu tidak berada di tempat yang seharusnya dan itu membuat lidahku kelu. Saya berusaha menempatkannya kembali pada posisi semula, namun setelah selesai, saya merasa semuanya tidak benar. Keadaan terbalik sepertinya yang paling benar karena saya mulai tidak merasa nyaman dengan diriku. Tapi terlambat, semuanya sudah menjadi normal. Dan baru kusadari, sejak tadi HIJKLMN menghilang entah kemana. Saya penasaran apa dia tahu tentang urusan ‘terbalik’ ini. Apa dia juga merasakannya? Atau mungkin dia sudah tahu dari sejak dulu dan bungkam di baliknya selama ini.

Besoknya saya sakit perut dan benar-benar tidak tahu apa yang saya butuhkan untuk diri saya sendiri. Apa yang saya butuhkan untuk melewati hari ini. Apa yang saya butuhkan untuk menghilangkan sakit perut sialan ini. Apa yang saya butuhkan untuk mengebiri waktu. Ada pil-pil diselipkan di antara tumpukan buku. Saya sudah mencoba semuanya dan berapapun jumlah yang saya telan sekarang tidak akan mengubah apa yang seharusnya berubah untuk membuat keadaan menjadi sedikit lebih akrab. Seekor laba-laba melintas di depanku. Lalu seekor tikus. Dan berikutnya seekor ular. Saya membuka jendela dengan maksud hendak melompat. Tepat begitu saya hendak melakukannya, HIJKLMN muncul. Ada di sini rupanya, dia bilang. Wajahnya tampak seperti sedang menyembunyikan keseganan. Saya tahu bahwa ini bukan rahasia lagi kalau diam-diam dia menyimpan rasa takut padaku. Dan kali ini ia menunjukkannya dengan wajah iba. Kamu masih ingin menghilang? Ia berkata. Tiba-tiba saya merasa telah menemukan jawaban kegelisahanku sekarang. Bagaimana caranya? Saya bilang. Tidak bisa, ia jawab, seseorang takkan bisa menghilang. Rasa benciku timbul. Tapi, dia meneruskan, kamu bisa pergi ke tempat yang jauh dari jangkauan waktu sekarang. Saya bingung. Itulah yang kulakukan kemarin, katanya lagi. Kemana saya harus pergi? Saya tanya. Terserah, kemanapun di mana kamu bisa membekukan dan mengulang-ulang waktu sesuai keinginan. Saya diam, berpikir, memejamkan mata, mencoba mencari tempat yang dia maksud. Samar-samar sudah mulai kelihatan. Namun lenyap seketika. Lalu muncul lagi, dan begitu seterusnya. Baiklah, katanya, aku akan membacakan mantra dan kamu akan pergi langsung ke tempat di mana orang-orang bernyanyi dan memainkan musik tanpa henti. Aku berpikir itu pasti tahun 60-an. Lalu ia mulai bersenandung, “Picture yourself in a boat on a river/with tangerine trees and marmalade skies/Somebody calls you, you answer quite slowly/a girl with kaleidoscope eyes/ Cellophane flowers of yellow and green/ towering over your head/ Look for the girl with the sun in her eyes/And she’s gone.”

Saya meneruskan bait sisanya, dan perlahan semuanya menghilang. Semua yang saya lihat. Semua yang saya dengar. Semua yang saya ingat dan semua yang saya punya. Semuanya. Kecuali suara-suara nyanyian.


video
“Then take me disappearin’ to the smoke rings of my mind,
Down the foggy ruins of time,
Far past the frozen leaves,
The haunted, frightened trees,
Out to the windy beach,
Far from the twisted reach of crazy sorrow.

Yes, to dance beneath the diamond sky with one hand waving free,
Silhouetted by the sea,
Circled by the circus sands,
With all memory and fate driven deep beneath the waves,
Let me forget about today until tomorrow.”
Thereby, I disappear completely...

Kuliah Singkat dari Kurt Vonnegut (Almarhum)


"We are what we pretend to be, so we must be careful what we pretend to be."

(Kurt Vonnegut, Mother Night)

Topic: why people have such a need for drama in their life.

“People have been hearing fantastic stories since time began. The problem is, they think life is supposed to be like the stories. Let's look at a few examples.”

Time moves from left to right. Happiness from bottom to top.
“Let's look at a very common story arc. The story of Cinderella.”

“People LOVE that story! This story arc has been written a thousand times in a thousand tales. And because of it, people think their lives are supposed to be like this.”
“Now let's look at another popular story arc: the disaster.”


“People LOVE that story! This story arc has been written a thousand times in a thousand tales. And because of it, people think their lives are supposed to be like this.”
But the problem is, life is really like this...
“But because we grew up surrounded by big dramatic story arcs in books and movies, we think our lives are supposed to be filled with huge ups and downs! So people pretend there is drama where there is none.”
That's why people invent fights. That's why we're drawn to sports. That's why we act like everything that happens to us is such a big deal.
We're trying to make our life into a fairy tale.

Senin, 30 November 2009

Our Lives in 100 Words or Less


Advertising has us chasing cars and clothes,
working jobs we hate so we can buy shit we don’t need.
We’re the middle children of history, man.
No purpose or place.
We have no Great War. No Great Depression.
Our Great War’s a spiritual war… our Great Depression is our lives.
We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars.
But we won’t.
And we’re slowly learning that fact.
And we’re very, very pissed off! 

You’re not your job.
You’re not how much money you have in the bank.
You’re not the car you drive.
You’re not the contents of your wallet. 
You’re not your fucking khakis!



*All words by Tyler Durden, a fictional character from the movie and the novel FIGHT CLUB. 

Sabtu, 28 November 2009

il film... le personnage... die Frauen

"A man's face is his autobiography.
A woman's face is her work of fiction."


