Rabu, 29 Februari 2012

Sam's 'I Believe' Statement

"I can believe things that are true and I can believe things that aren’t true and I can believe things where nobody knows if they’re true or not. I can believe in Santa Claus and the Easter Bunny and Marilyn Monroe and the Beatles and Elvis and Mister Ed. Listen-I believe that people are perfectible, that knowledge is infinite, that the world is run by secret banking cartels and is visited by aliens on a regular basis, nice ones that look like wrinkledy lemurs and bad ones who mutilate cattle and want our water and our women. I believe that the future sucks and I believe that the future rocks and I believe that one day White Buffalo Woman is going to come back and kick everyone’s ass. I believe that all men are just overgrown boys with deep problems communicating and that the decline in good sex in America is coincident with the decline in drive-in movie theaters from state to state. I believe that all politicians are unprincipled crooks and I still believe that they are better than the alternative. I believe that California is going to sink into the sea when the big one comes, while Florida is going to dissolve into madness and alligators and toxic waste. I believe that antibacterial soap is destroying our resistance to dirt and disease so that one day we’ll all be wiped out by the common cold like the Martians in War of the Worlds. I believe that the greatest poets of the last century were Edith Sitwell and Don Marquis, that jade is dried dragon sperm, and that thousands of years ago in a former life I was a one-armed Siberian shaman. I believe that mankind’s destiny lies in the stars. I believe that candy really did taste better when I was a kid, that it’s aerodynamically impossible for a bumblebee to fly, that light is a wave and a particle, that there’s a cat in a box somewhere who’s alive and dead at the same time (although if they don’t ever open the box to feed it it’ll eventually just be two different kinds of dead), and that there are stars in the universe billions of years older than the universe itself. I believe in a personal god who cares about me and worries and oversees everything I do. I believe in an impersonal god who set the universe in motion and went off to hang with her girlfriends and doesn’t even know that I’m alive. I believe in an empty and godless universe of causal chaos, background noise, and sheer blind luck. I believe that anyone who says that sex is overrated just hasn’t done it properly. I believe that anyone who claims to know what’s going on will lie about the little things too. I believe in absolute honesty and sensible social lies. I believe in a woman’s right to choose, a baby’s right to live, that while all human life is sacred there’s nothing wrong with the death penalty if you can trust the legal system implicitly, and that no one but a moron would ever trust the legal system. I believe that life is a game, that life is a cruel joke, and that life is what happens when you’re alive and that you might as well lie back and enjoy it."

(American Gods, Neil Gaiman)

Selasa, 07 Februari 2012

Vicarious

"You never really understand a person until you consider things from his point of view--until you climb inside of his skin and walk around in it."


(To Kill A Mockingbird, Harper Lee)

Bagaimana kalau selama ini ternyata kita juga lah yang salah?

Bicara mengenai kebebasan berekspresi di Indonesia, siapa yang telah melahirkannya: reformasi atau social network?

Yang jelas era 2000-an telah melahirkan manusia baru di nusantara, manusia yang sensitif, kritis, bersuara, bicara, sehingga bila konotasi negatifnya bisa disingkirkan dari pikiran, manusia Indonesia layak diberi sebutan manusia oral (merujuk pada kesadarannya dalam mengutarakan pendapat, walau salah satu perantaranya juga termasuk melalui teks). Tentu saja ini merupakan hal yang bagus. Setelah sekian lama mulut kita selalu dibungkam dan pikiran kita digiring dalam rambu-rambu tertentu, maka kebebasan seperti ini adalah runtuhnya tembok Berlin kita. Gerbang telah terbuka, walau mungkin kita masih merangkak, menggapai udara baru ini dengan keluguan sehingga terkadang beberapa terdengar terlalu cerewet, terkadang terlalu memaksa untuk didengar, terkadang juga senyaring tong kosong. Satu hal, masa-masa tembok pembatas itu sudah dilewati.

Adalah suatu hal yang ‘menyenangkan’ ketika negeri ini selalu memiliki berita-berita untuk dibicarakan, isu-isu untuk didiskusikan, peristiwa-peristiwa hangat yang selalu terjadi sehingga kita bisa selalu terlepas dari cengkeraman teror kebungkaman. Dan bisa jadi karena sebelumnya kita memiliki pengalaman hidup di rezim Orde Baru sehingga topik yang selalu populer untuk dibicarakan (diteriakkan bahkan diprotes) adalah topik mengenai kondisi negara dan para politisi; atau lebih tepatnya lagi, negara di tangan para politisi.

Reaksi yang ditunjukkan dari bicara mengenai topik tersebut bisa bermacam-macam. Ada geram, gerah, jengkel, dongkol, gemas, kesal, marah, menertawakan, mengkritik habis-habisan, menyerang tanpa kompromi, menyindir tajam, memparodikan dengan konyol, menyayat kepalsuan mereka dengan pisau ketidakpercayaan yang terus diasah dalam peluh asa di hari-hari demokrasi. Dan sisanya adalah pujian. Masalah korupsi adalah virus utamanya. Para politisi seakan bersatu di bawah payung korupsi melawan rakyat yang terikat oleh ketidakadilan. Berita-berita mengenai korupsi kerah putih ini terus datang silih berganti, tidak ada habisnya, selalu diperbaharui tiap tahun dengan pelaku dan modus yang bervariasi. Sifatnya yang akut seolah otomatis tercetak di DNA para politisi sementara kemiskinan yang belum teratasi menjadi parameter dari tiap penghakiman oleh masyarakat. Menghamburkan banyak uang dengan kinerja di bawah standar adalah catatan rapor yang layak diwarnai merah mengkilat.

Rakyat pun bereaksi. Berpikir betapa tak habis pikirnya para politisi tersebut mencederai amanat jutaan jiwa, bahkan tak jarang secara berjamaah dan terang-terangan. Rakyat bertanya ke mana perginya hati nurani para anggota dewan, di mana otak mereka dan mengapa sifat rakus itu begitu mengakar. Lewat atmosfer kebebasan berpendapat yang demokratis, mereka berteriak dalam satu suara. Tidak melulu melalui demonstrasi, tapi dengan medium lain yang juga mampu memfasilitasi jeritan mereka. Dari mulai acara TV, talk show, debat terbuka, petisi-petisi, forum-forum pembela rakyat, asosiasi pemuda-pemudi harapan bangsa, sindiran-sindiran yang diselipkan dalam budaya pop, atau mungkin sekedar komentar nyinyir dalam karakter terbatas huruf/angka (tidak lupa emoticon) di media sosial. Seperti singa yang dilepas dari kandang, kebebasan ini sama buasnya dengan predator kelaparan.

