Senin, 19 Desember 2011

Simbiosis Transendensialisme


You can tell the size of your God by looking at the size of your worry list.  The longer your list, the smaller your God. 

(Anonymous)
Saya sudah terlalu lama hidup di dalam lingkungan yang beranggapan bahwa mempertanyakan atau bahkan sekedar berpikir tentang apa yang Tuhan lakukan adalah hal yang tabu, subversif, melenceng, atau dalam kerangka pemikiran tertentu, tindakan itu juga tergolong dosa. Yang jelas kita akan selalu menyepakati kesimpulan akhir bahwa Tuhan adalah maha terhadap apapun sehingga kita sebagai manusia, tidak punya pilihan lagi selain meratapi kekecilan kita yang luar biasa itu. Ada kecenderungan pemahaman yang menyebut karena Tuhan itu Maha Besar dan manusia hanyalah seukuran atom yang terbagi-bagi lagi dan lagi dan lagi, maka menyinggung soal Tuhan adalah sebuah upaya yang takkan terjamah oleh manusia selain dari menjamah kegilaannya sendiri. Maka terima saja kesimpulan besar itu: Tuhan adalah yang paling Tuhan di atas segala apa-apa.

Tersebutlah Tuhan yang sangat besar itu sebagai kekuatan tak terbatas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kehadiran-Nya mau tidak mau mengecilkan eksistensi manusia. Agama muncul sebagai ideologi praktis dan teoritis dalam meletakkan pijakan-pijakan di atas jalur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kehadirannya mau tidak mau menggoda iman manusia.

Lalu pada prosesnya, agama memiliki fungsi lain. Melewati nalar manusia, ajaran agama berkembang sebagai medium yang mengajak manusia untuk “berdamai” dengan Tuhan. “Berdamai” dalam pengertian ketundukan tanpa syarat, penyerahan diri yang tak bisa ditawar-tawar lagi posisinya. Karena Tuhan Maha Apa Saja ―dengan kekuatan yang meliputi membelah matahari jadi dua dalam satu tiupan, membangkitkan dinosaurus dari tanah, atau menciptakan sepuluh Adolf Hitler― sedangkan manusia begitu tidak berdaya, maka “perdamaian” harus dicetuskan untuk menegaskan posisi keduanya. Ide tentang kemurkaan Tuhan dan neraka akhirat menjadi unsur penting dalam pengenalan agama yang pada ujungnya juga digunakan untuk mendefinisikan (atau mempersonifikasikan) Tuhan.

Ketaatan terhadap Tuhan jadi nama lain dari ketakutan akan Tuhan. Ketakutan seperti lutut bergetar, kencing di celana, gemeretak di gigi, yang muncul dari membayangkan Tuhan sebagai penguasa absolut dari segala penguasa yang selalu siap dengan kemarahannya untuk menghukum manusia. Maka ketakutan manusia pun dibuat menjadi absolut. Agama, dalam pengertian lain, adalah panduan untuk mempertegas rasa takut manusia terhadap hukuman-hukuman dan angkara murka Sang Pencipta. Sehingga akhirnya, agama tidak lebih dari sekedar hal-hal dogmatis.

Terkait dengan lingkungan saya ―atau lingkungan yang terwakili dalam istilah Indonesia― atmosfer dogmatik yang begitu kuat terletak pada prinsip beribadah yang melekat di keyakinan umat beragama. Hal-hal yang menyangkut penghakiman prematur mengenai pahala dan dosa. Adalah suatu kelumrahan untuk menyebut bahwa tujuan beribadah adalah untuk menyenangkan hati Tuhan atau meredakan kemarahan-Nya (bayangkan sebuah bencana alam yang dikaitkan dengan dosa para penduduk tempat bencana tersebut terjadi). Jika manusia beribadah maka Tuhan tersenyum, jika manusia lalai Tuhan akan kesal. Ibadah adalah untuk Tuhan, penyerahan terbaik dari kelemahan manusia untuk Sang Maha Dahsyat. Dan jika saya tidak salah melihat, ibadah menjadi manifestasi dari karakter dan mental upeti/sesajen pengikut-Nya. Ketundukan terhadap sang Superpower. Mental yang telah membentuk wajah bangsa ini selama ratusan tahun.

***

Film The Tree of Life dirilis tahun ini. Karya sutradara Terrence Malick (setelah sekian lama vakum) ini menuai pujian dari para kritikus dan meraih banyak penghargaan. Ada satu sequence di dalamnya yang membuat saya terbius. Sebuah adegan kilas balik visual mengenai penciptaan kehidupan dari mulai pembentukan langit, galaksi, bumi, lautan, daratan, tumbuhan, mahluk bersel satu, ikan, dinosaurus dan kepunahannya, lalu akhirnya manusia yang mungil dan lemah, meringkuk di dalam janin. Adegan yang luar biasa yang memperlihatkan Tuhan sedang berkarya, menghasilkan mahakarya demi mahakarya dengan cita rasa yang tak terjangkau, ide dan kejeniusan yang tak terbendung, pertunjukan kekuatan yang Maha Arogan. Benar-benar sebuah pengalaman sinematis yang epik nan syahdu.

Memang tidak bijak untuk menjustifikasi kesahihan ide visual Terrence Malick di film itu. Apa yang dia gambarkan belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, itu hanya upaya kecil manusia untuk melukiskan kekuasaan Tuhan dan merayakan kehidupan. Namun demikian, komplekstisitas yang ditampilkan mampu merepresentasikan kekuasaan absolut tersebut yang menunjukkan bahkan dalam mahluk sekelas protozoa pun, terdapat karakter-karakter dan fungsi alamiah yang mengarah pada ide besar di baliknya. Ini membawa saya pada keimanan yang baru. Keimanan yang tumbuh dari melihat. Pengaruh dari film itu adalah saya (berusaha) meyakini diri bahwa apapun yang ada di sekeliling saya, saya melihat (secara dramatis atau teatrikal) Tuhan (dalam karya dan ide).

Daun bukan hanya sebatas daun. Komplekstisitas di dalamnya meliputi sel-sel mikroskopik yang tersusun rapi, sistem fotosintesis, klorofil, warnanya yang khas, ukuran, pola, tekstur, tulang-tulang daun, massanya, zat-zat yang terkandung di dalamnya, termasuk juga pose manis saat dia diterpa angin atau pose romantis saat dia jatuh gugur. Begitu juga komplekstisitas partikel-partikel debu saat ia melayang di bawah pancaran batang cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela atau lubang pintu. Air mendidih dengan gelembung yang pecah-pecah disertai suara kumur-kumur dan asap yang muncul lalu menghilang seperti roh halus. Pupil mata yang melebar, lalu mengecil, melebar lagi, dan mengecil saat lampu senter dinyalakan-dimatikan tepat di depannya. Lalu stalagtit, stalagmit. Ubur-ubur yang sedang berenang. Burung-burung bermigrasi. Tirai ditiup angin. Detak jantung. Sifat Keilahaian itu menyulap kesederhanaan sekelas garis-garis di telapak tangan menjadi tampak elegan melebihi kekenesan dalam Blackberry atau smartphone.

Kemudian timbul pertanyaan dari dalam diri mengenai makna peribadatan. Apa sebenarnya maksud dari manusia beribadah kepada Tuhan? Sudah jelas Tuhan Maha Perkasa lalu mengapa peribadatan manusia menjadi sesuatu yang diwajibkan? Apa yang bisa manusia berikan yang sementara Tuhan tidak punya? Ketika orang-orang mensinkronisasikan kemarahan Tuhan dengan kelalaian suatu kaum dalam beribadah, apakah mereka membicarakan Tuhan yang sama? Tuhan yang menciptakan matahari dengan ukurannya yang besar dan membiarkannya melayang di langit?

Tuhan tidak memerlukan manusia. Segala hal yang dilakukan oleh manusia mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi-Nya. Dia yang membuat laut merah dan membelahnya menjadi dua. Dia membuat semuanya, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dia adalah seniman dengan Aurora Borealis-Nya, bintang-bintang-Nya, angin tornado-Nya, dan muntahan lahar-Nya yang mencat gunung dengan warna merah terang elektrik. Dia adalah arsitek Mount Everest, air terjun Niagara, fisikawan yang menciptakan waktu, biologis yang menciptakan darah, kimiawan yang menciptakan semua yang tertera di tabel periodik. Dengan keagungan yang seperti itu, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh manusia yang Maha Kecil ini? Apa yang bisa diserahkannya karena badan dan jiwa yang kita punya juga adalah pinjaman dari-Nya?

