Tampilkan postingan dengan label inner light. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inner light. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2012

Vicarious

"You never really understand a person until you consider things from his point of view--until you climb inside of his skin and walk around in it."


(To Kill A Mockingbird, Harper Lee)

Bagaimana kalau selama ini ternyata kita juga lah yang salah?

Bicara mengenai kebebasan berekspresi di Indonesia, siapa yang telah melahirkannya: reformasi atau social network?

Yang jelas era 2000-an telah melahirkan manusia baru di nusantara, manusia yang sensitif, kritis, bersuara, bicara, sehingga bila konotasi negatifnya bisa disingkirkan dari pikiran, manusia Indonesia layak diberi sebutan manusia oral (merujuk pada kesadarannya dalam mengutarakan pendapat, walau salah satu perantaranya juga termasuk melalui teks). Tentu saja ini merupakan hal yang bagus. Setelah sekian lama mulut kita selalu dibungkam dan pikiran kita digiring dalam rambu-rambu tertentu, maka kebebasan seperti ini adalah runtuhnya tembok Berlin kita. Gerbang telah terbuka, walau mungkin kita masih merangkak, menggapai udara baru ini dengan keluguan sehingga terkadang beberapa terdengar terlalu cerewet, terkadang terlalu memaksa untuk didengar, terkadang juga senyaring tong kosong. Satu hal, masa-masa tembok pembatas itu sudah dilewati.

Adalah suatu hal yang ‘menyenangkan’ ketika negeri ini selalu memiliki berita-berita untuk dibicarakan, isu-isu untuk didiskusikan, peristiwa-peristiwa hangat yang selalu terjadi sehingga kita bisa selalu terlepas dari cengkeraman teror kebungkaman. Dan bisa jadi karena sebelumnya kita memiliki pengalaman hidup di rezim Orde Baru sehingga topik yang selalu populer untuk dibicarakan (diteriakkan bahkan diprotes) adalah topik mengenai kondisi negara dan para politisi; atau lebih tepatnya lagi, negara di tangan para politisi.

Reaksi yang ditunjukkan dari bicara mengenai topik tersebut bisa bermacam-macam. Ada geram, gerah, jengkel, dongkol, gemas, kesal, marah, menertawakan, mengkritik habis-habisan, menyerang tanpa kompromi, menyindir tajam, memparodikan dengan konyol, menyayat kepalsuan mereka dengan pisau ketidakpercayaan yang terus diasah dalam peluh asa di hari-hari demokrasi. Dan sisanya adalah pujian. Masalah korupsi adalah virus utamanya. Para politisi seakan bersatu di bawah payung korupsi melawan rakyat yang terikat oleh ketidakadilan. Berita-berita mengenai korupsi kerah putih ini terus datang silih berganti, tidak ada habisnya, selalu diperbaharui tiap tahun dengan pelaku dan modus yang bervariasi. Sifatnya yang akut seolah otomatis tercetak di DNA para politisi sementara kemiskinan yang belum teratasi menjadi parameter dari tiap penghakiman oleh masyarakat. Menghamburkan banyak uang dengan kinerja di bawah standar adalah catatan rapor yang layak diwarnai merah mengkilat.

Rakyat pun bereaksi. Berpikir betapa tak habis pikirnya para politisi tersebut mencederai amanat jutaan jiwa, bahkan tak jarang secara berjamaah dan terang-terangan. Rakyat bertanya ke mana perginya hati nurani para anggota dewan, di mana otak mereka dan mengapa sifat rakus itu begitu mengakar. Lewat atmosfer kebebasan berpendapat yang demokratis, mereka berteriak dalam satu suara. Tidak melulu melalui demonstrasi, tapi dengan medium lain yang juga mampu memfasilitasi jeritan mereka. Dari mulai acara TV, talk show, debat terbuka, petisi-petisi, forum-forum pembela rakyat, asosiasi pemuda-pemudi harapan bangsa, sindiran-sindiran yang diselipkan dalam budaya pop, atau mungkin sekedar komentar nyinyir dalam karakter terbatas huruf/angka (tidak lupa emoticon) di media sosial. Seperti singa yang dilepas dari kandang, kebebasan ini sama buasnya dengan predator kelaparan.

