Minggu, 11 Oktober 2009

Krieg, Guerre, Guerra, War, 戦争, война, whatever!

"It is only the dead who have seen the end of war."

(Plato)
Baru saja saya selesai membaca Anne Frank: The Diary of A Young Girl, sebuah memoir tentang seorang anak perempuan, Anne Frank, yang bersama keluarga serta kerabatnya bersembunyi di sebuah gedung dari kejaran dan terror Nazi di masa perang dunia II. Buku ini begitu menggugah sekaligus juga menghantui terutama lewat kata-kata yang medeskripsikan kengerian akan ancaman ketahuan sewaktu-waktu oleh polisi Nazi dan lagi yang membuat saya terpesona adalah bagaimana sosok seorang pra-remaja yang berubah dewasa dan bijak di balik ruangan yang selama kurang lebih 2 tahun menghalanginya dari sinar matahari, udara pagi, bintang-bintang, dan teman-temannya. Bayangkan rasa frustasi, kekesalan, amarah, kegilaan yang timbul ketika harus tinggal di tempat pesembunyian, menutup diri dengan dunia luar, sementara suara bom berdengung di telinga dan semakin hari semakin mendekat.

Buku tersebut merupakan sebuah kacamata yang menatap perang lewat mata polos seorang gadis perempuan yang mewakili semua orang yang terlibat dalam perang dunia II yaitu sebagai korban. Ia kehilangan kebebasannya dan masa-masa pertumbuhan remaja yang biasanya penuh dengan suka cita. Walaupun ia sempat merasakan cinta terhadap remaja laki-laki yang juga bersembunyi bersamanya, namun “keterbatasan hidup” membuat pijar-pijar kasmaran yang ia rasa seakan terbang tak tentu arah. Di titik di mana kedewasaannya tumbuh, ia menyadari bahwa jarak antara jendela tempat persembunyiannya dengan alam dunia luar adalah kehilangan sesungguhnya. Anne menatap jendela dan merindukan alam lalu menunjukkan bahwa manusia adalah bagian darinya. Perang telah merenggut kebebasannya lalu jati dirinya sebagai remaja dan kodratnya sebagai manusia merdeka.

Sayang Anne Frank tidak sempat mencicipi akhir perang. Ia tak sempat merasakan perdamaian yang selalu ia impikan. Ia tidak lagi diberi kesempatan untuk hidup bebas dari ketakutan seperti masa kecilnya yang normal dulu. Ia pergi beberapa saat sebelum perang berakhir, meninggalkan catatan kegelisahan dan penantiannya akan dunia baru. Meninggalkan rekaman akan suasana saat itu yang mencekam di mana setiap orang kehilangan apa yang menjadi “bagian” dari diri mereka.

Sampai kapanpun perang adalah hal yang mengerikan. Ledakan bom, desing peluru, teriakan kesakitan, genosida, ibu kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tuanya, dan semuanya terjadi hanya karena kepentingan segelintir orang saja. Semuanya hanya demi memuaskan pihak-pihak tertentu. Semuanya hanya sebagai permainan di mana aturannya adalah kemenangan sebagai sesuatu yang mutlak sementara kematian merupakan bagian dari angka-angka statistik.

Saya mungkin masih terlalu dini dan awam untuk memaknai sebuah keputusan untuk berperang. Sejauh yang saya tahu dan baca, peperangan di dunia ini didasari oleh sebuah motif, yaitu berkuasa. Keinginan satu pihak dalam menguasai sesuatu yang bukan haknya melahirkan ambisi untuk memperoleh keinginan tersebut dengan menempuh berbagai macam cara, sehingga timbullah nafsu untuk menaklukkan, untuk menjadi yang terhebat, menjadi pemenang, dan tentu saja, menjadi penguasa. Walaupun secara kasat mata bisa terlihat dalam perang melibatkan dua sisi, yaitu sisi sang ambisius yang menyerang dan sisi lainnya berjuang mempertahankan haknya, tapi tetap saja dalam peperangan tidak ada batasan antara yang baik atau jahat.

Ketika bom berjatuhan mengahancurkan tubuh manusia, lautan darah yang menetes, bagian-bagian tubuh yang berceceran, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, masihkah kiranya terbesit pikiran untuk menghakimi mana yang baik dan mana yang jahat? Akankah ada yang mampu menjelaskan lewat pemandangan mengerikan itu mana yang disebut pahlawan dan mana yang penjahat? Adakah perbedaan antara malaikat dan setan di balik kematian yang diciptakan oleh ketakutan bercampur dengan heroisme yang rapuh?

Perang ditimbulkan karena arogansi yang besar dan akan terus berlangsung selama dunia masih bertanya-tanya siapa yang benar dan yang salah. Perang mungkin tepat dikatakan sebagai jawaban dari ketidakmampuan dalam menerima hidup dan lebih ironis lagi, itulah sifat manusia. Kita tak bisa mengelak bahwa perang merupakan hasil budaya dari peradaban manusia. Setiap generasi memiliki perangnya masing-masing sehingga jelaslah bahwa perdamaian hanya bisa dinantikan, diharapkan, diimpikan, persis seperti yang Anne Frank lakukan.

Mungkin semua itu memang ada di luar sana. Di balik jendela yang tinggi di mana Anne Frank menatapnya seraya melamun. Perdamaian, kebahagiaan, keharmonisan, kesetaraan dan lain-lainnya. Bisa jadi kematiannya sebelum perang berakhir adalah kemenangan pribadi baginya. Karena bukan tidak mungkin, apa yang Anne lihat di balik jendela hanyalah sebuah utopia dan kematian telah membawanya terbang ke sana.
"War is over, if You want it."
(John Lennon)

3 komentar:

  1. anne frank = your future daughter visualization

    BalasHapus
  2. ha, mungkin, everyone loves her

    BalasHapus
  3. komen ah....

    jadi inget gw sama salah satu quote yang dimunculkan oleh Burtrand Russell, filsuf dari UK:
    "War does not determine who is right - only who is left"

    ini quote yang membuat gw meragukan kebenaran.. jangan2 sebenernya dulu hitler yang bener tapi karena dia kalah jadinya dibilang salah... dan karena kita diajarinnya "hitler salah" jadi merurut kita ya demikian..

    jadi sampe sekarang menurut gw seharusnya bukan "yang benar pasti menang", tapi "yang menang pasti benar"..

    andaikan saja gw bisa mengutak-atik masa lalu, pingin coba memutar balikkan sejarah... dan lihat efeknya ke masa kini...

    1 quote lagi ah dari einstein:
    "So long as there are men, there will be wars."

    BalasHapus