Senin, 09 Januari 2012

It May Be As Easy As Just to Sit and Watch, But Somehow Eyes Need to Be Taught to See Things Closer and Further, For There's Always Wisdom in Every Creation, Someone Said

"Well, let's say that since you were little, you always dreamed of getting a lion. And you wait, and you wait, and you wait, but the lion doesn't come. And along comes a giraffe. You can be alone, or you can be with the giraffe."


(Beginners)

50/50
Komedi kanker. Sebenarnya bukan pasangan kata yang pas, seperti yang dicontohkan oleh tokoh Adam saat dia didiagnosis memiliki tumor schwanomma di bagian punggungnya dan kemudian dia harus menghadapi kenyataan diselingkuhi oleh pacarnya, berurusan dengan ibunya yang over-protektif, digunakan sebagai "umpan" oleh teman baiknya untuk mendekati perempuan, dan yang paling menjengkelkan adalah mendengarkan orang-orang selalu mengucapkan kalimat: "You're gonna be okay" padanya. Namun kondisi tersebut justru memunculkan situasi komedi dunia modern di mana bagaimana pun sekaratnya seseorang, life akan tetap goes on! Maka persahabatan dan cinta menjadi sangat berarti untuk melewati hari demi hari.

Film ini sukses mensinkronisasi unsur komedi dan drama tanpa membuat salah satunya jadi lebih dominan dari yang lain. Hasilnya adalah sebuah feel-good movie (yang mengingatkan saya pada Greenberg atau Another Year) yang menyentuh hati lewat gelitikan yang dikemas secara bersahaja. Fase putus asa yang dilalui Adam, ditambah lagi dengan detik-detik mendebarkan menuju meja operasi (dalam keadaan kalap, Adam yang tidak punya SIM nekat menyetir mobil sahabatnya lalu menerobos jalan satu arah. Ia berhenti, mengusir sahabatnya itu keluar dan mengamuk di dalam sambil teriak dan memukul-mukul kemudi. Setelah itu, ia menelepon terapisnya dan dengan lembut berkata: "I wish you were my girlfriend"), merupakan sebuah momen yang sarat simpatik yang ditujukan kepada penonton tentang betapa gamangnya menunggu kematian datang. Terutama lagi jika bicara mengenai kesendirian seseorang saat menghadapinya.

Secara subjektif, sangat mudah untuk menyukai Anna Kendrick di dalam film ini dalam perannya sebagai seorang terapis muda yang sedang training (dan punya kebiasaan membiarkan lantai mobilnya diseraki bungkus makanan & minuman). Kecanggungannya saat menghadapi Adam serta penampilannya yang anggun, menjadi angin segar bagi setiap orang depresif untuk berpikir tentang sesegera mungkin menemui terapis. Dan film ini menjadi lebih sempurna lagi saat lagu Yellow Ledbetter dari Pearl Jam dipasang di bagian ending.  Mendayu-dayu tepat saat Miss Kendrick ada di sana. Aw, Fuck!   

Beginners


Sebuah film yang kalem. Di usianya yang berada di 30-an, Oliver mendengar pengakuan ayahnya yang sudah berumur 75 tahun bahwa selama ini dirinya adalah seorang gay dan memutuskan untuk menjalani statusnya itu secara lebih praktikal, tidak lagi secara teoritis, terutama setelah istrinya meninggal dunia. Maka, terjawablah sudah segala bentuk "kedinginan" yang selama ini Oliver saksikan langsung dari hubungan kedua orangtuanya itu yang berujung pada pengambilan sikapnya untuk tidak menjadi seperti ayahnya yang selama ini hidup menjalani komitmen  penuh penyangkalan. Lalu, sang ayah meninggal akibat kanker dan Oliver bertemu dengan Anna, perempuan asal Prancis yang unik. Dia mencintainya tapi dia tidak yakin dengan bagaimana caranya.

Dibesarkan dengan contoh yang buruk dari hubungan cinta orangtuanya, Oliver "belajar" dari kisah singkat romantisme gay antara sang ayah dan kekasihnya, Andy. Dalam gaya tutur film yang nonlinear, Oliver mengenang saat-saat terakhir kebersamaan dengan ayahnya itu yang bersimpangan dengan kisah asmara yang sedang ia jalani yang terjalin manis namun juga mengandung kehati-hatian. Sebagai seorang anak, dia tidak bisa mengabaikan sosok orangtua satu-satunya itu yang sejak dulu tidak pernah begitu dekat (dia akrab dengan ibunya) yang kemudian melahirkan keakraban ambigu di antara keduanya. Dia mencintai ayahnya, mencintai cinta sesama jenis yang dijalankan ayahnya, dan belajar mencintai Anna sepenuhnya.

Beginners adalah film "galau" dalam skala filosofis yang dikemas secara kontemporer sehingga hasilnya tidak menjadi terlalu "berat". Oliver yang seorang desainer grafis, mengembangkan sebuah proyek seni yang ia beri judul The History of Sadness yang berupa rangkaian sketsa karikatur buatan tangannya. Ia menggambarkan bahwa dari sejak bumi tercipta, kesedihan pertama yang ada berawal dari sebuah pernikahan antar pasangan yang salah yang kemudian berujung pada penemuan cara bunuh diri, penciptaan alkohol, obat-obat terlarang, dll. Entah ini menakut-nakuti atau tidak, tapi pernikahan mungkin memang merupakan sesuatu yang sulit. Cinta dan pernikahan, bisa jadi keduanya berada di dua sisi berbeda. Untuk hal ini, semua orang adalah pemula.

Carnage


Michael dan Penelope adalah orang tua dari seorang anak yang dua giginya patah dan kepalanya terluka karena dipukul kayu oleh anak dari Alan dan Nancy. Penelope mengundang pasangan tersebut ke rumahnya untuk mengadakan pertemuan dan pembicaraan bersahabat antar orang tua untuk menghapus ketegangan di kedua belah pihak. Dan pada akhirnya, masing-masing mendapat pengalaman "the worst day of my life" dengan membuktikan bahwa tidak ada yang bisa melakukan verbal bullying yang lebih baik daripada pasangan orang tua bermasalah.

Maka inilah empat orang yang saling "menyiksa" dan menyalahkan dalam arena adu debat good parents vs. bad parents, konvensional vs. modern, republikan vs. demokrat, pasifis vs. realis,  pecinta hewan vs. pembenci hewan, maskulin vs. feminin, karir vs. rumah tangga, korban vs. pelaku, histeris vs. histeris, dengan tema-tema yang diangkat mulai dari hamster, John Wayne, panggilan sayang, pekerjaan, sampai kemiskinan di Afrika. Setiap orang bebas untuk mengutarakan isi hatinya sampai muntah sekalipun, bahkan masing-masing bebas untuk berpihak pada siapa saja, bisa jadi dua lawan dua atau satu lawan tiga. Waktu istirahat akan ditentukan dari suara dering handphone. Tersedia kopi, cobbler (semacam pai), dan sebotol scotch gratis dan tak boleh merokok di dalam rumah. Semuanya untuk menguji seberapa lama keramahtamahan dapat bertahan di antara orang-orang yang menyimpan "kegilaan" di balik peradabannya.