Maka apa jadinya Tuhan jika peribadahan kita menjadi penting untuk-Nya? Bagi saya adalah kekerdilan. Kekerdilan yang amat sangat lancang ditujukan kepada Tuhan sebagai sosok yang “gampangan”. Manusia yang kerap mengaitkan (atau menghitung) pahala dan dosa dengan peribadatan mengindikasikan Tuhan sebagai sosok borjuis kecil yang manja yang ingin selalu dihibur dan disenangkan,gemar mengancam serta meledak-ledak bila kesal. Dia tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Hanya saja manusia yang terlalu egois yang menganggap apa yang dilakukannya atas nama aktivitas ibadah bakal mampu menggerakkan hati Tuhan. Bahkan jika seluruh manusia di dunia ini tidak beribadah, rasanya Tuhan tidak akan kehilangan apapun.

Namun itu bukan berarti bahwa beribadah tidak memiliki nilai. Yang akan saya tekankan di sini adalah mengenai pergeseran fungsinya.

Saya meyakini bahwa salah satu tujuan fundamental kehidupan manusia adalah agar manusia terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu-ilmu yang sifatnya teoritis tapi juga praktis, tidak hanya yang materiil tapi juga imateriil. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini, yang telah ada maupun yang belum ditemukan, asalnya dari Tuhan. Maka setiap ilmu bila ditelusuri maka akhirnya akan mengarah kepada-Nya dengan cara masing-masing. Seperti, entah bagaimana dengan yang lain, tapi saya menemukan kebesaran Tuhan di balik terciptanya internet, tentang bagaimana ilmu-ilmu yang telah ada bisa saling terhubung untuk menciptakan teknologi ini dan yang jelas, bagaimana sebuah media mampu memperpendek jarak fisik yang terbentang adalah suatu mukjizat. Dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini, beserta perangkat manusia yang derajatnya melebihi mahluk lain, maka suatu hubungan terbentuk, bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemujaan dan ketertundukan manusia (hal yang sudah pasti) melainkan Dia menghendaki untuk dicari dan selalu dicari.

Yang menjadi masalah dari proses pencarian ini adalah sejak awal Tuhan tidak pernah hilang.

Karena itu, ibadah memiliki nilai. Ibadah adalah salah satu ilmu pencarian tersebut, mencari sesuatu yang tidak pernah hilang. Tuhan tidak membutuhkan manusia tetapi manusia yang membutuhkan Tuhan. Fungsi ibadah berkaitan langsung dengan manusia secara personal, bukan melulu masalah pahala dan dosa. Bukanlah kemurkaan Tuhan yang harus diperhatikan dalam hal kelalaian beribadah melainkan perkembangan diri secara psikologis (batiniah) atas apa yang telah dilewatkan dari kesempatan untuk mendekati-Nya. Sama seperti saat belajar di sekolah, seharusnya bukanlah nilai rapor yang diburu dari mengerjakan PR atau mengikuti ujian, melainkan ilmu itu sendiri, “kebebasannya” tanpa dipengaruhi institusi atau kebanggaan pribadi. Maka bukan kewajiban, ibadah adalah kebutuhan.

Saya sebagai seorang muslim punya ibadah wajib sholat lima kali dalam sehari. Jika saya tidak sholat, saya tidak perlu mengkhawatirkan tentang dosa (bukan urusan saya), tapi adalah waktu dan kesempatan yang saya lewatkan untuk secara syahdu menggerakkan badan dan jiwa mendatangi-Nya. Selain gerakan dan bacaan, sholat tentunya membutuhkan konsentrasi, kesunyian, kemurnian pikiran dan hati serta penyerahan yang ikhlas, dan itu semua perlu dilatih dengan baik dan intens (untuk itu saya diberi kesempatan lima kali sehari). Jadi ini bukan lagi masalah pahala dan dosa. Ini masalah tentang bagaimana individu mencari dan menemukan Tuhan dengan segala proses yang akan mempengaruhi jiwa dan mentalnya sebagai manusia sampai dia mati kelak. Beruntunglah mereka yang telah berhasil mencapainya sebelum ajal.

Saya tegaskan saya bukan seorang pendakwah, penyebar syiar, khotib, cendikiawan agama, ahli kebatinan, murid ahli kebatinan, atau bahkan orang alim. Tulisan ini adalah reaksi saya terhadap “kemunculan-Nya” dalam arena pop culture yang memercik semacam “reinvensi” bagi keimanan saya. Sama seperti yang lain, saya adalah manusia kecil yang kebetulan mempercayai Tuhan, yang membedakan hanyalah bentuk kepercayaan tersebut. Bagi saya, pencintraan manusia terhadap sosok Tuhan menggambarkan sosok manusia tersebut bila menjadi pemimpin.

Tuhan adalah besar sebesar-besarnya. Sementara manusia itu kecil. Namun Tuhan tidak membiarkan kita manusia berada dalam “kekecilan” karena kita adalah bagian dari Tuhan yang nantinya akan kembali pada-Nya. Ketundukan buta adalah sikap yang merendahkan kodrat manusia dan posisi Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam ketundukan terhadap-Nya kita dituntut untuk tahu alasan mengapa ketundukan itu kita jalankan. Tuhan takkan membiatkan kita tersesat karena kita memiliki akal, hati, jiwa, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, darah, sel, bahkan aroma tubuh. Apakah itu semua cukup atau tidak, hanya Bob Dylan yang bisa menjawabnya: “The answer my friend is blowin’ in the wind/The answer is blowin’ in the wind.”

Rabu, 30 November 2011

Put a man and a woman in a single scene, make up a memorable act or short line, describe their love to each other in a cute way, then mix it with good yet unfamiliar music. And so the audience will buy your DVD


"Stories don't have a middle or an end anymore. They usually have a beginning that never stops beginning."

(Steven Spielberg)

"Come Here..."
Before Sunrise

video

A record store. Pick any vinyl record with an enticing front cover. Enter the music lounge. Play it on a gramophone. Just listen to the song. Then start being a secret admirer of someone standing next to you. Start pretending you're listening to the record. Start feeling each other. Start loving. Well, it's a good place to fall in love anyway. A good start.

Now imagine mp3 and an earphone.

"As always, she was late"
The Royal Tenenbaums

Baumer baru saja pulang ke kota kelahirannya dari sebuah plesiran panjang mengelilingi samudera. Sesampainya di sana, ia hendak dijemput oleh Margot, adik tirinya, yang sudah lama tidak ia lihat. Pertemuan keduanya menjadi emosional mengingat sikap Baumer yang diam-diam sudah lama memendam cinta pada Margot. Terlebih lagi, kepergian Baumer mengarungi lautan sebenarnya didorong oleh rasa sakit hati yang mendalam karena Margot ternyata menikahi pria lain. Maka pertemuan mereka di dermaga ini menjadi momen spesial yang mungkin harus kembali dirasakan Baumer secara diam-diam. Cukuplah hanya memandangnya berjalan mendekat dari kejauhan. Cinta terlarang? Sepertinya bukan. Ini hanya kisah cinta lain di mana seseorang kebetulan jatuh cinta pada saudari angkatnya sendiri.

video

Gwyneth Paltrow berjalan mendekat dari kejauhan. 
Mungkin itu juga yang dilihat Chris Martin suatu kali.


"Good luck exploring the infinite abyss!"
Garden State

video

"Hey! You too."
Us too.


"Meet me in Montauk!"
Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sebelum scene ini:

Joel yang pemalu, Clementine yang eksentrik, keduanya berpacaran setelah berkenalan di sebuah pantai bernama Montauk. Keduanya menjalani pahit-manis hubungan sampai akhirnya sebuah pertengkaran memisahkan keduanya. Sial bagi Joel karena sehabis perpisahan itu, Clementine langsung menghapus ingatan akan dirinya di sebuah klinik spesialis penghapus memori. Tak mau berlama-lama sakit hati, Joel pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Singkat cerita, Joel menjalani proses penghapusan ini dalam kondisi tertidur di atas kasurnya sementara dua orang teknisi menangani semuanya. Cerita lalu berpindah tempat ke dalam kepala Joel. Semua memori yang menyangkut masa-masa kebersamaannya dengan Clementine dihapus perlahan-lahan dari mulai memori yang terakhir sampai ke memori yang paling awal yaitu ke waktu pertemuan mereka yang pertama kalinya terjadi. Di tengah-tengah proses penghapusan itu, Joel menyesali keputusannya namun tidak mampu berbuat apa-apa karena dalam realita dia tengah terbaring tidur. Yang bisa ia lakukan hanyalah melewati kembali kenangan yang telah lewat lalu bangun tidur dengan ingatan nol tentang Clementine. Maka dalam kepasrahan itu, puncaknya adalah saat dia harus kembali ke saat malam pertemuan pertama mereka di mana Clementine dengan iseng mengajak Joel untuk menerobos masuk sebuah rumah yang ditinggal penghuninya (Joel yang resah lari kabur keluar saat Clementine pergi ke lantai atas untuk mengacak-acak tempat tidur). Kali ini, mereka harus berpisah selamanya. ("I walked out the door. There's no memory left").