Rakyat adalah protagonis, setidaknya demikianlah pemahaman yang diterima. Suara-suara mereka mengarah pada moralitas dan nilai-nilai kehidupan yang luhur. Di balik protesnya, tersembunyi pula pengumuman mulia bahwa jikalau mereka terlahir sebagai politisi, tentunya mereka akan benar-benar menjadi sosok penyambung lidah rakyat, karena mereka tahu apa yang harus dilakukan oleh para politisi sementara para politisi itu semua hanyalah para pemula yang diangkat berdasarkan curriculum vitae dengan kredibilitas nol. Rakyat membangun argumen-argumen kebenaran yang disodorkan langsung di wajah para politisi. Mereka membuat ‘permainan’ dan menemukan ‘kesenangan’ tersendiri lewat cibiran, kadang itu juga bisa membangun kepercayaandiri dengan terdengar cerdas atau bijak. Yang jelas rakyat selalu benar.

Tapi bagaimana kalau ternyata rakyat telah salah menilai selama ini?

Perilaku korupsi politisi mencerminkan suatu keinginan yang besar untuk mengumpulkan uang, bahkan menggila sampai tak terkendali. Korupsi bisa jadi merupakan kejahatan yang paling jujur dalam merefleksikan sifat/mental pelaku sebagai manusia, kondisi lingkungan/manusia di sekitarnya, dan nilai-nilai kehidupan yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu tindak kriminal, eksistensi korupsi bergantung pada aspek-aspek tersebut. Mengingat skala pencuriannya yang biasanya berjumlah besar, maka korupsi politisi tidak lagi bicara motif pemenuhan kebutuhan sang pelaku dalam menjalani hidup, tapi lebih kepada ‘desire’ atau apa yang pelaku inginkan dalam hidup. Beda kasusnya dengan curanmor atau merampok bank yang kebanyakan bermotif ekonomi atau pembunuhan yang motifnya lebih emosional. Secara motif, korupsi berakar sama dengan perkosaan.

Saya punya semacam ilustrasi cerita. Setiap politisi dilahirkan dari rakyat, apalagi karena sistem negara kita bukan monarkhi. Tersebutlah seorang anak manusia dilahirkan di sebuah desa, di pinggir kota, di pemukiman sederhana, atau di tempat manapun di Indonesia yang mencerminkan rakyat. Lalu anak ini dibesarkan oleh keluarga yang sederhana, pas-pasan, berkecukupan atau hampir berkecukupan, keluarga yang tidak kaya dan juga belum tergolong miskin sehingga mampu menyekolahkan si anak sehingga logika berpikirnya terbentuk. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang ia lihat, semakin banyak yang ia alami dalam hidup. Ia melihat apa yang disebut kelas sosial, kelas di luar sekolah di mana ia pun mengidentifikasikan diri di dalamnya. Kondisi negara, kondisi ekonomi, pemberitaan di TV, masalah kemakmuran, kriminalitas, semuanya terhimpun dalam satu judul: perbedaan kelas.

Sebelah mata anak itu melihat ke bawah, sebelah lagi melihat ke atas. Tumbuh di lingkungan cukup sederhana membuat tujuan hidupnya menjadi jelas, ke atas, menuju kelas sosial yang satunya lagi. Menyaksikan kemiskinan dan keterbelakangan telah membuat hatinya geram dan memantik motivasi kuat di dalam diri untuk memperbaiki keadaan, nasionalismenya memanas. Maka ia belajar, bekerja keras, dan berjuang sepenuh hati sementara orang-orang lain di sekitarnya tidak tahu harus berbuat apa. Baginya itu tidak menjadi soal, toh merekalah rakyat yang hendak ia wakili suaranya.

Marx, Machiavelli, The Republic, semuanya ia lahap. Ia aktif dalam pergerakan sosial, berdemonstrasi, memporovokasikan ideologi-ideologinya lewat berbagai media, beryel-yel, bergabung dengan partai politik, merumuskan program-program suci, dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin kehidupan percintaan; masa mudanya dipenuhi percikan patriotisme Soekarno baru dalam tagline pemuda harapan bangsa. Si anak bangsa ini bangkit.
Lalu akhirnya ia duduk dan menyadari bahwa semuanya sudah berubah. Hidupnya tidak lagi seperti dulu, kini ia dihormati, punya banyak relasi, memiliki kedudukan dan hidup sejahtera. Pada titik ini dia menoleh ke belakang, melihat jarak yang terbentang antara masa lalunya dan masa kini. Ia melihat dua hal.

