Rabu, 28 April 2010

Film Nasional Sebagai Kita


"A film is never really good,

unless the camera is an eye

in the head of a poet." 


(Orson Welles)

Coba acungkan tangan bagi siapapun yang ketika film Petualangan Sherina atau Ada Apa Dengan Cinta? muncul lalu meyakinkan diri dengan berkata ‘inilah momen kebangkitan film Indonesia’ dan tidak pernah berhenti pergi ke bioskop setelahnya. Ya, ya banyak sekali yang berpikiran seperti demikian bahkan saya juga ikut mengacungkan tangan. Sekarang acungkan tangan lagi bagi siapapun yang merasa bahwa mengacungkan tangan untuk pertanyaan pertama tadi adalah sebuah kesalahan. Oke, kita semua mengacungkan tangan lagi —Selamat, kita baru saja merayakan sebuah ironi. Plok plok!

Mari sejenak melihat ke belakang, tidak terlalu jauh ke belakang, tidak perlu menoleh sampai menyakiti leher, cukup menggerakkan kedua bola mata saja. Di sana kita semua mengacung untuk pertama kalinya. Optimistis. Rasa bangga. Sebuah dahaga yang akhirnya dipertemukan dengan sebuah oasis yang jernih. Sebuah sinar terang proyektor yang muncul dari ufuk timur lembah sinema nasional yang selama ini ditutupi oleh tirai bioskop yang usang dan bau apak. Film Indonesia akhirnya membuka mata dari mati suri panjangnya, menatap para sineas generasi baru yang dilahirkan oleh zaman, dan kita duduk di kursi bernomor menonton ‘si anak hilang’ memperkenalkan dirinya yang baru. Sampai popcorn di pangkuan habis tak bersisa, lampu bioskop kembali menyala, lalu pintu keluar dibuka dan kita berjalan pergi dengan kesan di muka, saat itulah kita dihujani oleh euforia.

Maka tak heran bila akhirnya sebagian besar orang meyakini jargon kebangkitan film nasional sebagai sebuah titik cerah, harapan, penantian yang dihayati secara serius bersama-sama. Setelah beberapa lama gudang ide kehabisan stok, industri bioskop sekarat dalam ketidakpastian, ditambah dengan keadaan sosial-politik-ekonomi bangsa yang sepertinya begitu menggemaskan, tiba-tiba ada sekelompok orang yang kembali membuat film, sekelompok orang yang mengantri di loket, dan sekelompok orang yang berakting di layar dengan suara yang menggelegar yang serta merta mengisyaratkan sebuah ‘kelahiran’, kemunculan yang patut dirayakan seperti kemunculan seorang Romeo di bawah balkon Juliet yang telah lama menunggu. Sampai akhirnya disadari atau tidak, film nasional seperti hendak mengadopsi ketragisan dari kisah cinta klasik tersebut, atau setidaknya bisa dikatakan sedang mengarah ke sana. Sekali lagi.

Mengapa banyak yang mengacungkan tangan untuk menanggapi pernyataan yang berkontradiksi dengan pernyataan yang pertama tadi adalah sebuah bukti terhadap suatu gejala. Penyesalan? Bisa jadi. Kemunafikan? Mungkin tidak juga. Lalu? Bagaimana kalau menyebutnya sebagai sebuah kepercayaan yang telah dikhianati. Ya, untuk itulah kita mengacungkan tangan sekali lagi. Dengan rasa kecewa, putus asa, sia-sia, berat hati, malu, kesal, marah, sedih, pasrah, geram, miris, gerah, jenuh, yang kesemuanya dilahirkan dari janin pengkhianatan. Dan kemudian sebuah pertanyaan pamungkas terlontar: Siapa yang salah?

Atau mungkin apanya yang salah?

Film nasional bila ditilik dari keseluruhan perangkat teknis yang membentuknya dari mulai sinematografi, pencahayaan, kualitas suara, kualitas gambar dan editing memang masih relevan untuk dinyatakan sebagai bukti kebangkitan dunia perfilman Indonesia. Para awak sineas dalam negeri telah berhasil ‘mencuri’ buku panduan sinema dari para ‘dewa-dewa’ yang bersemayam di puncak gunung Hollywood. Betapa mereka telah berhasil menyerap pelajaran dari tiap lembarnya walaupun mereka melewatkan bab mengenai special effects dan film animasi tapi setidaknya mereka telah mampu mengasah dan mempraktekkan ilmu yang didapat dengan baik. Pada awalnya mungkin inilah barisan terdepan dari decak kagum yang tumbuh kembang di bola mata para penonton. Maka mari kita sebut saja bahwa masalah teknis dari film Indonesia bukanlah hal yang bisa dilabeli sebagai sang biang kerok, hanya ada nasihat klise untuk hal ini yaitu ‘tingkatkan kemampuan dan giatlah belajar’ yang dengan kata lain dapat diartikan sebagai semuanya baik-baik saja. Sampai di sini setidaknya harus diakui bahwa ini melegakan, persis seperti hutang yang berhasil terbayar, melegakan.

Yang menjadi duri pengganggu adalah ketika warna dan karakter film nasional terjebak dalam kemonotonan, stagnasi, terkorupsi maknanya sebagai media seni dan informasi, tergadaikan esensinya lewat harga tiket dan statistik pendapatan, terlalu nyaman dalam zona banalitas yang semata-mata menghibur namun kehilangan peran sebagai agen perubahan massal/populer yang dapat menyentuh masyarakat lewat bahasanya yang universal, kehilangan bentuknya sebagai sebuah karya seni yang dipahat oleh ide dan pemilkiran, terlupakan fungsinya sebagai kamera yang khusus memotret kehidupan, peradaban, dan kemanusiaan, kehilangan sentuhan artistiknya, dan yang terutama adalah cacat inspirasi. Masalah utama tidak lain tidak bukan adalah gudang ide yang telah dipenuhi oleh sarang laba-laba dan hanya berisi tumpukan benda-benda usang yang terkubur debu. Ya, kematian ide, bahan bakar utama dari sebuah film, dari seorang manusia, dan dari segala hal mengenai kehidupan.

Bioskop memang tidak kehilangan penontonnya tapi film nasional telah dibotaki oleh mesin cukur bermerek profit. Hasilnya adalah yang pertama, kemonotonan. Betapa semua hal telah diseragamkan. Miskin inovasi. Film Indonesia tidak berkembang karena terus berputar di orbit yang sama mengelilingi para penonton di bioskop. Kalaupun ada yang bisa disebut inovasi adalah kelihaian dan kreatifitas para sineas dalam menciptakan sosok mahluk halus baru lengkap dengan sebutannya yang memadukan unsur merinding dan kekonyolan (Suster Ngesot? Hostes Bunting?). Film remaja dan film drama hanya dipenuhi oleh hal-hal pragmatis, superfisial, klise, dan artifisial semacam tema mengejar mimpi, kasih tak sampai, pergaulan bebas, cinta segitiga, cinta pada pandangan pertama, cinta diam-diam, cinta monyet, cinta terlarang, cinta itu indah, cinta itu buta, cinta itu bikin gila, dan cinta itu hanya remaja yang tahu. Film religi? Entah kenapa saya kebingungan dengan label ‘religi’-nya. Apanya? Bagaimana? Di sebelah mana? Film religi selalu diisi dengan cerita-cerita yang praktis dan cenderung memaparkan jawaban-jawaban atau pernyataan tak tersirat yang sifatnya langsung jadi, seperti menerjemahkan ayat kitab suci begitu saja tanpa mengkaji lebih dalam lagi. Tak ada inspirasi yang dihasilkan yang justru membuat penonton bertanya dan bereaksi dengan mencari makna religi atau ketuhanan dengan lebih terarah. Kebanyakan film religi hanyalah film yang diisi oleh bahasa serta nuansa ke-Arab-arab-an —tidak lebih tidak kurang— dan memang hanya di permukaan itulah sisi religinya, seolah-olah hanya dengan berkata Assalamualaikum, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar di sepanjang film maka kita telah disuguhi oleh tontonan religi yang berkualitas dan tentu saja, halal. Film Action atau film laga memperlihatkan ke-macho-an atau kejantanan kaum Adam lewat sifat gampang marah, gampang mendidih, gampang main hakim sendiri, gampang mencari masalah, dan tentu saja mulutnya berisi sastra kata-kata kasar.

Tapi memang apanya yang salah? Kenapa saya harus mengkritik ini segala? Film diciptakan dari dan untuk masyarakat sebagai cermin dari kisah manusia di dalam kehidupan ini. Kalau memang masyarakat Indonesia mewakili gambaran serta landasan ide di atas kenapa harus protes? Justru inilah fungsi film, sebagai potret dari lingkungan sekitar.