Rakyat adalah protagonis, setidaknya demikianlah pemahaman yang diterima. Suara-suara mereka mengarah pada moralitas dan nilai-nilai kehidupan yang luhur. Di balik protesnya, tersembunyi pula pengumuman mulia bahwa jikalau mereka terlahir sebagai politisi, tentunya mereka akan benar-benar menjadi sosok penyambung lidah rakyat, karena mereka tahu apa yang harus dilakukan oleh para politisi sementara para politisi itu semua hanyalah para pemula yang diangkat berdasarkan curriculum vitae dengan kredibilitas nol. Rakyat membangun argumen-argumen kebenaran yang disodorkan langsung di wajah para politisi. Mereka membuat ‘permainan’ dan menemukan ‘kesenangan’ tersendiri lewat cibiran, kadang itu juga bisa membangun kepercayaandiri dengan terdengar cerdas atau bijak. Yang jelas rakyat selalu benar.

Tapi bagaimana kalau ternyata rakyat telah salah menilai selama ini?

Perilaku korupsi politisi mencerminkan suatu keinginan yang besar untuk mengumpulkan uang, bahkan menggila sampai tak terkendali. Korupsi bisa jadi merupakan kejahatan yang paling jujur dalam merefleksikan sifat/mental pelaku sebagai manusia, kondisi lingkungan/manusia di sekitarnya, dan nilai-nilai kehidupan yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu tindak kriminal, eksistensi korupsi bergantung pada aspek-aspek tersebut. Mengingat skala pencuriannya yang biasanya berjumlah besar, maka korupsi politisi tidak lagi bicara motif pemenuhan kebutuhan sang pelaku dalam menjalani hidup, tapi lebih kepada ‘desire’ atau apa yang pelaku inginkan dalam hidup. Beda kasusnya dengan curanmor atau merampok bank yang kebanyakan bermotif ekonomi atau pembunuhan yang motifnya lebih emosional. Secara motif, korupsi berakar sama dengan perkosaan.

Saya punya semacam ilustrasi cerita. Setiap politisi dilahirkan dari rakyat, apalagi karena sistem negara kita bukan monarkhi. Tersebutlah seorang anak manusia dilahirkan di sebuah desa, di pinggir kota, di pemukiman sederhana, atau di tempat manapun di Indonesia yang mencerminkan rakyat. Lalu anak ini dibesarkan oleh keluarga yang sederhana, pas-pasan, berkecukupan atau hampir berkecukupan, keluarga yang tidak kaya dan juga belum tergolong miskin sehingga mampu menyekolahkan si anak sehingga logika berpikirnya terbentuk. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang ia lihat, semakin banyak yang ia alami dalam hidup. Ia melihat apa yang disebut kelas sosial, kelas di luar sekolah di mana ia pun mengidentifikasikan diri di dalamnya. Kondisi negara, kondisi ekonomi, pemberitaan di TV, masalah kemakmuran, kriminalitas, semuanya terhimpun dalam satu judul: perbedaan kelas.

Sebelah mata anak itu melihat ke bawah, sebelah lagi melihat ke atas. Tumbuh di lingkungan cukup sederhana membuat tujuan hidupnya menjadi jelas, ke atas, menuju kelas sosial yang satunya lagi. Menyaksikan kemiskinan dan keterbelakangan telah membuat hatinya geram dan memantik motivasi kuat di dalam diri untuk memperbaiki keadaan, nasionalismenya memanas. Maka ia belajar, bekerja keras, dan berjuang sepenuh hati sementara orang-orang lain di sekitarnya tidak tahu harus berbuat apa. Baginya itu tidak menjadi soal, toh merekalah rakyat yang hendak ia wakili suaranya.

Marx, Machiavelli, The Republic, semuanya ia lahap. Ia aktif dalam pergerakan sosial, berdemonstrasi, memporovokasikan ideologi-ideologinya lewat berbagai media, beryel-yel, bergabung dengan partai politik, merumuskan program-program suci, dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin kehidupan percintaan; masa mudanya dipenuhi percikan patriotisme Soekarno baru dalam tagline pemuda harapan bangsa. Si anak bangsa ini bangkit.
Lalu akhirnya ia duduk dan menyadari bahwa semuanya sudah berubah. Hidupnya tidak lagi seperti dulu, kini ia dihormati, punya banyak relasi, memiliki kedudukan dan hidup sejahtera. Pada titik ini dia menoleh ke belakang, melihat jarak yang terbentang antara masa lalunya dan masa kini. Ia melihat dua hal.

Pertama, rakyat tidak berubah. Ia tidak menyalahkan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia mulai menyadari dengan rakyat yang seperti apa ia berhadapan. Dulu ia berada sederajat dengan mereka namun sekarang ia telah bermetamorofosis dan apa yang ia pelajari dari semuanya adalah ia meraihnya lewat kerja keras. Sementara rakyat yang lain berada dalam realita yang aneh, mereka tahu perbedaan antara keadaan buruk dan baik, namun mereka ‘betah’ berada dalam keadaan yang mereka punya dan memilih untuk mengeluh kepada Tuhan atau pemerintah terkait hal tersebut. Padahal si anak bangsa berasal dari tempat yang sama dengan rakyat tetapi ia mampu untuk merubah keadaan dirinya. Ia bertanya apa mungkin perjuangannya telah disia-siakan?

Rakyat yang ia hadapi adalah rakyat yang menuntut fasilitas umum dan beberapa hari setelah permintaannya dikabulkan, apa yang telah mereka terima itu dirusak lewat vandalisme, pencurian material, atau perusakan dan pelanggaran yang disengaja. Taman kota disulap jadi kebun sampah atau rawa gelap gulita. Shelter bus umum dicorat-coret. Pembatas jalan dijebol. Zebra cross atau jembatan penyeberangan sepi pengunjung. Trotoar dipenuhi pedagang kaki lima. Kalau sudah begitu, membangun sesuatu untuk kemudian dirusak adalah suatu tindak pemborosan, dan bukankah pemborosan sendiri merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Lebih baik menggunakan uang untuk sesuatu yang pasti dan jelas penggunaannya. Siapa yang mengkorupsi siapa?

Ia telah berjuang dengan sengit untuk menjadi seperti sekarang sementara sifat rakyatnya sendiri seperti kebal terhadap kemajuan. Ia menemukan bahwa pernyataan “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri” adalah logika yang masuk akal, ia membuktikannya sendiri.

Kedua, fungsi jabatannya tercederai oleh sikap mental yang berlaku di masyarakat. Ini merujuk pada kesepakatan umum mengenai makna dari kata sukses. Setiap orang yang belajar atau bekerja, semuanya diharapkan, didoakan untuk mencapai kesuksesan. Dan kita semua terlanjur gemar mengkonotasikan sukses dengan kekayaan.