Diadaptasi dari naskah teater Yasmina Reza, film ini adalah tontonan komedi terhadap permasalahan rumah tangga metropolitan. Nervous breakdown adalah milik perempuan sementara laki-laki punya apatisme. Karakter-karakter ini dengan beban dan "penyakit" psikologis-nya masing-masing saling berhadapan untuk mencapai satu gelar prestisius dari zaman kebebasan berpendapat, yaitu: I am the right one. Pujian layak diberikan untuk penampilan Jodie Foster, John C. Reily, Kate Winslet, dan Christoph Waltz. Walau bukan karya terbaik sutradara Roman Polanski, tapi tetap saja, ini adalah karya Roman Polanski!

Martha Marcy May Marlene


Martha adalah gadis belia yang menghilang dari keluarganya selama 2 tahun karena tergabung dalam sebuah perkumpulan cult rahasia di mana ia dipanggil dengan nama Marcy May (Marlene adalah nama yang dipakai semua perempuan anggota cult itu khusus saat menjawab telepon). Diliputi oleh ketakutan karena sebuah kegiatan perkumpulan (yang dipimpin oleh laki-laki bernama Patrick) menjurus kriminal, di suatu pagi ia melarikan diri dan tinggal bersama kakak perempuannya yang telah bersuami. Di tempatnya yang baru ini, Martha tenggelam dalam persimpangan antara kenyataan dan mimpi (memori) serta di antara kehidupan normal dan kehidupannya sebelum ini.

Martha terbiasa tidur bersama lebih dari lima orang perempuan lain dalam satu kamar sehingga ketika ia diberi sebuah kamar di rumah kakaknya itu ia tidak bisa tidur karena sendirian. Martha terbiasa berbagi baju dengan perempuan anggota perkumpulan yang lainnya sehingga ia merasa lucu saat kakaknya memberikannya sebuah baju. Martha terbiasa berenang tanpa busana. Martha adalah seorang sosialis yang menentang konsep tentang karier yang diutarakan oleh kakak iparnya. Dan Martha adalah gadis belia yang dengan santai masuk ke dalam kamar kakaknya yang sedang berhubungan seks lalu meringkuk di atas kasur, bersebelahan dengan posisi misionaris yang sedang dilakukan oleh pasangan tersebut (baginya, orgy adalah hal yang lumrah). Untuk itu, sang kakak yang terkejut berteriak padanya: "This is not normal, this is privacy." Ini menjadi kalimat kunci yang menggambarkan kehidupan Martha sebelumnya, tanpa privasi dan dalam banyak aspek, tidak normal.

Sepanjang film, Martha, yang diperankan dengan sangat baik oleh Elizabeth Olsen, berada dalam paranoia dan kebingungan untuk "berkoneksi" dengan dunia barunya. Pengalaman abusif yang pernah dia alami membawanya kepada semacam trauma dan teror dari sosok Patrick yang sulit untuk dihilangkan begitu saja ("How far are we from yesterday?"). Secara tersirat, Martha merepresentasikan persamaan perempuan = korban dalam segala hal (formula abadi dalam dunia sinema selama bertahun-tahun). Dan tak ada yang lebih berbahaya bagi perempuan selain menjadi korban ideologi, karena efeknya mengarah langsung pada kegilaan. Kejahatan selalu mengenakan selimut yang terbaik. Untuk Marcy May, Patrick bernyanyi: "She's just a picture/ Just a picture/ That's all."

Moneyball


"How can you not get romantic about baseball?" Sejak awal, Billy Beane selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan penting dalam hidupnya. Saat muda, ia memilih menjadi pemain baseball profesional dan menolak beasiswa sebuah universitas hanya untuk menjadi seorang rising star yang gagal. Ia memilih untuk menjadi manajer tim Oakland Athletics, tim dengan cita-cita tinggi namun dana yang terbatas. Ia memilih untuk merekrut para pemain buangan untuk bertanding di liga dan itu terjadi karena, dibanding mempercayai talent scout-nya, ia lebih memilih untuk mempercayai Peter Brand, lulusan fakultas ekonomi yang ahli dalam menganalisis pertandingan melalui data statistik. Tapi apa Billy berhasil dengan semua pilihannya itu? Setidaknya dia percaya.

Walau premisnya terkesan klise untuk film bertema olahraga, namun film ini tidak seperti yang lain. Penempatan klimaks pertandingan besar yang bukan di bagian ending adalah sebuah pernyataan kepada audiens bahwa ini bukan hanya tentang upaya meraih kemenangan dalam struktur heroik from zero to hero, lebih jauh lagi ini adalah tentang berada di dalam lapangan bisnis di mana pertaruhan adalah filosofi permainannya. Billy tidak pernah menonton timnya bertanding di pinggir lapangan, ia juga tidak bersosialisasi dengan para pemainnya, dan ketika memecat pemain, ia memilih kata-kata yang lugas dan singkat. Sikapnya merupakan cerminan dari pengalamannya selama 20 tahun lebih berada di dunia baseball, yang selalu memiliki awal yang menjanjikan, sama seperti setiap kesempatan dalam hidup.

Dengan pencampuran mood melankolis dan optimistis di sepanjang film, Moneyball membawa sport movie ke level lain karena ceritanya yang terfokus pada sisi-sisi manajerial-nya (ditambah lagi dengan karakter Billy yang kontemplatif yang membuat film jadi rada psikologis). Brad Pitt dengan sukses melucuti aroganisme dan kebintangannya untuk memerankan pria yang berjuang dalam ketidakpastian nasibnya, karena pada akhirnya olahraga bukanlah ilmu pasti atau ilmu hitung-hitungan, ada nilai lain yang terdapat di sana. Suatu nilai yang menjawab situasi di mana saat Billy ditawari untuk menjadi general manager bergaji tertinggi sepanjang sejarah baseball, ia lebih memilih untuk mencintai baseball.   

The Skin I Live in


Tidak ada hukuman yang lebih pantas diberikan kepada pemerkosa selain merubah jenis kelaminnya secara paksa dalam operasi plastik dan tak ada yang lebih ambisius bagi seorang ahli bedah plastik yang berduka karena kehilangan istrinya selain menyulap orang asing menjadi mirip dengan istri aslinya tersebut. Kedua premis ini bertemu dalam kisah Pinokio bondage, dominance & submission  tentang penebusan dan dendam dari seorang dokter yang secara tragis ditinggal mati oleh istri dan putri semata-wayangnya. Resiko pun ia ambil dengan eksekusi yang dingin dalam tindakan sekali-dilakukan-tidak-bisa-kembali-lagi-ke-awal demi batinnya yang terluka, reputasinya, serta kemajuan ilmu pengetahuan.