Ya, film nasional adalah kita. Kemonotonan itu jugalah milik kita. Jadi mengaku sajalah. Bahwa kita berada dalam masyarakat yang kehilangan greget-nya dalam berinovasi, memunculkan gagasan segar, mengedepankan keunikan, menghamba pada kreatifitas dan karya, serta merindukan perubahan.

Bukankah kita adalah masyarakat yang hidup dalam atmosfer klenik yang begitu kental? Jadi apa salahnya kalau kita memberikan penghormatan kepada para mahkluk halus, roh-roh gentayangan, jin dan setan. Ya, kita tidak peduli dengan bagaimana negara maju membentuk peradaban dengan teknologi dan pendidikan karena kita masih akan bersujud di bawah pohon beringin tua, menyiapkan sesajen, mencium aroma menyan, dan mengkeramatkan keris pusaka. Kita telah mendapatkan wawasan dari film-film horor nasional tentang paku kuntilanak, tali pocong, kain kafan perawan, dan sebagainya sehingga kita telah selangkah lebih maju daripada orang-orang barat yang tentunya tidak tahu apa-apa mengenai hal yang satu ini.

Film cinta? Oh apa yang salah? Bukankah kehidupan kita memang dipenuhi oleh rasa cinta yang selalu bersemi? Semuanya tercermin dari perilaku anak muda, para remaja, generasi penerus dan harapan bangsa ini, betapa mereka telah belajar mengenai cinta dari sejak dini. Kita tidak memiliki kisah tentang gerakan para pemuda seperti yang terjadi di tahun 60-an tentang flower generations yang menentang perang Vietnam dan mengusung slogan cinta dan perdamaian dunia, tidak, tidak sejauh itu, terlalu buang-buang waktu. Tidak ada juga kisah pemuda di akhir 70-an di mana lewat kereta bernama Punk mereka melaju dengan protes dan kekecewaan terhadap perbedaan kelas sosial serta sistem pemerintahan yang tidak adil dan mereka menyalurkannya lewat musik dan ideologi baru, hmm tidak juga, sangat nihilis dan penuh pemberontakan. Atau gerakan aliran Beatnik di sekitar 50-an yang merubah wajah dunia sastra dengan melepas unsur formalitasnya dalam gaya bahasa dan bertutur cerita, sama sekali tidak, sastra, novel, buku, cuma hiburan buat orang-orang yang kurang bergaul. Para pemuda di luar sana terlalu sibuk memikirkan hal yang tidak penting sedangkan kita lebih suka memikirkan cinta. Seperti status di Facebook, panggilan sayang, rencana malam Minggu, uji kesetiaan, uji komitmen, candle light dinner, kejutan di hari ulang tahun, peringatan hari jadi sampai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Betapa nikmatnya menghabiskan seluruh masa muda untuk menjalani cinta. Biarlah semua masalah, drama kehidupan ini selalu diisi seputar masalah cinta, semuanya, dan biarkan yang lain jadi masalah orang lain, atau bangsa lain untuk memecahkannya. Jatuh cinta melulu memang benar-benar indah. Mmmmuuuaahhhh….!!!!

Lalu kita lihat film religi. Sebuah genre baru yang diciptakan dengan tujuan untuk menciptakan tontonan yang menjadi tuntunan bagi masyarakat Indonesia. Sebuah jawaban dari film Indonesia yang mulai dirasa terlalu banyak yang disensor. Oke, kalau masalahnya untuk menanggulangi sensor tentu saja film religi lulus ujian. Tapi bagaimana dengan isinya yang entah kenapa justru seperti menampilkan filosofi religiusitas yang kering yang hanya melibatkan diri pada proses penyerahan diri yang dilengkapi dengan pagar yang kokoh antara dosa dan pahala. Film religi ataukah film penghakiman? Tapi sekali lagi, apa yang salah? Penonton kita menyukainya. Penonton kita adalah orang-orang taat yang selalu berserah diri kepada Tuhan. Menyerahkan semua masalah pada Tuhan, masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah kemiskinan, masalah politik, masalah sosial, masalah nasib, masalah takdir, masalah masa depan, pokoknya semua masalah biarlah Tuhan yang menyelesaikan. Karena kita adalah orang-orang yang sangat beriman, sangat percaya pada Tuhan. Semua masalah pasti bisa diselesaikan-Nya, tinggal berdo’a pada yang di atas setelah itu tunggu saja. Tunggu beberapa waktu. Tunggu sampai mati. Tunggu selamanya. Dari film religi kita diberikan kemampuan untuk melihat siapa orang yang berdosa siapa yang tidak. Bayangkan kemampuan kita untuk bisa meramalkan siapa yang nanti bakal masuk surga atau neraka. Mana ada orang dari negara lain bisa melakukan hal ini. Orang-orang dari negara lain justru harus dikasihani karena mereka bodoh, banyak bertanya tentang agama. Kita telah mendapat agama dari sejak lahir —sebuah anugerah yang indah— kita hanya tinggal menjalaninya saja, patuh terhadap semua aturannya, kalau tidak, itu namanya dosa. Kenapa harus repot-repot mempertanyakannya segala, menjalani proses panjang untuk mencari kebenaran, berpikir keras sampai gila, atau berusaha memahami konsep ketuhanan? Kita sudah punya agama turun-temurun, tinggal ikutin aja, kalo engga ya dosa, dan agama kitalah yang paling bener, yang lain silahkan ke neraka aja!

Film action? Wah ini jagoan kita. Kita adalah masyarakat terhormat yang tidak suka diganggu atau dilecehkan. Bila pemerintah dengan seenaknya menaikkan harga minyak, bensin, atau pajak, kita akan turun ke jalan, berdemo, membakar ban, membakar foto presiden, berteriak sampai serak, sampai gunung Merapi tersulut untuk meledak, mendobrak pagar-pagar yang menghalangi, meludahi para polisi, melempar dengan batu, bom Molotov, tongkat bambu, kerikil, botol minuman dan air kencing di dalam botol minuman, dan kalau sempat, menjarah barang-barang yang ada karena kita sangat kesal —saking kesalnya— kehormatan kita telah dinodai. Tidak perlu bicara, diskusi, atau musyawarah dengan kepala dingin, terlalu buang waktu, langsung saja hajar, hajar semuanya, hajar yang telah melukai perasaan! Oleh karenannya hati-hatilah, kami akan memecahkan kaca-kaca jendela, meneror, dan membakar seisi kota. Karena kita adalah bangsa besar yang terhormat yang tidak bisa terima disakiti. Camkan itu! Mau menaikkan harga rokok? Pulau Jawa ini akan kami tenggelamkan!

Jadi apa salahnya? Kemonotonan film nasional adalah juga tontonan sehari-hari dari kehidupan kita semua. Mau kenal dengan Indonesia? Lihat saja film-filmnya.

Lalu apalagi yang terjadi pada film nasional selain kemonotonan? Yang kedua adalah komersialisasi. Tersebutlah sebuah benteng pertahanan terakhir yang besar nan kokoh, berdiri menjulang sebagai penyaring dan pelindung dari gelombang serangan idealisme, kreatifitas, dan inovasi yang menggebu-gebu, berdiri dengan tegak dan angkuh yang membuat semua orang bersujud untuk memuji keindahan di hadapannya, dan perkenalkanlah nama benteng ini: uang. Film: Seni! Produk budaya! Bukan, ini adalah komoditi! Begitulah benteng ini menyebutkan. Proses penyaringan ini sama seperti menyaring emas di sungai. Semua yang berkilau, yang indah, yang sensasional, yang gemerlapan, yang cantik, yang tampan, yang mulus, yang segar, itulah yang terpilih. Orientasinya adalah keuntungan, rating, dan kemauan pasar. Kalau tidak? Untuk apa repot-repot buat film segala?