(Oscar Wilde)

Karakter wanita atau aktris dalam film selalu menjadi sesuatu yang memberikan perhatian tersendiri bagi saya. Terlebih karena kadang-kadang keberadaannya hanya sebagai pelengkap atau pemanis semata dan terjebak dalam stigma dunia film atau lebih tepatnya, laki-laki, mengenai imej seorang gadis atau wanita (I mean you, Megan Fox!). Tapi ada beberapa yang menarik perhatian saya, selain karena keunikan dan kekuatan dari karakternya, bisa jadi juga karena saya, mmm katakanlah, terangsang dan terpikat secara seksual - in a good way. (Catatan: beberapa di antaranya mungkin terkesan repetitif tapi karena ini membicarakan tentang wanita, saya rasa tidak ada yang akan terdengar membosankan):

Julie Delpy - Before Sunrise; Before Sunset



THE ROLE: Celine

Sedang dalam perjalanan di sebuah kereta menuju ke Paris sampai seorang laki-laki tak dikenal mengajaknya untuk turun di Vienna, dan dia mengatakan ‘ya’. Lalu dimulailah ‘perjalanan filosofis’ diantara keduanya. Mereka berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Vienna, berciuman di atas sebuah ferris wheel, bertemu dengan seorang pengemis yang membuatkannya puisi, melakukan drama percakapan di sebuah kafe, lalu bermalam di taman kota dan semua yang dilakukannya hanya semakin membuktikan bahwa ia seorang gadis yang pintar, berselera bagus, independen, percaya diri dan tentu saja, cantik. Ia mungkin tidak selalu benar tapi ia punya pendapatnya sendiri tentang cinta, hidup, agama, dan apa yang mereka temui sepanjang perjalanan. “God is like a space. A space between you and me.” Mereka berpisah keesokan paginya lalu bertemu lagi 9 tahun kemudian, kali ini di Paris. Memasuki usia 30-an, Celine bekeja sebagai seorang enviromentalis (how cool!) dan tumbuh sebagai seorang wanita dewasa. Bercakap-cakap sambil mengitari Paris tentang pertemuan pertamanya dan mengapa mereka tidak bertemu lagi tak lama setelahnya ditambah dengan hal-hal lain yang semakin membuat saya ingin bercinta dengan pikirannya. They love each other but they already have their own lives. But don’t worry, because at the end she sang a waltz to him with her guitar, and it’s so relaxing!

Winona Ryder - Reality Bites


THE ROLE: Lelaina Pierce

The icon of the generation X. Mahasiswi dengan camcord-nya, merekam sebuah dokumenter tentang kehidupan posteducation di antara teman-temannya (I don’t really know what she was doing). Dan tentu saja, ia jatuh cinta. Dan tentu saja, untuk menambah kesan klise, ia dihadapkan pada dua orang laki-laki. Selain dari kecantikannya, keputusannya ketika memilih antara kehidupan materialis dan filosofis membuatnya semakin mudah untuk disukai. Muda, unik, sedikit ceroboh, agak keras kepala, merokok, dan dia menari-nari di sebuah pom bensin."Hey, I'm a non-practicing virgin." Go Laney!



Juliette Lewis - What's Eating Gilbert Grape?



THE ROLE: Becky

Likes to travel around the country in a trailer with her grandmother. Likes to watch the sunset. Likes to throw a good joke. Likes to smile. Likes to swim in a river. Likes to do bicycling. Likes a boy who has a mentally handicapped brother. Simply not a big-city-girl type and that’s what so cool about her.


Audrey Tautou - Amelie


THE ROLE: Amelie Poulain

What a lovely character! Dia sangat suka berkhayal, memikirkan berapa banyak orang yang merasakan orgasme di Paris, membayangkan pemakaman yang megah saat ia meninggal nanti, memperhatikan lalat di dalam sebuah film, membayangkan bentuk awan sesukanya, dan yang paling penting, kegemarannya untuk diam-diam menolong orang lebih besar daripada kegemarannya untuk bicara (it can’t be any better than this!). Dia punya cara yang unik dalam menjalani hidup termasuk dalam menemukan cintanya dan itu akan membuat setiap orang mudah untuk menyukainya. ;)



Melora Walters - Magnolia



THE ROLE: Claudia Wilson Gator

Self-destruct but lovely. Depresi karena mendapatkan pelecehan seksual dari ayahnya sendiri, bercinta dengan seseorang yang tidak dikenal, menghisap kokain sambil mendengarkan musik dan menyalakan TV bersamaan dengan volume yang besar, lalu berkencan dengan seorang polisi yang menggrebek rumahnya. But still, she looks lovely, especially when answering the officer’s questions. Kalau berkencan dengannya, pastikan jangan memintanya untuk membuatkan segelas kopi dan jangan malu untuk menceritakan setiap pengalaman memalukan yang pernah terjadi di hidupmu, then she’ll give you a free kiss.


Scarlett Johansson - Lost in Translation


THE ROLE: Charlotte

Culture shock dan laki-laki paruh baya adalah formula yang tepat bagi perempuan untuk bisa tertawa sepanjang hari, pergi ke klub penari telanjang, dikejar-kejar oleh sekelompok anak muda Jepang dengan senjata api, ber-karaoke dengan orang-orang asing, tidur bersama tanpa harus melibatkan seks, dan having the worst lunch ever because you have to cook the food by yourself. Dan pada akhirnya, dia akan tahu jawaban dari pertanyaan: Why am I here? What am I doing? Is this as good as it gets? Dan hidup tidak akan sama lagi.


Kate Winslet - Eternal Sunshine of the Spotless Mind




THE ROLE: Clementine Kruczynski

Seseorang bisa dengan mudah mengenali jenis perempuan mana yang tidak boleh sedikit saja dikecewakan perasaannya. Karena kalau seseorang menyakiti hati seorang perempuan impulsif yang gemar mengganti warna rambutnya, bekerja di toko buku, dan menyatakan untuk tidak bermain-main dengan namanya saat berkenalan, maka ia akan dengan mudah menghapus ingatan akan seseorang yang ia benci sampai ke akar-akarnya, literally. Tapi kalau dia memang benar-benar telah mencintai orang tersebut, maka dia akan datang ke dalam pikirannya, berpetualang, membisikkan padanya untuk bertemu di suatu tempat (“Meet me… in Montauk…”), dan paginya, she’ll become a girl just like when you first met. Sweet!


Natalie Portman - Garden State



THE ROLE: Sam

Low-profile and unique. Di awal perkenalan ia akan bilang bahwa ia suka berbohong dan tak tahu kenapa ia terus melakukannya, dia tahu cara untuk menghentikan seekor anjing yang sedang bermasturbasi, paham mengenai lagu yang dapat merubah hidup seseorang, suka melakukan gerak-gerik yang aneh ketika merasa unoriginal (?), memiliki pet cemetery di pekarangan rumahnya, dan kalau kamu kebetulan orang yang bermasalah, seperti pernah mendorong ibu kandungmu hingga lumpuh, maka kamu akan senang berteman dengannya. Because she will listen non-judgmentally to you and make you don’t want to waste anymore of your life without her in it.