Entah ini kekejaman atau komedi, yang jelas saat scene seorang laki-laki sadar dari pengaruh bius dan mendapati dirinya berada di meja operasi bersama sang dokter yang berkata bahwa operasi vaginoplasty-nya berhasil dan si laki-laki dengan lemas berekspresi seperti, "What? I have a vagina?" lalu kembali pingsan, jelas sekali adegan tersebut membuat ngilu. Sama ngilu-nya seperti saat si dokter menjelaskan ke pasiennya benda apa saja yang harus dimasukkan agar lubang vaginanya terbuka dan menjadi lebih dalam. Seperti tirai, rahasia kelam pun terungkap satu per satu yang semakin diingat-ingat semakin menambah rasa ngilu.

Di antara semua katalog film Pedro Almodovar, film ini rasanya adalah yang paling hardcore. Penampilan anggun Elena Anaya (muse baru setelah Penelope Cruz, senor Pedro?) dengan baik menghiasi scene-scene di film di balik semua kasus penyimpangan yang terjadi dalam cerita. Pelajaran terbaik adalah bila dua orang sedang melakukan seks, belum tentu keduanya sama-sama bisa menikmati dan jika itu yang terjadi, lebih baik segera berhenti. And sex change is not a joke

Tinker Tailor Soldier Spy


Diangkat dari novel dengan judul sama karya John le Carre, Film ini mengangkat kisah intrik dunia spionase di era perang dingin. Cerita berpusat pada tokoh George Smiley yang dipecat dari sebuah British Intelligence untuk kemudian bekerja secara independen mengungkap identitas seorang agen ganda yang berhubungan dengan kasus pemberhentiannya itu. Dibantu oleh seorang agen muda dan seorang "buronan" yang mengungkap rahasia adanya keterlibatan pihak Rusia, investigasi berjalan pelan namun pasti dengan penemuan fakta-fakta baru yang di antaranya menyinggung skandal perselingkuhan mantan istrinya dengan orang dalam.

Sebagai film yang bertema mata-mata, penyajiannya mungkin akan terasa kurang "pop" dengan minusnya aksi tembak-tembakan atau kejar-kejaran khas Hollywood. Namun dengan barisan cast yang kebanyakan aktor-aktor yang tidak lagi muda, maka argumen yang tepat adalah film ini merupakan sebuah thriller investigation yang lebih menonjolkan permainan kata, trik, dan plot yang cerdas. George Oldman tampil sangat baik memerankan karakter tokoh utama yang kaku sekaligus elegan khas Inggris. Logat bicara dan kacamatanya mengaburkan bayangan bahwa dia juga adalah paman Harry Potter yang gila.

Sutradara asal Swedia, Tomas Alfredson, mengajak penonton untuk berkonsentrasi di sepanjang film dengan menampilkan detail-detail kecil yang penting dalam membangun cerita, seperti butir keringat yang menetes di atas meja, lalat di dalam mobil, atau gerakan bola mata. Bahkan bila jeli, bukan tidak mungkin penonton bisa langsung mengungkap identitas penyusup itu di pertengahan film. Pada akhirnya memang tidak ada persahabatan yang abadi jika memilih mata-mata sebagai mata pencaharian karena seseorang harus hidup dalam kecurigaan penuh selama 24 jam. Kehilangan apa saja merupakan resiko yang harus ditanggung dan dihadapi, kecuali untuk James Bond, karena dia selalu berhasil mendapatkan perempuan.

Senin, 19 Desember 2011

Simbiosis Transendensialisme


You can tell the size of your God by looking at the size of your worry list.  The longer your list, the smaller your God. 

(Anonymous)
Saya sudah terlalu lama hidup di dalam lingkungan yang beranggapan bahwa mempertanyakan atau bahkan sekedar berpikir tentang apa yang Tuhan lakukan adalah hal yang tabu, subversif, melenceng, atau dalam kerangka pemikiran tertentu, tindakan itu juga tergolong dosa. Yang jelas kita akan selalu menyepakati kesimpulan akhir bahwa Tuhan adalah maha terhadap apapun sehingga kita sebagai manusia, tidak punya pilihan lagi selain meratapi kekecilan kita yang luar biasa itu. Ada kecenderungan pemahaman yang menyebut karena Tuhan itu Maha Besar dan manusia hanyalah seukuran atom yang terbagi-bagi lagi dan lagi dan lagi, maka menyinggung soal Tuhan adalah sebuah upaya yang takkan terjamah oleh manusia selain dari menjamah kegilaannya sendiri. Maka terima saja kesimpulan besar itu: Tuhan adalah yang paling Tuhan di atas segala apa-apa.

Tersebutlah Tuhan yang sangat besar itu sebagai kekuatan tak terbatas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kehadiran-Nya mau tidak mau mengecilkan eksistensi manusia. Agama muncul sebagai ideologi praktis dan teoritis dalam meletakkan pijakan-pijakan di atas jalur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kehadirannya mau tidak mau menggoda iman manusia.

Lalu pada prosesnya, agama memiliki fungsi lain. Melewati nalar manusia, ajaran agama berkembang sebagai medium yang mengajak manusia untuk “berdamai” dengan Tuhan. “Berdamai” dalam pengertian ketundukan tanpa syarat, penyerahan diri yang tak bisa ditawar-tawar lagi posisinya. Karena Tuhan Maha Apa Saja ―dengan kekuatan yang meliputi membelah matahari jadi dua dalam satu tiupan, membangkitkan dinosaurus dari tanah, atau menciptakan sepuluh Adolf Hitler― sedangkan manusia begitu tidak berdaya, maka “perdamaian” harus dicetuskan untuk menegaskan posisi keduanya. Ide tentang kemurkaan Tuhan dan neraka akhirat menjadi unsur penting dalam pengenalan agama yang pada ujungnya juga digunakan untuk mendefinisikan (atau mempersonifikasikan) Tuhan.

Ketaatan terhadap Tuhan jadi nama lain dari ketakutan akan Tuhan. Ketakutan seperti lutut bergetar, kencing di celana, gemeretak di gigi, yang muncul dari membayangkan Tuhan sebagai penguasa absolut dari segala penguasa yang selalu siap dengan kemarahannya untuk menghukum manusia. Maka ketakutan manusia pun dibuat menjadi absolut. Agama, dalam pengertian lain, adalah panduan untuk mempertegas rasa takut manusia terhadap hukuman-hukuman dan angkara murka Sang Pencipta. Sehingga akhirnya, agama tidak lebih dari sekedar hal-hal dogmatis.