Dari sinilah makna film terdistorsi. Adalah sebuah kondisi yang sangat dilematis ketika seni harus bertemu dengan kepentingan komersial. Bagaimanapun juga ketika menjadikan film sebagai bagian dari hidup, hal-hal yang berkaitan dengan proses memenuhi kebutuhan hidup pastilah menjadi pertimbangan. Apalagi sifat film yang sangat fleksibel dan menjadi media budaya yang sangat populer seperti musik sehingga selalu ada celah untuk mampu mengkompromikan keberadaannya dengan kepentingan lain. Tapi di sisi lain, tetap saja film sebagai produk budaya dari peradaban manusia tidak bisa sepenuhnya didompleng fungsi dan keutamaannya oleh misi suci untuk mengumpulkan lembar-lembar uang sebanyak-banyaknya. Dan hasilnya adalah seperti sekarang. Wajah perfilman kita dipulas secara membabi-buta sementara kedalamannya begitu cetek. Para aktor-aktrisnya sebagian besar adalah mereka yang begitu diberkahi secara fisik (dan mungkin secara tidak adil) oleh Tuhan Yang Maha Esa tapi kualitas aktingnya sangat membumi alias merakyat alias berdiri sama tinggi duduk sama rendah alias tidak istimewa. Yang menonjol paling-paling adalah kemampuannya dalam menangis, meratap, tersedu-sedu sampai air mata membludak. Modal utamanya adalah ya itu tadi, paras yang mempesona, tubuh yang bagus nan aduhai, dan keberanian untuk memamerkan apapun atas nama profesionalisme. Tujuannya pasti agar penonton datang berbondong-bondong dan modal dapat kembali dengan cepat bahkan berlipat. Sutradara mah comot aja yang ada, syuting juga sebulan kelar, skenario asal jadi, promosi harus gede-gedean, kalau perlu pake helikopter, yang penting balik modal seminggu!

Tapi kembali lagi pada kenyataan bahwa film nasional adalah kita. Komersialisasi itu juga adalah diri kita. Kenapa ada komersialisasi itu juga karena kita adalah bangsa pengkonsumsi. Raksasa gendut pemalas yang membuka mulutnya lebar-lebar ke langit dan menelan semua yang masuk ke dalamnya. Kita telah diajarkan untuk selalu membeli dan membeli. Globalisasi yang menjangkiti seluruh belahan dunia disikapi sebagai era di mana kebutuhan untuk selalu membeli menjadi semakin hari semakin penting. Kita telah menyesuaikan diri dengan hidup di kota yang dijamuri mall, jalan-jalan dipenuhi billboard, semua barang-barang adalah merek, dan gaya hidup mengikuti apa yang diiklankan. Lihat bagaimana begitu cepatnya gadget-gadget baru terjual di Indonesia. Perusahaan elektronik luar negeri sudah sangat mempercayakan negara kita dalam meluncurkan produk terbarunya. Prestasi yang membanggakan. Sebarkanlah semua produk-produk luar negeri di sini, bangun banyak-banyak pertokoan, perindah setiap etalase dengan kaca-kaca mengkilat, pamerkan dengan lampu sorot, dengan konser musik, dengan besar-besaran, maka kami —tanpa disuruh-suruh— akan datang menyambut. Semakin banyak yang dimiliki semakin tinggilah harkat, derajat, dan martabat di dalam kelas sosial. Tidak perlulah repot-repot berpikir untuk menciptakan sesuatu, untuk membuat teknologi, untuk berkreasi dalam menyambut modernisasi, toh kita adalah bangsa besar yang terhormat, bangsa para raja dan ratu, yang duduk dengan anggun menunggu sekelilingnya menyerahkan upeti dan persembahan, kita juga kan bangsa kaya raya, tinggal gesek maka berhamburanlah uang kami. Jadi apa yang salah dengan komersialisasi film? Itu kan kita banget!

Kemonotonan sudah, komersialisasi sudah, apa lagi? Kalau boleh menambahkan satu lagi maka itu namanya adalah orisinalitas. Memang sudah lama kita begitu akrab dengan kata plagiat, plagiator, dan plagiarisme. Seperti yang disinggung sebelumnya, gudang ide telah kehabisan stok. Isinya telah terkuras semua hanya menyisakan debu-debu yang berterbangan. Kosong melompong. Tapi gudang di sebelah, gudang Hollywood, gudang Bollywood, gudang dorama, gudang film Mandarin, gudang film Eropa isinya begitu berlimpah. Dan karena kita bangsa terhormat (sekali lagi), maka akan sangat merendahkan bila kita meminta, memohon, dan mengemis ke gudang sebelah. Demi harga diri, kita ambil saja yang kita perlu dengan diam-diam, masalah ketahuan atau tidak itu urusan belakangan. Yang penting jangan sampai gudang kita kosong. Itu saja.

Film-film Indonesia biasanya selalu bisa ditebak entah dari scene, ide cerita, pengambilan gambar, karakter tokohnya, bahkan dialognya bahwa mereka terinspirasi dari film lain. Tidak menjadi kesalahan atau dosa bila dalam dunia seni selalu tercipta karya yang terinspirasi oleh karya seni yang lainnya. Itu menjadi hal yang lumrah. Tapi yang terkenang dan bahkan dianggap sebagai karya jenius adalah apabila dari inspirasi tersebut dapat menghasilkan bentuk karya yang baru, inovatif, karya dengan makna dan pesan yang baru, karya dengan kualitas lebih baik dan terkadang juga menjadi monumen bagi keberadaan generasi yang baru. Sedangkan film nasional memanfaatkan proses saling terinspirasi ini dengan cara menampilkan landasan idenya secara keseluruhan. Seperti mengganti nama di kertas hasil ujian dengan nama sendiri dan mengklaim dengan senyum terpajang bahwa itu adalah hasil karyanya. Terlalu banyak bukti yang bisa disebutkan mengenai ini. Lihat saja satu film Indonesia, lihat baik-baik, lalu cermati orisinalitasnya. Kalau anda tidak berhasil menemukannya, semoga saja itu bukan karena anda jarang menonton film luar negeri. Amiiin!

Tapi kalau kita kaitkan dengan DNA orang Indonesia, mungkin tidak ada salahnya hal tersebut dilakukan. Lagi-lagi apa salahnya? Bukankah itu sudah menjadi bagian dari budaya kita dan film sudah semestinya menjadi cerminan dari budaya sekitarnya. Budaya seperti apa? Budaya menjiplak, mencontek, meniru, mencontoh, menggandakan, membajak, dan menyalin. Karena filosofi kita adalah lebih cepat lebih baik. Tidak perlulah proses berpikir, berkreasi, atau berimajinasi berlama-lama karena pasti akan melelahkan dan membosankan. Cukup duduk dan tunggu. Biar orang lain yang bekerja keras, kita tinggal mengolah otak untuk memoles ulang. Selera pasar bisa dibentuk. Cita rasa penonton bisa diarahkan. Semua hal yang berbau barat adalah yang terbaik maka ikuti saja dengan tertib. Jangan heran kalau kita, di negara ini, tidak pernah muncul suatu hal yang fenomenal, gebrakan yang mencengangkan dunia, karya pionir yang memukau karena memang bukan itu yang kita pikirkan. Yang penting lebih cepat lebih baik, kita terbiasa dengan urusan korupsi-mengkorupsi, termasuk mengkorupsi kemampuan otak manusia dalam hal kreatifitas. Semua di dunia ini telah tersedia, tinggal kita nikmati saja selagi masih berumur panjang. Santai saja. Tidak usah pusing-pusing. Hidup ini hanya sekali, jadi enjoy aja!

Jadi, satu hal yang mungkin dapat disimpulkan bahwa film nasional telah menjadi cermin yang baik bagi kita semua. Kitalah yang terlihat di layar lebar gedung theater dengan sound system di kanan-kiri, kitalah yang ada di sana sampai tirai tertutup. Kitalah inspiriasi dari para sineas dalam negeri dalam membuat film. Kita berada di tengah lampu sorot yang berkilauan. Kita adalah penonton yang menonton dirinya sendiri. Oleh karenanya kita adalah apa yang kita tonton.

Sebelum mengakhiri tulisan ini ada beberapa pertanyaan lagi yang ingin diajukan. Pertanyaan mengacungkan tangan seperti tadi. Oke, acungkan tangan bagi siapapun yang percaya bahwa suatu saat film nasional akan menjadi lebih baik dan berkualitas? Acungkan tangan bagi siapapun yang benar-benar yakin bahwa akan ada suatu saat di mana film nasional benar-benar bangkit? Acungkan tangan bagi yang memiliki mimpi bahwa di kemudian hari Indonesia akan meraih kehormatannya lewat film? Ya, kita semua memang tidak boleh berhenti berharap dan tentu saja, berusaha untuk mewujudkannya.

Cut!

Rabu, 14 April 2010

Lights! Camera! Animation!

"Animation is not the art of drawings that move but the art of movements that are drawn."