Julie Delpy - 2 Days in Paris



THE ROLE: Marion

Prancis tidak hanya menghasilkan perempuan cantik dan manis tapi juga eksentrik. Dengan membawa pacarnya yang berasal dari Amerika, ia menunjukkan kehidupannya, keluarganya, dan kota Paris yang jauh berbeda dari apa yang biasa ditulis di sebuah brosur agen perjalanan. Semuanya begitu unik, bahkan untuk ukuran orang Amerika. Dia memiliki sebuah kamar tidur yang kecil, dan yang membuat saya iri, sebuah rak berisi banyak sekali buku, termasuk di antaranya sebuah Bible yang di dalamnya terdapat sebuah foto telanjang sang mantan pacar dengan tiga buah balon gas terikat di alat kelaminnya. She’s way too eccentric, and the coolest part is, she doesn’t even realize it!



Rachel Weisz - The Constant Gardener



THE ROLE: Tessa Quayle

An ideal picture of mature woman. Memprotes perbuatan PBB terhadap Afrika di tengah perkuliahan, memiliki suami seorang delegasi Inggris untuk Afrika, memiliki jiwa aktivis yang bermisi untuk mengatasi kemisikinan di Afrika, dan akhirnya, dibunuh secara brutal di Kenya Utara akibat konspirasi politik. Garis besarnya adalah, dia adalah seorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, memiliki angan-angan yang besar untuk membuat dunia jadi lebih baik, dan ditakuti oleh para politisi sehingga ia harus mereka bunuh. And once again, don’t forget, she’s a woman.



Charlotte Gainsbourg - The Science of Sleep



THE ROLE: Stephanie

Simple and ordinary girl. Living a real life. Tapi kalau kamu menghabiskan waktu berdua di kamar apartemennya, dia akan menunjukkan sisi lain sebagai seorang yang kreatif, imajinatif, dan tahu cara mengisi waktu luangnya dengan menyenangkan, termasuk membuat prakarya hutan di atas sebuah perahu di atas lautan cellophane. Tapi, bagian yang tersulit adalah jangan terlalu terobsesi dengannya atau mengajaknya menikah karena ia akan menjawab: “First, I don’t believe in marriage. Second, you don’t want to live with me. And third, are you out of your mind?” Dan seperti yang terjadi, dia memang hanya bisa didekati lewat mimpi. Damn!

Ellen Page - Juno


THE ROLE: Juno MacGuff

Sixteen years old, high school student, and pregnant. But instead of gloomy, whining, near-end-future teenage girl life story, she just keeps it cool and easy. Way to go! Tic-tac ahoy!


Penelope Cruz - Vicky Cristina Barcelona


THE ROLE: Maria Elena

Check this out: Seorang perempuan suicidal dan sedikit temperamen kembali ke rumah mantan suaminya yang hidup dengan pacar Amerika-nya dan tentu saja itu hanya membuatnya menjadi semakin pencemburu. Beberapa hari berlalu, pacar baru sang mantan mengenalnya lebih jauh sebagai seorang seniman berbakat, pandai melukis (dimana gaya melukisnya ‘dicuri’ oleh sang mantan suami), bermain piano, artistik, mendalami fotografi, unik, free-thinker, kharismatik, and the fact that the ex-husband always try to find her in every women he met (inspirational Maria!), dan itu sudah cukup untuk membuat sang pacar baru balik mencemburui dia habis-habisan. Puncaknya, mereka berciuman, tentu saja dengan dia sebagai pusatnya. So, kesimpulannya adalah, she’s kind a woman who can’t be rejected even though she feels that way. Sebagai tambahan, dia terlihat I don’t know how to describe it saat mengenakan topi bundarnya.


Anne Hathaway - Rachel Getting Married


THE ROLE: Kym

Berapa batas waktu toleransi buat seorang perempuan yang dirawat di panti rehabilitasi untuk menghadiri acara pernikahan saudarinya? Sekedar gambaran saja, ia akan bertengkar dengan saudarinya bila mengetahui ternyata ia tidak dipilih sebagai maid of honor, ia akan bertengkar dengan saudarinya karena ia akan mengatakan hal yang memalukan di tengah perjamuan keluarga, ia akan bertengkar dengan saudarinya karena ditempatkan di meja yang tidak ia sukai di acara pernikahan nanti, ia akan bertengkar dengan saudarinya karena ia menceritakan kepada temannya bahwa ia berasal dari keluarga yang gemar menyiksa anak. Tapi ketika ia kembali ke rehab, semua orang akan merindukannya dengan cepat. That is so unfair!



Emma Roberts - Lymelife



THE ROLE: Adrianna Bragg

Kalau kebetulan jatuh cinta dengan seorang perempuan yang tidak tahu atau mungkin tidak peduli bahwa kamu mencintainya sejak umur 8 tahun, dating with older boy and treating you like a little brother, membenci ibu kandungnya sendiri (“She’s a big fat whore!”), menyelipkan botol anggur di ruang pengakuan dosa pada malam natal dan memperlihatkan belahan dada-nya cuma-cuma, menghisap ganja di rumah, dan berciuman di depan umum, maka kamu cuma perlu patah hati, be a good boy just like she wants you to, lalu menyebarkan gosip: “I fingered her and it was like the inside of a jelly donut.” Hasilnya? Ia akan mengatakan (in style)bahwa ia sebenarnya sangat menyukai kamu dan membisikkan di telingamu bahwa dia masih perawan. And the next thing is she’ll be a nice, beautiful, and shy girlfriend. Man, that’s 60’s!



Kristen Stewart - Adventureland


THE ROLE: Em Lewin

Anak seorang ayah yang kaya dan mahasiswi NYU, tapi ia memilih pekerjaan sebagai penjaga sebuah theme park (a good start) karena ia membenci ibu tirinya dan memilih untuk bisa keluar dari kehidupan rumah. Hasilnya? Ia menjadi pacar gelap seorang teknisi sementara ia berkencan dengan rekan kerjanya yang baru, sesama mahasiswa, sementara teman kencannya itu mengencani rekan kerjanya yang lain. So, everything is ruined! Tapi itulah susahnya berada di dunia nyata sebagai seorang remaja, semuanya serba salah dan hanya kesenangan sementara yang didapat. Tapi setidaknya ini lebih baik daripada harus terlibat dalam vampire-ized romance story.