Terkait dengan lingkungan saya ―atau lingkungan yang terwakili dalam istilah Indonesia― atmosfer dogmatik yang begitu kuat terletak pada prinsip beribadah yang melekat di keyakinan umat beragama. Hal-hal yang menyangkut penghakiman prematur mengenai pahala dan dosa. Adalah suatu kelumrahan untuk menyebut bahwa tujuan beribadah adalah untuk menyenangkan hati Tuhan atau meredakan kemarahan-Nya (bayangkan sebuah bencana alam yang dikaitkan dengan dosa para penduduk tempat bencana tersebut terjadi). Jika manusia beribadah maka Tuhan tersenyum, jika manusia lalai Tuhan akan kesal. Ibadah adalah untuk Tuhan, penyerahan terbaik dari kelemahan manusia untuk Sang Maha Dahsyat. Dan jika saya tidak salah melihat, ibadah menjadi manifestasi dari karakter dan mental upeti/sesajen pengikut-Nya. Ketundukan terhadap sang Superpower. Mental yang telah membentuk wajah bangsa ini selama ratusan tahun.

***

Film The Tree of Life dirilis tahun ini. Karya sutradara Terrence Malick (setelah sekian lama vakum) ini menuai pujian dari para kritikus dan meraih banyak penghargaan. Ada satu sequence di dalamnya yang membuat saya terbius. Sebuah adegan kilas balik visual mengenai penciptaan kehidupan dari mulai pembentukan langit, galaksi, bumi, lautan, daratan, tumbuhan, mahluk bersel satu, ikan, dinosaurus dan kepunahannya, lalu akhirnya manusia yang mungil dan lemah, meringkuk di dalam janin. Adegan yang luar biasa yang memperlihatkan Tuhan sedang berkarya, menghasilkan mahakarya demi mahakarya dengan cita rasa yang tak terjangkau, ide dan kejeniusan yang tak terbendung, pertunjukan kekuatan yang Maha Arogan. Benar-benar sebuah pengalaman sinematis yang epik nan syahdu.

Memang tidak bijak untuk menjustifikasi kesahihan ide visual Terrence Malick di film itu. Apa yang dia gambarkan belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, itu hanya upaya kecil manusia untuk melukiskan kekuasaan Tuhan dan merayakan kehidupan. Namun demikian, komplekstisitas yang ditampilkan mampu merepresentasikan kekuasaan absolut tersebut yang menunjukkan bahkan dalam mahluk sekelas protozoa pun, terdapat karakter-karakter dan fungsi alamiah yang mengarah pada ide besar di baliknya. Ini membawa saya pada keimanan yang baru. Keimanan yang tumbuh dari melihat. Pengaruh dari film itu adalah saya (berusaha) meyakini diri bahwa apapun yang ada di sekeliling saya, saya melihat (secara dramatis atau teatrikal) Tuhan (dalam karya dan ide).

Daun bukan hanya sebatas daun. Komplekstisitas di dalamnya meliputi sel-sel mikroskopik yang tersusun rapi, sistem fotosintesis, klorofil, warnanya yang khas, ukuran, pola, tekstur, tulang-tulang daun, massanya, zat-zat yang terkandung di dalamnya, termasuk juga pose manis saat dia diterpa angin atau pose romantis saat dia jatuh gugur. Begitu juga komplekstisitas partikel-partikel debu saat ia melayang di bawah pancaran batang cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela atau lubang pintu. Air mendidih dengan gelembung yang pecah-pecah disertai suara kumur-kumur dan asap yang muncul lalu menghilang seperti roh halus. Pupil mata yang melebar, lalu mengecil, melebar lagi, dan mengecil saat lampu senter dinyalakan-dimatikan tepat di depannya. Lalu stalagtit, stalagmit. Ubur-ubur yang sedang berenang. Burung-burung bermigrasi. Tirai ditiup angin. Detak jantung. Sifat Keilahaian itu menyulap kesederhanaan sekelas garis-garis di telapak tangan menjadi tampak elegan melebihi kekenesan dalam Blackberry atau smartphone.

Kemudian timbul pertanyaan dari dalam diri mengenai makna peribadatan. Apa sebenarnya maksud dari manusia beribadah kepada Tuhan? Sudah jelas Tuhan Maha Perkasa lalu mengapa peribadatan manusia menjadi sesuatu yang diwajibkan? Apa yang bisa manusia berikan yang sementara Tuhan tidak punya? Ketika orang-orang mensinkronisasikan kemarahan Tuhan dengan kelalaian suatu kaum dalam beribadah, apakah mereka membicarakan Tuhan yang sama? Tuhan yang menciptakan matahari dengan ukurannya yang besar dan membiarkannya melayang di langit?

Tuhan tidak memerlukan manusia. Segala hal yang dilakukan oleh manusia mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi-Nya. Dia yang membuat laut merah dan membelahnya menjadi dua. Dia membuat semuanya, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dia adalah seniman dengan Aurora Borealis-Nya, bintang-bintang-Nya, angin tornado-Nya, dan muntahan lahar-Nya yang mencat gunung dengan warna merah terang elektrik. Dia adalah arsitek Mount Everest, air terjun Niagara, fisikawan yang menciptakan waktu, biologis yang menciptakan darah, kimiawan yang menciptakan semua yang tertera di tabel periodik. Dengan keagungan yang seperti itu, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh manusia yang Maha Kecil ini? Apa yang bisa diserahkannya karena badan dan jiwa yang kita punya juga adalah pinjaman dari-Nya?

Maka apa jadinya Tuhan jika peribadahan kita menjadi penting untuk-Nya? Bagi saya adalah kekerdilan. Kekerdilan yang amat sangat lancang ditujukan kepada Tuhan sebagai sosok yang “gampangan”. Manusia yang kerap mengaitkan (atau menghitung) pahala dan dosa dengan peribadatan mengindikasikan Tuhan sebagai sosok borjuis kecil yang manja yang ingin selalu dihibur dan disenangkan,gemar mengancam serta meledak-ledak bila kesal. Dia tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Hanya saja manusia yang terlalu egois yang menganggap apa yang dilakukannya atas nama aktivitas ibadah bakal mampu menggerakkan hati Tuhan. Bahkan jika seluruh manusia di dunia ini tidak beribadah, rasanya Tuhan tidak akan kehilangan apapun.

Namun itu bukan berarti bahwa beribadah tidak memiliki nilai. Yang akan saya tekankan di sini adalah mengenai pergeseran fungsinya.

Saya meyakini bahwa salah satu tujuan fundamental kehidupan manusia adalah agar manusia terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu-ilmu yang sifatnya teoritis tapi juga praktis, tidak hanya yang materiil tapi juga imateriil. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini, yang telah ada maupun yang belum ditemukan, asalnya dari Tuhan. Maka setiap ilmu bila ditelusuri maka akhirnya akan mengarah kepada-Nya dengan cara masing-masing. Seperti, entah bagaimana dengan yang lain, tapi saya menemukan kebesaran Tuhan di balik terciptanya internet, tentang bagaimana ilmu-ilmu yang telah ada bisa saling terhubung untuk menciptakan teknologi ini dan yang jelas, bagaimana sebuah media mampu memperpendek jarak fisik yang terbentang adalah suatu mukjizat. Dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini, beserta perangkat manusia yang derajatnya melebihi mahluk lain, maka suatu hubungan terbentuk, bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemujaan dan ketertundukan manusia (hal yang sudah pasti) melainkan Dia menghendaki untuk dicari dan selalu dicari.