(Norman McLaren)

Acara penghargaan Oscar Academy Awards adalah sebuah pertaruhan bagi gengsi atau pencapaian dalam dunia film. Tidak hanya mencakup masalah teknis atau skill dalam menyajikan tayangan berkualitas tapi juga ada nama besar yang dipersaingkan lewat aktor dan aktris yang berperan di dalamnya. Belum lagi sebagai arena pembuktian otoritas sang sutradara dalam kepiawaiannya menggunakan alat pengeras suara untuk memberikan arahan, teriakan, makian, ataupun pujian. Dan jangan lupa juga bagaimana studio film memiliki arena tersendiri dalam acara tersebut dan saling berkompetisi untuk membuktikan siapa yang paling mahir dalam melihat peluang bisnis. Ditambah dengan keikutsertaan dunia fashion yang berunjuk gigi lewat lenggak-lenggok dan senyum arogansi di atas panggung karpet merah, maka lengkaplah keseluruhan perayaan ini. Dan setelah mendengar hujan berita di TV atau membaca di koran yang berkali-kali menyiarkan tentang siapa yang terbaik dari kategori hal-hal di atas, mungkin ada baiknya untuk sekedar melepas jenuh, kita menengok pada kolom kecil yang berjudul “Best Animated Short Film”. Memang tidak terlalu bergengsi dibandingkan kategori lain, tapi tidak ada salahnya juga kita mengetahui bentuk lain dari sebuah karya seni perfilman. Dan karena beberapa videonya bisa didapat di Youtube, mungkin ada baiknya kita menyimak sebentar sebelum kembali dipusingkan mengurusi komentar foto di Facebook atau menulis status di Twitter :)




Directed and Written by: Javier Reco Garcia
Created by: Kandoor Moon
Plot: Perebutan seorang janda sekarat yang dilakukan oleh Sang Pencabut Nyawa (The Reaper) dan seorang dokter untuk membawanya ke dunia masing-masing.



Directed by: Borge Ring
Plot: Cerita persahabatan dua orang kakak-beradik dari mulai kecil hingga besar yang terangkum dalam sebuah album foto.



Directed by: Konstantin Bronzit
Created by: Melnitsa Animation Studio
Plot: Seorang wanita paruh baya penjaga toilet yang suatu hari dikejutkan oleh adanya serangkai bunga mawar merah di loket tempatnya bertugas.



Directed and Written by: Adam Elliot
Plot: Perjalanan hidup Harvie Krumpet, seorang unik yang kepalanya tersambar petir, memiliki magnet di dalam tubuhnya, gemar bertelanjang, dan mendengar patung yang berbisik “Carpe Diem!”



Directed by; Josh Raskin
Created by: Electric Company
Plot: Potongan wawancara yang dilakukan oleh Jerry Levitan, seorang bocah 14 tahun, yang menyelinap masuk ke dalam hotel tempat John Lennon menginap.



Directed by: Gary Rydstrom
Created by: Pixar Animation Studio
Plot: Sepasang alien di dalam ruang kontrol UFO yang sedang melakukan proses penculikan terhadap seorang petani yang sedang tidur di rumahnya.



Directed by: H5/Francois Alaux, Herve de Crecy, Ludovic Houplain
Plot: Sehari dalam kehidupan sebuah kota yang dihuni dan dipenuhi oleh maskot, lambang, logo, dan simbol dari perusahaan-perusahaan yang ada di dunia nyata. Sebuah satir unik mengenai dunia kapitalis.



Directed by: Alan Smith, Adam Foulkes
Created by: Nexus Productions
Plot: Petualangan dua orang pengurus pemakaman dalam mengantarkan peti mati menuju ke tempat penguburan.
Are we there yet? 



Directed by: Torill Kove
Created by: National Film Board of Canada, Mikrofilm AS
Plot: Kisah berliku mengenai takdir atau bagaimana sesuatu terjadi seperti sekarang yang diambil dari drama cinta seorang seniman dari Denmark.



Directed by: Chris Landreth
Created by: Seneca College (Animation Arts Center)
Plot: Potret surealis biografis mengenai Ryan Larkin, seorang animator dari Kanada yang terlibat dalam penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. 

Kamis, 25 Maret 2010

I Like the Peace in the Backseat


"Distraction is an  Obstruction
of the Construction"

(The Science of Sleeps)

Jika sesuatu telah terjadi dan tidak ada yang berubah, maka itu sama sekali tidak ada artinya. Benar? Atau mungkin saya menarik kesimpulan itu terlalu cepat? Salahkah bila saya mengatakan apa yang memang saya rasakan akhir-akhir ini? Perasaan yang, entah mengapa, nampak diam saja, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru seperti yang orang-orang lain (biasanya) katakan. Apa itu juga berarti perasaan saya sudah mati? Rasanya terlalu jauh. Mungkin ini berhubungan dengan hal-hal tentang “menempatkan sudut pandang” atau “merubah pola pikir” atau “mengikuti apa kata hati” yang bisa membuatnya segalanya terasa seperti yang terasa sekarang. Saya mencoba melihat ke belakang, sekali lagi, semuanya. Mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit sesuatu yang mungkin dapat membangkitkan perasaan. Namun percuma. Tetap saja semuanya terasa seperti yang terasa. Terasa seperti jika sesuatu telah terjadi dan tidak ada yang berubah, maka itu sama sekali tidak ada artinya.

Kemana saya selama ini? Mondar-mandir dalam ruangan luas persepsi. Orang-orang mengatakan ini-itu, berpendapat, namun isinya adalah hukum yang memaksa, menetapkan, menuntut kesamaan atas segalanya. Menularkan ketakutan, kegelisahan, dan kebingungan yang tak henti-henti. Mengajak untuk bermimpi, mimpi yang di dalamnya terdapat banyak batasan dan rintangan. Tidak ada keluasan, hanya kesempitan, karena mereka takut mimpi ini akan berkhianat. Mimpi yang berwujud unggas, berlenggak-lenggok di atas daratan, memungut makanan, hidup namun tidak mampu untuk terbang. Hanya meloncat. Meloncat. Tidak lebih tinggi dari meloncat. Dan mereka bilang inilah mimpi? Inilah cita-cita? Inilah masa depan? Menurutku mereka butuh menyendiri.

Kapan terakhir kali orang-orang sendiri? Ya, tanpa siapapun, tak ada hingar-bingar, keributan, canda tawa, eksotisme, keriaan. Sendiri, telanjang. Kapan terakhir kali mereka telanjang di depan dirinya sendiri. Melihat semuanya terbuka lebar. Dengan segala bentuk yang mungkin tak pernah mereka sadari sebelumnya karena terlalu lama ditutupi oleh lapisan demi lapisan yang anti koyak di dalam ruang ilusi. Ruang ilusi yang kita diami setiap hari. Kapan? Karena dalam kesendirian kita sedang melakukan percakapan, pertemuan dengan puncak kesadaran kita yang paling tinggi. Tanpa intervensi, gangguan, dan dusta. Hanya kita yang sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih mengetahui apa yang tidak ketahui, melihat lebih jelas dari apa yang kita lihat, mendengar lebih tajam dari apa yang bisa kita dengar, bicar a lebih jujur dari apa yang bisa kita usahakan. Menyendiri dan kita akan mengetahui siapa diri kita, bahan apa yang digunakan untuk membuat kita, arti dari kehadiran kita, serta nilai yang kita raih di depan mata kehidupan. Kapan? Mungkin tidak, karena lihatlah kesendirian yang seperti itu. Menakutkan. Terlalu menakutkan. Terabaikan oleh dunia. Ditinggalkan. Tidak dipedulikan. Terbuang. Tersisihkan. Lalu bagaimana caranya mereka tahu bahwa ada yang salah selama ini dengan mereka? Introspeksi memang menyakitkan, tapi bagaimana mereka bisa memulainya? Kapan?

Orang-orang banyak bertanya, bicara. Peradaban in dibangun dari bertanya dan bicara. Sepanjang hidup kita semua melalui setiap tahap untuk bertanya dan menjawab. Dan ada saatnya pertanyaan-pertanyaan datang untuk mencoba mengorek, mengetahui, secara garis besar siapakah dia yang sedang ditanya. Tidak semudah bertanya ‘Siapa?’ atau ‘Di mana? dan ‘Bagaimana?’ namun pertanyaan-pertanyaan yang mempermainkan logika dan bahkan cenderung memaksa untuk menjawab sesuai dengan yang ditentukan. Karena pada dasarnya pertanyaan tersebut telah memiliki jawaban yang pasti. Kenapa begitu banyak pertanyaan untuk mengetahui siapa diri yang ditanya? Mengapa mengajukan banyak pertanyaan untuk bisa memunculkan suatu penilaian atau persepsi mengenai siapa dan bagaimana. Bila saya harus mengajukan pertanyaan dan mengikuti permainan ini untuk menyatakan siapakah dia sebenarnya yang sedang ditanya, maka yang saya pikirkan adalah pertanyaan: “Apakah artinya kebahagiaan?” Dan itu cukup untuk bisa menilai, mengetahui, mengidentifikasi diri. Cukup untuk mengetahui apa yang telah dipunya oleh seseorang dan apa yang ingin diraih. Cukup untuk mengetahui apakah hidup ini dan bagaimana melaluinya. Cukup untuk mengetahui segalanya karena segalanya, disadari atau tidak, selalu berhubungan dan berujung pada satu keadaan tersebut, kebahagiaan. Dan setelah itu mereka bisa berhenti membuat bising dari suara-suara mereka. Biarkan semuanya tenang dan saya dapat tidur dengan lelap.