Seorang guru tidak dikatakan sukses jika dia tidak berpenghasilan tinggi. Para orang tua senang jika anaknya menjadi dokter karena dokter biasanya sukses, apalagi dokter spesialis. Begitupun dengan si anak bangsa. Ia diharapkan untuk menjadi orang sukses oleh orang-orang di sekelilingnya. Betapa sering kita mendengar bahwa kekayaan adalah cermin kesuksesan dan terutama karena ia berasal dari kalangan bawah maka dorongan itu makin kuat. Siapa yang mau tahu tugasnya sebagai wakil rakyat, kontribusinya terhadap sosial? Apa yang dibanggakan dari keluarga seorang wakil rakyat selain kedudukan dan kekayaan atau kesuksesan yang dimilikinya? Ketika ia pindah ke Jakarta, wejangan yang didapatnya adalah agar ia bisa ‘sukses’ bukan dukungan untuk membela rakyat. Ini sudah merupakan ketetapan umum yang menggerakkan segala niatnya sehingga membuatnya merasa bahwa hidup harus membayar hutang padanya.

Saya merasa mental OKB (Orang Kaya Baru) menjembatani aktivitas korupsi wakil rakyat. Menurut saya asal muasal munculnya status tersebut bila ditelusuri berpangkal pada karakter inferior masyarakat Indonesia yang berkubang dalam kedangkalan sikap hidup. Tentunya korupsi bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi. Selain karena adanya kesempatan, korupsi pun terjadi karena adanya dorongan ilusif yang membuat si pelaku harus melakukannya dengan resiko apapun. Ini bukan semata masalah kebutuhan yang tidak terpenuhi, tapi mengarah pada usaha mengakomodasi gaya hidup perut buncit, gaya hidup yang disebut sebagai ‘sukses’. Dan si pelaku, si politisi, si wakil rakyat adalah alat yang berupa ujung logam lancip yang berdiri di atas pegangan kayu yang panjang dari sebuah tombak. Kedua bagian ini saling berpadu. Mengisi posisi masing-masing untuk menjalani fungsinya sebagai perkakas berbahaya.

Jika kembali pada bagaimana orang-orang bebas berpendapat, ada kesan kontradiktif yang tertangkap. Tidak hanya kepercayaan terhadap wakil rakyat yang luntur, kepercayaan terhadap rakyat pun mengundang tanda tanya. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk hidup sederhana jika rakyat merasa risih untuk hidup sederhana. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk tidak berfoya-foya jika diam-diam di dalam hati rakyat pun menyimpan keinginan untuk bisa merasakannya. Bagaimana meminta wakil rakyat untuk bekerja keras melayani bila rakyat sendiri memilih untuk bermalas-malasan selalu mengeluh. Bisa jadi segala kritik yang tertuju pada wakil rakyat merupakan penyaluran dari rasa iri, sehingga makin banyak orang berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai wakil rakyat demi untuk merasakan keistimewaan yang ada. Untuk merasakan ‘kesuksesan’.

Entahlah, yang jelas selalu ada dua sisi mata uang. Dan bila kita belajar dari sejarah, kita tahu bahwa rakyat lah yang bisa merubah wakil rakyat, bukan sebaliknya. Rakyat pula lah yang bisa merubah suatu negara atau pemerintahan, bukan sebaliknya. Dan cermin adalah salah satu penemuan terpenting dalam peradaban manusia.

Senin, 09 Januari 2012

It May Be As Easy As Just to Sit and Watch, But Somehow Eyes Need to Be Taught to See Things Closer and Further, For There's Always Wisdom in Every Creation, Someone Said

"Well, let's say that since you were little, you always dreamed of getting a lion. And you wait, and you wait, and you wait, but the lion doesn't come. And along comes a giraffe. You can be alone, or you can be with the giraffe."


(Beginners)

50/50
Komedi kanker. Sebenarnya bukan pasangan kata yang pas, seperti yang dicontohkan oleh tokoh Adam saat dia didiagnosis memiliki tumor schwanomma di bagian punggungnya dan kemudian dia harus menghadapi kenyataan diselingkuhi oleh pacarnya, berurusan dengan ibunya yang over-protektif, digunakan sebagai "umpan" oleh teman baiknya untuk mendekati perempuan, dan yang paling menjengkelkan adalah mendengarkan orang-orang selalu mengucapkan kalimat: "You're gonna be okay" padanya. Namun kondisi tersebut justru memunculkan situasi komedi dunia modern di mana bagaimana pun sekaratnya seseorang, life akan tetap goes on! Maka persahabatan dan cinta menjadi sangat berarti untuk melewati hari demi hari.

Film ini sukses mensinkronisasi unsur komedi dan drama tanpa membuat salah satunya jadi lebih dominan dari yang lain. Hasilnya adalah sebuah feel-good movie (yang mengingatkan saya pada Greenberg atau Another Year) yang menyentuh hati lewat gelitikan yang dikemas secara bersahaja. Fase putus asa yang dilalui Adam, ditambah lagi dengan detik-detik mendebarkan menuju meja operasi (dalam keadaan kalap, Adam yang tidak punya SIM nekat menyetir mobil sahabatnya lalu menerobos jalan satu arah. Ia berhenti, mengusir sahabatnya itu keluar dan mengamuk di dalam sambil teriak dan memukul-mukul kemudi. Setelah itu, ia menelepon terapisnya dan dengan lembut berkata: "I wish you were my girlfriend"), merupakan sebuah momen yang sarat simpatik yang ditujukan kepada penonton tentang betapa gamangnya menunggu kematian datang. Terutama lagi jika bicara mengenai kesendirian seseorang saat menghadapinya.

Secara subjektif, sangat mudah untuk menyukai Anna Kendrick di dalam film ini dalam perannya sebagai seorang terapis muda yang sedang training (dan punya kebiasaan membiarkan lantai mobilnya diseraki bungkus makanan & minuman). Kecanggungannya saat menghadapi Adam serta penampilannya yang anggun, menjadi angin segar bagi setiap orang depresif untuk berpikir tentang sesegera mungkin menemui terapis. Dan film ini menjadi lebih sempurna lagi saat lagu Yellow Ledbetter dari Pearl Jam dipasang di bagian ending.  Mendayu-dayu tepat saat Miss Kendrick ada di sana. Aw, Fuck!   