Yang menjadi masalah dari proses pencarian ini adalah sejak awal Tuhan tidak pernah hilang.

Karena itu, ibadah memiliki nilai. Ibadah adalah salah satu ilmu pencarian tersebut, mencari sesuatu yang tidak pernah hilang. Tuhan tidak membutuhkan manusia tetapi manusia yang membutuhkan Tuhan. Fungsi ibadah berkaitan langsung dengan manusia secara personal, bukan melulu masalah pahala dan dosa. Bukanlah kemurkaan Tuhan yang harus diperhatikan dalam hal kelalaian beribadah melainkan perkembangan diri secara psikologis (batiniah) atas apa yang telah dilewatkan dari kesempatan untuk mendekati-Nya. Sama seperti saat belajar di sekolah, seharusnya bukanlah nilai rapor yang diburu dari mengerjakan PR atau mengikuti ujian, melainkan ilmu itu sendiri, “kebebasannya” tanpa dipengaruhi institusi atau kebanggaan pribadi. Maka bukan kewajiban, ibadah adalah kebutuhan.

Saya sebagai seorang muslim punya ibadah wajib sholat lima kali dalam sehari. Jika saya tidak sholat, saya tidak perlu mengkhawatirkan tentang dosa (bukan urusan saya), tapi adalah waktu dan kesempatan yang saya lewatkan untuk secara syahdu menggerakkan badan dan jiwa mendatangi-Nya. Selain gerakan dan bacaan, sholat tentunya membutuhkan konsentrasi, kesunyian, kemurnian pikiran dan hati serta penyerahan yang ikhlas, dan itu semua perlu dilatih dengan baik dan intens (untuk itu saya diberi kesempatan lima kali sehari). Jadi ini bukan lagi masalah pahala dan dosa. Ini masalah tentang bagaimana individu mencari dan menemukan Tuhan dengan segala proses yang akan mempengaruhi jiwa dan mentalnya sebagai manusia sampai dia mati kelak. Beruntunglah mereka yang telah berhasil mencapainya sebelum ajal.

Saya tegaskan saya bukan seorang pendakwah, penyebar syiar, khotib, cendikiawan agama, ahli kebatinan, murid ahli kebatinan, atau bahkan orang alim. Tulisan ini adalah reaksi saya terhadap “kemunculan-Nya” dalam arena pop culture yang memercik semacam “reinvensi” bagi keimanan saya. Sama seperti yang lain, saya adalah manusia kecil yang kebetulan mempercayai Tuhan, yang membedakan hanyalah bentuk kepercayaan tersebut. Bagi saya, pencintraan manusia terhadap sosok Tuhan menggambarkan sosok manusia tersebut bila menjadi pemimpin.

Tuhan adalah besar sebesar-besarnya. Sementara manusia itu kecil. Namun Tuhan tidak membiarkan kita manusia berada dalam “kekecilan” karena kita adalah bagian dari Tuhan yang nantinya akan kembali pada-Nya. Ketundukan buta adalah sikap yang merendahkan kodrat manusia dan posisi Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam ketundukan terhadap-Nya kita dituntut untuk tahu alasan mengapa ketundukan itu kita jalankan. Tuhan takkan membiatkan kita tersesat karena kita memiliki akal, hati, jiwa, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, darah, sel, bahkan aroma tubuh. Apakah itu semua cukup atau tidak, hanya Bob Dylan yang bisa menjawabnya: “The answer my friend is blowin’ in the wind/The answer is blowin’ in the wind.”

Rabu, 30 November 2011

Put a man and a woman in a single scene, make up a memorable act or short line, describe their love to each other in a cute way, then mix it with good yet unfamiliar music. And so the audience will buy your DVD


"Stories don't have a middle or an end anymore. They usually have a beginning that never stops beginning."

(Steven Spielberg)

"Come Here..."
Before Sunrise

video

A record store. Pick any vinyl record with an enticing front cover. Enter the music lounge. Play it on a gramophone. Just listen to the song. Then start being a secret admirer of someone standing next to you. Start pretending you're listening to the record. Start feeling each other. Start loving. Well, it's a good place to fall in love anyway. A good start.

Now imagine mp3 and an earphone.

"As always, she was late"
The Royal Tenenbaums

Baumer baru saja pulang ke kota kelahirannya dari sebuah plesiran panjang mengelilingi samudera. Sesampainya di sana, ia hendak dijemput oleh Margot, adik tirinya, yang sudah lama tidak ia lihat. Pertemuan keduanya menjadi emosional mengingat sikap Baumer yang diam-diam sudah lama memendam cinta pada Margot. Terlebih lagi, kepergian Baumer mengarungi lautan sebenarnya didorong oleh rasa sakit hati yang mendalam karena Margot ternyata menikahi pria lain. Maka pertemuan mereka di dermaga ini menjadi momen spesial yang mungkin harus kembali dirasakan Baumer secara diam-diam. Cukuplah hanya memandangnya berjalan mendekat dari kejauhan. Cinta terlarang? Sepertinya bukan. Ini hanya kisah cinta lain di mana seseorang kebetulan jatuh cinta pada saudari angkatnya sendiri.

video

Gwyneth Paltrow berjalan mendekat dari kejauhan. 
Mungkin itu juga yang dilihat Chris Martin suatu kali.


"Good luck exploring the infinite abyss!"
Garden State

video

"Hey! You too."
Us too.


"Meet me in Montauk!"
Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sebelum scene ini:

Joel yang pemalu, Clementine yang eksentrik, keduanya berpacaran setelah berkenalan di sebuah pantai bernama Montauk. Keduanya menjalani pahit-manis hubungan sampai akhirnya sebuah pertengkaran memisahkan keduanya. Sial bagi Joel karena sehabis perpisahan itu, Clementine langsung menghapus ingatan akan dirinya di sebuah klinik spesialis penghapus memori. Tak mau berlama-lama sakit hati, Joel pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Singkat cerita, Joel menjalani proses penghapusan ini dalam kondisi tertidur di atas kasurnya sementara dua orang teknisi menangani semuanya. Cerita lalu berpindah tempat ke dalam kepala Joel. Semua memori yang menyangkut masa-masa kebersamaannya dengan Clementine dihapus perlahan-lahan dari mulai memori yang terakhir sampai ke memori yang paling awal yaitu ke waktu pertemuan mereka yang pertama kalinya terjadi. Di tengah-tengah proses penghapusan itu, Joel menyesali keputusannya namun tidak mampu berbuat apa-apa karena dalam realita dia tengah terbaring tidur. Yang bisa ia lakukan hanyalah melewati kembali kenangan yang telah lewat lalu bangun tidur dengan ingatan nol tentang Clementine. Maka dalam kepasrahan itu, puncaknya adalah saat dia harus kembali ke saat malam pertemuan pertama mereka di mana Clementine dengan iseng mengajak Joel untuk menerobos masuk sebuah rumah yang ditinggal penghuninya (Joel yang resah lari kabur keluar saat Clementine pergi ke lantai atas untuk mengacak-acak tempat tidur). Kali ini, mereka harus berpisah selamanya. ("I walked out the door. There's no memory left").