Pergi ke suatu tempat di dunia ini yang paling tinggi, puncak dari segalanya, menara yang mampu melihat ke segala arah. Memang terlalu jauh untuk sampai ke sana. Tapi ketika berada di atasnya, entah kenapa, semuanya terlihat menjijikan. Kotor. Tak berbentuk. Pulau-pulau itu tampak tidak terawat, seperti seseorang yang sedang sakit, sakit dan sakit, menanti obat untuk membuatnya pulih, namun tak ada yang tahu persis apa obat yang diperlukan. Bahkan mungkin penyakit tersebut tidak lagi dapat dimengerti karena tempat itu pada dasarnya mengakui bahwa ia baik-baik saja, tidak sakit sedikitpun. Tapi dari atas sini, demi Tuhan, tempat itu seperti sekarat. Hampir semua bagiannya retak, fondasinya goyah, atapnya akan segera runtuh, cat-catnya mengelupas, pintu-pintunya berderit, kursi-kursi dan meja reyot mengeluarkan suara mengerang seolah sedang bercakap membicarakan kehancuran. Bagaimana mungkin orang bisa tinggal di tempat ini? Apa yang membuat mereka betah? Apakah ada di antara mereka yang tahu tempat seperti apa sebenarnya yang mereka tempati itu? Mungkin tidak ada, karena mereka harus berada di tempat tinggi seperti ini bila ingin melihat semuanya. Saya hanya bisa mengatakan kepada mereka bahwa tempat ini rusak, sekarat. Tapi untuk itu, berarti mereka harus belajar dulu untuk mendengarkan.

Ya, saya memiliki perang yang tidak akan pernah berakhir. Perang besar di mana sebuah kemenangan akan memberikan arti yang sangat besar. Perang yang menuntut untuk selalu berlangsung. Perang yang tidak akan pernah lelah dan berpikir untuk berhenti. Apa itu gencatan senjata? Karena perang ini tidak mengenal belas kasihan atau istirahat. Kemenangan atas diri sendiri adalah kemenangan besar yang mungkin tidak dapat dikalahkan oleh kesenangan lain. Saya merasa beruntung karena menyadari perang ini tengah berlangsung. Saya beruntung mendapatkan lawan yang sulit ditaklukkan sehingga setiap detik dari jalannya perang tersebut memberikan banyak harapan tentang kemenangan yang semakin lama semakin membesar. Tujuannya bukanlah penaklukan, namun kemampuan untuk dapat melestarikan perang ini sampai akhir hayat. Di luar sana, perang-perang terjadi dalam ruang yang lebih luas. Perang antara satu individu dengan yang lainnya. Atas nama prestasi, pencapaian, itulah yang terjadi, peperangan untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Menjadi yang terbaik, menurut saya adalah hal paling egois yang menjadi kodrat manusia. Melakukan yang terbaik, menurut saya adalah kemenangan yang sesungguhnya. Lalu kapan mereka akan berani untuk berperang melawan dirinya sendiri? Berani melupakan keinginan untuk menjadi yang terbaik dan menggantinya dengan kemampuan untuk mengaku kalah? Apakah mereka terlalu takut untuk mengalahkan diri sendiri? Lawan! Sampai akhir hayat, lawan! Lawan untuk melihat sampai di mana jalan ini telah ditempuh dan berapa jauh lagi ke depan. Betapa nikmatnya, kemampuan untuk membenci dan melawan diri sendiri.

Sekarang satu hari lagi telah terlewati. Dunia ini memang tidak pernah berhenti berputar. Jangan salahkan bila waktu banyak yang membenci. Urusan siang dan malam ini. Katakanlah hari mulai gelap, semua orang tertidur, dunia ini sepi dari suara-suara, senyap, damai, lalu hujan mulai turun pelan-pelan, mungkinkah ini saat ketika waktu memerintahkan tubuh dan jiwa untuk masuk ke dalam lubang kontemplasi? Bisa jadi itulah pesan yang hendak disampaikan, karena ketika hujan turun seperti sekarang, setiap melodi gemerincingnya membangkitkan jiwa yang kelelahan untuk menatap cermin lalu berdiri telanjang. Sekali lagi.

Senin, 22 Maret 2010

2000-2009: Outside Hollywood, Speak No English Please!

"Film is one of three universal languages,
the other two, mathematics and music."

(Frank Capra)

Oke, era globalisasi memang dianggap menakutkan, memberikan dampak negatif, kapitalis, dan cenderung merusak nilai-nilai luhur tradisional suatu generasi —terutama para remaja— yang kehancurannya digambarkan sedemikian rupa secara realita, pragmatis, subjektif, atau bahkan prediktif. Tetapi berbahagialah bagi kaum anti-paranoid di luar sana yang justru menemukan globalisasi sebagai kapal layar yang besar dalam menemukan dan menjelajahi dunia baru. Dan semenjak “kapal layar” itu berkeliaran di negeri ini (baik dengan diberi sambutan “Selamat Datang” ataupun dengan cara menyelinap lewat pintu belakang) banyak hal telah saya temui yang pada intinya adalah berupa kesimpulan bahwa di luar sana tidak hanya ada “Amerika Serikat” dan Hollywood hanyalah satu dari sekian banyak yang lainnya.

Terutama pada dekade 2000-an, era globalisasi yang mengambil tema kemajuan teknologi, telah mendorong dunia film untuk mempercepat laju evolusinya. Hollywood memang masih bisa membusungkan dadanya bila ditanya mengenai kecepatan mesin lokomotif special effect setingkat “Avatar, kacamata 3D, jumlah budget yang lebih besar dari biaya pembuatan kapal Titanic, Brangelina, pabrik animasi CGI (Disney’s Pixar, Dreamworks, Blue Sky Studios), jumlah pendapatan, dan angka penjualan Blu-Ray Disc. Tapi bila ditanya mengenai kualitas cerita, kekuatan pesan moral dan sosial, serta peran film sebagai media dalam memotret lika-liku kehidupan manusia sebagai buah dari pergolakan emosi, jiwa, serta akal (atau bisa dibilang juga, potret manusia seadanya, tanpa harus mewakili superioritas atau popularitas-nya), maka jangan heran bila jawaban justru dilontarkan dalam bahasa-bahasa yang asing di telinga. Karena mungkin Hollywood tidak terlalu mengerti tentang urusan “potret-memotret” ini dan juga karena mungkin film lebih bisa dimaknai secara dalam dan adil (sebagai seni, bukan komoditi) di belahan dunia lain. Dan untuk sekarang dan seterusnya, marilah kita sama-sama mendengar dan menonton mereka bicara dengan caranya masing-masing:


4 luni, 3 saptamâni si 2 zile


Sutradara: Cristian Mungiu
Asal/Bahasa: Rumania/Rumania
Bercerita Tentang:
Seorang perempuan yang membantu temannya untuk melakukan operasi aborsi ilegal.
Ulasan:
Film ini adalah sebuah pemandangan yang intens mengenai proses aborsi yang dijalankan oleh seorang mahasiswi dan dokter “bawah tanah” di sebuah hotel. Kegelisahan, ketegangan, kebimbangan, ketakutan, sampai pada akhirnya rasa kesakitan yang membumbui proses tersebut. Setiap tahap yang ditempuh dalam melakukan aborsi ini memperlihatkan secara samar bahwa resiko kematian dapat datang kapan saja. Lalu pertanyaan-pertanyaan klise itu kembali dimunculkan, apakah ini bagian dari tindakan medis atau mungkin pembunuhan? Atau bisa dilebarkan lagi ke dalam ranah diskusi gender apakah ini kesalahan pria atau wanita? Dan siapakah yang menjadi korban diantara keduanya? Memang tidak ada jawaban yang jelas mengenai hal tersebut tapi setidaknya film in imembantu memungut sedikit demi sedikit pemahaman mengenai harga diri, tanggung jawab, serta betapa mahalnya nikmat yang bernama kehidupan ini.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Kekuatan dalam film ini adalah setiap adegan direkam dengan ikut menyertakan atmosfer emosi yang menyertainya dengan begitu kentara, dengan hanya satu posisi pengambilan gambar, sedikit adegan close-up, dan blocking yang tidak banyak berubah dari para pemainnya yang mungkin akan dengan cepat disimpulkan oleh Hollywood sebagai: membosankan. Semuanya tergantung pada bagaimana cara melakukannya.