Beginners


Sebuah film yang kalem. Di usianya yang berada di 30-an, Oliver mendengar pengakuan ayahnya yang sudah berumur 75 tahun bahwa selama ini dirinya adalah seorang gay dan memutuskan untuk menjalani statusnya itu secara lebih praktikal, tidak lagi secara teoritis, terutama setelah istrinya meninggal dunia. Maka, terjawablah sudah segala bentuk "kedinginan" yang selama ini Oliver saksikan langsung dari hubungan kedua orangtuanya itu yang berujung pada pengambilan sikapnya untuk tidak menjadi seperti ayahnya yang selama ini hidup menjalani komitmen  penuh penyangkalan. Lalu, sang ayah meninggal akibat kanker dan Oliver bertemu dengan Anna, perempuan asal Prancis yang unik. Dia mencintainya tapi dia tidak yakin dengan bagaimana caranya.

Dibesarkan dengan contoh yang buruk dari hubungan cinta orangtuanya, Oliver "belajar" dari kisah singkat romantisme gay antara sang ayah dan kekasihnya, Andy. Dalam gaya tutur film yang nonlinear, Oliver mengenang saat-saat terakhir kebersamaan dengan ayahnya itu yang bersimpangan dengan kisah asmara yang sedang ia jalani yang terjalin manis namun juga mengandung kehati-hatian. Sebagai seorang anak, dia tidak bisa mengabaikan sosok orangtua satu-satunya itu yang sejak dulu tidak pernah begitu dekat (dia akrab dengan ibunya) yang kemudian melahirkan keakraban ambigu di antara keduanya. Dia mencintai ayahnya, mencintai cinta sesama jenis yang dijalankan ayahnya, dan belajar mencintai Anna sepenuhnya.

Beginners adalah film "galau" dalam skala filosofis yang dikemas secara kontemporer sehingga hasilnya tidak menjadi terlalu "berat". Oliver yang seorang desainer grafis, mengembangkan sebuah proyek seni yang ia beri judul The History of Sadness yang berupa rangkaian sketsa karikatur buatan tangannya. Ia menggambarkan bahwa dari sejak bumi tercipta, kesedihan pertama yang ada berawal dari sebuah pernikahan antar pasangan yang salah yang kemudian berujung pada penemuan cara bunuh diri, penciptaan alkohol, obat-obat terlarang, dll. Entah ini menakut-nakuti atau tidak, tapi pernikahan mungkin memang merupakan sesuatu yang sulit. Cinta dan pernikahan, bisa jadi keduanya berada di dua sisi berbeda. Untuk hal ini, semua orang adalah pemula.

Carnage


Michael dan Penelope adalah orang tua dari seorang anak yang dua giginya patah dan kepalanya terluka karena dipukul kayu oleh anak dari Alan dan Nancy. Penelope mengundang pasangan tersebut ke rumahnya untuk mengadakan pertemuan dan pembicaraan bersahabat antar orang tua untuk menghapus ketegangan di kedua belah pihak. Dan pada akhirnya, masing-masing mendapat pengalaman "the worst day of my life" dengan membuktikan bahwa tidak ada yang bisa melakukan verbal bullying yang lebih baik daripada pasangan orang tua bermasalah.

Maka inilah empat orang yang saling "menyiksa" dan menyalahkan dalam arena adu debat good parents vs. bad parents, konvensional vs. modern, republikan vs. demokrat, pasifis vs. realis,  pecinta hewan vs. pembenci hewan, maskulin vs. feminin, karir vs. rumah tangga, korban vs. pelaku, histeris vs. histeris, dengan tema-tema yang diangkat mulai dari hamster, John Wayne, panggilan sayang, pekerjaan, sampai kemiskinan di Afrika. Setiap orang bebas untuk mengutarakan isi hatinya sampai muntah sekalipun, bahkan masing-masing bebas untuk berpihak pada siapa saja, bisa jadi dua lawan dua atau satu lawan tiga. Waktu istirahat akan ditentukan dari suara dering handphone. Tersedia kopi, cobbler (semacam pai), dan sebotol scotch gratis dan tak boleh merokok di dalam rumah. Semuanya untuk menguji seberapa lama keramahtamahan dapat bertahan di antara orang-orang yang menyimpan "kegilaan" di balik peradabannya.

Diadaptasi dari naskah teater Yasmina Reza, film ini adalah tontonan komedi terhadap permasalahan rumah tangga metropolitan. Nervous breakdown adalah milik perempuan sementara laki-laki punya apatisme. Karakter-karakter ini dengan beban dan "penyakit" psikologis-nya masing-masing saling berhadapan untuk mencapai satu gelar prestisius dari zaman kebebasan berpendapat, yaitu: I am the right one. Pujian layak diberikan untuk penampilan Jodie Foster, John C. Reily, Kate Winslet, dan Christoph Waltz. Walau bukan karya terbaik sutradara Roman Polanski, tapi tetap saja, ini adalah karya Roman Polanski!

Martha Marcy May Marlene


Martha adalah gadis belia yang menghilang dari keluarganya selama 2 tahun karena tergabung dalam sebuah perkumpulan cult rahasia di mana ia dipanggil dengan nama Marcy May (Marlene adalah nama yang dipakai semua perempuan anggota cult itu khusus saat menjawab telepon). Diliputi oleh ketakutan karena sebuah kegiatan perkumpulan (yang dipimpin oleh laki-laki bernama Patrick) menjurus kriminal, di suatu pagi ia melarikan diri dan tinggal bersama kakak perempuannya yang telah bersuami. Di tempatnya yang baru ini, Martha tenggelam dalam persimpangan antara kenyataan dan mimpi (memori) serta di antara kehidupan normal dan kehidupannya sebelum ini.

Martha terbiasa tidur bersama lebih dari lima orang perempuan lain dalam satu kamar sehingga ketika ia diberi sebuah kamar di rumah kakaknya itu ia tidak bisa tidur karena sendirian. Martha terbiasa berbagi baju dengan perempuan anggota perkumpulan yang lainnya sehingga ia merasa lucu saat kakaknya memberikannya sebuah baju. Martha terbiasa berenang tanpa busana. Martha adalah seorang sosialis yang menentang konsep tentang karier yang diutarakan oleh kakak iparnya. Dan Martha adalah gadis belia yang dengan santai masuk ke dalam kamar kakaknya yang sedang berhubungan seks lalu meringkuk di atas kasur, bersebelahan dengan posisi misionaris yang sedang dilakukan oleh pasangan tersebut (baginya, orgy adalah hal yang lumrah). Untuk itu, sang kakak yang terkejut berteriak padanya: "This is not normal, this is privacy." Ini menjadi kalimat kunci yang menggambarkan kehidupan Martha sebelumnya, tanpa privasi dan dalam banyak aspek, tidak normal.