Namun kemudian Clementine memanggilnya ("Come back and make up a good-bye at least. Let's pretend we had one") dan berbisik tentang Montauk dengan latar belakang rumah (memori Joel) yang berangsur-angsur runtuh.

video

Sesudah scene ini:

Joel bangun di suatu pagi dalam keadaan bingung. Ia bersiap untuk menjalani rutinitasnya ke tempat kerja. Di stasiun kereta, ia gelisah dan memutuskan untuk membolos lalu pergi ke pantai Montauk tanpa alasan tertentu. Pokoknya pergi saja. Di sana ia bertemu lagi dengan Clementine dan berkenalan lagi ("Have we met before?") dan bla bla bla.

Jadi, meet me in Montauk, bukan sekedar tentang pertemuan (meet) atau sebuah kenangan indah (Montauk), tapi lebih daripada itu, saya harus menuliskannya dengan senyum yang manis, adalah takdir.   


"I just wanted to come here, and say something important"
Magnolia

video

(Very quiet, almost inaudible. Aimee Mann's "Save Me" plays in the background.)

Officer Jim Kurring: I just wanted to come here, to come here and say something, say something important, something that you said. You said we should say things and do things. Not lie, not keep things back...these sorts of things that tear people up. Well, I'm gonna do that. I'm gonna do what you said, Claudia. I can't let this go. I can't let you go. Now, you...you listen to me now. You're a good person. You're a good and beautiful person and I won't let you walk out on me. And I won't let you say those things...those things about how stupid you are and this and that. I won't stand for that. You want to be with me...then you be with me. You see?

(Claudia looks at the camera, with tears in her eyes, and smiles. She does.)

Selasa, 29 November 2011

In Search of Cinematic Experience, Guided by A Lost Map to A Buried Treasure

"The artist's job is not to succumb to 

despair but to find an antidote for the 

emptiness of existence."

(Midnight in Paris)

Drive

Ryan Gosling berperan sebagai seorang montir sekaligus stuntman sekaligus supir bayaran spesialis meloloskan diri dari polisi dan sekaligus seorang pendiam yang gemar ngemut tusuk gigi. Ia selalu berhasil membantu para perampok kabur dari TKP, ia bekerja sendirian dan hanya punya waktu 5 menit untuk menunggu di dalam mobil di tempat parkir sementara para perampok bekerja. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya seorang perempuan masuk ke dalam hidupnya, terutama karena perempuan ini adalah... Carrey Mulligan.

Ber-setting di dunia kriminal underground era 80-an, skandal, pengkhianatan, dan uang kotor menjadi suguhan konflik yang utama. Tidak ada hal baru; seorang antihero dingin yang menemukan cinta dalam diri seorang perempuan lugu menawarkan pada pilihan kesimpulan yang bisa ditebak. Namun yang menjadikannya berbeda adalah proses akulturasi budaya pop antara film noir yang gelap dan kelam dengan suasana 80's yang lebih berwarna (lengkap dengan lagu-lagu synth-pop sebagai soundtrack) yang menjadikan film ini sebagai thriller modern berselera klasik.

Tidak ada adegan cinta eksplosif ala James Bond di antara kedua tokoh utama. Selain karena sang perempuan sudah menikah dan punya seorang anak, sifat si jagoan yang cenderung kalem justru membuat "percikan" di antara keduanya terkesan personal dan hanya untuk dikenang secara diam-diam oleh masing-masing. Secara keseluruhan, film ini tidak berpegang pada aturan-aturan film action pada umumnya dan lebih menonjolkan sisi arthouse khas film kelas festival. Tapi itu tidak menghalangi penonton untuk mampu menikmati dan "mendalami" film ini selama mereka ingat bahwa ini bukan sekuel dari "Fast And Furious".

Jûsan-nin no shikaku (13 Assassins)

 

Di suatu masa di Jepang ketika rockstar adalah seorang laki-laki dengan rambut dikuncir dan membawa pedang yang dikenal dengan sebutan pendekar samurai, hiduplah seorang penguasa lalim yang dingin, yang tak segan membunuh sepasang pengantin baru, memanah anak kecil dan keluarganya yang diikat (seperti game menembak bebek, senapannya diganti panah dan bebeknya diganti manusia), dan memotong kedua tangan, kaki, serta lidah anak perempuan dari seorang petani yang memberontak. Maka seorang pendekar samurai diutus untuk menghentikkan kesewenang-wenangan tersebut. Ia mengumpulkan 12 orang pendekar samurai lainnya untuk terjun ke medan perang, dan selanjutnya adalah, action! Tanpa cut.

Walau beresiko (atau mungkin adalah sebuah penghormatan yang sengaja dilakukan si filmmaker dalam bentuk remake, reuse, recycle) dibanding-bandingkan dengan Seven Samurai (Akira Kurosawa) baik dari segi plot, setting, karakter tokoh, dan sedikit gaya penyutradaraan, film ini setidaknya menghidupkan kembali subgenre fiksi epik swords & sandals yang pernah berjaya di dunia sinema internasional. Adegan pertempuran dengan sabetan pedang dan percikan darah "terkoreografi" secara apik sehingga tidak menimbulkan kebosanan ketika menikmatinya selama sekitar 40-45 menit. Scene-scene yang terbilang tersusun secara efisien dan efektif membuat film ini tidak terlalu "melelahkan" seperti film-film tentang samurai sebelumnya.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kebenaran mengalahkan kejahatan. Si raja lalim merangkak meregang nyawa, dengan badan berlumuran darah dan bermandikan lumpur dia mengeluh, "Pain. It hurts. I don't want to die. I'm scared. I'm scared." (tentu saja dalam bahasa Jepang). Setelah banyak membunuh dan melukai orang-orang dengan tanpa perasaan akhirnya ia menunjukkan sebuah ekspresi yang lepas, penuh penghayatan, dan "menyentuh". Sayangnya itu cuma berlangsung sebentar. Seseorang berinisiatif menebas kepalanya. Sayonara.  

Melancholia

Di hari pernikahannya -yang telah menguras isi kantong kakak iparnya- Justine datang terlambat dua jam ke acara resepsi, mendengar pidato ibu kandungnya yang membenci pernikahan, mendapat promosi jabatan dari atasannya lalu dipecat beberapa jam kemudian karena menghina sang bos dengan terang-terangan, menghilang berkali-kali, tertidur bersama keponakannya saat acara potong kue, ibunya diusir oleh sang kakak ipar, menolak untuk berhubungan seks dengan pasangannya, Michael, dan memilih untuk melakukannya dengan orang asing di tengah lapangan golf, dan yang terakhir, saat acara selesai, ia ditinggal pergi oleh suami barunya itu. Malam itu lalu ditutup oleh kata pengantar dari kakaknya, Claire, yang berbunyi: "Sometimes, I hate you so much!" 

Justine kehilangan akal sehatnya, sementara Claire tercekam oleh rasa paranoid di tengah keluarga kecilnya yang bahagia. Namun Claire sedikit lebih beruntung, karena ia memiliki suami seorang pakar astronomi yang selalu menenangkannya, seorang suami yang tepat untuk menghadapi rasa takutnya terhadap sebuah planet asing bernama Melancholia yang selama ini bersembunyi di belakang matahari dan tengah bergerak menuju bumi. Jadi, semua kesintingan yang terjadi itu adalah mengenai upaya mengatasi ketakutan terhadap kemungkinan kiamat yang akan segera datang atau yang lebih spesifik lagi, ketakutan terhadap kematian. Penyakit lama yang takkan pernah surut oleh waktu.