Amores Perros

 

Sutradara: Alejandro Gonzalez Inarritu
Asal/Bahasa: Meksiko/Spanyol
Bercerita Tentang:
Seorang pemuda, seorang aktris, dan seorang gelandangan yang jalan hidupnya terhubung oleh sebuah kecelakaan mobil dan anjing.
Ulasan:
Terbagi dalam tiga bagian cerita. Yang pertama adalah seorang pemuda yang jatuh cinta pada kakak iparnya yang kemudian secara tidak sengaja menghasilkan uang dengan mengikuti arena adu anjing. Yang kedua adalah seorang aktris yang kakinya patah karena tertabrak mobil yang dikendarai pemuda yang sedang dikejar-kejar oleh petaruh adu anjing yang kalah dan  dirinya juga harus kehilangan anjing kesayangannya karena masuk ke dalam lubang di lantai apartemennya. Yang ketiga adalah seorang gelandangan merangkap pembunuh bayaran yang memungut seekor anjing aduan dari kecelakaan di jalan raya dan berada dalam persimpangan jalan untuk melakukan penebusan dosa demi anak perempuan yang tidak pernah ia temui. Ketiganya memberikan pemahaman bahwa hidup ini bukanlah hal yang pasti, penuh dengan kemungkinan dan hal-hal kecil yang justru berujung pada hal besar yang manusia untuk mampu merelakan segala sesuatu agar dapat melewatinya dengan baik.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Tema yang diangkat serta cerita dan karakteristik tokoh yang ditampilkan sama sekali tidak mewakili gen Hollywood ditambah lagi memasukkan tiga cerita berbeda yang memiliki satu benang merah dalam satu film adalah hal yang rumit untuk dilakukan Hollywood kecuali jika memasang tiga pasangan suami-istri selebritis terkenal yang saling terhubung oleh anak-anak adopsi.

Cidade de Deus

 

Sutradara: Fernando Meirelles dan Katia Lund
Asal/Bahasa: Brasil/Portugis
Bercerita Tentang:
Lika-liku kehidupan gangster di pemukiman kumuh di Brasil.
Ulasan:
Kemiskinan, apabila disikapi dengan terlalu berlebihan terutama bila itu juga telah menempati bagian terbesar dari jiwa manusia, maka hasilnya adalah keinginan untuk memiliki segala sesuatu dengan segala cara yang dapat ditempuh. Mencuri, merampok, menyebarkan teror, menjual narkoba, sampai membunuh. Apa yang diawali sebagai bisnis kotor yang menguntungkan harus diakhiri dengan timbulnya persaingan dan perebutan kekuasaan antar geng yang tentu saja selalu diselesaikan lewat ajang adu kekuatan yang berujung darah dan kematian sia-sia. Kehidupan gangster yang kelam dan cenderung barbar karena selalu berorientasi pada kekuasaan dan menumbuhkan rasa hormat lewat ketakutan, menutrisi kepala orang-orang dengan pikiran jahat dan licik sehingga menciptakan batas yang kabur antara kawan dan lawan. Sehingga cerita ini bukanlah sebuah proses kehidupan yang merangkak dari bawah ke atas melainkan proses di mana semua yang telah dilakukan, didapat, dan digunakan menghilang tanpa jejak seperti asap mesiu. Dan ketika semuanya hilang, tidak ada lagi yang tersisa selain dari menunggu kematian untuk datang.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Oke, Hollywood memiliki film-film tentang gangster atau mafia yang layak diacungi banyak jempol. Tapi bagaimana apabila Hollywood diminta untuk menggambarkan kemiskinan dan kekumuhan yang begitu nyata? Di titik itulah perbedaannya.


Das Leben der Anderen

 

Sutradara: Florian Henckel von Donnersmarck
Asal/Bahasa: Jerman/Jerman
Bercerita Tentang:
Seorang mata-mata utusan pemerintah Jerman Timur mengintai pasangan seniman yang dicurigai anti-sosialis.
Ulasan:
Awalnya adalah sebuah misi rahasia pemerintah yang berjalan rapi dengan tokoh utama seorang intelijen yang mewakili karakteristik Jerman yang dingin, kaku, dan terorganisir ditambah dengan segala peralatan mata-mata yang memungkinkan untuk mendengar bahkan suara desahan napas. Lalu berikutnya yang tumbuh adalah pertarungan antara profesionalisme dan hati nurani. Pertahanan terhadap ideologi yang mulai luntur, kesendirian yang membosankan, serta perasaan cinta yang masih samar-samar yang membukakan jalan pada pemahaman mengenai hak asasi manusia untuk bisa merasakan kebebasan. Kesetiaan terhadap negara tergadaikan oleh telinga yang peka mendengarkan bentuk lain dari kehidupan ini di mana topeng kemunafikan menjadi begitu berkuasa. Sebuah kondisi di mana terdapat perbedaan yang nyata antara mendengar dan melihat. Dan pada akhirnya, sama seperti tembok Berlin yang runtuh, pengorbanan itu berakhir dengan manis.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Film mata-mata bagi Hollywood adalah film mengenai gadget-gadget canggih, aksi berbahaya yang dipenuhi ledakan, penjahat kelas kakap yang ternyata adalah sahabat sendiri, serta jatuh cinta pada partner yang kebetulan berlawanan jenis. Entahlah tapi sepertinya mereka kehilangan arah.


Der Untergang


Sutradara: Oliver Hirschbiegel

Asal/Bahasa: Jerman/Jerman
Bercerita Tentang:
Masa-masa terakhir kehidupan Adolf Hitler, Nazi, dan perang dunia kedua di dalam sebuah bunker.
Ulasan:
Memang jarang diutarakan di dalam buku sejarah tapi kegelisahan, kemarahan, kekhawatiran, bahkan ketakutan yang dirasakan oleh Adolf Hitler menjelang berakhirnya perang dunia kedua dan penaklukan Rusia adalah sebuah dokumentasi umum bahwa bagi siapapun kekalahan adalah hal yang menyakitkan atau dalam hal ini, menyedihkan. Film ini memperlihatkan sebuah mimpi yang belum selesai untuk diwujudkan dan bagaimana perasaan yang harus ditanggung ketika menjadi saksi bahwa kenyataan tidak pernah sesuai dengan harapan. Hitler runtuh bersama dengan kharisma dari seragam kebesarannya seiring dengan keretakan yang ia temukan setiap harinya di dalam organisasi yang ia besarkan. Bagaiamanapun juga kesetiaan yang tinggi adalah hal yang patut mendapatkan pujian dan respek tanpa harus sibuk-sibuk membedakan siapa yang baik dan jahat. Film ini telah berhasil untuk sekitar 90 menit memperlihatkan Hitler sebagai sosok gamang yang terlalu rapuh untuk dikaitkan dengan semua catatan hitam tentangnya.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Ingat nasihat orang bijak tentang membuat film tentang sejarah suatu negara atau isu nasional oleh negara lain? Jangan pernah.

Efter brylluppet


Sutradara: Susanne Bier 
Asal/Bahasa: Denmark/Denmark
Bercerita Tentang:
Seorang pekerja sosial yang kembali ke negara asalnya untuk bertemu dengan masa lalunya.
Ulasan:
Drama menjadi unsur yang kuat dalam film ini. Kompleksitas, dilema, pergolakan batin, serta konflik yang muncul yang berkaitan dengan rahasia keluarga membuatnya menjadi begitu dingin sekaligus kelam. Seorang aktivis sosial di India harus pulang ke negara aslinya, Denmark, untuk menghadiri acara pernikahan anak seorang konglomerat yang baru dikenalnya. Sebagai intro menuju spiral drama film ini, diceritakan bahwa sang pengantin wanita ternyata adalah anak kandungnya sendiri yang tak sempat ia lihat ketika dilahirkan. Benang kusut yang mengelilingi film ini adalah mengenai keluarga serta kepercayaan dan tanggung jawab yang membangun fondasinya yang ternyata dapat dengan mudah diruntuhkan oleh kebohongan-kebohongan. Intinya adalah mengenai penebusan terhadap masa lalu yang ditinggalkan begitu saja sedangkan rasa tanggung jawab yang tidak disadari selalu menunggu tuannya untuk datang menyambut.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Keunggulan film ini adalah kompleksitas drama yang ditampilkan yang nampaknya kurang bisa diolah oleh Hollywood terutama bila mengangkat tema keluarga. Yang harus dicatat adalah intensitas konflik yang ditunjukkan tanpa melibatkan unsur "black comedy" serta penampilan para aktornya yang bisa dengan tepat menampilkan emosi yang dalam.