Rachel Weisz - The Brothers Bloom



THE ROLE: Penelope Stamp

Apa hal terbaik yang bisa terjadi pada seorang perempuan rumahan? Jawabannya adalah: “I collect hobbies. I see someone doing something I like, and I get books and I learn how to do it.” Jadi dia bisa dengan lancar memainkan piano, biola, gitar akustik, sitar, melakukan karate, akrobat, skateboard, break-dance, ping pong, sulap kartu, menjadi DJ, membuat origami, dan yang terkeren membuat pinhole camera dari buah semangka. Maka jangan heran kalau dia justru merasa menjadi perempuan menyedihkan, tidak bisa menyetir mobil dengan benar, tidak bisa menikmati percakapan, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang jatuh cinta. Tapi kalau kamu mengajaknya ke dalam skema perbuatan kriminal yang mendebarkan, dia akan dengan sangat senang hati melakukannya. But be careful, she’s smart.


Melanie Laurent - Inglourious Basterds


THE ROLE: Shosanna Dreyfus

Kalau seorang perempuan berhasil lolos dari pembantaian keluarganya oleh Nazi lalu beberapa tahun kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah gedung bioskop yang akan digunakan oleh para jajaran utama Nazi untuk menonton film, maka itulah yang disebut sebagai keberuntungan. Dan tak hanya itu, ditambah lagi dengan seorang prajurit teladan Nazi yang jatuh cinta padanya maka tentu saja tidak ada rencana lain yang lebih hebat dari usaha balas dendam. Shosanna bukanlah perempuan yang tenggelam dalam kesedihannya, tapi ia tampil sebagai sosok yang dingin, tenang, kuat, seakan tidak peduli lagi dengan apa yang menimpa hidupnya tapi di dalamnya ia menyembunyikan sesuatu yang kejam (a woman who hides something always turns me on). Sebagai nilai tambah, ia menyukai dan mendalami karya-karya film Eropa.


Zooey Deschanel - (500) Days of Summer


THE ROLE: Summer Finn

Absolutely Beautiful + Believe that woman could being free and independent + "I don't actually feel comfortable being anyone's anything" + "Ok. I, like being on my own. I think relationships are messy and people’s feelings get hurt. Who needs it? We’re young, we live in one of the most beautiful cities in the world; might as well have fun while we can and, save the serious stuff for later" + A very good taste in music & fashion too = A Perfect Heartbreaking Machine for Men!

Rabu, 18 November 2009

To: "Religious Express Army"

“Wicked men obey for fear,
but the good obey for love.”

(Aristotle)

Sebut saja saya seorang hipokrit atau seorang munafik besar mulut atau seorang sok tau, sok pintar, sok berani, skeptis, atau apalah. Bahkan kalau mau melabeli tulisan ini sebagai aksi gagah-gagahan saya yang lain juga silahkan. Tapi terus terang saya sudah cenderung kesal dengan semua huru-hara ini, dengan semua kehebohan yang semakin sering dibesar-besarkan, tentang tong kosong yang nyaringnya semakin pekak. Orang-orang. TV. Radio. Buku. Artikel. Internet. Semuanya. Pagi sampai malam. Semuanya adalah tentang kiamat 2012.

Sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah dengan teori-teori ilmuwan tentang planet Nibiru, meteor yang menabrak bumi, badai matahari, ledakan benda langit, dan lain-lain. Saya juga tidak menyalahkan bangsa Maya yang menghentikan penanggalan di tanggal 21 Desember 2012, dibandingkan hal seperti ini bukankah sebaiknya justru kita mengenang bangsa itu karena warisan budaya yang telah banyak disumbangkan pada dunia. Memang ada sedikit kekesalan ketika orang-orang, atau siapapun mulai berspekulasi dengan bukti ini untuk bicara tentang kiamat. Bagi saya prediksi-prediksi itu sampai saat ini hanya membawa satu fakta, yaitu sebagai pendongkrak angka penjualan buku tentang akhir zaman. Tidak lebih, tidak kurang.

Hanya yang menjadi ‘lalat di mangkuk sup saya’ adalah ketika pernyataan atau tindakan yang muncul dalam menyikapi ramalan ini adalah sebuah kepanikan massa yang ditunjukkan lewat cara yang menurut saya begitu naïf yaitu dengan melakukan perbaikan akhlak dan berbondong-bondong beramal ibadah. Sebuah tindakan yang justru menguak celah yang besar antara manusia dan keimanannya pada agama atau kepercayaan. Ya, saya mengkritik beberapa umat beragama di Indonesia! Umat beragama yang percaya akan ramalan ini dan berpikir untuk bersiap-siap menghadapinya.

Imaji tentang hari akhir memang amat mengerikan. Digambarkan dalam kitab suci, divisualisasikan dalam film-film, dan diceritakan dalam beberapa buku, dan semuanya sama sekali bukan sesuatu yang indah. Saya bahkan berharap tidak harus menjadi saksi mata ketika kiamat benar-benar menimpa dunia ini. Kalau boleh egois, saya ingin hidup sampai tua lalu meninggal dengan tenang dan setelahnya, kiamat bisa datang kapan saja. Tapi bukan karena alasan itu saya menolak isu tentang 2012. Alasan utama saya karena dalam agama yang saya anut, Islam, mengajarkan bahwa takkan ada seorang pun di dunia ini yang mampu mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Dan itu sudah cukup buat saya. Islam hanya memberikan ciri-ciri akan datangnya hari kiamat dan meskipun semua ciri-ciri tersebut terpenuhi, tetap saja tidak akan ada yang bisa mendeklarasikan kapan hari besar itu akan tiba. Saya juga cenderung yakin bahwa dalam agama-agama besar lainnya, katakanlah agama-agama yang diakui di Indonesia, tak ada satu pun yang mengajarkan ilmu tentang menghitung kedatangan kiamat secara pasti. Karena setiap agama sepertinya sudah sepakat bahwa urusan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Dan ketika manusia mencoba untuk menjadi lebih pintar dari Tuhan maka hasilnya adalah mereka akan terlihat konyol. Sehingga mempercayai ramalan omong kosong ini hanya akan semakin mempertegas bahwa dalam hidup, manusia bisa juga tersesat dalam benang kusut logika dengan kapasitas otak berjalan mengikuti alur mundur dari teori evolusi Darwin.