Selain dari scene pernikahan di part pertama film, Lars von Trier menyuguhkan scene lain yang cukup memorable yaitu saat Claire dan suaminya duduk bersama menyaksikan planet Melancholia melewati bumi. Ditaburi temaram sinar kebiruan, rasa haru menyelimuti Claire saat ia menyaksikan planet tersebut bergerak semakin menjauh dan mengecil. Rasanya seperti pengalaman yang tak terlupakkan untuk bisa melihat dengan mata telanjang planet dengan ukuran besar yang muncul perlahan di hadapan kita. Film ini sarat dengan muatan psikologis manusia dalam berurusan dengan "kekerdilan" dirinya terhadap dunia yang mencakup langit dan bumi serta sistem yang mengatur semuanya. Memang tidak ada yang abadi dalam hidup ini, manusia pada hakikatnya harus berhadapan dengan kematian, bagaimana pun caranya dan kapan pun itu. Namun, bila kebetulan saja saat menengadah ke langit terlihat sebuah benda bundar yang bukan bulan, bintang, matahari, atau bahkan UFO, segeralah batalkan pernikahan! 

Midnight in Paris 

Gil Pender (diperankan Owen Wilson) adalah seorang novelis yang menganggap bahwa Paris di era 20-an adalah masa keemasan peradaban modern. Ia tidak terlalu tertarik dengan hidup di masanya, merasa kelahirannya terlambat beberapa dekade, dan tengah menulis buku tentang suatu tempat bernama Toko Nostalgia. Ia memiliki tunangan, tapi hubungan seks-nya tidak menumbuhkan perasaan immortality yang mendalam dan keduanya tidak memiliki kesamaan persepsi mengenai jalan kaki di bawah guyuran hujan. Namun suasana hatinya berubah ketika tepat di tengah malam, sebuah mobil Peugeot antik datang dan mengajaknya pergi ke tempat yang tidak ia duga sebelumnya: Paris di era 20-an!

Scoot Fitzgerald, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, Pablo Picasso, Salvador Dali, dan tokoh-tokoh seni lainnya, mewarnai malam-malam ajaib yang selalu dilalui Gil tiap pukul 00:00 di Paris. Pesta dansa, diskusi karya lukis, pergaulan sosial dengan para jenius (yang berlimpah jumlahnya di kala itu), dan perselingkuhan kecil dengan seorang art groupie membuat hidupnya begitu bersemangat. Semakin sering ia berada di sana, semakin kuatlah penyangkalannya terhadap hidup yang sedang ia jalani. Di sisi lain, itu menjadi semacam cermin yang menjelaskan apa yang sebenarnya ia inginkan dan butuhkan dalam hidup. Pada akhirnya, film ini bicara tentang apakah orang yang kamu cintai adalah orang yang benar-benar kamu cintai sepenuhnya.

Film ini digarap dengan komedi khas Woody Allen dengan karakter utama yang juga khas Woody Allen. Dialog-dialog witty ditambah dengan situasi yang awkward menjadi sajian manis nan sedap yang bisa jadi resepnya hanya dimiliki oleh sutradara kawakan ini.  Tidak seperti komedi romantis pada umumnya, film ini lebih banyak "bicara" ketimbang menyuguhkan kekonyolan gender behavior. Dengan tema utama pencarian jati diri, film ini merenggang sampai ke ranah eksistensial bagi para audiens terhadap harapan utopis akan kehidupan peradaban kontemporer. Bukankah kadang kita merenungkan bahwa generasi sebelumnya lebih baik daripada generasi yang sekarang? Yah, itu artinya di masa 50 tahun ke depan orang akan bilang bahwa generasi sekarang adalah generasi yang lebih baik dalam beberapa aspek. Jadi, jalani sajalah hidup ini. 

También la lluvia (Even The Rain)


Sekelompok filmmaker Spanyol berada pada kondisi the right place at the wrong time ketika mereka datang ke daerah Cochabamba di Bolivia untuk syuting film mengenai invasi Christopher Columbus terhadap suku Indian di sana. Di waktu yang bersamaan, gejolak domestik sedang terjadi antara rakyat dan pemerintah terkait persediaan air yang menipis. Rakyat Bolivia (keturunan Indian) harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa menikmati air dari tanahnya sendiri atau bahkan air hujan (even the rain) sekalipun karena semuanya dikuasai oleh perusahaan multinasional. Sementara di dalam proyek film yang sedang dibuat, Columbus sebagai representasi dari kerajaan Spanyol, dikisahkan mengkolonialisasi kekayaan alam penduduk Indian di masa itu yang berupa emas. Maka di sini muncul ironi, apakah memang dari sejak dulu, suku Indian selalu digariskan untuk menjadi orang-orang yang terampas dari hubungan mereka terhadap alam, dunia, dan kehidupan mereka sendiri? Dari sejak era Columbus sampai era modern?

Proses pembuatan film mereka tentu saja tidak berjalan mulus, selain karena kondisi yang memanas antara rakyat yang menuntut haknya dengan para anggota militer yang menjalankan tugasnya, kebetulan beberapa aktor (penduduk asli) yang terlibat di film tersebut juga merupakan bagian dari para demonstran yang marah. Sehingga tak jarang syuting harus tertunda akibat aktornya mendekam di penjara atau babak-belur. 

Film ini secara menarik memperlihatkan perjuangan rakyat (people power) melawan otoritas superior yang dengan tangan-tangan gaibnya "merampas" apa yang telah menjadi milik bersama untuk dijadikan milik pribadi dengan iming-iming laba dan materi. Perjuangan yang dilakukan dengan tanpa kompromi yang bahkan ketika sang pemimpin demonstran (yang juga aktor bayaran) diberi uang oleh produser film untuk tidak melakukan aksi demo selama tiga minggu sampai syuting beres, keesokan harinya ia tetap turun ke jalan demi membela kepentingan yang lebih besar ("there's something more important than your film").

Pada akhirnya semua memang menyadari bahwa ada yang lebih penting dari film, yaitu nilai kemanusiaan. Film gagal dibuat setelah banyaknya biaya yang keluar karena menolong sesama jauh lebih tinggi nilainya. Adegan mengharukan terjadi ketika sang produser berpisah dengan si pemimpin demonstran. Mereka saling berpelukan dan meneteskan air mata lalu si Indian memberinya sebuah bingkisan sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan anaknya. Sebelum ia membuka bingkisan tersebut saya berpikir tentang apa kiranya yang bakal ada di dalamnya mengingat si Indian ini hanyalah rakyat miskin dengan tidak banyak yang ia punya dan hidupnya adalah survivalism. Namun bingkisan memang selalu berisi sesuatu yang berharga, sesuatu yang luar biasa "mahal" nilainya untuk dipersembahkan kepada seseorang, dan kali ini, kemewahan tersebut berwujud sebotol kecil air bening - yaku.

The best quote: "The truth has many enemies. The lie has many friends."

The Tree of Life


Bayangkan sebuah film yang isinya adalah galeri foto, tiap scene-nya bisa dijadikan wallpaper di PC atau laptop dan bahkan untuk menontonnya pun sebenarnya tidak perlu mendengarkan suaranya sama sekali, cukup "ditonton" saja. Film ini merupakan ekshibisi visual yang mengundang decak kagum, muncul sebagai media alternatif dari puitisasi kehidupan, keluarga, cinta, dan kematian. Coba tutup telinga lalu narasikan tiap scene yang muncul di layar ke dalam kalimat, maka bukan tidak mungkin anda telah membuat bait-bait puisi.

Plot dari film ini bukan sesuatu yang mudah untuk diuraikan, bisa jadi film ini tidak memiliki cerita sama sekali atau justru ceritanya itu memang multitafsir. Saya sendiri memahami cerita film ini adalah tentang tokoh Sean Penn yang tiba-tiba teringat tentang keluarganya (di masa kecilnya dulu) saat ia tengah berada di dalam kantor tempatnya bekerja (keluarga di mana kapan pun Brad Pitt muncul, masalah terjadi). Lalu perenungannya itu menyelam lebih dalam lagi: ia bertanya tentang jati dirinya, Tuhan, dan dunia, kemudian semakin dalam lagi sampai ke batas eksistensinya kemudian tentang makna penciptaan kehidupan yang melewati peristiwa dentuman besar, kemunculan ubur-ubur, era dinosaurus, sampai akhirnya terciptalah manusia; dan sejak itu dunia jadi lebih kompleks (baca: hubungan antar-manusia).