Sepanjang film, Martha, yang diperankan dengan sangat baik oleh Elizabeth Olsen, berada dalam paranoia dan kebingungan untuk "berkoneksi" dengan dunia barunya. Pengalaman abusif yang pernah dia alami membawanya kepada semacam trauma dan teror dari sosok Patrick yang sulit untuk dihilangkan begitu saja ("How far are we from yesterday?"). Secara tersirat, Martha merepresentasikan persamaan perempuan = korban dalam segala hal (formula abadi dalam dunia sinema selama bertahun-tahun). Dan tak ada yang lebih berbahaya bagi perempuan selain menjadi korban ideologi, karena efeknya mengarah langsung pada kegilaan. Kejahatan selalu mengenakan selimut yang terbaik. Untuk Marcy May, Patrick bernyanyi: "She's just a picture/ Just a picture/ That's all."

Moneyball


"How can you not get romantic about baseball?" Sejak awal, Billy Beane selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan penting dalam hidupnya. Saat muda, ia memilih menjadi pemain baseball profesional dan menolak beasiswa sebuah universitas hanya untuk menjadi seorang rising star yang gagal. Ia memilih untuk menjadi manajer tim Oakland Athletics, tim dengan cita-cita tinggi namun dana yang terbatas. Ia memilih untuk merekrut para pemain buangan untuk bertanding di liga dan itu terjadi karena, dibanding mempercayai talent scout-nya, ia lebih memilih untuk mempercayai Peter Brand, lulusan fakultas ekonomi yang ahli dalam menganalisis pertandingan melalui data statistik. Tapi apa Billy berhasil dengan semua pilihannya itu? Setidaknya dia percaya.

Walau premisnya terkesan klise untuk film bertema olahraga, namun film ini tidak seperti yang lain. Penempatan klimaks pertandingan besar yang bukan di bagian ending adalah sebuah pernyataan kepada audiens bahwa ini bukan hanya tentang upaya meraih kemenangan dalam struktur heroik from zero to hero, lebih jauh lagi ini adalah tentang berada di dalam lapangan bisnis di mana pertaruhan adalah filosofi permainannya. Billy tidak pernah menonton timnya bertanding di pinggir lapangan, ia juga tidak bersosialisasi dengan para pemainnya, dan ketika memecat pemain, ia memilih kata-kata yang lugas dan singkat. Sikapnya merupakan cerminan dari pengalamannya selama 20 tahun lebih berada di dunia baseball, yang selalu memiliki awal yang menjanjikan, sama seperti setiap kesempatan dalam hidup.

Dengan pencampuran mood melankolis dan optimistis di sepanjang film, Moneyball membawa sport movie ke level lain karena ceritanya yang terfokus pada sisi-sisi manajerial-nya (ditambah lagi dengan karakter Billy yang kontemplatif yang membuat film jadi rada psikologis). Brad Pitt dengan sukses melucuti aroganisme dan kebintangannya untuk memerankan pria yang berjuang dalam ketidakpastian nasibnya, karena pada akhirnya olahraga bukanlah ilmu pasti atau ilmu hitung-hitungan, ada nilai lain yang terdapat di sana. Suatu nilai yang menjawab situasi di mana saat Billy ditawari untuk menjadi general manager bergaji tertinggi sepanjang sejarah baseball, ia lebih memilih untuk mencintai baseball.   

The Skin I Live in


Tidak ada hukuman yang lebih pantas diberikan kepada pemerkosa selain merubah jenis kelaminnya secara paksa dalam operasi plastik dan tak ada yang lebih ambisius bagi seorang ahli bedah plastik yang berduka karena kehilangan istrinya selain menyulap orang asing menjadi mirip dengan istri aslinya tersebut. Kedua premis ini bertemu dalam kisah Pinokio bondage, dominance & submission  tentang penebusan dan dendam dari seorang dokter yang secara tragis ditinggal mati oleh istri dan putri semata-wayangnya. Resiko pun ia ambil dengan eksekusi yang dingin dalam tindakan sekali-dilakukan-tidak-bisa-kembali-lagi-ke-awal demi batinnya yang terluka, reputasinya, serta kemajuan ilmu pengetahuan.

Entah ini kekejaman atau komedi, yang jelas saat scene seorang laki-laki sadar dari pengaruh bius dan mendapati dirinya berada di meja operasi bersama sang dokter yang berkata bahwa operasi vaginoplasty-nya berhasil dan si laki-laki dengan lemas berekspresi seperti, "What? I have a vagina?" lalu kembali pingsan, jelas sekali adegan tersebut membuat ngilu. Sama ngilu-nya seperti saat si dokter menjelaskan ke pasiennya benda apa saja yang harus dimasukkan agar lubang vaginanya terbuka dan menjadi lebih dalam. Seperti tirai, rahasia kelam pun terungkap satu per satu yang semakin diingat-ingat semakin menambah rasa ngilu.

Di antara semua katalog film Pedro Almodovar, film ini rasanya adalah yang paling hardcore. Penampilan anggun Elena Anaya (muse baru setelah Penelope Cruz, senor Pedro?) dengan baik menghiasi scene-scene di film di balik semua kasus penyimpangan yang terjadi dalam cerita. Pelajaran terbaik adalah bila dua orang sedang melakukan seks, belum tentu keduanya sama-sama bisa menikmati dan jika itu yang terjadi, lebih baik segera berhenti. And sex change is not a joke

Tinker Tailor Soldier Spy


Diangkat dari novel dengan judul sama karya John le Carre, Film ini mengangkat kisah intrik dunia spionase di era perang dingin. Cerita berpusat pada tokoh George Smiley yang dipecat dari sebuah British Intelligence untuk kemudian bekerja secara independen mengungkap identitas seorang agen ganda yang berhubungan dengan kasus pemberhentiannya itu. Dibantu oleh seorang agen muda dan seorang "buronan" yang mengungkap rahasia adanya keterlibatan pihak Rusia, investigasi berjalan pelan namun pasti dengan penemuan fakta-fakta baru yang di antaranya menyinggung skandal perselingkuhan mantan istrinya dengan orang dalam.

Sebagai film yang bertema mata-mata, penyajiannya mungkin akan terasa kurang "pop" dengan minusnya aksi tembak-tembakan atau kejar-kejaran khas Hollywood. Namun dengan barisan cast yang kebanyakan aktor-aktor yang tidak lagi muda, maka argumen yang tepat adalah film ini merupakan sebuah thriller investigation yang lebih menonjolkan permainan kata, trik, dan plot yang cerdas. George Oldman tampil sangat baik memerankan karakter tokoh utama yang kaku sekaligus elegan khas Inggris. Logat bicara dan kacamatanya mengaburkan bayangan bahwa dia juga adalah paman Harry Potter yang gila.