Saya memang tidak bisa menyalahkan mereka yang mempercayai hal ini, terutama di negara ini di mana hal-hal klenik masih mendapat tempat di hati masyarakat sehingga ramalan dalam bentuk apapun akan dengan mudah disakralkan. Namun ini menjadi aneh ketika umat beragama yang percaya, atau yang menyatakan tidak percaya tapi di dalam hatinya percaya, menggunakan momen ini untuk semakin gencar beribadah, bertaubat, mendekatkan diri pada Tuhan-nya. Apakah ini disebut sebagai sisi positif dari ramalan kiamat 2012? Saya ragu.

Memang secara kasat mata kecenderungan ini merupakan suatu pertanda yang baik dan patut disyukuri. Tapi di sisi lain, timbul pertanyaan di benak saya, apa sebenarnya fungsi agama bagi manusia? Karena ketika orang-orang mulai mengimani agamanya atas dasar ketakutan, bukankah ini justru namanya membiaskan esensi dari agama? Pamrih? Bukankah itu suatu cara yang ringkih dalam beragama? Apakah memang sasaran utama agama adalah sifat dasar ketakutan manusia? Saya rasa jawabannya adalah tidak.

Kalau kita runut sejarah kenapa agama diturunkan pada umat manusia dan kenapa manusia membutuhkannya, maka jawabannya secara umum adalah manusia membutuhkan panduan untuk hidup. Manusia membutuhkan pegangan, jalan-jalan kebenaran, serta pencerahan mengenai hakikat penciptaannya dalam ruang kehidupan. Agama memberikan cara bagi manusia untuk dapat melihat ke dalam dirinya sendiri di antara semesta raya ini dan menemukan Tuhan di sana. Agama merupakan jejak komitmen yang dibangun manusia atas nama keimanan pada Tuhan. Agama adalah bentuk gaya hidup yang mengajari segala aspek yang menyangkut ke-manusia-an bahkan sampai ke wilayah yang sulit dijelaskan sekalipun. Pada akhirnya agama memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari dan menuntut manusia untuk dapat terus memungut kebaikan yang tersebar di dalamnya.

Namun yang paling sering terlihat, dirasakan, dan dimengerti oleh manusia adalah agama digunakan sebagai kalkulator penghitung dosa. Agama adalah sang hakim, juri, dan eksekutor dalam menentukan nilai dan membedakan mana pahala dan dosa. Inilah instrumen utama yang memberikan manusia kekuatan konservatif dalam menentukan siapa yang mendapatkan hukuman dan siapa yang mendapatkan imbalan. Kondisi ini yang memunculkan rasa takut manusia yang dicurahkan secara berlebihan terhadap agama atau lebih tepatnya pada sosok Tuhan. Tak pelak lagi imej Tuhan-pun ditafsirkan lebih besar pada bentuk kemurkaannya dibandingkan pada sifatnya yang Maha Penyayang.

Sepanjang sejarah, agama apapun dalam penyebaran serta ajarannya tidak ada yang menitikberatkan pada pembentukan ketakutan dalam diri manusia dalam menjalani hidup. Agama tidak datang dalam bentuk ancaman atau teror mengenai hari ketika kemarahan Tuhan meledak. Namun sebaliknya agama justru datang kepada manusia dengan dasar ajaran perdamaian serta cinta kasih dalam hidup. Para nabi tidak pernah datang dan menemui umatnya tiap hari dengan terus-menerus menyebarkan peringatan mengenai Tuhan yang gemar menyiksa. Kitab suci manapun tak ada yang sebagian besar diisi oleh cerita-cerita mengenai siksaan dan gambaran verbal tentang neraka. Tempat-tempat ibadah tidak didirikan sebagai tempat berlindung umat beragama dari ketakutannya akan hidup, kematian, ataupun kehidupan setelah kematian. Hidup dalam ketakutan jelas-jelas bukan gambaran ideal dari konsep agama.

Maka ketika isu kiamat ini mendorong massa untuk kembali kepada agamanya muncul indikasi bahwa selama ini orang-orang memahami agama sebagai panduan dalam menghadapi datangnya kiamat dan hanya untuk itu saja, bukan sebagai panduan dalam menjalani hidup dari lahir sampai mati, dari pagi sampai malam, dari bangun tidur sampai kembali tidur. Agama dibentuk sebagai benteng pertahanan dari serangan ketakutan manusia baik yang telah datang maupun yang akan datang. Pendekatan yang seperti ini memposisikan agama sebagai bentuk pelarian layaknya kotak P3K yang membutuhkan suatu kondisi untuk dapat terlibat dalam hidup manusia, bukan lagi menjadi bagian dari keseharian. Kehadiran Tuhan dirasakan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, hanya ketika bayangan akan ketakutan dan dosa muncul dalam pikiran.Ketakutan akan Tuhan dimaknai sebagai ketakutan terhadap sesuatu yang akan menimpa dirinya bukan sebagai bentuk penghormatan dan penghambaan terhadap zat Yang Maha Agung itu. Efeknya terlihat jelas yaitu arus kemunafikan yang begitu nyata.
Kalau demikian apa artinya agama selama ini? Ketika ketakutan itu belum terdengar, di mana mereka memposisikan Tuhan dalam kehidupan mereka? Di sini saya mempertanyakan rasa malu.

Saya sendiri mengakui bahwa saya bukanlah seorang religius. Ilmu agama saya terutama yang berhubungan dengan peribadatan masih sangat jauh dari sempurna. Saya merasa tidak dalam keadaan buru-buru dalam mempelajari agama karena saya menyerahkan segalanya pada proses. Ada beberapa hal yang saya tidak mengerti dalam agama dan itu membutuhkan waktu dan pengalaman untuk akhirnya bisa sampai ke dalam pemahaman saya. Saya cenderung percaya bahwa segala kebaikan yang ditaruh Tuhan di muka bumi ini sejalan dengan sifat instingtif manusia yang berarti dapat ditemukan dalam seiap alur kehidupan yang dijalani. Yang jelas saya menghindari segala bentuk dogma karena agama adalah hal yang harus dicari dan ditemukan bukan untuk diwarisi dan disuapi. Dan mendalami agama atas dasar dorongan ketakutan bukanlah cara yang baik bahkan cenderung memalukan karena saya berusaha mencari nilai agama sebagai hal yang membebaskan dan menemukan makna hidup manusia di muka bumi.

