Sabtu, 15 Oktober 2011

Kepingan Surau Yang Roboh

 "Scepticism is the beginning of faith."

(Oscar Wilde)

Iman. 

Ustadz tampil di TV, berceramah, kali berikutnya berkoar-koar dalam iklan, kali berikutnya tersenyum alim di infotainment, kali berikutnya berperan sebagai dirinya sendiri dalam sinetron, beberapa saat lagi medium layar lebar ikut dirambahnya pula. Berimankah saya jika di balik kepala ini walau hanya sebersit dan diiringi keseganan, serta kelancangan yang berusaha untuk dijinakkan bertanya, apa yang telah kalian jual untuk ketenaran seperti itu? Berapakah harga untuk sebuah kemuliaan di jalan Tuhan yang telah kami bayar? Adakah diskon di dalamnya? Atau mungkin, potongan pajak? 

Mungkin suatu hari nanti saya akan berpesan pada sang anak: “Nak, jika kamu ingin mengobati orang-orang yang sakit, jadilah dokter. Jika kamu ingin mengorbankan jiwamu untuk negara, jadilah tentara. Jika kamu ingin berperan dalam menegakkan hukum, jadilah polisi. Jika kamu merasa hidup ini lebih baik dengan gubahan nada, jadilah musisi. Jika kamu merasa kata-kata begitu berarti untuk disampaikan, jadilah penulis. Jika kamu merasa setiap momen dalam hidup begitu berharga untuk diabadikan, jadilah fotografer. Jika kamu merasa setiap ilmu harus diamalkan dan disampaikan, jadilah guru. Jila kamu merasa hidup ini jadi lebih mudah dengan mengolah warna, jadilah pelukis. Jika kamu ingin mendapat uang banyak, masuk TV, bintang iklan, dan dijamin masuk surga, jadilah ustadz. Tuhan ada di TV nak!”

Ceramah Jum’at; 15, 20, 30 menit membuai hadirin dengan kantuk yang malu-malu kucing. Kami tahu arahnya ke mana, kami tahu kesimpulannya apa, kami tahu apa yang akan disampaikan; ya, kami akan menjalani hidup dalam ketakutan akan bara neraka; ya, kami akan membuka mata untuk menghakimi kekafiran; ya, kami akan terus berdoa untuk Palestina dan belajar memusuhi dunia barat; ya, kami tahu. Maka dengan tanpa maksud untuk mengingkari ketetapan untuk memerangi hantu kantuk itu, bolehkah di sela-sela rentetan ceramah saya membaca buku? Dostoyevsky atau Dickens? Mungkin Rumi atau Gibran? Atau mungkin Al Jaelani dan Imam Ghazali? Atau bahkan Abu Nawas? itu pun bila saya diizinkan untuk tertawa.

Anak-anak yang kecil dan naif, lucu, riang, ceria, dan tanpa beban. Apa yang terucap dari lidah kalian itu? Berdiri di bawah lampu sorot panggung, kalian bicara akhirat, bicara dosa, bicara syetan, bicara azab, dan menakut-nakuti dengan hukuman Allah. Kalian di sana dalam balutan atribut kesucian yang seharusnya adalah gestur kepolosan yang khas dari kebeliaan. Namun kakak kagum dengan bentuk keimanan itu, terutama di saat kalian berada di usia yang bagi kakak tepat untuk bermain, untuk berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya dan belajar darinya, untuk mengarungi samudera imajinasi seluas-luasnya hingga mendarat di dataran realita nanti, untuk tertawa tanpa henti hingga akhirnya kalian menyadari bahwa tidak ada lagi yang lucu. Suatu saat nanti, semoga saja kalian tidak tumbuh menjadi seorang munafik atau seorang penyesal atas apa yang belum pernah kalian rasakan di saat kalian harus merasakannya. Toh, kalian sudah punya keimanan itu. Ataukah itu semua hanya untuk di depan kamera? Adakah orang tua kalian di bangku penonton?

Perempuan, betapa pakaianmu menunjukkan keagunganmu. Keindahan kalian adalah mukjizat ilahiah, alamiah, batiniah, lahiriah, yang menempatkan tiap lelaki yang melihat kalian di persimpangan jalan antara surga dan neraka. Maka untuk kalian, sang nabi memberi perhatian khusus, ia mewasiatkan kalian untuk dilindungi dan sebuah pakaian yang terhormat siap melapisi kulit kalian. Tapi mengapa memakai jilbab dengan alasan takut akan siksaan akhirat? Karena bagi saya itu terdengar seperti paksaan. Mengapa memakai jilbab jika hatimu masih ingin melepasnya? Bukankah ini seharusnya berhubungan dengan keikhlasan? Mengapa kalian tubrukkan jilbab itu dengan mode yang membuat kalian terlihat seperti (badut) hipster yang tersesat? Berimankah jika suara saya berseru kepada kaum di mana rasa cintaku tertambat, untuk melepas jilbab kalian dan kenakan di saat kalian siap dan tulus hati? Karena terkadang saya tidak melihat penjilbab seperti sebagaimana penjilbab seharusnya menampakkan diri; dalam kesucian, kebesaran, dan kekuatan untuk membuat jiwa ini luluh dan takluk.