Namun kemudian Clementine memanggilnya ("Come back and make up a good-bye at least. Let's pretend we had one") dan berbisik tentang Montauk dengan latar belakang rumah (memori Joel) yang berangsur-angsur runtuh.

video

Sesudah scene ini:

Joel bangun di suatu pagi dalam keadaan bingung. Ia bersiap untuk menjalani rutinitasnya ke tempat kerja. Di stasiun kereta, ia gelisah dan memutuskan untuk membolos lalu pergi ke pantai Montauk tanpa alasan tertentu. Pokoknya pergi saja. Di sana ia bertemu lagi dengan Clementine dan berkenalan lagi ("Have we met before?") dan bla bla bla.

Jadi, meet me in Montauk, bukan sekedar tentang pertemuan (meet) atau sebuah kenangan indah (Montauk), tapi lebih daripada itu, saya harus menuliskannya dengan senyum yang manis, adalah takdir.   


"I just wanted to come here, and say something important"
Magnolia

video

(Very quiet, almost inaudible. Aimee Mann's "Save Me" plays in the background.)

Officer Jim Kurring: I just wanted to come here, to come here and say something, say something important, something that you said. You said we should say things and do things. Not lie, not keep things back...these sorts of things that tear people up. Well, I'm gonna do that. I'm gonna do what you said, Claudia. I can't let this go. I can't let you go. Now, you...you listen to me now. You're a good person. You're a good and beautiful person and I won't let you walk out on me. And I won't let you say those things...those things about how stupid you are and this and that. I won't stand for that. You want to be with me...then you be with me. You see?

(Claudia looks at the camera, with tears in her eyes, and smiles. She does.)

Selasa, 29 November 2011

In Search of Cinematic Experience, Guided by A Lost Map to A Buried Treasure

"The artist's job is not to succumb to 

despair but to find an antidote for the 

emptiness of existence."

(Midnight in Paris)

Drive

Ryan Gosling berperan sebagai seorang montir sekaligus stuntman sekaligus supir bayaran spesialis meloloskan diri dari polisi dan sekaligus seorang pendiam yang gemar ngemut tusuk gigi. Ia selalu berhasil membantu para perampok kabur dari TKP, ia bekerja sendirian dan hanya punya waktu 5 menit untuk menunggu di dalam mobil di tempat parkir sementara para perampok bekerja. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya seorang perempuan masuk ke dalam hidupnya, terutama karena perempuan ini adalah... Carrey Mulligan.

Ber-setting di dunia kriminal underground era 80-an, skandal, pengkhianatan, dan uang kotor menjadi suguhan konflik yang utama. Tidak ada hal baru; seorang antihero dingin yang menemukan cinta dalam diri seorang perempuan lugu menawarkan pada pilihan kesimpulan yang bisa ditebak. Namun yang menjadikannya berbeda adalah proses akulturasi budaya pop antara film noir yang gelap dan kelam dengan suasana 80's yang lebih berwarna (lengkap dengan lagu-lagu synth-pop sebagai soundtrack) yang menjadikan film ini sebagai thriller modern berselera klasik.

Tidak ada adegan cinta eksplosif ala James Bond di antara kedua tokoh utama. Selain karena sang perempuan sudah menikah dan punya seorang anak, sifat si jagoan yang cenderung kalem justru membuat "percikan" di antara keduanya terkesan personal dan hanya untuk dikenang secara diam-diam oleh masing-masing. Secara keseluruhan, film ini tidak berpegang pada aturan-aturan film action pada umumnya dan lebih menonjolkan sisi arthouse khas film kelas festival. Tapi itu tidak menghalangi penonton untuk mampu menikmati dan "mendalami" film ini selama mereka ingat bahwa ini bukan sekuel dari "Fast And Furious".

Jûsan-nin no shikaku (13 Assassins)

 

Di suatu masa di Jepang ketika rockstar adalah seorang laki-laki dengan rambut dikuncir dan membawa pedang yang dikenal dengan sebutan pendekar samurai, hiduplah seorang penguasa lalim yang dingin, yang tak segan membunuh sepasang pengantin baru, memanah anak kecil dan keluarganya yang diikat (seperti game menembak bebek, senapannya diganti panah dan bebeknya diganti manusia), dan memotong kedua tangan, kaki, serta lidah anak perempuan dari seorang petani yang memberontak. Maka seorang pendekar samurai diutus untuk menghentikkan kesewenang-wenangan tersebut. Ia mengumpulkan 12 orang pendekar samurai lainnya untuk terjun ke medan perang, dan selanjutnya adalah, action! Tanpa cut.

Walau beresiko (atau mungkin adalah sebuah penghormatan yang sengaja dilakukan si filmmaker dalam bentuk remake, reuse, recycle) dibanding-bandingkan dengan Seven Samurai (Akira Kurosawa) baik dari segi plot, setting, karakter tokoh, dan sedikit gaya penyutradaraan, film ini setidaknya menghidupkan kembali subgenre fiksi epik swords & sandals yang pernah berjaya di dunia sinema internasional. Adegan pertempuran dengan sabetan pedang dan percikan darah "terkoreografi" secara apik sehingga tidak menimbulkan kebosanan ketika menikmatinya selama sekitar 40-45 menit. Scene-scene yang terbilang tersusun secara efisien dan efektif membuat film ini tidak terlalu "melelahkan" seperti film-film tentang samurai sebelumnya.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kebenaran mengalahkan kejahatan. Si raja lalim merangkak meregang nyawa, dengan badan berlumuran darah dan bermandikan lumpur dia mengeluh, "Pain. It hurts. I don't want to die. I'm scared. I'm scared." (tentu saja dalam bahasa Jepang). Setelah banyak membunuh dan melukai orang-orang dengan tanpa perasaan akhirnya ia menunjukkan sebuah ekspresi yang lepas, penuh penghayatan, dan "menyentuh". Sayangnya itu cuma berlangsung sebentar. Seseorang berinisiatif menebas kepalanya. Sayonara.  