Sutradara asal Swedia, Tomas Alfredson, mengajak penonton untuk berkonsentrasi di sepanjang film dengan menampilkan detail-detail kecil yang penting dalam membangun cerita, seperti butir keringat yang menetes di atas meja, lalat di dalam mobil, atau gerakan bola mata. Bahkan bila jeli, bukan tidak mungkin penonton bisa langsung mengungkap identitas penyusup itu di pertengahan film. Pada akhirnya memang tidak ada persahabatan yang abadi jika memilih mata-mata sebagai mata pencaharian karena seseorang harus hidup dalam kecurigaan penuh selama 24 jam. Kehilangan apa saja merupakan resiko yang harus ditanggung dan dihadapi, kecuali untuk James Bond, karena dia selalu berhasil mendapatkan perempuan.

Senin, 19 Desember 2011

Simbiosis Transendensialisme


You can tell the size of your God by looking at the size of your worry list.  The longer your list, the smaller your God. 

(Anonymous)
Saya sudah terlalu lama hidup di dalam lingkungan yang beranggapan bahwa mempertanyakan atau bahkan sekedar berpikir tentang apa yang Tuhan lakukan adalah hal yang tabu, subversif, melenceng, atau dalam kerangka pemikiran tertentu, tindakan itu juga tergolong dosa. Yang jelas kita akan selalu menyepakati kesimpulan akhir bahwa Tuhan adalah maha terhadap apapun sehingga kita sebagai manusia, tidak punya pilihan lagi selain meratapi kekecilan kita yang luar biasa itu. Ada kecenderungan pemahaman yang menyebut karena Tuhan itu Maha Besar dan manusia hanyalah seukuran atom yang terbagi-bagi lagi dan lagi dan lagi, maka menyinggung soal Tuhan adalah sebuah upaya yang takkan terjamah oleh manusia selain dari menjamah kegilaannya sendiri. Maka terima saja kesimpulan besar itu: Tuhan adalah yang paling Tuhan di atas segala apa-apa.

Tersebutlah Tuhan yang sangat besar itu sebagai kekuatan tak terbatas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kehadiran-Nya mau tidak mau mengecilkan eksistensi manusia. Agama muncul sebagai ideologi praktis dan teoritis dalam meletakkan pijakan-pijakan di atas jalur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kehadirannya mau tidak mau menggoda iman manusia.

Lalu pada prosesnya, agama memiliki fungsi lain. Melewati nalar manusia, ajaran agama berkembang sebagai medium yang mengajak manusia untuk “berdamai” dengan Tuhan. “Berdamai” dalam pengertian ketundukan tanpa syarat, penyerahan diri yang tak bisa ditawar-tawar lagi posisinya. Karena Tuhan Maha Apa Saja ―dengan kekuatan yang meliputi membelah matahari jadi dua dalam satu tiupan, membangkitkan dinosaurus dari tanah, atau menciptakan sepuluh Adolf Hitler― sedangkan manusia begitu tidak berdaya, maka “perdamaian” harus dicetuskan untuk menegaskan posisi keduanya. Ide tentang kemurkaan Tuhan dan neraka akhirat menjadi unsur penting dalam pengenalan agama yang pada ujungnya juga digunakan untuk mendefinisikan (atau mempersonifikasikan) Tuhan.

Ketaatan terhadap Tuhan jadi nama lain dari ketakutan akan Tuhan. Ketakutan seperti lutut bergetar, kencing di celana, gemeretak di gigi, yang muncul dari membayangkan Tuhan sebagai penguasa absolut dari segala penguasa yang selalu siap dengan kemarahannya untuk menghukum manusia. Maka ketakutan manusia pun dibuat menjadi absolut. Agama, dalam pengertian lain, adalah panduan untuk mempertegas rasa takut manusia terhadap hukuman-hukuman dan angkara murka Sang Pencipta. Sehingga akhirnya, agama tidak lebih dari sekedar hal-hal dogmatis.

Terkait dengan lingkungan saya ―atau lingkungan yang terwakili dalam istilah Indonesia― atmosfer dogmatik yang begitu kuat terletak pada prinsip beribadah yang melekat di keyakinan umat beragama. Hal-hal yang menyangkut penghakiman prematur mengenai pahala dan dosa. Adalah suatu kelumrahan untuk menyebut bahwa tujuan beribadah adalah untuk menyenangkan hati Tuhan atau meredakan kemarahan-Nya (bayangkan sebuah bencana alam yang dikaitkan dengan dosa para penduduk tempat bencana tersebut terjadi). Jika manusia beribadah maka Tuhan tersenyum, jika manusia lalai Tuhan akan kesal. Ibadah adalah untuk Tuhan, penyerahan terbaik dari kelemahan manusia untuk Sang Maha Dahsyat. Dan jika saya tidak salah melihat, ibadah menjadi manifestasi dari karakter dan mental upeti/sesajen pengikut-Nya. Ketundukan terhadap sang Superpower. Mental yang telah membentuk wajah bangsa ini selama ratusan tahun.

***

Film The Tree of Life dirilis tahun ini. Karya sutradara Terrence Malick (setelah sekian lama vakum) ini menuai pujian dari para kritikus dan meraih banyak penghargaan. Ada satu sequence di dalamnya yang membuat saya terbius. Sebuah adegan kilas balik visual mengenai penciptaan kehidupan dari mulai pembentukan langit, galaksi, bumi, lautan, daratan, tumbuhan, mahluk bersel satu, ikan, dinosaurus dan kepunahannya, lalu akhirnya manusia yang mungil dan lemah, meringkuk di dalam janin. Adegan yang luar biasa yang memperlihatkan Tuhan sedang berkarya, menghasilkan mahakarya demi mahakarya dengan cita rasa yang tak terjangkau, ide dan kejeniusan yang tak terbendung, pertunjukan kekuatan yang Maha Arogan. Benar-benar sebuah pengalaman sinematis yang epik nan syahdu.

Memang tidak bijak untuk menjustifikasi kesahihan ide visual Terrence Malick di film itu. Apa yang dia gambarkan belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, itu hanya upaya kecil manusia untuk melukiskan kekuasaan Tuhan dan merayakan kehidupan. Namun demikian, komplekstisitas yang ditampilkan mampu merepresentasikan kekuasaan absolut tersebut yang menunjukkan bahkan dalam mahluk sekelas protozoa pun, terdapat karakter-karakter dan fungsi alamiah yang mengarah pada ide besar di baliknya. Ini membawa saya pada keimanan yang baru. Keimanan yang tumbuh dari melihat. Pengaruh dari film itu adalah saya (berusaha) meyakini diri bahwa apapun yang ada di sekeliling saya, saya melihat (secara dramatis atau teatrikal) Tuhan (dalam karya dan ide).