El laberinto del fauno

  

Sutradara: Guillermo del Toro
Asal/Bahasa: Spanyol/Spanyol
Bercerita Tentang:
Seorang gadis kecil dan dunia fantasi pada era kediktatoran Jenderal Franco di Spanyol.
Ulasan:
Leprechaun, peri, monster, dan keabadian tak pernah bisa berhenti mengganggu gadis cilik pengkhayal yang kesepian. Diiringi dengan latar belakang masa kediktatoran militer Spanyol dan para pasukan pemberontak yang bersembunyi di tengah hutan belantara, seorang gadis masuk ke dalam labirin menuju dunia fantasi yang membawanya pada proses pencarian jati diri. Dan lewat jalur fantasi inilah sang gadis mengerti kondisi yang tengah terjadi di dunia nyata mengenai kekuasaan, ketidakadilan, kekejaman serta di sisi lain terdapat pula keinginan kuat akan kebebasan, kemerdekaan, serta kesetaraan. Perjuangan para gerilyawan untuk mereformasi Spanyol dihadapkan pada berbagai rintangan sementara sang gadis berpacu dengan waktu untuk memenuhi misi demi menyempurnakan takdirnya sebagai seorang manusia yang abadi. Kedua hal ini bertemu di persimpangan jalan di mana akhir dari segalanya adalah sebuah ironi yang menyedihkan.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Ingat Harry Potter? Terlalu kekanak-kanakkan. Ya semua hal yang berhubungan dengan dunia fantasi oleh Hollywood selalu dibuat terlalu kekanak-kanakkan.


Entre les murs

 

Sutradara: Laurent Cantet
Asal/Bahasa: Prancis/Prancis
Bercerita Tentang:
Sekolah remaja khusus para imigran kelas menengah ke bawah di Prancis
Ulasan:
Dalam film, sekolah selalu dijadikan setting dalam mengangkat dua tema sentral yang cukup populer yaitu perjuangan murid dalam melepaskan diri dari keterkekangan dan ketegaran sosok guru dalam menjalankan pekerjaannya. Benang merah dari kedua tema itu adalah tokoh utama selalu mengambil peran sebagai objek penderita. Film ini menunjukkan bahwa sekolah sebenarnya bukanlah arena perseteruan antara guru-murid dalam menegaskan eksistensinya masing-masing melainkan sebuah tempat di mana hubungan keduanya merupakan bagian dari proses belajar-mengajar yang disebut sebagai “usaha untuk saling memahami”. Langkah tepat yang dilakukan oleh film ini adalah dengan menyajikannya dalam konsep semi-dokumenter yang membuat suasana kelas menjadi begitu nyata dan memperlihatkan batas yang kabur mengenai siapa yang sebenarnya sedang mengajar dan begitu pula sebaliknya. Satu hal penting yang coba diingatkan oleh film ini adalah bahwa bukan prestasi atau nilai akademis yang dapat dijadikan patokan dalam memberikan identitas kepada murid-murid, melainkan keberagaman latar belakang sosialnya yang memerlukan sikap toleransi tinggi untuk bisa dipahami. Seperti kata Helen Keller: “The highest result of education is tolerance.”
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Sampai saat ini, Hollywood hanya menggunakan semi-dokumenter dalam film horror atau thriller sci-fi semata-mata untuk memberikan efek jeritan ketakutan wanita yang nyata. Selain itu, Hollywood lebih suka mengangkat tema sekolah dengan cerita “from zero to hero” mengenai seorang geek korban bullying yang kebingungan mencari pasangan untuk prom night. Hmm mungkin Robin Williams dapat menyelamatkan lagi sekolah di Hollywood dari kumpulan remaja macho anggota tim football dan geng cewek populer yang dipimpin oleh anak kepala sekolah.

Good Bye Lenin!


Sutradara: Wolfgang Becker
Asal/Bahasa: Jerman/Jerman
Bercerita Tentang:
Usaha seorang anak untuk menunjukkan kepada ibunya yang baru sembuh dari koma bahwa Jerman Timur masih ada.
Ulasan:
Westernisasi memang sulit untuk dibendung, tapi untuk seorang ibu yang baru sembuh dari koma yang jantungnya bisa langsung berhenti bila ia mengetahui tembok Berlin telah roboh dan sekarang hanya ada satu Jerman di dunia, apapun bisa dilakukan. Dari mulai menukar merek acar dari Belanda dengan merek Jerman Timur yang didapat dari memulung di tempat sampah, menyewa anak-anak kecil untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang sudah punah di hari ulang tahunnya, menyiarkan berita-berita lama di TV, dan meyakinkan bahwa Coca-Cola sebenarnya adalah produk asli sosialisme. Pengorbanan ini memang tampak konyol tapi di sisi lain apa yang dilakukan oleh seorang anak terhadap ibu yang hanya bisa duduk dan berbaring di atas kasurnya dengan menjungkirbalikkan realitas adalah sesuatu yang manis. Sebuah penghormatan terhadap idealisme yang walaupun telah usang namun tetap dijunjung tinggi sebagai bagian dari napas dan detak jantungnya untuk menopang hidup. Walaupun akhirnya dunia luar memang tidak pernah diketahui, tapi bukankah itu menyenangkan untuk tetap berada dalam mimpi dan cita-cita lama, sehancur apapun itu sebenarnya.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Apabila Hollywood menggarap film seperti, pilihannya mungkin ada dua, hasilnya menjadi terlalu melodramatis atau terlalu mengada-ngada. Tambahan lagi, yang menjadi pokok cerita mungkin bukanlah hubungan anak-ibu, tapi hubungan percintaan sang anak yang memburuk akibat kegemarannya mengumpulkan kaleng acar merek lama.

Le fabuleux destin d'Amélie Poulain

 

Sutradara: Jean-Pierre Jeunet
Asal/Bahasa: Prancis/Prancis
Bercerita Tentang:
Seorang gadis bernama Amelie
Ulasan:
Keluguan yang dipadukan dengan kemampuan tinggi dalam berimajinasi menghasilkan sosok unik, bersahaja, yang bahkan memiliki nilai kemuliaan lebih dibandingkan dengan manusia lainnya. Amelie tampil sebagai seorang malaikat penolong anonim yang mampu melihat dan mendeteksi orang-orang dalam kehidupan modern yang seringkali menutup diri dari meminta pertolongan. Apa yang dilakukannya adalah alternatif dalam membantu sesama tanpa harus menonjolkan sifat kedermawanan dengan terang-terangan namun membiarkan orang-orang yang ditolongnya mempercayai bahwa keajaiban telah terjadi pada mereka. Menolong tanpa pamrih adalah tema yang utama yang diusung dalam film ini yang memperlihtkan bahwa kesempatan untuk melakukan hal tersebut selalu terbuka lebar kapanpun di sekitar kita. Memang membutuhkan sebuah proses, tetapi memandang serta memaknai kehidupan dan hubungan antar manusia di dalamnya dengan cara yang dilakukan Amelie bisa jadi akan membuat dunia ini sedikit lebih tenang dan menyenangkan.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Sejak Forrest Gump, Hollywood tidak pernah lagi berhasil memotret keluguan serta kepolosan dari manusia dalam menjalani hidup dan mengolahnya menjadi cerita inspiratif. Salah Hollywood atau memang kehidupan jaman sekarang tidak lagi bisa memproduksi manusia semacam itu?