Terrence Malick, sang sutradara, mengeksplorasi ke kedalaman jiwanya untuk menemukan "inti" dari seni gambar bergerak dan hasilnya adalah ia berhasil mendobrak pemahaman dan teori tentang bagaimana film disebut film. Ini adalah sinema posmodern yang tidak mengandalkan skema narasi tradisional dalam menyampaikan cerita, ini jauh lebih bebas, lebih berani, lebih berwarna, dan lebih intelek, bahkan terasa lebih trippy. Lewat film ini, terutama dengan pengemasan tiap scene-nya yang apik dan sinematografi mempesona, Malick sepertinya mencoba menyampaikan kepada penontonnya bahwa tiap momen dalam hidup ini (bisa dibuat) berharga. Terbukti dari bagaimana ia sengaja menyisipkan sequence munculnya langit & bumi dan hal-hal lain sebelum manusia dilahirkan, sebagai sebuah statement  bahwa kehidupan ini terbentuk melalui proses yang panjang nan indah, maka manusia sebagai mahluk yang berpikir, pandai-pandailah menjalani serta mensyukurinya. Setidaknya itu yang saya tangkap selama 2,5 jam. Terserah buat yang lain.

 The Trip


Steve Coogan (as himself) diutus oleh harian The Observer bersama Rob Brydon (as himself) untuk melakukan wisata kuliner di daerah pedalaman northern Inggris. Menginap di cottage di area yang lemah sinyal ponsel, berkendara menelusuri jalan-jalan kecil pedesaan sambil meniru impresi aktor-aktor Hollywood, mengunjungi situs-situs alam yang asri, serta kesempatan mencicipi tiap hidangan berkelas adalah sebuah perjalanan yang cukup menghibur. Terutama bagi mereka berdua yang sedang menghadapi kenyataan sebagai aktor kawakan yang telah melewati masa keemasannya.

Kontras di antara dua karakter ini terletak pada kematangan mental dalam menjalani hidup. Rob adalah seorang family man  bersahaja yang tidak terlalu risih dengan keadaannya kini di mana ia tidak terlalu ambisius dalam menaggapi karir selebritisnya. Sementara Steve, memasuki usia 44 tahun, masih berpikir tentang Oscar, berpikir bahwa dia bisa menirukan aksen Michael Caine dan James Bond lebih baik dari siapapun, berpikir tentang bermain dalam film kolosal, bermimpi bahwa para sutradara auteurs kelas atas pasti menginginkannya, berpikir untuk tinggal di Amerika untuk syuting film serial, dan ketika dibandingkan dengan Michael Sheen, ia berseru: "I'm brilliant!"

The Trip adalah semacam perenungan intermezzo Steve terhadap harga dari sebuah popularitas. Walaupun penyajiannya tidak terlalu dramatis, bahkan ini adalah film komedi khas British, namun "kesendirian" yang diperlihatkan dari kehidupan selebritis yang sedang memudar mampu menggambarkan bahwa pada hakikatnya species mereka serupa dengan manusia biasa pada umumnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya krisis eksistensi datang. Dan saat itu terjadi, maka tidak ada yang lebih baik untuk diharapkan selain kehadiran sahabat dan kehangatan keluarga.  

Senin, 31 Oktober 2011

And I Keep Hittin' Repeat-peat-peat-peat-peat-peat-peat



"So intimate, perfect, and so real. Not a fan of Kirsten Dunst but I'm definitely a fan of this music video. As a band who will be only remembered in history from now on, this song is a nice souvenir from REM. The title says it all and I think I can accept their broke-up a little bit easier. I always love black & white. Woman in black & white, I can't think of any sexy pose of female other than that. Kirsten shows her quality in this. She guides my heart to feel every feelings human can do by the look of her expression. I wonder what's on her mind. But on second thought, I'd rather not to know any and just watch it. Better be that way."


video

"We All Go Back to Where We Belong"
R.E.M.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kepingan Surau Yang Roboh

 "Scepticism is the beginning of faith."

(Oscar Wilde)

Iman. 

Ustadz tampil di TV, berceramah, kali berikutnya berkoar-koar dalam iklan, kali berikutnya tersenyum alim di infotainment, kali berikutnya berperan sebagai dirinya sendiri dalam sinetron, beberapa saat lagi medium layar lebar ikut dirambahnya pula. Berimankah saya jika di balik kepala ini walau hanya sebersit dan diiringi keseganan, serta kelancangan yang berusaha untuk dijinakkan bertanya, apa yang telah kalian jual untuk ketenaran seperti itu? Berapakah harga untuk sebuah kemuliaan di jalan Tuhan yang telah kami bayar? Adakah diskon di dalamnya? Atau mungkin, potongan pajak? 

Mungkin suatu hari nanti saya akan berpesan pada sang anak: “Nak, jika kamu ingin mengobati orang-orang yang sakit, jadilah dokter. Jika kamu ingin mengorbankan jiwamu untuk negara, jadilah tentara. Jika kamu ingin berperan dalam menegakkan hukum, jadilah polisi. Jika kamu merasa hidup ini lebih baik dengan gubahan nada, jadilah musisi. Jika kamu merasa kata-kata begitu berarti untuk disampaikan, jadilah penulis. Jika kamu merasa setiap momen dalam hidup begitu berharga untuk diabadikan, jadilah fotografer. Jika kamu merasa setiap ilmu harus diamalkan dan disampaikan, jadilah guru. Jila kamu merasa hidup ini jadi lebih mudah dengan mengolah warna, jadilah pelukis. Jika kamu ingin mendapat uang banyak, masuk TV, bintang iklan, dan dijamin masuk surga, jadilah ustadz. Tuhan ada di TV nak!”

Ceramah Jum’at; 15, 20, 30 menit membuai hadirin dengan kantuk yang malu-malu kucing. Kami tahu arahnya ke mana, kami tahu kesimpulannya apa, kami tahu apa yang akan disampaikan; ya, kami akan menjalani hidup dalam ketakutan akan bara neraka; ya, kami akan membuka mata untuk menghakimi kekafiran; ya, kami akan terus berdoa untuk Palestina dan belajar memusuhi dunia barat; ya, kami tahu. Maka dengan tanpa maksud untuk mengingkari ketetapan untuk memerangi hantu kantuk itu, bolehkah di sela-sela rentetan ceramah saya membaca buku? Dostoyevsky atau Dickens? Mungkin Rumi atau Gibran? Atau mungkin Al Jaelani dan Imam Ghazali? Atau bahkan Abu Nawas? itu pun bila saya diizinkan untuk tertawa.

Anak-anak yang kecil dan naif, lucu, riang, ceria, dan tanpa beban. Apa yang terucap dari lidah kalian itu? Berdiri di bawah lampu sorot panggung, kalian bicara akhirat, bicara dosa, bicara syetan, bicara azab, dan menakut-nakuti dengan hukuman Allah. Kalian di sana dalam balutan atribut kesucian yang seharusnya adalah gestur kepolosan yang khas dari kebeliaan. Namun kakak kagum dengan bentuk keimanan itu, terutama di saat kalian berada di usia yang bagi kakak tepat untuk bermain, untuk berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya dan belajar darinya, untuk mengarungi samudera imajinasi seluas-luasnya hingga mendarat di dataran realita nanti, untuk tertawa tanpa henti hingga akhirnya kalian menyadari bahwa tidak ada lagi yang lucu. Suatu saat nanti, semoga saja kalian tidak tumbuh menjadi seorang munafik atau seorang penyesal atas apa yang belum pernah kalian rasakan di saat kalian harus merasakannya. Toh, kalian sudah punya keimanan itu. Ataukah itu semua hanya untuk di depan kamera? Adakah orang tua kalian di bangku penonton?

Perempuan, betapa pakaianmu menunjukkan keagunganmu. Keindahan kalian adalah mukjizat ilahiah, alamiah, batiniah, lahiriah, yang menempatkan tiap lelaki yang melihat kalian di persimpangan jalan antara surga dan neraka. Maka untuk kalian, sang nabi memberi perhatian khusus, ia mewasiatkan kalian untuk dilindungi dan sebuah pakaian yang terhormat siap melapisi kulit kalian. Tapi mengapa memakai jilbab dengan alasan takut akan siksaan akhirat? Karena bagi saya itu terdengar seperti paksaan. Mengapa memakai jilbab jika hatimu masih ingin melepasnya? Bukankah ini seharusnya berhubungan dengan keikhlasan? Mengapa kalian tubrukkan jilbab itu dengan mode yang membuat kalian terlihat seperti (badut) hipster yang tersesat? Berimankah jika suara saya berseru kepada kaum di mana rasa cintaku tertambat, untuk melepas jilbab kalian dan kenakan di saat kalian siap dan tulus hati? Karena terkadang saya tidak melihat penjilbab seperti sebagaimana penjilbab seharusnya menampakkan diri; dalam kesucian, kebesaran, dan kekuatan untuk membuat jiwa ini luluh dan takluk.