Pertama, rakyat tidak berubah. Ia tidak menyalahkan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia mulai menyadari dengan rakyat yang seperti apa ia berhadapan. Dulu ia berada sederajat dengan mereka namun sekarang ia telah bermetamorofosis dan apa yang ia pelajari dari semuanya adalah ia meraihnya lewat kerja keras. Sementara rakyat yang lain berada dalam realita yang aneh, mereka tahu perbedaan antara keadaan buruk dan baik, namun mereka ‘betah’ berada dalam keadaan yang mereka punya dan memilih untuk mengeluh kepada Tuhan atau pemerintah terkait hal tersebut. Padahal si anak bangsa berasal dari tempat yang sama dengan rakyat tetapi ia mampu untuk merubah keadaan dirinya. Ia bertanya apa mungkin perjuangannya telah disia-siakan?

Rakyat yang ia hadapi adalah rakyat yang menuntut fasilitas umum dan beberapa hari setelah permintaannya dikabulkan, apa yang telah mereka terima itu dirusak lewat vandalisme, pencurian material, atau perusakan dan pelanggaran yang disengaja. Taman kota disulap jadi kebun sampah atau rawa gelap gulita. Shelter bus umum dicorat-coret. Pembatas jalan dijebol. Zebra cross atau jembatan penyeberangan sepi pengunjung. Trotoar dipenuhi pedagang kaki lima. Kalau sudah begitu, membangun sesuatu untuk kemudian dirusak adalah suatu tindak pemborosan, dan bukankah pemborosan sendiri merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Lebih baik menggunakan uang untuk sesuatu yang pasti dan jelas penggunaannya. Siapa yang mengkorupsi siapa?

Ia telah berjuang dengan sengit untuk menjadi seperti sekarang sementara sifat rakyatnya sendiri seperti kebal terhadap kemajuan. Ia menemukan bahwa pernyataan “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri” adalah logika yang masuk akal, ia membuktikannya sendiri.

Kedua, fungsi jabatannya tercederai oleh sikap mental yang berlaku di masyarakat. Ini merujuk pada kesepakatan umum mengenai makna dari kata sukses. Setiap orang yang belajar atau bekerja, semuanya diharapkan, didoakan untuk mencapai kesuksesan. Dan kita semua terlanjur gemar mengkonotasikan sukses dengan kekayaan.

Seorang guru tidak dikatakan sukses jika dia tidak berpenghasilan tinggi. Para orang tua senang jika anaknya menjadi dokter karena dokter biasanya sukses, apalagi dokter spesialis. Begitupun dengan si anak bangsa. Ia diharapkan untuk menjadi orang sukses oleh orang-orang di sekelilingnya. Betapa sering kita mendengar bahwa kekayaan adalah cermin kesuksesan dan terutama karena ia berasal dari kalangan bawah maka dorongan itu makin kuat. Siapa yang mau tahu tugasnya sebagai wakil rakyat, kontribusinya terhadap sosial? Apa yang dibanggakan dari keluarga seorang wakil rakyat selain kedudukan dan kekayaan atau kesuksesan yang dimilikinya? Ketika ia pindah ke Jakarta, wejangan yang didapatnya adalah agar ia bisa ‘sukses’ bukan dukungan untuk membela rakyat. Ini sudah merupakan ketetapan umum yang menggerakkan segala niatnya sehingga membuatnya merasa bahwa hidup harus membayar hutang padanya.

Saya merasa mental OKB (Orang Kaya Baru) menjembatani aktivitas korupsi wakil rakyat. Menurut saya asal muasal munculnya status tersebut bila ditelusuri berpangkal pada karakter inferior masyarakat Indonesia yang berkubang dalam kedangkalan sikap hidup. Tentunya korupsi bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi. Selain karena adanya kesempatan, korupsi pun terjadi karena adanya dorongan ilusif yang membuat si pelaku harus melakukannya dengan resiko apapun. Ini bukan semata masalah kebutuhan yang tidak terpenuhi, tapi mengarah pada usaha mengakomodasi gaya hidup perut buncit, gaya hidup yang disebut sebagai ‘sukses’. Dan si pelaku, si politisi, si wakil rakyat adalah alat yang berupa ujung logam lancip yang berdiri di atas pegangan kayu yang panjang dari sebuah tombak. Kedua bagian ini saling berpadu. Mengisi posisi masing-masing untuk menjalani fungsinya sebagai perkakas berbahaya.