Le scaphandre et le papillon

 

Sutradara: Julian Schnabel
Asal/Bahasa: Prancis/Prancis
Bercerita Tentang:
Seorang editor majalah fashion yang terserang stroke dan seluruh fungsi tubuhnya lumpuh kecuali mata kirinya.
Ulasan:
Tidak ada yang lebih mengerikan dibandingkan kelumpuhan. Bayangkan, anda melihat, mendengar, dan merasakan segalanya terjadi di depan mata tapi anda hanya bisa menonton dan diam dan sedikit berkedip. Karir yang cemerlang, kekayaan, anak-anak yang manis, serta perempuan-perempuan cantik adalah suatu bentuk kekayaan hidup yang memerlukan penyakit semacam stroke untuk membuktikan apa atau siapa yang betul-betul dibutuhkan. Penyakit yang tiba-tiba melumpuhkan syarafnya di hari yang cerah saat sedang berkendara dengan anak laki-lakinya yang serta merta membawanya ke tahap baru dalam kehidupan, yaitu keterikatan penuh terhadap lingkungan sekitar. Terbaring di rumah sakit, tak bisa bicara, tak bisa bergerak, tak mampu merasakan sentuhan Dan dari situlah inspirasi muncul, bahwa menjaga perasaan serta hasrat di dalam diri adalah modal utama dalam bertahan hidup di tengah segala keterbatasan. Dengan “harta” seperti itu yang terus tumbuh di dalam dada, maka tidak berlebihan sekiranya menganggap untuk bisa berkedip saja merupakan sebuah hal yang patut disyukuri.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Apakah Hollywood pernah mengangkat film yang mengambil sudut pandang orang pertama? Maksudnya benar-benar menjadi tokoh utama dengan menjadi matanya di sepanjang film? Mata seorang penderita stroke yang hanya berfungsi sebelah dan berkedip sekali untuk bilang “ya” dan dua kali untuk “tidak”? Mungkin terlalu rumit untuk bisa dipahami.

Nicija zemlja


Sutradara: Danis Tanovic
Asal/Bahasa: Bosnia & Herzegovina/Bosnia, Prancis
Bercerita Tentang:
Dua orang tentara dari dua kubu yang berseteru yang terjebak di dalam sebuah parit.
Ulasan:
Dua orang tentara, satu dari Serbia dan yang lainnya dari Bosnia terjebak di dalam sebuah parit yang terletak tepat di garis perbatasan antara dua negara tersebut. Secara de facto parit tersebut tidak dimiliki oleh negara manapun sehingga ketika keduanya terjebak di sana tidak ada satu kubu pun yang merasa terganggu karena mereka berada di daerah netral. Kedua orang tersebut membenci perang, ingin perang segera berakhir, tapi apakah seperti itu keadaannya? Nyatanya rasa benci masih tetap tumbuh terutama menyangkut harga diri dan nasionalisme diantara mereka yang menjauhkannya dari kondisi perdamaian yang justru mereka harapkan. Film ini menggambarkan sebuah potret mini dari ironi perang, antara dua orang yang berseteru namun tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka berperang dan apakah nasionalisme itu ada? Atau yang ada hanya bentuk lainnya yang cacat dan buta yang menjadi landasan bagi peperangan untuk dilangsungkan? Atau bisa jadi itu semua hanyalah rasa benci yang dipupuk secara nasional yang akhirnya melemahkan fungsi otak yang dapat digunakan untuk berpikir dengan jernih dan mencari jalan keluar yang damai?
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Tentu saja Hollywood lebih suka mendramatisir keadaan dengan propaganda perdamaian yang kelewat irasional seperti menjadikan dua orang tersebut sahabat yang akhirnya memutuskan untuk berdamai dan menginspirasi kedua negara untuk melakukan hal yang sama. Sama sekali tidak seru. Dan adegan seorang tentara yang terbaring di atas ranjau aktif mungkin akan diselesaikan dengan menciptakan karakter tentara pecundang yang ternyata berhasil menjinakkan ranjau tersebut dengan proses yang tentu saja dramatis.

Persepolis

 

Sutradara: Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi
Asal/Bahasa: Prancis/Prancis
Bercerita Tentang:
Seorang perempuan yang tumbuh di tengah kecamuk revolusi Iran di tahun 80-an.
Ulasan:
Revolusi di bawah kendali para ektremis adalah alasan yang cukup untuk merasakan bahwa hidup sungguh menyiksa. Belum lagi sebagai seorang remaja perempuan di mana memakai sneakers adalah melanggar hukum, menjadi martir adalah tema lagu wajib yang dinyanyikan di sekolah, dan eksekusi adalah kata yang akrab di telinga. Iran di tengah revolusi adalah pergesekan yang keras antara ideologi, nasionalisme, serta agama yang bermuara pada kekacauan politik dan sosial. Sebuah kondisi yang mengharuskan bermain kucing-kucingan serta menahan diri sebagai bagian dari gaya hidup baru. Pokok cerita adalah mengenai pencarian identitas di tengah negara yang juga sibuk mencari identitasnya sendiri serta jurang yang menganga antara Timur dan Barat yang membuat proses tersebut berlangsung dengan menumbuhkan konflik batinnya sendiri-sendiri seperti susahnya untuk menemukan identitas apabila persepsi orang lain menjadi patokan utama dalam memaknai diri. Isu nasionalisme terlihat sebagai dua sisi mata uang yang efeknya justru dapat menghancurkan nasionalisme itu sendiri dan ini mengarah pada suatu kesimpulan bahwa tidak penting apa agamanya, kebangsaan, pandangan politik, ataupun kelas sosial karena yang terpenting adalah menjadi jujur terhadap diri sendiri.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Pertanyaannya apakah Hollywood berani untuk membuat film seperti ini? Film kartun dengan unsur politik yang kuat (namun tidak menggurui) nampaknya bukan pilihan yang menguntungkan kecuali bila ditambahkan di dalamnya sosok jin periang atau binatang yang bisa bicara. Sepertinya Hollywood terlambat untuk mengangkat film kartun ke tingkat yang lebih tinggi.


Sen to Chihiro no kamikakushi


Sutradara: Hayao Miyazaki 
Asal/Bahasa: Jepang/Jepang
Bercerita Tentang:
Anak kecil yang terjebak ke dunia lain semacam Wonderland, hanya saja tanpa kelinci yang bicara serta pesta minum teh.
Ulasan:
Demi menyelamatkan kedua orang tuanya yang berubah wujud menjadi sepasang babi gemuk, seorang anak harus menjalani hari-hari di dalam sebuah dunia alternatif yang dipenuhi oleh keanehan dan naga-naga yang berterbangan. Ia bertemu dengan banyak mahluk dengan karakteristiknya masing-masing di dalam dunia yang justru mengajarinya bahwa untuk dapat bertahan hidup yang diperlukan adalah bekerja keras. Film ini adalah portal menuju sebuah petualangan di dalam dunia yang aneh namun bila dilihat lebih dalam lagi tampak familiar bagi dunia kita sehari-hari. Dunia yang menuntut kerja sebagai cara dalam mengisi relung-relung kehidupan dan bagaimana kemalasan adalah bagian dari ketidakmampuan yang disimbolkan dengan kutukan menjadi babi yang hanya bisa makan secara berlebihan. Secara keseluruhan film ini menampilkan segala macam fantasi dan keanehan yang tidak biasa ditemui di film-film lainnya yang menjadikannya nilai tambah bagi film animasi khususnya animasi dua dimensi yang sudah mulai kehilangan daya magisnya.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Cerita mengenai Wonderland telah lama berlalu-lalang di Hollywood, diceritakan ulang, dimodifikasi, diperbanyak, namun siapa yang bisa memadukannya dengan unsur-unsur tradisional yang kental seperti yang dimiliki oleh Jepang? Lalu apakah Hollywood bisa melakukannya minus CGI?

Vals Im Bashir


Sutradara: Ari Folman
Asal/Bahasa: Israel/Ibrani
Bercerita Tentang:
Seorang mantan tentara Israel yang berusaha mengumpulkan kembali memorinya yang hilang mengenai perang yang diikutinya di Libanon.
Ulasan:
Perang tidak hanya mengenai siapa yang menang dan kalah atau pihak mana yang benar dan salah atau siapa yang hidup dan mati, tetapi juga mengenai bagaimana mengingat dan melupakannya. Efek traumatis dalam perang merupakan cendera mata yang tidap dapat dilewatkan bagi siapapun yang melaluinya dengan menenteng senjata dan granat. Pencarian untuk mendapatkan kembali kenangan mengenai apa yang terjadi selama peperangan berlangsung justru mengantarkan pada pencarian lain mengenai esensi perang, mengapa perang diperlukan dan untuk siapa perang dilakukan. Diawali oleh sebuah mimpi buruk dimana sang tokoh utama dikejar-kejar oleh sekawanan anjing liar yang kemudian melahirkan kegelisahan yang membawanya kepada bayangan mengenai gedung-gedung yang hancur dan langit yang diwarnai oleh kobaran api. Akhir dari pencarian tersebut adalah kenyataan yang sering dielu-elukan oleh para pencinta damai dimanapun, bahwa dalam perang yang ada hanyalah kekalahan.
Mengapa ini lebih baik dari produk Hollywood:
Yang benar saja, Hollywood pasti akan menghilangkan adegan seorang tentara yang terlungkup di atas selangkangan wanita bugil raksasa yang sedang berenang di tengah laut.