Dalam keheningan ini saya mempertanyakan kadar iman di dalam diri. Dalam kebingungan saya melihat semuanya terasa berlawanan dengan apa yang saya pahami. Apakah iman saya telah luntur? Ataukah saya masih terpaku untuk melihat apa yang benar dan salah secara subjektif? Namun bukankah kalimat “Seharusnya ini tidak seperti ini” adalah juga sebuah bukti keimanan? Bukankah itu artinya ada hal lain yang dipercayai yang bisa lebih baik dari yang telah ada? Dan bukankah mempercayai sesuatu adalah pengertian dari iman? Entahlah. 

Iman. 

Lebih mudah menyebutnya jika itu adalah nama seseorang.

Kamis, 22 September 2011

The Rest is Noise

“They've been saying it for 30 years, ever since The Beatles split up, you know, that rock'n'roll's dead. When ever there's a boom there's always a bit of a lull afterwards. I suppose that avant garde punk rock will come back for a while, and it will all be shit again, and then guitar music will come back.”

(Noel Gallagher)
Untuk menemukan musik bagi saya adalah sebuah peristiwa yang penting; untuk menjadi seorang fan, pendengar setia, seseorang yang merasa terwakili dan terobati oleh gubahan lirik dan musik - terus terang, itu membawa saya pada bentuk pemahaman baru terhadap peradaban, dan menjadikan segalanya terasa lebih mudah untuk dilewati. Saya belajar dari ketiga band ini, yang bubar dalam kurun waktu 3 tahun terakhir - Oasis (2009), The White Stripes dan R.E.M. (2011) - bahwa musik bukan sekedar musik namun juga karya seni intelektual yang berinovasi di setiap era untuk muncul sebagai warisan budaya bagi generasinya; sebuah bukti audio tentang kondisi sosial, politik, dan terutama sebagai sebuah statement tentang perlawanan dan pemberontakan (karena ini adalah rock 'n' roll, walau bagaimanapun juga). Oasis muncul dalam gerakan Britpop di pertengahan 90-an, The White Stripes adalah bagian dari kebangkitan garage di awal 2000-an, sementara R.E.M. adalah pencetus college rock di awal 80-an yang menginspirasi munculnya era alternative rock di dekade setelahnya. Musik adalah sesuatu yang besar, dan bagi saya mereka membawanya ke tempat yang tepat, dnegan nilai historis dan momen-momen monumental yang menandainya, dan yang terutama lagi, mereka membawanya ke hati para pendengar - di mana tidak ada lagi tempat yang lebih tepat dari itu.

Ada pengalaman tersendiri dengan band-band ini. "Pertemuan" saya dengan Oasis menandai perubahan selera musik saya yang signifikan. Seorang teman tanpa sengaja menemukan kaset album keempat Oasis (Standing in the Shoulder of Giants) di WC laki-laki SMP saya dulu di sekitar awal 2000-an. Saya meminjam kaset tersebut dan langsung mendengarnya berkali-kali di suatu malam dan saat itu saya merasakan momen magis seperti "Eureka!" - saya mendapatkan sesuatu; di tengah masa anak-anak seumuran saya mendengarkan Limp Bizkit atau Blink 182, kecintaan saya terhadap Oasis tentulah berarti: saya mendapatkan sesuatu!

Kenangan saya dengan R.E.M. adalah ketika saya terbaring lemah karena sakit, di atas kasur, di dalam kamar yang gelap, saya memutuskan untuk tidur diiringi musik R.E.M. Saya ingat saya mulai tertidur saat lagu "Electrolite" diputar dan tanpa sadar lagu tersebut terus bermain di dalam tidur saya. Saya tidak ingat apakah saya bermimpi yang jelas ketika saya bangun, lagu tersebut masih terngiang di kepala lalu pelan-pelan menghilang. Dan itu terjadi berjam-jam setelahnya, artinya dalam keadaan tidak sadar lagu tersebut terus ada di dalam kepala. Saya memang tidak sembuh berkat lagu tersebut tapi pengalaman tersebut bagi saya terkesan psychedelic.

The White Stripes adalah masa SMA. Saat sedang duduk-duduk di lapangan di luar sekolah dengan seorang teman yang memegang gitar, tiba-tiba dia memainkan sebuah riff. Ia memainkannya berkali-kali tanpa kami tahu lagu apa yang tengah dimainkan. Kami hanya merasakannya sebagai riff yang "pernah didengar di suatu saat" dan "enak untuk dimainkan." Lalu beberapa hari kemudian, sebuah videoklip di MTV dari The White Stripes dengan lagu "Seven Nation Army" ditayangkan dan rasanya seperti "Nah ini dia!" - satu untuk teman saya itu dan satunya lagi untuk musik rock yang bangkit kembali.

Dan pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan terima kasih. Mendengar adalah cara terbaik untuk memperlakukan musik, untuk membuatnya hidup selamanya, dan terkenang abadi, walau saya tahu, rock 'n' roll tidak akan sama lagi.



"It's with some sadness and great relief to tell you that I quit Oasis tonight. People will write and say what they like, but I simply could not go on working with Liam a day longer. Apologies to all the people who bought tickets for the shows in Paris, Konstanz and Milan."


"The White Stripes will make no further new recordings or perform live. The reason is not due to artistic differences or lack of wanting to continue, nor any health issues as both Meg and Jack are feeling fine and in good health. It is for a myriad of reasons, but mostly to preserve what is beautiful and special about the band and have it stay that way. Meg and Jack want to thank every one for the incredible support they have given throughout the 13 plus years of the White Stripes' intense and incredible career. The White Stripes do not belong to Meg and Jack anymore, The White Stripes belong to you now and you can do with it whatever you want. The beauty of art and music is that it can last forever if people want it to. Thank you for sharing this experience. Your involvement will never be lost on us and we are truly grateful."


"To our Fans and Friends: As R.E.M., and as lifelong friends and co-conspirators, we have decided to call it a day as a band. We walk away with a great sense of gratitude, of finality, and of astonishment at all we have accomplished. To anyone who ever felt touched by our music, our deepest thanks for listening." 

Kamis, 18 Agustus 2011

Di Tengah Pesta Ulang Tahun Di Pertengahan Bulan Agustus

"Children are great imitators.
So give them something great to imitate."

Anonymous

Oh ya, Indonesia ulang tahun yang ke-66. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun! Ayo semuanya datang dan rayakan. Kibarkan bendera, tepuk tangan, nyanyi-nyanyi, dan nyalakan lilin kalau perlu. Ayo, semuanya diundang. Boleh bawa kado, boleh juga tidak. Yang jelas jangan minta traktir, tidak ada yang namanya traktir-mentraktir di ulang tahun yang ini. Bukannya tidak punya uang, tapi tidak etis, terlalu kekanak-kanakkan kalau tidak mau disebut tidak mau. Pokoknya bagaimanapun juga yang penting perayaan ini harus meriah. Ayo semua tepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Kembang api bertaburan di langit.

Suasana tanggal 17 Agustus itu berlangsung ramai. Ini adalah ulang tahun besar, semuanya merayakan. Tapi kemudian, hingar-bingar itu mendadak sunyi ketika seorang anak kecil berteriak di tengah kerumunan. Anak kecil yang polos, naïf, dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu, dibalut kaos oblong dan celana pendek, dua gigi depannya tanggal, badannya kecil, begitupun kedua tangan dan kakinya, rambutnya berjambul dan suaranya lantang. Ia bertanya, “Siapa yang ulang tahun?”

Seseorang dari kerumunan, seorang wanita, menjawab, “Ini ulang tahun Indonesia, sayang,” lalu gelak tawa renyah muncul beriringan.

Anak itu diam sampai mereka semua berhenti tertawa, lalu ia kembali bertanya, dengan frekuensi lebih rendah dari sebelumnya, “Indonesia itu siapa?”

Semua yang hadir di sana membisu.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada jawaban.

Mereka saling menoleh, seolah-olah jawabannya ada di raut muka masing-masing. Tapi yang mereka temukan hanyalah tanda tanya yang sama. Lalu mereka menatap sosok presiden yang sedang duduk di singgasananya. Dalam keheranan, mereka saling berbisik.