Melancholia

Di hari pernikahannya -yang telah menguras isi kantong kakak iparnya- Justine datang terlambat dua jam ke acara resepsi, mendengar pidato ibu kandungnya yang membenci pernikahan, mendapat promosi jabatan dari atasannya lalu dipecat beberapa jam kemudian karena menghina sang bos dengan terang-terangan, menghilang berkali-kali, tertidur bersama keponakannya saat acara potong kue, ibunya diusir oleh sang kakak ipar, menolak untuk berhubungan seks dengan pasangannya, Michael, dan memilih untuk melakukannya dengan orang asing di tengah lapangan golf, dan yang terakhir, saat acara selesai, ia ditinggal pergi oleh suami barunya itu. Malam itu lalu ditutup oleh kata pengantar dari kakaknya, Claire, yang berbunyi: "Sometimes, I hate you so much!" 

Justine kehilangan akal sehatnya, sementara Claire tercekam oleh rasa paranoid di tengah keluarga kecilnya yang bahagia. Namun Claire sedikit lebih beruntung, karena ia memiliki suami seorang pakar astronomi yang selalu menenangkannya, seorang suami yang tepat untuk menghadapi rasa takutnya terhadap sebuah planet asing bernama Melancholia yang selama ini bersembunyi di belakang matahari dan tengah bergerak menuju bumi. Jadi, semua kesintingan yang terjadi itu adalah mengenai upaya mengatasi ketakutan terhadap kemungkinan kiamat yang akan segera datang atau yang lebih spesifik lagi, ketakutan terhadap kematian. Penyakit lama yang takkan pernah surut oleh waktu.

Selain dari scene pernikahan di part pertama film, Lars von Trier menyuguhkan scene lain yang cukup memorable yaitu saat Claire dan suaminya duduk bersama menyaksikan planet Melancholia melewati bumi. Ditaburi temaram sinar kebiruan, rasa haru menyelimuti Claire saat ia menyaksikan planet tersebut bergerak semakin menjauh dan mengecil. Rasanya seperti pengalaman yang tak terlupakkan untuk bisa melihat dengan mata telanjang planet dengan ukuran besar yang muncul perlahan di hadapan kita. Film ini sarat dengan muatan psikologis manusia dalam berurusan dengan "kekerdilan" dirinya terhadap dunia yang mencakup langit dan bumi serta sistem yang mengatur semuanya. Memang tidak ada yang abadi dalam hidup ini, manusia pada hakikatnya harus berhadapan dengan kematian, bagaimana pun caranya dan kapan pun itu. Namun, bila kebetulan saja saat menengadah ke langit terlihat sebuah benda bundar yang bukan bulan, bintang, matahari, atau bahkan UFO, segeralah batalkan pernikahan! 

Midnight in Paris 

Gil Pender (diperankan Owen Wilson) adalah seorang novelis yang menganggap bahwa Paris di era 20-an adalah masa keemasan peradaban modern. Ia tidak terlalu tertarik dengan hidup di masanya, merasa kelahirannya terlambat beberapa dekade, dan tengah menulis buku tentang suatu tempat bernama Toko Nostalgia. Ia memiliki tunangan, tapi hubungan seks-nya tidak menumbuhkan perasaan immortality yang mendalam dan keduanya tidak memiliki kesamaan persepsi mengenai jalan kaki di bawah guyuran hujan. Namun suasana hatinya berubah ketika tepat di tengah malam, sebuah mobil Peugeot antik datang dan mengajaknya pergi ke tempat yang tidak ia duga sebelumnya: Paris di era 20-an!

Scoot Fitzgerald, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, Pablo Picasso, Salvador Dali, dan tokoh-tokoh seni lainnya, mewarnai malam-malam ajaib yang selalu dilalui Gil tiap pukul 00:00 di Paris. Pesta dansa, diskusi karya lukis, pergaulan sosial dengan para jenius (yang berlimpah jumlahnya di kala itu), dan perselingkuhan kecil dengan seorang art groupie membuat hidupnya begitu bersemangat. Semakin sering ia berada di sana, semakin kuatlah penyangkalannya terhadap hidup yang sedang ia jalani. Di sisi lain, itu menjadi semacam cermin yang menjelaskan apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan dalam hidup. Pada akhirnya, film ini bicara tentang apakah orang yang kamu cintai adalah orang yang benar-benar kamu cintai sepenuhnya.

Film ini digarap dengan komedi khas Woody Allen dengan karakter utama yang juga khas Woody Allen. Dialog-dialog witty ditambah dengan situasi yang awkward menjadi sajian manis nan sedap yang bisa jadi resepnya hanya dimiliki oleh sutradara kawakan ini.  Tidak seperti komedi romantis pada umumnya, film ini lebih banyak "bicara" ketimbang menyuguhkan kekonyolan gender behavior. Dengan tema utama pencarian jati diri, film ini merenggang sampai ke ranah eksistensial bagi para audiens terhadap harapan utopis akan kehidupan peradaban kontemporer. Bukankah kadang kita merenungkan bahwa generasi sebelumnya lebih baik daripada generasi yang sekarang? Yah, itu artinya di masa 50 tahun ke depan orang akan bilang bahwa generasi sekarang adalah generasi yang lebih baik dalam beberapa aspek. Jadi, jalani sajalah hidup ini. 

También la lluvia (Even The Rain)


Sekelompok filmmaker Spanyol berada pada kondisi the right place at the wrong time ketika mereka datang ke daerah Cochabamba di Bolivia untuk syuting film mengenai invasi Christopher Columbus terhadap suku Indian di sana. Di waktu yang bersamaan, gejolak domestik sedang terjadi antara rakyat dan pemerintah terkait persediaan air yang menipis. Rakyat Bolivia (keturunan Indian) harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa menikmati air dari tanahnya sendiri atau bahkan air hujan (even the rain) sekalipun karena semuanya dikuasai oleh perusahaan multinasional. Sementara di dalam proyek film yang sedang dibuat, Columbus sebagai representasi dari kerajaan Spanyol, dikisahkan mengkolonialisasi kekayaan alam penduduk Indian di masa itu yang berupa emas. Maka di sini muncul ironi, apakah memang dari sejak dulu, suku Indian selalu digariskan untuk menjadi orang-orang yang terampas dari hubungan mereka terhadap alam, dunia, dan kehidupan mereka sendiri? Dari sejak era Columbus sampai era modern?

Proses pembuatan film mereka tentu saja tidak berjalan mulus, selain karena kondisi yang memanas antara rakyat yang menuntut haknya dengan para anggota militer yang menjalankan tugasnya, kebetulan beberapa aktor (penduduk asli) yang terlibat di film tersebut juga merupakan bagian dari para demonstran yang marah. Sehingga tak jarang syuting harus tertunda akibat aktornya mendekam di penjara atau babak-belur. 