Jika kembali pada bagaimana orang-orang bebas berpendapat, ada kesan kontradiktif yang tertangkap. Tidak hanya kepercayaan terhadap wakil rakyat yang luntur, kepercayaan terhadap rakyat pun mengundang tanda tanya. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk hidup sederhana jika rakyat merasa risih untuk hidup sederhana. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk tidak berfoya-foya jika diam-diam di dalam hati rakyat pun menyimpan keinginan untuk bisa merasakannya. Bagaimana meminta wakil rakyat untuk bekerja keras melayani bila rakyat sendiri memilih untuk bermalas-malasan selalu mengeluh. Bisa jadi segala kritik yang tertuju pada wakil rakyat merupakan penyaluran dari rasa iri, sehingga makin banyak orang berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai wakil rakyat demi untuk merasakan keistimewaan yang ada. Untuk merasakan ‘kesuksesan’.

Entahlah, yang jelas selalu ada dua sisi mata uang. Dan bila kita belajar dari sejarah, kita tahu bahwa rakyat lah yang bisa merubah wakil rakyat, bukan sebaliknya. Rakyat pula lah yang bisa merubah suatu negara atau pemerintahan, bukan sebaliknya. Dan cermin adalah salah satu penemuan terpenting dalam peradaban manusia.

Senin, 19 Desember 2011

Simbiosis Transendensialisme


You can tell the size of your God by looking at the size of your worry list.  The longer your list, the smaller your God. 

(Anonymous)
Saya sudah terlalu lama hidup di dalam lingkungan yang beranggapan bahwa mempertanyakan atau bahkan sekedar berpikir tentang apa yang Tuhan lakukan adalah hal yang tabu, subversif, melenceng, atau dalam kerangka pemikiran tertentu, tindakan itu juga tergolong dosa. Yang jelas kita akan selalu menyepakati kesimpulan akhir bahwa Tuhan adalah maha terhadap apapun sehingga kita sebagai manusia, tidak punya pilihan lagi selain meratapi kekecilan kita yang luar biasa itu. Ada kecenderungan pemahaman yang menyebut karena Tuhan itu Maha Besar dan manusia hanyalah seukuran atom yang terbagi-bagi lagi dan lagi dan lagi, maka menyinggung soal Tuhan adalah sebuah upaya yang takkan terjamah oleh manusia selain dari menjamah kegilaannya sendiri. Maka terima saja kesimpulan besar itu: Tuhan adalah yang paling Tuhan di atas segala apa-apa.

Tersebutlah Tuhan yang sangat besar itu sebagai kekuatan tak terbatas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kehadiran-Nya mau tidak mau mengecilkan eksistensi manusia. Agama muncul sebagai ideologi praktis dan teoritis dalam meletakkan pijakan-pijakan di atas jalur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kehadirannya mau tidak mau menggoda iman manusia.

Lalu pada prosesnya, agama memiliki fungsi lain. Melewati nalar manusia, ajaran agama berkembang sebagai medium yang mengajak manusia untuk “berdamai” dengan Tuhan. “Berdamai” dalam pengertian ketundukan tanpa syarat, penyerahan diri yang tak bisa ditawar-tawar lagi posisinya. Karena Tuhan Maha Apa Saja ―dengan kekuatan yang meliputi membelah matahari jadi dua dalam satu tiupan, membangkitkan dinosaurus dari tanah, atau menciptakan sepuluh Adolf Hitler― sedangkan manusia begitu tidak berdaya, maka “perdamaian” harus dicetuskan untuk menegaskan posisi keduanya. Ide tentang kemurkaan Tuhan dan neraka akhirat menjadi unsur penting dalam pengenalan agama yang pada ujungnya juga digunakan untuk mendefinisikan (atau mempersonifikasikan) Tuhan.

Ketaatan terhadap Tuhan jadi nama lain dari ketakutan akan Tuhan. Ketakutan seperti lutut bergetar, kencing di celana, gemeretak di gigi, yang muncul dari membayangkan Tuhan sebagai penguasa absolut dari segala penguasa yang selalu siap dengan kemarahannya untuk menghukum manusia. Maka ketakutan manusia pun dibuat menjadi absolut. Agama, dalam pengertian lain, adalah panduan untuk mempertegas rasa takut manusia terhadap hukuman-hukuman dan angkara murka Sang Pencipta. Sehingga akhirnya, agama tidak lebih dari sekedar hal-hal dogmatis.