Saya tidak ingin menjadi seorang pengecut di mata Tuhan. Dan jalan pertama yang saya tempuh adalah berdamai dengan-Nya. Dulu saya melihat dan mengenal sosok Tuhan sebagai seorang raja alam semesta, pemimpin segala pemimpin, pemiliki semua hal yang nyata dan gaib, yang duduk di singgasananya dan memiliki kekuasaan untuk melakukan apapun. Dia bisa menjungkirbalikkan gunung-gunung, menenggelamkan daratan, membekukan matahari, meremukkan bumi, menghancurkan semuanya dalam sekejap. Dia yang akan menghukum siapapun yang tidak mengikuti perintahnya, memanggang mereka di dalam neraka untuk waktu yang sangat lama. Hal ini mendorong saya untuk menjalankan agama atas dasar ancamandan kengerian yang tak terbayangkan.

Sampai akhirnya saya membaca buku tentang Imam Khomeini, seorang tokoh revolusioner Iran, yang mencintai Tuhan layaknya cinta kepada seorang anak perempuan kecil yang lugu. Ini meruntuhkan imej Tuhan saya sebelumnya dan justru membuka jalan yang begitu lebar dalam mengenal dan mendekati-Nya. Manusia harusnya mampu mengenal Tuhan dengan cara yang sama seperti ketika Tuhan menciptakan kehidupan, yaitu dengan cinta. Segala bentuk peribadatan, penghambaan, dan penyerahan diri tidak lagi saya pahami sebagai bentuk penebusan dosa atau permohonan ampunan namun sebagai manifestasi dari rasa syukur yang tulus atas apa yang dimiliki, dilihat, didengar, dan dipahami. Mencintai Tuhan terasa lebih meringankan dan membebaskan ketimbang rasa takut yang ditujukan pada-Nya. Dan lebih penting lagi ini membuat seseorang lebih merasa “hidup” ketimbang yang lainnya.

Ramalan kiamat 2012 ini melahirkan fenomena bahwa agama didekati oleh manusia sebagai iklan yang menarik simpati lewat slogan “selamat dunia dan akhirat”. Ini adalah bentuk konsumerisme agama di mana kebaikan yang ditawarkan bisa dibeli dengan melakukan peribadatan yang dipiloti rasa takut. Semakin sering semakin lunturlah nilai agama itu sehingga harus kembali menarik perhatian massa dengan melakukan promosi akan produk ketakutan yang lain. Entah apa yang ada di pikiran mereka ketika menyatakan dengan hati yang bergetar untuk mendekatkan diri pada Tuhan sementara Dia hanya ingin kita dekati lewat cinta, dan hanya cinta yang bisa.

Peace, Love, and Wassalam!

Senin, 16 November 2009

Drowned in Fur Elise


Dangling of a life as I'm sitting under a yellow submarine and surrounded by a fleet of octopus
It leaves me a shimmering image of sunlight
that reflects on a diamond window of my childhood's dream
Somebody's speaking through me about how the sky spills the rain to the earth and how the thunder breaks to make my little room merrier
How the ticking of my clock gets slower and deeper
and commands my pillows and blanket to embrace me as the candle light goes dimmer
and the next thing i see...

is your smile that is framed and punished to be in my memory

for Eternity


(Tidak sengaja menemukan tulisan ini di balik lembar soal ujian mata kuliah Elektronika Industri milik saya. Saya ingat dulu pernah menuliskannya dan saya yakin bait pertama terinspirasi oleh The Beatles. Tapi saya lupa sisanya, maknanya, mood-nya, dan dalam keadaan apa saya dulu menulisnya (dilihat dari judulnya, mungkin sambil mendengarkan musik klasik). Mungkin ada cerita di balik ini, mungkin juga tidak. Atau mungkin seperti yang biasa saya lakukan, menulis tanpa tahu maksudnya).

Jumat, 13 November 2009

Pray /prey/ verb. the act of addressing a god or spirit for the purpose of worship or petition


"Many people pray as if God were a big aspirin pill;
they come only when they hurt."

(B. Graham Dienert)
Ketika saya masih kecil, lugu, polos, dan ingusan, saya diperkenalkan dan dijejali oleh lingkungan sekitar dengan doa’-do’a. Awalnya tidak terlalu jelas mengenai maksud dari do’a-do’a tersebut, untuk siapa, dan apa gunanya yang jelas setiap sebelum makan, sebelum tidur, bepergian, sesudah makan, masuk dan keluar kamar mandi, masuk & keluar mesjid, bangun tidur, dari pagi, siang, dan malam, saya meluncurkan do’a-do’a dari bibir dalam bentuk hapalan. Bahkan saya mengucapkan tiap do’a tersebut dua kali, dalam bahasa Arab lalu artinya dalam bahasa Indonesia. Saking seringnya sampai-sampai semuanya serba otomatis dan jangan tanyakan ‘isi’ dari do’a-do’a tersebut karena saya toh hanya sekedar mengucapkannya saja tanpa tahu ‘pesan’ yang terkandung di baliknya. Hal yang lumrah buat ukuran anak kecil yang mempelajari do’a sebagai jalan untuk mendapatkan nilai bagus dari pelajaran Agama Islam di sekolah.

Sedikit lebih besar saya mulai sedikit paham. Konsep tentang ketuhanan. Konsep tentang Islam. Tentang do’a-do’a yang saya pelajari, siapa yang mengirimkan pada siapa, apa maksud dari setiap katanya, dan tentang sebuah prosedur timbal-balik di mana Tuhan memiliki kuasa untuk mengabulkan do’a. Pernyataan yang terakhir ini membuat saya mengerti apa gunanya berdo’a dan itu semakin memacu saya untuk mengucapkannya tiap makan, tidur, keluar-masuk WC, keluar-masuk mesjid, dari pagi, siang, hingga malam. Tuhan Maha Mendengar, Tuhan Maha Melihat, dan Tuhan mengabulkan do’a-do’a umatnya. Pada akhirnya setiap kegiatan tersebut pun sifatnya berubah menjadi sesuatu yang sakral, suci, dan khusyuk padahal saat itu saya belum terlalu mengindahkan sholat lima waktu sebagai ibadah yang lebih utama kedudukannya.