Film ini secara menarik memperlihatkan perjuangan rakyat (people power) melawan otoritas superior yang dengan tangan-tangan gaibnya "merampas" apa yang telah menjadi milik bersama untuk dijadikan milik pribadi dengan iming-iming laba dan materi. Perjuangan yang dilakukan dengan tanpa kompromi yang bahkan ketika sang pemimpin demonstran (yang juga aktor bayaran) diberi uang oleh produser film untuk tidak melakukan aksi demo selama tiga minggu sampai syuting beres, keesokan harinya ia tetap turun ke jalan demi membela kepentingan yang lebih besar ("there's something more important than your film").

Pada akhirnya semua memang menyadari bahwa ada yang lebih penting dari film, yaitu nilai kemanusiaan. Film gagal dibuat setelah banyaknya biaya yang keluar karena menolong sesama jauh lebih tinggi nilainya. Adegan mengharukan terjadi ketika sang produser berpisah dengan si pemimpin demonstran. Mereka saling berpelukan dan meneteskan air mata lalu si Indian memberinya sebuah bingkisan sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan anaknya. Sebelum ia membuka bingkisan tersebut saya berpikir tentang apa kiranya yang bakal ada di dalamnya mengingat si Indian ini hanyalah rakyat miskin dengan tidak banyak yang ia punya dan hidupnya adalah survivalism. Namun bingkisan memang selalu berisi sesuatu yang berharga, sesuatu yang luar biasa "mahal" nilainya untuk dipersembahkan kepada seseorang, dan kali ini, kemewahan tersebut berwujud sebotol kecil air bening - yaku.

The best quote: "The truth has many enemies. The lie has many friends."

The Tree of Life


Bayangkan sebuah film yang isinya adalah galeri foto, tiap scene-nya bisa dijadikan wallpaper di PC atau laptop dan bahkan untuk menontonnya pun sebenarnya tidak perlu mendengarkan suaranya sama sekali, cukup "ditonton" saja. Film ini merupakan ekshibisi visual yang mengundang decak kagum, muncul sebagai media alternatif dari puitisasi kehidupan, keluarga, cinta, dan kematian. Coba tutup telinga lalu narasikan tiap scene yang muncul di layar ke dalam kalimat, maka bukan tidak mungkin anda telah membuat bait-bait puisi.

Plot dari film ini bukan sesuatu yang mudah untuk diuraikan, bisa jadi film ini tidak memiliki cerita sama sekali atau justru ceritanya itu memang multitafsir. Saya sendiri memahami cerita film ini adalah tentang tokoh Sean Penn yang tiba-tiba teringat tentang keluarganya (di masa kecilnya dulu) saat ia tengah berada di dalam kantor tempatnya bekerja (keluarga di mana kapan pun Brad Pitt muncul, masalah terjadi). Lalu perenungannya itu menyelam lebih dalam lagi: ia bertanya tentang jati dirinya, Tuhan, dan dunia, kemudian semakin dalam lagi sampai ke batas eksistensinya kemudian tentang makna penciptaan kehidupan yang melewati peristiwa dentuman besar, kemunculan ubur-ubur, era dinosaurus, sampai akhirnya terciptalah manusia; dan sejak itu dunia jadi lebih kompleks (baca: hubungan antar-manusia).


Terrence Malick, sang sutradara, mengeksplorasi ke kedalaman jiwanya untuk menemukan "inti" dari seni gambar bergerak dan hasilnya adalah ia berhasil mendobrak pemahaman dan teori tentang bagaimana film disebut film. Ini adalah sinema posmodern yang tidak mengandalkan skema narasi tradisional dalam menyampaikan cerita, ini jauh lebih bebas, lebih berani, lebih berwarna, dan lebih intelek, bahkan terasa lebih trippy. Lewat film ini, terutama dengan pengemasan tiap scene-nya yang apik dan sinematografi mempesona, Malick sepertinya mencoba menyampaikan kepada penontonnya bahwa tiap momen dalam hidup ini (bisa dibuat) berharga. Terbukti dari bagaimana ia sengaja menyisipkan sequence munculnya langit & bumi dan hal-hal lain sebelum manusia dilahirkan, sebagai sebuah statement  bahwa kehidupan ini terbentuk melalui proses yang panjang nan indah, maka manusia sebagai mahluk yang berpikir, pandai-pandailah menjalani serta mensyukurinya. Setidaknya itu yang saya tangkap selama 2,5 jam. Terserah buat yang lain.

 The Trip


Steve Coogan (as himself) diutus oleh harian The Observer bersama Rob Brydon (as himself) untuk melakukan wisata kuliner di daerah pedalaman northern Inggris. Menginap di cottage di area yang lemah sinyal ponsel, berkendara menelusuri jalan-jalan kecil pedesaan sambil meniru impresi aktor-aktor Hollywood, mengunjungi situs-situs alam yang asri, serta kesempatan mencicipi tiap hidangan berkelas adalah sebuah perjalanan yang cukup menghibur. Terutama bagi mereka berdua yang sedang menghadapi kenyataan sebagai aktor kawakan yang telah melewati masa keemasannya.

Kontras di antara dua karakter ini terletak pada kematangan mental dalam menjalani hidup. Rob adalah seorang family man  bersahaja yang tidak terlalu risih dengan keadaannya kini di mana ia tidak terlalu ambisius dalam menaggapi karir selebritisnya. Sementara Steve, memasuki usia 44 tahun, masih berpikir tentang Oscar, berpikir bahwa dia bisa menirukan aksen Michael Caine dan James Bond lebih baik dari siapapun, berpikir tentang bermain dalam film kolosal, bermimpi bahwa para sutradara auteurs kelas atas pasti menginginkannya, berpikir untuk tinggal di Amerika untuk syuting film serial, dan ketika dibandingkan dengan Michael Sheen, ia berseru: "I'm brilliant!"

The Trip adalah semacam perenungan intermezzo Steve terhadap harga dari sebuah popularitas. Walaupun penyajiannya tidak terlalu dramatis, bahkan ini adalah film komedi khas British, namun "kesendirian" yang diperlihatkan dari kehidupan selebritis yang sedang memudar mampu menggambarkan bahwa pada hakikatnya species mereka serupa dengan manusia biasa pada umumnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya krisis eksistensi datang. Dan saat itu terjadi, maka tidak ada yang lebih baik untuk diharapkan selain kehadiran sahabat dan kehangatan keluarga.  

Senin, 31 Oktober 2011

And I Keep Hittin' Repeat-peat-peat-peat-peat-peat-peat



"So intimate, perfect, and so real. Not a fan of Kirsten Dunst but I'm definitely a fan of this music video. As a band who will be only remembered in history from now on, this song is a nice souvenir from REM. The title says it all and I think I can accept their broke-up a little bit easier. I always love black & white. Woman in black & white, I can't think of any sexy pose of female other than that. Kirsten shows her quality in this. She guides my heart to feel every feelings human can do by the look of her expression. I wonder what's on her mind. But on second thought, I'd rather not to know any and just watch it. Better be that way."


video

"We All Go Back to Where We Belong"
R.E.M.