Daun bukan hanya sebatas daun. Komplekstisitas di dalamnya meliputi sel-sel mikroskopik yang tersusun rapi, sistem fotosintesis, klorofil, warnanya yang khas, ukuran, pola, tekstur, tulang-tulang daun, massanya, zat-zat yang terkandung di dalamnya, termasuk juga pose manis saat dia diterpa angin atau pose romantis saat dia jatuh gugur. Begitu juga komplekstisitas partikel-partikel debu saat ia melayang di bawah pancaran batang cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela atau lubang pintu. Air mendidih dengan gelembung yang pecah-pecah disertai suara kumur-kumur dan asap yang muncul lalu menghilang seperti roh halus. Pupil mata yang melebar, lalu mengecil, melebar lagi, dan mengecil saat lampu senter dinyalakan-dimatikan tepat di depannya. Lalu stalagtit, stalagmit. Ubur-ubur yang sedang berenang. Burung-burung bermigrasi. Tirai ditiup angin. Detak jantung. Sifat Keilahaian itu menyulap kesederhanaan sekelas garis-garis di telapak tangan menjadi tampak elegan melebihi kekenesan dalam Blackberry atau smartphone.

Kemudian timbul pertanyaan dari dalam diri mengenai makna peribadatan. Apa sebenarnya maksud dari manusia beribadah kepada Tuhan? Sudah jelas Tuhan Maha Perkasa lalu mengapa peribadatan manusia menjadi sesuatu yang diwajibkan? Apa yang bisa manusia berikan yang sementara Tuhan tidak punya? Ketika orang-orang mensinkronisasikan kemarahan Tuhan dengan kelalaian suatu kaum dalam beribadah, apakah mereka membicarakan Tuhan yang sama? Tuhan yang menciptakan matahari dengan ukurannya yang besar dan membiarkannya melayang di langit?

Tuhan tidak memerlukan manusia. Segala hal yang dilakukan oleh manusia mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi-Nya. Dia yang membuat laut merah dan membelahnya menjadi dua. Dia membuat semuanya, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dia adalah seniman dengan Aurora Borealis-Nya, bintang-bintang-Nya, angin tornado-Nya, dan muntahan lahar-Nya yang mencat gunung dengan warna merah terang elektrik. Dia adalah arsitek Mount Everest, air terjun Niagara, fisikawan yang menciptakan waktu, biologis yang menciptakan darah, kimiawan yang menciptakan semua yang tertera di tabel periodik. Dengan keagungan yang seperti itu, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh manusia yang Maha Kecil ini? Apa yang bisa diserahkannya karena badan dan jiwa yang kita punya juga adalah pinjaman dari-Nya?

Maka apa jadinya Tuhan jika peribadahan kita menjadi penting untuk-Nya? Bagi saya adalah kekerdilan. Kekerdilan yang amat sangat lancang ditujukan kepada Tuhan sebagai sosok yang “gampangan”. Manusia yang kerap mengaitkan (atau menghitung) pahala dan dosa dengan peribadatan mengindikasikan Tuhan sebagai sosok borjuis kecil yang manja yang ingin selalu dihibur dan disenangkan,gemar mengancam serta meledak-ledak bila kesal. Dia tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Hanya saja manusia yang terlalu egois yang menganggap apa yang dilakukannya atas nama aktivitas ibadah bakal mampu menggerakkan hati Tuhan. Bahkan jika seluruh manusia di dunia ini tidak beribadah, rasanya Tuhan tidak akan kehilangan apapun.

Namun itu bukan berarti bahwa beribadah tidak memiliki nilai. Yang akan saya tekankan di sini adalah mengenai pergeseran fungsinya.

Saya meyakini bahwa salah satu tujuan fundamental kehidupan manusia adalah agar manusia terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu-ilmu yang sifatnya teoritis tapi juga praktis, tidak hanya yang materiil tapi juga imateriil. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini, yang telah ada maupun yang belum ditemukan, asalnya dari Tuhan. Maka setiap ilmu bila ditelusuri maka akhirnya akan mengarah kepada-Nya dengan cara masing-masing. Seperti, entah bagaimana dengan yang lain, tapi saya menemukan kebesaran Tuhan di balik terciptanya internet, tentang bagaimana ilmu-ilmu yang telah ada bisa saling terhubung untuk menciptakan teknologi ini dan yang jelas, bagaimana sebuah media mampu memperpendek jarak fisik yang terbentang adalah suatu mukjizat. Dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini, beserta perangkat manusia yang derajatnya melebihi mahluk lain, maka suatu hubungan terbentuk, bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemujaan dan ketertundukan manusia (hal yang sudah pasti) melainkan Dia menghendaki untuk dicari dan selalu dicari.

Yang menjadi masalah dari proses pencarian ini adalah sejak awal Tuhan tidak pernah hilang.

Karena itu, ibadah memiliki nilai. Ibadah adalah salah satu ilmu pencarian tersebut, mencari sesuatu yang tidak pernah hilang. Tuhan tidak membutuhkan manusia tetapi manusia yang membutuhkan Tuhan. Fungsi ibadah berkaitan langsung dengan manusia secara personal, bukan melulu masalah pahala dan dosa. Bukanlah kemurkaan Tuhan yang harus diperhatikan dalam hal kelalaian beribadah melainkan perkembangan diri secara psikologis (batiniah) atas apa yang telah dilewatkan dari kesempatan untuk mendekati-Nya. Sama seperti saat belajar di sekolah, seharusnya bukanlah nilai rapor yang diburu dari mengerjakan PR atau mengikuti ujian, melainkan ilmu itu sendiri, “kebebasannya” tanpa dipengaruhi institusi atau kebanggaan pribadi. Maka bukan kewajiban, ibadah adalah kebutuhan.

Saya sebagai seorang muslim punya ibadah wajib sholat lima kali dalam sehari. Jika saya tidak sholat, saya tidak perlu mengkhawatirkan tentang dosa (bukan urusan saya), tapi adalah waktu dan kesempatan yang saya lewatkan untuk secara syahdu menggerakkan badan dan jiwa mendatangi-Nya. Selain gerakan dan bacaan, sholat tentunya membutuhkan konsentrasi, kesunyian, kemurnian pikiran dan hati serta penyerahan yang ikhlas, dan itu semua perlu dilatih dengan baik dan intens (untuk itu saya diberi kesempatan lima kali sehari). Jadi ini bukan lagi masalah pahala dan dosa. Ini masalah tentang bagaimana individu mencari dan menemukan Tuhan dengan segala proses yang akan mempengaruhi jiwa dan mentalnya sebagai manusia sampai dia mati kelak. Beruntunglah mereka yang telah berhasil mencapainya sebelum ajal.