“Itukah Indonesia? Sang pemimpin? Orang yang diberi tanggung jawab dan beban yang sangat berat untuk mengurusi kita. Juru bicara dari seluruh pelosok negeri ini. Dia yang memutuskan segala hal tentang segala hal yang terjadi di sini, di sekitar kita semua. Dia yang harus kita hormati. Tapi… bukan, bukan dia. Dia bukan Indonesia. Dia yang memimpin Indonesia. Jadi, bukan dia. Jelas bukan dia. Lihat ke sekeliling, kita semua merayakan hari ulang tahun ini, kita semua tanpa kecuali, bagaimana mungkin ini adalah ulang tahun sang pemimpin jika di antara kita juga ada yang membencinya? Kita semua sedang bersuka-cita, jadi tidak mungkin Indonesia adalah dia.”

Lalu apa? Mereka kembali sibuk mencari-cari sementara si anak kecil tadi sibuk memperhatikan tingkah laku orang-orang di depannya. Mereka melihat para wakil rakyat dan kembali berbisik.

“Mungkinkah mereka yang disebut Indonesia? Kumpulan orang yang suaranya mewakili setiap lidah dari rakyat negeri ini. Merekalah yang menampung segala aspirasi, keluh-kesah, dan mimpi dari kita semua. Mereka juga yang segala tindak-tanduknya adalah manifestasi dari kepercayaan dan amanah yang kita berikan. Jadi, mungkin saja mereka itu yang disebut… tapi bukan, bukan, sepertinya bukan. Mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan Indonesia, yang mengatasnamakan Indonesia dalam setiap langkahnya, yang dimandati oleh mimpi-mimpi Indonesia. Mereka bukan Indonesia. Dan lagi pula ada beberapa dari kita yang membenci mereka. Mana mungkin kita semua merayakan ulang tahun orang yang dibenci. Bukan mereka.”

Semakin bingung, mereka terus memikirkan dan mencari siapa itu Indonesia. Kesana-kemari mereka memalingkan wajahnya dan akhirnya pandangan mata mereka bertemu dengan rakyat Indonesia.

“Apa mungkin mereka? Sekelompok orang yang mana para pejabat sibuk dan misuh-misuh bahkan sampai kocar-kacir untuk mengurusnya. Mereka yang selalu berubah ke dalam wujud angka-angka statistik sebagai tolak ukur dari segala hal, dalam berpolitik, dalam bersosial, dalam berekonomi, dalam propaganda, dalam kampanye, dalam undang-undang, dalam anggaran belanja, dalam rencana pembangunan, dalam demonstrasi, dalam debat, dalam rapat, dalam kaleidoskop, dalam berita, dan lain-lain. Intinya nama mereka selalu didengung-dengungkan ketika berbicara tentang Indonesia. Tapi, tunggu dulu. Lihat mereka. Bukankah Indonesia ini seharusnya sudah merdeka? Lepas dari segala belenggu? Bebas dari pengaruh luar? Tidak menghamba pada kekuatan lain? Kawan-kawan, jelas sekali mereka bukan Indonesia yang kemerdekaannya sedang kita rayakan sekarang."

Semakin bingung, mereka akhirnya menjawab dengan apapun.

“Kalau begitu bendera merah putih? Lambang keberanian dan kesucian Indonesia. Tapi bendera hanyalah bendera. Hanya simbol belaka. Dikibarkan atau diinjak-injak, dia tetaplah kain. Dia hanyalah kartu nama, tanda pengenal, emblem dari Indonesia. Bukan Indonesia itu sendiri.”

“Pancasila? Dengan kelima-silanya yang tentu saja mencerminkan sebuah karakter dan nilai luhur. Ya, tapi Pancasila hanya kata-kata, tidak berwujud, Pancasila adalah mimpi kolektif di mana kita semua bersatu dan karenanya mengenal nasionalisme. Dia adalah sifat dari Indonesia, sampai kapanpun, tapi bukan Indonesia yang sedang kita bicarakan sekarang. Pancasila adalah moralitas Indonesia. Itu saja.”

“Para pahlawan yang telah gugur? Perjuangan mereka, tumpah darahnya, keringatnya, nyawanya. Mereka berperang untuk Indonesia, Indonesia, dan Indonesia. Mungkin mereka tahu siapa itu Indonesia. Tapi mereka ada di masa lalu. Indonesia tidak mungkin terus terikat dengan masa lalu.”

“Mungkinkah kita? Mungkinkah Indonesia ini adalah kita semua?”

“Tapi siapa kita? Siapakah kita yang hadir bersama-sama di perayaan ini? Apa yang menjadikan kita sama? Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua, apa yang menjadikan kita ini satu? Bendera kita? Pancasila? Masa lalu? Itu semua hanya perangkat identitas belaka, administratif, pengakuan di atas kertas, hanya bukti kewarganegaraan saja yang tidak menjamin apapun selain fakta-fakta de facto dan de jure. Kita punya satu bendera, satu Pancasila, tapi tetap saja kita tidak melamgkah menuju ke arah yang sama. Masing-masing dengan tujuannya masing-masing. Kita bicara tentang sama-sama membangun Indonesia, tapi Indonesia yang mana? Indonesia-nya siapa? Semuanya subjektif. Tidak ada yang sepaham. Kalau Indonesia adalah kita, berarti Indonesia adalah sekumpulan orang plin-plan yang kehilangan arah, tidak punya satu tujuan, tidak karuan, tidak jelas, dan oleh karenanya bingung dan tidak punya keyakinan.”

“Kita bahkan tidak yakin dengan apa yang telah atau sedang kita lakukan sebagai bagian dari persembahan terhadap Indonesia.”

“Ya, itu dia. Berarti bukan kita yang disebut Indonesia. Siapa atau apapun Indonesia ini haruslah sesuatu yang mempersatukan kita. Suatu tujuan atau cita-cita yang mengarahkan kita bersama-sama. Dan kita sudah diberikan modal yang paling besar untuk bisa melakukannya, yaitu kemerdekaan.”

“Tapi siapa dia? Apa dia?”

Para hadirin semakin bingung. Mencari-cari kesana-kemari. Ada yang mencari di dompetnya, di saku celananya, di saku kemeja dan jasnya, di dalam tasnya, di dalam sepatunya, di lubang hidungnya, di lubang telinga, di dalam mulut, dan bahkan ada yang sampai membuka celananya. Melihat semua itu, si anak tadi tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang nyaring dan renyah terdengar oleh semua orang. Sontak semuanya memandangi ekspresi senang muka anak itu.

Salah seorang di antara mereka menunjuk dan berkata:

“Itu dia!”

“Dia?”

“Itu dia!”

“Anak kecil itu? Kenapa?”

“Sekarang saya mengerti tentang apa yang tadi kalian bicarakan. Argumen demi argumen yang dikatakan tadi akhirnya berujung pada satu hal, bahwa Indonesia tidak ada di antara kita. Yang ada di antara kita adalah kemerdekaan, dan itu pula yang sedang kita rayakan ini. Bukan Indonesia. Karena Indonesia selalu berada di depan kita, bukan di masa lalu atau masa sekarang, tapi di masa depan dan selalu demikian adanya oleh karenanya tadi kalian bicara tentang arah, tujuan, dan cita-cita. Tentang sesuatu yang harus dituju. Tapi kemudian, muncul pertanyaan mengenai tujuan apa yang akan menggerakkan kita semua bersama-sama, seperti apakah rupa Indonesia yang membuat kita harus bersatu untuk menujunya? Apakah merah putih? Burung Garuda? Baju batik? Bukan, tentu saja bukan. Tapi dia. Anak kecil itu.
    Dia adalah masa depan, dia adalah Indonesia yang menjadi cita-cita dan tujuan kita semua. Lantas apa yang akan menyatukan kita? Merah putih? Burung Garuda? Baju batik? Bukan, tentu saja bukan. Tapi lihat dia. Lihat bagaimana ia tertawa. Lihat kebahagiaan yang polos itu. Itulah kawan-kawan, itulah tujuan kita. Merah putih, Pancasila, baju batik adalah perangkat dan konsep yang bias yang justru malah membuat kita bingung karena barangkali kita sudah kehilangan semangat untuk mengorbankan segalanya untuk itu semua. Nasionalisme adalah hal yang usang dan ketinggalan zaman. Tapi, pikirkan ini, bagaimana kalau kita semua bersatu untuk berjuang, mengerahkan tenaga, pikiran, dan do’a untuk dia, untuk anak-anak. Demi mempertahankan senyum yang terlukis di wajahnya itu. Lihat baik-baik senyumnya, itulah motivasi tiap tindakan kita nantinya. Kita yang menentukan apakah senyum itu akan tetap ada atau lenyap dari wajah anak-anak.
    Membentuk Indonesia, itu tugas kita. Indonesia adalah sebuah konsep tentang apa yang akan dilihat, dinikmati, diperoleh oleh anak-anak kita, calon anak-anak kita, keturunan kita. Kita diwarisi kemerdekaan, maka anak-anak kita harus mewarisi negara ini dari kita semua, kita yang harus membentuk negara ini untuk mereka karena jika tidak, mereka akan menjadi seperti kita, bingung dan hilang arah dan tak ada yang bisa menjawab apa itu Indonesia.
    Lakukan semuanya demi anak-anak, demi generasi selanjutnya, karena bila tidak, kita tidak akan pernah bisa memerdekakan diri kita sendiri dan tentu saja kitapun tidak bisa memerdekakan negara ini. Mulai sekarang lakukan semuanya untuk dia, karena dialah cita-cita luhur kita. Anak kecil. Generasi penerus. Masa depan bangsa. Merekalah wajah Indonesia yang akan datang, tinggal bagaimana kita membentuk dan menghiasnya. Merekalah Indonesia. Kita tidak mungkin membenci mereka atau tega membuat mereka menderita kan?”