Terkait dengan lingkungan saya ―atau lingkungan yang terwakili dalam istilah Indonesia― atmosfer dogmatik yang begitu kuat terletak pada prinsip beribadah yang melekat di keyakinan umat beragama. Hal-hal yang menyangkut penghakiman prematur mengenai pahala dan dosa. Adalah suatu kelumrahan untuk menyebut bahwa tujuan beribadah adalah untuk menyenangkan hati Tuhan atau meredakan kemarahan-Nya (bayangkan sebuah bencana alam yang dikaitkan dengan dosa para penduduk tempat bencana tersebut terjadi). Jika manusia beribadah maka Tuhan tersenyum, jika manusia lalai Tuhan akan kesal. Ibadah adalah untuk Tuhan, penyerahan terbaik dari kelemahan manusia untuk Sang Maha Dahsyat. Dan jika saya tidak salah melihat, ibadah menjadi manifestasi dari karakter dan mental upeti/sesajen pengikut-Nya. Ketundukan terhadap sang Superpower. Mental yang telah membentuk wajah bangsa ini selama ratusan tahun.

***

Film The Tree of Life dirilis tahun ini. Karya sutradara Terrence Malick (setelah sekian lama vakum) ini menuai pujian dari para kritikus dan meraih banyak penghargaan. Ada satu sequence di dalamnya yang membuat saya terbius. Sebuah adegan kilas balik visual mengenai penciptaan kehidupan dari mulai pembentukan langit, galaksi, bumi, lautan, daratan, tumbuhan, mahluk bersel satu, ikan, dinosaurus dan kepunahannya, lalu akhirnya manusia yang mungil dan lemah, meringkuk di dalam janin. Adegan yang luar biasa yang memperlihatkan Tuhan sedang berkarya, menghasilkan mahakarya demi mahakarya dengan cita rasa yang tak terjangkau, ide dan kejeniusan yang tak terbendung, pertunjukan kekuatan yang Maha Arogan. Benar-benar sebuah pengalaman sinematis yang epik nan syahdu.

Memang tidak bijak untuk menjustifikasi kesahihan ide visual Terrence Malick di film itu. Apa yang dia gambarkan belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, itu hanya upaya kecil manusia untuk melukiskan kekuasaan Tuhan dan merayakan kehidupan. Namun demikian, komplekstisitas yang ditampilkan mampu merepresentasikan kekuasaan absolut tersebut yang menunjukkan bahkan dalam mahluk sekelas protozoa pun, terdapat karakter-karakter dan fungsi alamiah yang mengarah pada ide besar di baliknya. Ini membawa saya pada keimanan yang baru. Keimanan yang tumbuh dari melihat. Pengaruh dari film itu adalah saya (berusaha) meyakini diri bahwa apapun yang ada di sekeliling saya, saya melihat (secara dramatis atau teatrikal) Tuhan (dalam karya dan ide).

Daun bukan hanya sebatas daun. Komplekstisitas di dalamnya meliputi sel-sel mikroskopik yang tersusun rapi, sistem fotosintesis, klorofil, warnanya yang khas, ukuran, pola, tekstur, tulang-tulang daun, massanya, zat-zat yang terkandung di dalamnya, termasuk juga pose manis saat dia diterpa angin atau pose romantis saat dia jatuh gugur. Begitu juga komplekstisitas partikel-partikel debu saat ia melayang di bawah pancaran batang cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela atau lubang pintu. Air mendidih dengan gelembung yang pecah-pecah disertai suara kumur-kumur dan asap yang muncul lalu menghilang seperti roh halus. Pupil mata yang melebar, lalu mengecil, melebar lagi, dan mengecil saat lampu senter dinyalakan-dimatikan tepat di depannya. Lalu stalagtit, stalagmit. Ubur-ubur yang sedang berenang. Burung-burung bermigrasi. Tirai ditiup angin. Detak jantung. Sifat Keilahaian itu menyulap kesederhanaan sekelas garis-garis di telapak tangan menjadi tampak elegan melebihi kekenesan dalam Blackberry atau smartphone.