Dalam keheningan ini saya mempertanyakan kadar iman di dalam diri. Dalam kebingungan saya melihat semuanya terasa berlawanan dengan apa yang saya pahami. Apakah iman saya telah luntur? Ataukah saya masih terpaku untuk melihat apa yang benar dan salah secara subjektif? Namun bukankah kalimat “Seharusnya ini tidak seperti ini” adalah juga sebuah bukti keimanan? Bukankah itu artinya ada hal lain yang dipercayai yang bisa lebih baik dari yang telah ada? Dan bukankah mempercayai sesuatu adalah pengertian dari iman? Entahlah. 

Iman. 

Lebih mudah menyebutnya jika itu adalah nama seseorang.

7 komentar:

  1. IEU PISAN! mau re-post tapi ga usah bayar ya?

    BalasHapus
  2. ada konflik batin (di gue pribadi), ketika sekelompok jilbabers pernah mengajukan pernyataan seperti ini, "berjilbab adalah syariat, tidak menutup kemungkinan seorang perempuan yang mengenakan jilbab masih melanggar norma-norma lain sekalipun mereka mengenakan simbol yang menjadi kewajiban bagi mereka. toh pada dasarnya mereka manusia biasa."

    "seperti ngomongin orang, menghasut, korupsi, bahkan masih berzinah?" gue balik nanya, dan mereka bilang, ya.

    well, bukan karena perbedaan antara islam Indonesia dan islam timur tengah yang akan gue soroti di sini (gue rasa kalo tentang syariat segala macam, islam di mana-mana sama aja). tapi ini tentang latar belakang kebudayaan Indonesia itu sendiri yang sedikit banyak telah menumbuhkan persepsi berbeda tentang "mengenakan-jilbab" bagi perempuan yang sudah akil-baligh di Indonesia.

    negara ini tidak menggunakan syariat islam sebagai dasar negera, sehingga konteks mengenakan jilbab (semestinya) timbul dari kesadaran sebagai seorang muslimah bagi para perempuan tersebut (well, termasuk gue seharusnya). tapi kalo ngomong-ngomong tentang kesadaran, lo pun pasti tahu ceritanya akan sangat panjang. sebab, orang-orang di negera ini, sebagaimana yang kita tahu masih memiliki kesadaran yang rendah untuk benar-benar sadar sesadar-sadarnya akan hakikat sesuatu. (pun sebagian besar point ini yang gue tangkap ketika lo membicarakan tentang iman sebagai fondasi keyakinan bahkan ketika seorang muslimah seharusnya mengenakan jilbab).

    kebanyakan dari mereka cenderung ga bisa membaca niat mereka pribadi, benarkah keputusan mereka mengenakan jilbab adalah semata-mata karena Allah, atau untuk mendiversi status sosial? mungkin kedengarannya cliche atau bisa jadi ini terdengar 'sekedar' opini gue, tapi ga satu dua orang yang gue temui beralih menjadi gadis berjilbab hanya takut ga dapat cowo baik-baik buat dinikahi. karena ya, persepsi kebanyakan orang tua termasuk cowo-cowo dangkal itu, berjilbab adalah baik di mata sosial (bahkan calon mertua).

    syariat? okaylah. tapi kalo ga disadari dengan tepat output-nya pun bisa nyesat, bahkan keluar dari jalur hakikat.

    nyambung-nyambungin dengan konteks budaya, hmmm, ada pola kebudayaan baru yang mewabah baru-baru ini dan cukup menyeramkan: passing. but what cant we say, arki? masyarakat menyukai itu. media membombardirnya. jadilah agama pun dapat dijadikan barang dagangan. dan konteks ini akan kembali lagi ke masing-masing individu: selama terus menerus membiarkan diri mereka dibodohi media satu arah bernama televisi, mereka akan (tanpa sadari=) terus menerus menipu diri (bahkan sampai mati).

    hehe. gue nyerocos kepanjangan.
    *tulisan yang asyik :-)

    BalasHapus
  3. tulisan yang bermuatan positif bernutrisi, yang efeknya menginspirasi.

    Super sekali pak ikra...

    BalasHapus
  4. Terima kasih, ini hanya kebingungan-kebingungan yang belum terjawab

    BalasHapus
  5. ikut komen ya kak,,

    ga usah bingung. Klo kita menjalankan kewajiban sebagai makhluk Allah, ikuti aturanNya sesuai Al-Quran dan As-Sunnah, kita akan mendapat petunjuk.

    Klo merasa 'gerah' krn ada orang2 yg berpenampilan islam tetapi tdk berkelakuan islami, kita perbaiki sesuai kemampuan. mulai dari diri sendiri, keluarga, sahabat, semuanya.

    Memang terdengar biasa saja. ya, sy tau mn yg benar, sy tau mn yg salah. tp ya.. gitu... jgn bingung ya, kak... semoga mendapat petunjukNya..=)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas komennya ya dik

      Hapus