Semakin bertambah usia, saya mengerti bahwa ternyata do’a memiliki ruang lingkup yang luar biasa luas. Do’a bisa diaplikasikan tidak hanya dalam kegiatan rutin yang saya kenal (makan, tidur, dsb.) tapi juga ke dalam setiap aspek kehidupan yang saya lalui. Konsepnya menjadi semakin terang bahwa manusia berdo’a dalam kapasitasnya untuk memohon dan meminta sesuatu sementara Tuhan di atas sana mendengarkan lalu mengabulkan. Saya bisa berdo’a untuk segala macam hal, berdo’a agar mendapatkan nilai bagus saat ujian, berdo’a saat akan menendang penalti, berdo’a agar hari tidak hujan, berdo’a agar hujan turun deras, berdo’a agar kilat dan petir tidak memecahkan kaca jendela-jendela rumah, berdo’a agar guru Bahasa Indonesia tidak masuk karena sakit, dan sebagainya.

Dari sinilah semuanya terkuak. Praktek bisnis kirim-mengirim atau jual-beli do’a ini ternyata merupakan franchise Tuhan yang beresiko tinggi. Siapapun yang telah masuk ke dalam aktivitas bisnis ini maka ia harus memiliki mental yang kuat untuk menerima segala kerugian yang mungkin terjadi. Ini diindikasikan oleh adanya fakta bahwa tidak semua proposal do’a yang diajukan mendapatkan persetujuan dari sang pimpinan tertinggi. Dalam kegiatan mengabulkan do’a, Tuhan juga memiliki hak prerogatif untuk menjawab tidak. Inilah yang awalnya tidak saya sadari, bahwa ternyata semuanya tidak berjalan semudah yang dikira. Tidak ada yang bisa menjamin besarnya keuntungan yang akan diterima, bahkan sulit memastikannya lewat matematika atau ilmu statistik sekalipun. Yang jelas di sini tidak berlaku sistem Buy 1 Get 1Free. Bahkan kenyataannya tidak ada yang gratis sama sekali.

Saya merasa terjebak ke dalam ‘roda bisnis’ ini, pada awalnya, malah merasa seperti tertipu. Saya berdo’a sambil pelan-pelan mengambil ancang-ancang mudur lalu setelahnya berlari dan menendang bola sekuat tenaga, namun hasilnya? Bola yang saya tending melebar jauh dari gawang dan saya gagal mengeksekusi penalti. Saya berdo’a ketika lembar soal ujian dibagikan, berharap agar dapat meraih hasil yang maksimal, namun hasilnya? Saya tidak bisa menjawab soal-soal tersebut 100% dengan benar justru teman saya yang meraih nilai sempurna. Seberapa keras pun saya berdo’a saya tetap harus mengikuti pelajaran di bawah suasana teror guru Bahasa Indonesia yang mengajar dengan gaya yang sinis dan mata melotot. Di titik ini, saya percaya dan mengambil kesimpulan bahwa sampai usia tertentu, taruhlah kelas 4 SD, berdo’a tidak lagi sama. Berdo’a mirip dengan bertaruh di mana selalu memiliki probabilitas yang tak mudah ditebak akan keberhasilan dan kegagalannya.

Maka muncullah kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan. Lalu untuk apa berdo’a kalau begini? Apa maksudnya kita berdo’a? Kenapa harus berdo’a? Toh itu tidak menjamin semuanya akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tapi kenapa berdo’a menjadi hal yang penting? Mungkin ini sama seperti pernyataan takhayul bahwa anak-anak tidak boleh di luar rumah saat menjelang malam tiba karena akan diculik oleh semacam mahluk halus atau bahkan tentang keberadaam sinterklas yang sengaja diangkat oleh para orang tua sebagai bagian dari pola mendidik anak. Karena faktanya, seorang anak akan mendapatkan banyak pujian ketika selalu berdo’a sekaligus mendapat cap anak saleh dari orang-orang sekitar sementara semakin hari saya justru merasa itu tidak lagi menjadi penting.

Seiring dengan berjalannya waktu serta berbagai pengalaman hidup yang saya arungi, saya menyimpulkan bahwa berdo’a merupakan kegiatan yang saya sebut passive-dependent complement. Kegiatan ini dapat dengan mudah diaplikasikan di mana saja dan pada kondisi apapun dan bahkan tidak begitu terikat dengan tata cara tertentu walaupun kecenderungan untuk melakukannya sebagai bagian dari identitas atau simbol dari suatu agama dan kepercayaan masih sering ditunjukkan oleh orang-orang, namun apapun bentuknya, setiap orang bisa melakukannya sesuai dengan caranya sendiri. Namun dalam kenyataannya berdo’a bukanlah suatu kegiatan yang sifatnya tunggal, dalam artian bahwa berdo’a tidak bisa dilakukan tanpa ada kegiatan yang mendahului dan atau ada di belakangnya dengan kata lain berdo’a memiliki ketergantungan atau depedensi dengan kegiatan lain. Sehingga dalam hal ini secara garis besar do’a berfungsi sebagai pelengkap, sebuah suplemen, sebagai susu segar di antara nasi dan lauk pauk, sebagai bagian dari puzzle yang tanpanya tidak akan tersusun sebuah gambar yang utuh. Berdo’a merupakan pengkondisian di mana setiap alat indera, pikiran, dan hati berada dalam kondisi pasrah, kondisi penyerahan diri seluruhnya kepada kekuatan lain yang lebih besar dari diri sendiri yaitu Tuhan atas nama setiap permohonan yang diajukan kepada-Nya. Berdo’a bukan lagi tindakan berpikir, menghitung, bekerja, berkeringat, dan tindakan-tindakan lain yang dikendalikan oleh otak dan keinginan manusia secara aktif tapi murni merelakan semua kemampuan tersebut kepada Yang Maha Kuasa. Passive. Dependent. Compliment.

Jadi disadari atau tidak do’a bisa jadi memiliki prasyarat, syarat , prosedur, aturan, dan kebijakan tersendiri yang berlaku di kalangan akhirat sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan terhadapnya. Ini mungkin yang harus diperhatikan oleh para pendo’a termasuk saya yang akhirnya memahami bahwa ada harga yang harus dibayar untuk sebuah do’a. Hanya Jin milik Aladdin yang mampu mengabulkan permintaan secepat kilat dan tanpa dipungut biaya.