Kemudian timbul pertanyaan dari dalam diri mengenai makna peribadatan. Apa sebenarnya maksud dari manusia beribadah kepada Tuhan? Sudah jelas Tuhan Maha Perkasa lalu mengapa peribadatan manusia menjadi sesuatu yang diwajibkan? Apa yang bisa manusia berikan yang sementara Tuhan tidak punya? Ketika orang-orang mensinkronisasikan kemarahan Tuhan dengan kelalaian suatu kaum dalam beribadah, apakah mereka membicarakan Tuhan yang sama? Tuhan yang menciptakan matahari dengan ukurannya yang besar dan membiarkannya melayang di langit?

Tuhan tidak memerlukan manusia. Segala hal yang dilakukan oleh manusia mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi-Nya. Dia yang membuat laut merah dan membelahnya menjadi dua. Dia membuat semuanya, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dia adalah seniman dengan Aurora Borealis-Nya, bintang-bintang-Nya, angin tornado-Nya, dan muntahan lahar-Nya yang mencat gunung dengan warna merah terang elektrik. Dia adalah arsitek Mount Everest, air terjun Niagara, fisikawan yang menciptakan waktu, biologis yang menciptakan darah, kimiawan yang menciptakan semua yang tertera di tabel periodik. Dengan keagungan yang seperti itu, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh manusia yang Maha Kecil ini? Apa yang bisa diserahkannya karena badan dan jiwa yang kita punya juga adalah pinjaman dari-Nya?

Maka apa jadinya Tuhan jika peribadahan kita menjadi penting untuk-Nya? Bagi saya adalah kekerdilan. Kekerdilan yang amat sangat lancang ditujukan kepada Tuhan sebagai sosok yang “gampangan”. Manusia yang kerap mengaitkan (atau menghitung) pahala dan dosa dengan peribadatan mengindikasikan Tuhan sebagai sosok borjuis kecil yang manja yang ingin selalu dihibur dan disenangkan,gemar mengancam serta meledak-ledak bila kesal. Dia tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Hanya saja manusia yang terlalu egois yang menganggap apa yang dilakukannya atas nama aktivitas ibadah bakal mampu menggerakkan hati Tuhan. Bahkan jika seluruh manusia di dunia ini tidak beribadah, rasanya Tuhan tidak akan kehilangan apapun.

Namun itu bukan berarti bahwa beribadah tidak memiliki nilai. Yang akan saya tekankan di sini adalah mengenai pergeseran fungsinya.

Saya meyakini bahwa salah satu tujuan fundamental kehidupan manusia adalah agar manusia terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu-ilmu yang sifatnya teoritis tapi juga praktis, tidak hanya yang materiil tapi juga imateriil. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini, yang telah ada maupun yang belum ditemukan, asalnya dari Tuhan. Maka setiap ilmu bila ditelusuri maka akhirnya akan mengarah kepada-Nya dengan cara masing-masing. Seperti, entah bagaimana dengan yang lain, tapi saya menemukan kebesaran Tuhan di balik terciptanya internet, tentang bagaimana ilmu-ilmu yang telah ada bisa saling terhubung untuk menciptakan teknologi ini dan yang jelas, bagaimana sebuah media mampu memperpendek jarak fisik yang terbentang adalah suatu mukjizat. Dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini, beserta perangkat manusia yang derajatnya melebihi mahluk lain, maka suatu hubungan terbentuk, bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemujaan dan ketertundukan manusia (hal yang sudah pasti) melainkan Dia menghendaki untuk dicari dan selalu dicari.

Yang menjadi masalah dari proses pencarian ini adalah sejak awal Tuhan tidak pernah hilang.

Karena itu, ibadah memiliki nilai. Ibadah adalah salah satu ilmu pencarian tersebut, mencari sesuatu yang tidak pernah hilang. Tuhan tidak membutuhkan manusia tetapi manusia yang membutuhkan Tuhan. Fungsi ibadah berkaitan langsung dengan manusia secara personal, bukan melulu masalah pahala dan dosa. Bukanlah kemurkaan Tuhan yang harus diperhatikan dalam hal kelalaian beribadah melainkan perkembangan diri secara psikologis (batiniah) atas apa yang telah dilewatkan dari kesempatan untuk mendekati-Nya. Sama seperti saat belajar di sekolah, seharusnya bukanlah nilai rapor yang diburu dari mengerjakan PR atau mengikuti ujian, melainkan ilmu itu sendiri, “kebebasannya” tanpa dipengaruhi institusi atau kebanggaan pribadi. Maka bukan kewajiban, ibadah adalah kebutuhan.