Para hadirin terdiam. Mencoba mencerna tiap perkataan yang mereka dengar dari salah satu dari mereka. Anak itu pun terdiam karena ia pusing dengan kata-kata yang tidak ia mengerti itu. Semua orang di sana kini menatap anak itu secara berbarengan. Menatap wajah polos yang belum tergurat apapun selain rasa ingin tahu dan kesenangan. Menatap kanvas putih yang belum diwarnai apapun, apakah itu merah ataupun putih. Menatap bagian dari diri mereka yang masih sangat muda, segar, dan kecil. Menatap pancaran sinar matanya yang dengan lugas menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, dan imajinasi, serta harapan yang ditujukan pada mereka, di mana senyum akan terus merekah di wajahnya bila semuanya terwujud, namun bila tidak, air matanya akan dipertaruhkan.

Dan dari sini, para kerumunan itu berpikir di dalam kepalanya masing-masing, bahwa mereka adalah anak-anak yang dulunya menangis, bahwa bapak mereka pun begitu, dan kakek mereka, dan seterusnya. Merekalah generasi yang menangis.Dan mereka berpikir bahwa apa yang sedang mereka rayakan sekarang adalah kegagalan. Kegagalan yang diwariskan turun-temurun karena Indonesia tak pernah terjawab. Lalu sambil merujuk kepada anak kecil tadi, salah satu di antara mereka berbisik:

“Andai dia tahu. Untung saja dia tidak tahu.”

Senin, 25 Juli 2011

At the Airport of Subconscious


"Solitude is fine,
but you need someone to tell you that solitude is fine."

(Honore de Balzac)


What about a rocket? It can carry someone to outer space. Moon, Mars, the ring of Saturn, or even out of the Milky Way, those are the places you want to be, right?

Well those are exciting, surely are. But the question is, are you gonna go with me?

Umm, I don’t know. I’m not sure.
 
What is it?

I don’t know. I mean, well, it’ll be pretty something to be in it, to be there, to go flying around between stars and the likes. It’ll be fun to be in Star Wars, you know, to live in science fiction. That is crazy. But…

Yeah, but?

But I’d rather go someplace else.
 
Oh really? Like where?

Just someplace else. I often think about a land where everything is not correctly colored. Where the sky is not blue but rather pale purple or maybe dark yellow, if that sort of color does exist. Where the sea is transparent so everyone can see clearly what’s under it. Where the color of the grass always changes according to my mood. And the sun beams its ray just like the lighting tricks at a rock ‘n’ roll concert, it flickers, it spins like a disco, it highlights the soul y’know what I mean? And the color of the sun is silver. Yeah, I guess so. That’s where I intend to be. Do you get the picture?

Yes of course I do, more or less, yes. That’s splendid! Sounds so girly but it’s charming anyway. Sounds like Disney’s feature. I imagine there will be talking animals as well. Or winged people?

Winged people? No, not them, I’m not that kinda girl, y’know. Winged people sound silly, so do seven dwarves and fairy godmothers. Definitely out of my clouds. I don’t approve them. But talking animals are in. Animals are pretty and they deserve language to explain their feelings about anything.

Hmm, they’re gonna be a bit fussy, don’t you think? Merry, crowded, noisy. They might talk about us human, about how arrogant, deadly, dangerous, and reckless we are. And that’ll be a nonstop conversation among them.

What? Uncomfortable to you?

Yeah, the noises. My idea of an excursion is to get into some kind of tranquility where I can spoil my eyes with a series of extraordinary views and surroundings. You know, it’s all about “enjoying” and that’s that. I don’t want to be in a middle of a crowd, it happens all the time in my life; I just want a special term and condition.

Okay I got it. I’m reconsidering talking animals. Maybe I’ll put dogs. They’re familiar cute pets, people rarely do any harms to them so they won’t do any bad conversation in return. All dogs go to heaven, don't they? And then it has to be a lion, the wisest of all, the king, the bravest beast, a majestic creature. Look, I’m not gonna turn this place into a state of constitutional monarchy, but it’s just that I love lion, y’know what I mean? And then a herd of dolphins. They always smile and I guess it’s alright. Mmm… well, I’ll think about the rest of the animals later. So, what about this term and condition you were saying? Any detail?

Let me think. You know, I always dream of a place with a whole chance of defying gravity. Drifting away freely. A place full of lights, fully futuristic, and the air feels like mild menthol. I’d like to be on the sky and look down to the parade of colorful light dots.

So that’s where the idea of winged people came out.

Well― mmm… not really. I’m not talking about having a pair of wings.

Wouldn’t it be nicer if using a spaceship, or a jet, to fly?

That’s right! I was thinking about that in a flash. Flying man is overrated, a bit boring. You know what, I’m thinking about a zeppelin or a gas balloon, a big one! That’s how I’ll beat the gravity.

Sounds better!

Okay. I have to be specific right now. So this place has buildings in gothic architecture with meticulous design, and they’re not in monochrome as always, they have some colors that glow in the dark. The ground can glow too; if we step on it then it will partly glow in particular colors, depends on what mood we’re in. The stars are alight in the sky, bright silver of whimsical forms arranged in tidy constellation. The moon moves in circle, revolves around the land. Fireflies spark their electricity; they look like a wave of laser beam dancing through town, so eccentric. The trees sparkle. Traffic signs sparkle. Road markings sparkle. Sculptures sparkle. Towers sparkle. The place is shining. The place is shining to cover the darkness it’s in. And that’s the way it’s gonna be.

That’s far out, man. Cruising over a shiny town in a motorized bubble. Wherever the wind blows, it won’t ever be a dull moment of sightseeing.

Exactly!

Nice! Well, you know, there are something sparkling too in my place. Mushrooms! Big mushrooms! They are transparent, like crystals; they are blue, like sapphires. Sunray radiates toward them, makes them produce several light sticks like the one from a lighthouse y’know what I mean? And then the clouds fly low. Pastel-pink-colored clouds in which I’m tangled. The air is colored in pastels too, any colors you like except black, white, and grey; that’s too much black, white, and grey in our world, isn’t it? A bit boring isn’t it?

Yeah, right. I agree. But hey, at last you mention “pink”; it won’t be complete without that color, will it? All in all, your place is so inviting and inciting. I’d like to be there.

I’d like to be in your place too, will it be too crowded if I join in?

No, no. From the beginning, it was designed to be occupied by only two people. Only two. So you are very welcome.

Ah, that’s about the same with mine. So then, when and where and who to go first?

It’s up to you.

I can’t decide, you do.

Hmm, okay. Look, there’s a sun in your place and there are stars in mine. So it’s easy, I go to yours when it’s day, and in the night you can go to mine. How about that?

Brilliant. Let’s do it now. Come to my place.

Right! Now? How?

Yes, now! Just step into my head. Come on, jump in!

Wait a minute. I guess it’ll be more interesting if we go by riding something?

Do you think so?

Yeah.

Alright then, what about a rocket?