Saya tegaskan saya bukan seorang pendakwah, penyebar syiar, khotib, cendikiawan agama, ahli kebatinan, murid ahli kebatinan, atau bahkan orang alim. Tulisan ini adalah reaksi saya terhadap “kemunculan-Nya” dalam arena pop culture yang memercik semacam “reinvensi” bagi keimanan saya. Sama seperti yang lain, saya adalah manusia kecil yang kebetulan mempercayai Tuhan, yang membedakan hanyalah bentuk kepercayaan tersebut. Bagi saya, pencintraan manusia terhadap sosok Tuhan menggambarkan sosok manusia tersebut bila menjadi pemimpin.

Tuhan adalah besar sebesar-besarnya. Sementara manusia itu kecil. Namun Tuhan tidak membiarkan kita manusia berada dalam “kekecilan” karena kita adalah bagian dari Tuhan yang nantinya akan kembali pada-Nya. Ketundukan buta adalah sikap yang merendahkan kodrat manusia dan posisi Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam ketundukan terhadap-Nya kita dituntut untuk tahu alasan mengapa ketundukan itu kita jalankan. Tuhan takkan membiatkan kita tersesat karena kita memiliki akal, hati, jiwa, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, darah, sel, bahkan aroma tubuh. Apakah itu semua cukup atau tidak, hanya Bob Dylan yang bisa menjawabnya: “The answer my friend is blowin’ in the wind/The answer is blowin’ in the wind.”

Rabu, 30 November 2011

Put a man and a woman in a single scene, make up a memorable act or short line, describe their love to each other in a cute way, then mix it with good yet unfamiliar music. And so the audience will buy your DVD


"Stories don't have a middle or an end anymore. They usually have a beginning that never stops beginning."

(Steven Spielberg)

"Come Here..."
Before Sunrise

video

A record store. Pick any vinyl record with an enticing front cover. Enter the music lounge. Play it on a gramophone. Just listen to the song. Then start being a secret admirer of someone standing next to you. Start pretending you're listening to the record. Start feeling each other. Start loving. Well, it's a good place to fall in love anyway. A good start.

Now imagine mp3 and an earphone.

"As always, she was late"
The Royal Tenenbaums

Baumer baru saja pulang ke kota kelahirannya dari sebuah plesiran panjang mengelilingi samudera. Sesampainya di sana, ia hendak dijemput oleh Margot, adik tirinya, yang sudah lama tidak ia lihat. Pertemuan keduanya menjadi emosional mengingat sikap Baumer yang diam-diam sudah lama memendam cinta pada Margot. Terlebih lagi, kepergian Baumer mengarungi lautan sebenarnya didorong oleh rasa sakit hati yang mendalam karena Margot ternyata menikahi pria lain. Maka pertemuan mereka di dermaga ini menjadi momen spesial yang mungkin harus kembali dirasakan Baumer secara diam-diam. Cukuplah hanya memandangnya berjalan mendekat dari kejauhan. Cinta terlarang? Sepertinya bukan. Ini hanya kisah cinta lain di mana seseorang kebetulan jatuh cinta pada saudari angkatnya sendiri.

video

Gwyneth Paltrow berjalan mendekat dari kejauhan. 
Mungkin itu juga yang dilihat Chris Martin suatu kali.


"Good luck exploring the infinite abyss!"
Garden State

video

"Hey! You too."
Us too.


"Meet me in Montauk!"
Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sebelum scene ini:

Joel yang pemalu, Clementine yang eksentrik, keduanya berpacaran setelah berkenalan di sebuah pantai bernama Montauk. Keduanya menjalani pahit-manis hubungan sampai akhirnya sebuah pertengkaran memisahkan keduanya. Sial bagi Joel karena sehabis perpisahan itu, Clementine langsung menghapus ingatan akan dirinya di sebuah klinik spesialis penghapus memori. Tak mau berlama-lama sakit hati, Joel pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Singkat cerita, Joel menjalani proses penghapusan ini dalam kondisi tertidur di atas kasurnya sementara dua orang teknisi menangani semuanya. Cerita lalu berpindah tempat ke dalam kepala Joel. Semua memori yang menyangkut masa-masa kebersamaannya dengan Clementine dihapus perlahan-lahan dari mulai memori yang terakhir sampai ke memori yang paling awal yaitu ke waktu pertemuan mereka yang pertama kalinya terjadi. Di tengah-tengah proses penghapusan itu, Joel menyesali keputusannya namun tidak mampu berbuat apa-apa karena dalam realita dia tengah terbaring tidur. Yang bisa ia lakukan hanyalah melewati kembali kenangan yang telah lewat lalu bangun tidur dengan ingatan nol tentang Clementine. Maka dalam kepasrahan itu, puncaknya adalah saat dia harus kembali ke saat malam pertemuan pertama mereka di mana Clementine dengan iseng mengajak Joel untuk menerobos masuk sebuah rumah yang ditinggal penghuninya (Joel yang resah lari kabur keluar saat Clementine pergi ke lantai atas untuk mengacak-acak tempat tidur). Kali ini, mereka harus berpisah selamanya. ("I walked out the door. There's no memory left").

Namun kemudian Clementine memanggilnya ("Come back and make up a good-bye at least. Let's pretend we had one") dan berbisik tentang Montauk dengan latar belakang rumah (memori Joel) yang berangsur-angsur runtuh.

video

Sesudah scene ini:

Joel bangun di suatu pagi dalam keadaan bingung. Ia bersiap untuk menjalani rutinitasnya ke tempat kerja. Di stasiun kereta, ia gelisah dan memutuskan untuk membolos lalu pergi ke pantai Montauk tanpa alasan tertentu. Pokoknya pergi saja. Di sana ia bertemu lagi dengan Clementine dan berkenalan lagi ("Have we met before?") dan bla bla bla.

Jadi, meet me in Montauk, bukan sekedar tentang pertemuan (meet) atau sebuah kenangan indah (Montauk), tapi lebih daripada itu, saya harus menuliskannya dengan senyum yang manis, adalah takdir.   


"I just wanted to come here, and say something important"
Magnolia

video

(Very quiet, almost inaudible. Aimee Mann's "Save Me" plays in the background.)

Officer Jim Kurring: I just wanted to come here, to come here and say something, say something important, something that you said. You said we should say things and do things. Not lie, not keep things back...these sorts of things that tear people up. Well, I'm gonna do that. I'm gonna do what you said, Claudia. I can't let this go. I can't let you go. Now, you...you listen to me now. You're a good person. You're a good and beautiful person and I won't let you walk out on me. And I won't let you say those things...those things about how stupid you are and this and that. I won't stand for that. You want to be with me...then you be with me. You see?

(Claudia looks at the camera, with tears in her eyes, and smiles. She does.)