Saya sebagai seorang muslim punya ibadah wajib sholat lima kali dalam sehari. Jika saya tidak sholat, saya tidak perlu mengkhawatirkan tentang dosa (bukan urusan saya), tapi adalah waktu dan kesempatan yang saya lewatkan untuk secara syahdu menggerakkan badan dan jiwa mendatangi-Nya. Selain gerakan dan bacaan, sholat tentunya membutuhkan konsentrasi, kesunyian, kemurnian pikiran dan hati serta penyerahan yang ikhlas, dan itu semua perlu dilatih dengan baik dan intens (untuk itu saya diberi kesempatan lima kali sehari). Jadi ini bukan lagi masalah pahala dan dosa. Ini masalah tentang bagaimana individu mencari dan menemukan Tuhan dengan segala proses yang akan mempengaruhi jiwa dan mentalnya sebagai manusia sampai dia mati kelak. Beruntunglah mereka yang telah berhasil mencapainya sebelum ajal.

Saya tegaskan saya bukan seorang pendakwah, penyebar syiar, khotib, cendikiawan agama, ahli kebatinan, murid ahli kebatinan, atau bahkan orang alim. Tulisan ini adalah reaksi saya terhadap “kemunculan-Nya” dalam arena pop culture yang memercik semacam “reinvensi” bagi keimanan saya. Sama seperti yang lain, saya adalah manusia kecil yang kebetulan mempercayai Tuhan, yang membedakan hanyalah bentuk kepercayaan tersebut. Bagi saya, pencintraan manusia terhadap sosok Tuhan menggambarkan sosok manusia tersebut bila menjadi pemimpin.

Tuhan adalah besar sebesar-besarnya. Sementara manusia itu kecil. Namun Tuhan tidak membiarkan kita manusia berada dalam “kekecilan” karena kita adalah bagian dari Tuhan yang nantinya akan kembali pada-Nya. Ketundukan buta adalah sikap yang merendahkan kodrat manusia dan posisi Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam ketundukan terhadap-Nya kita dituntut untuk tahu alasan mengapa ketundukan itu kita jalankan. Tuhan takkan membiatkan kita tersesat karena kita memiliki akal, hati, jiwa, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, darah, sel, bahkan aroma tubuh. Apakah itu semua cukup atau tidak, hanya Bob Dylan yang bisa menjawabnya: “The answer my friend is blowin’ in the wind/The answer is blowin’ in the wind.”

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kepingan Surau Yang Roboh

 "Scepticism is the beginning of faith."

(Oscar Wilde)

Iman. 

Ustadz tampil di TV, berceramah, kali berikutnya berkoar-koar dalam iklan, kali berikutnya tersenyum alim di infotainment, kali berikutnya berperan sebagai dirinya sendiri dalam sinetron, beberapa saat lagi medium layar lebar ikut dirambahnya pula. Berimankah saya jika di balik kepala ini ─walau hanya sebersit dan diiringi keseganan, serta kelancangan yang berusaha untuk dijinakkan─ bertanya, apa yang telah kalian jual untuk ketenaran seperti itu? Berapakah harga untuk sebuah kemuliaan di jalan Tuhan yang telah kami bayar? Adakah diskon di dalamnya? Atau mungkin, potongan pajak? 

Mungkin suatu hari nanti saya akan berpesan pada sang anak: “Nak, jika kamu ingin mengobati orang-orang yang sakit, jadilah dokter. Jika kamu ingin mengorbankan jiwamu untuk negara, jadilah tentara. Jika kamu ingin berperan dalam menegakkan hukum, jadilah polisi. Jika kamu merasa hidup ini lebih baik dengan gubahan nada, jadilah musisi. Jika kamu merasa kata-kata begitu berarti untuk disampaikan, jadilah penulis. Jika kamu merasa setiap momen dalam hidup begitu berharga untuk diabadikan, jadilah fotografer. Jika kamu merasa setiap ilmu harus diamalkan dan disampaikan, jadilah guru. Jila kamu merasa hidup ini jadi lebih mudah dengan mengolah warna, jadilah pelukis. Jika kamu ingin mendapat uang banyak, masuk TV, bintang iklan, dan dijamin masuk surga, jadilah ustadz. Tuhan ada di TV nak!”