Manusia berdo’a kepada Tuhan dalam kaitannya untuk memohon kemudahan atau penyelesaian dari segala masalah yang menimpa. Setiap orang melakukan hal tersebut dengan berbagai gestur, mimik, ekspresi, intonasi, bahkan juga ada yang mendeklamasikannya secara puitis semata-mata untuk meminta pertolongan dalam hidupnya. Namun perlu dicermati bahwa pada hakikatnya, dunia dan kehidupan ini bersifat material. Walaupun ada juga hal-hal atau zat-zat gaib yang berjalan seiring kehidupan tetapi itu bukanlah teritori milik umat manusia karena kehidupan yang dilimpahkan dan dijalani oleh mereka adalah kehidupan yang sifatnya kasat mata, inderawi, nyata, realis, materialis, dan fisik. Atas dasar ini Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang paling sempurna untuk kehidupan dunia dan dilengkapi instrumen-instrumen utama seperti panca indera, akal dan perasaan, Maka selama kehidupan ini hanya diperuntukkan dan dijalani oleh manusia, berarti segala hal yang terjadi di dalamnya adalah kombinasi-kombinasi sebab-akibat dari interaksi manusia terhadap hidupnya. Sehingga setiap permasalahan yang ditimbulkan manusia adalah segala sesuatu yang sifatnya material di mana manusia memiliki instrumen-instrumen diri yang dipersiapkan untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Secara ringkas bisa dibilang bahwa setiap permasalahan dunia ditimbulkan oleh manusia dan hanya bisa diselesaikan oleh manusia juga.

Dari teori ini, sifat do’a sebagai passive-dependent complement muncul, bahwa berdo’a bukanlah solusi utama yang digunakan manusia dalam hidupnya. Manusia tentunya diciptakan Tuhan untuk mampu menyelesaikan masalahnya sendiri lewat proses, usaha, kerja keras, ketekunan, bakat, potensi, kreatifitas dan kepintaran dalam memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu titik berat do’a berada pada apa yang dilakukan oleh manusia dalam usahanya memenuhi keinginan atau permohonannya tersebut. Tanpa itu, do’ a tidak bisa mengada dengan sendirinya karena nilai dari do’a berbanding lurus dengan seberapa besar usaha yang dilakukan. Do’a hanyalah sebuah pelengkap, penyempurna dari apa yang telah diusahakan oleh manusia dalam kaitannya untuk meminta persetujuan, ridho, berkah, atau penilaian dari Tuhan sebagai pengatur dan penguasa atas segala sesuatu. Segala bentuk usaha fisik manusia diwakili oleh do’a yang disampaikan ke telinga Tuhan. Dan akhirnya saya mengerti bahwa saya tidak bisa seenaknya saja berdo’a tanpa adanya keyakinan dan kemampuan untuk mewujudkannya sendiri karena mengingat sifatnya yang pasif, itu sama saja dengan bentuk kemalasan atau mungkin tindakan pembenaran yang oportunis.

Makanya saya heran ketika di lingkungan saya justru tercipta kondisi di mana prioritas do’a lebih utama ketimbang usaha. Segala hal seperti diserahkan begitu saja ke tangan Tuhan dengan harapan yang sangat besar sementara manifestasinya nol. Entah apa yang ada di pikiran mereka, mungkin ini disebabkan karena sebagian penduduk negara ini masih percaya dengan hal-hal klenik ketimbang realita sehingga setiap kali tertimpa masalah pikiran mereka selalu tertuju kepada datangnya mukjizat, anugerah, keajaiban, atau mungkin ibu peri yang baik hati. Apa yang bisa diharapkan apabila untuk menghadapi masalah ekonomi, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, kriminalitas, korupsi, dan segala masalah bangsa ini, hanya dilakukan dengan berdo’a atau ibadah-ibadah samawi lainnya? Kebanyakan orang malah lebih suka untuk melakukan usaha seadanya lalu berdo’a dengan habis-habisan kalau perlu sampai berlinang air mata. Hasilnya adalah lahirnya sosok dan karakter yang agamais atau religius namun miskin kepekaan sosial dan kehilangan kapasitas untuk mampu berkontribusi secara nyata di kalangan masyarakat. Anehnya orang-orang ini justru yang dijadikan panutan rakyat. Mereka ini tampaknya terlalu asyik hidup dalam do’a-do’anya sementara kehidupan dunianya ditinggalkan begitu saja padahal itu adalah tanggung jawab mereka sebagai manusia, untuk hidup, bukan melulu berdo’a.

Bukankah bisa dibilang kurang ajar atau tak tahu malu apabila masalah yang ditimbulkan oleh manusia sendiri malah dilimpahkan penyelesaiannya kepada Tuhan. Seolah-olah tidak mau tahu dan masa bodoh. Berbondong-bondong pergi ke mesjid lalu berdo’a bersama, memohon-mohon sampai suara serak agar negara ini dijauhi oleh kemiskinan dan kebodohan. Entah apa yan terjadi setelah mereka keluar dari mesjid. Sekali lagi, kalau meminta kepada jin Aladdin pasti akan langsung terwujud tapi kalau kepada Tuhan maka aturan mainnya berbeda. Masalahnya adalah kurang kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimiliki bahkan bisa jadi potensi diri tidak tergali secara dalam sehingga orang begitu mudahnya berserah diri. Benar adanya yang dikatakan Karl Marx bahwa agama adalah candu karena manusia teralihkan dari upaya menemukan hakikat dirinya dan terfokus kepada ketergantungannya terhadap Tuhan.

Saya merasa bahwa kekuatan do’a adalah cerminan dari kekuatan manusia juga. Tuhan tidak akan dengan mudah memberi kita jalan kecuali kita memang berusaha untuk mencarinya. Do’a merupakan hal yang penting atau menjadi penting hanya ketika dibarengi dengan tindakan dalam mewujudkannya. Menurut saya manusia yang beriman adalah bukan mereka yang selalu meminta dan menunggu jawaban dari do’anya melainkan mereka yang membentuk mental untuk selalu mengejar dan meraih do’anya itu. Karena sampai kapan kita akan menunggu persetujuan Tuhan akan do’a-do’a kita sementara hidup ini masih terlalu angkuh untuk sekedar melambatkan langkahnya?