Ceramah Jum’at; 15, 20, 30 menit membuai hadirin dengan kantuk yang malu-malu kucing. Kami tahu arahnya ke mana, kami tahu kesimpulannya apa, kami tahu apa yang akan disampaikan; ya, kami akan menjalani hidup dalam ketakutan akan bara neraka; ya, kami akan membuka mata untuk menghakimi kekafiran; ya, kami akan terus berdoa untuk Palestina dan belajar memusuhi dunia barat; ya, kami tahu. Maka ─dengan tanpa maksud untuk mengingkari ketetapan─ untuk memerangi hantu kantuk itu, bolehkah di sela-sela rentetan ceramah saya membaca buku? Dostoyevsky atau Dickens? Mungkin Rumi atau Gibran? Atau mungkin Al Jaelani dan Imam Ghazali? Atau bahkan Abu Nawas? itu pun bila saya diizinkan untuk tertawa.

Anak-anak yang kecil dan naif, lucu, riang, ceria, dan tanpa beban. Apa yang terucap dari lidah kalian itu? Berdiri di bawah lampu sorot panggung, kalian bicara akhirat, bicara dosa, bicara syetan, bicara azab, dan menakut-nakuti dengan hukuman Allah. Kalian di sana dalam balutan atribut kesucian yang seharusnya adalah gestur kepolosan yang khas dari kebeliaan. Namun kakak kagum dengan bentuk keimanan itu, terutama di saat kalian berada di usia yang bagi kakak tepat untuk bermain, untuk berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya dan belajar darinya, untuk mengarungi samudera imajinasi seluas-luasnya hingga mendarat di dataran realita nanti, untuk tertawa tanpa henti hingga akhirnya kalian menyadari bahwa tidak ada lagi yang lucu. Suatu saat nanti, semoga saja kalian tidak tumbuh menjadi seorang munafik atau seorang penyesal atas apa yang belum pernah kalian rasakan di saat kalian harus merasakannya. Toh, kalian sudah punya keimanan itu. Ataukah itu semua hanya untuk di depan kamera? Adakah orang tua kalian di bangku penonton?

Perempuan, betapa pakaianmu menunjukkan keagunganmu. Keindahan kalian adalah mukjizat ilahiah, alamiah, batiniah, lahiriah, yang menempatkan tiap lelaki yang melihat kalian di persimpangan jalan antara surga dan neraka. Maka untuk kalian, sang nabi memberi perhatian khusus, ia mewasiatkan kalian untuk dilindungi dan sebuah pakaian yang terhormat siap melapisi kulit kalian. Tapi mengapa memakai jilbab dengan alasan takut akan siksaan akhirat? Karena bagi saya itu terdengar seperti paksaan. Mengapa memakai jilbab jika hatimu masih ingin melepasnya? Bukankah ini seharusnya berhubungan dengan keikhlasan? Mengapa kalian tubrukkan jilbab itu dengan mode yang membuat kalian terlihat seperti (badut) hipster yang tersesat? Berimankah jika suara saya berseru kepada kaum di mana rasa cintaku tertambat, untuk melepas jilbab kalian dan kenakan di saat kalian siap dan tulus hati? Karena terkadang saya tidak melihat penjilbab seperti sebagaimana penjilbab seharusnya menampakkan diri; dalam kesucian, kebesaran, dan kekuatan untuk membuat jiwa ini luluh dan takluk.

Dalam keheningan ini saya mempertanyakan kadar iman di dalam diri. Dalam kebingungan saya melihat semuanya terasa berlawanan dengan apa yang saya pahami. Apakah iman saya telah luntur? Ataukah saya masih terpaku untuk melihat apa yang benar dan salah secara subjektif? Namun bukankah kalimat “Seharusnya ini tidak seperti ini” adalah juga sebuah bukti keimanan? Bukankah itu artinya ada hal lain yang dipercayai yang bisa lebih baik dari yang telah ada? Dan bukankah mempercayai sesuatu adalah pengertian dari iman? Entahlah. 

Iman. 

Lebih mudah menyebutnya jika itu adalah nama seseorang.

Jumat, 15 April 2011

Indonesia, 230 Juta, Dan Eksistensi


"Man is not the sum of what he has already, but rather the sum of what he does not yet have, of what he could have."

(Jean-Paul Sartre)
Sekitar beberapa tahun lalu, sebuah analogi dari Jean-Paul Sartre mengenai eksistensialisme mengisi ruang perspektif di dalam kepala saya. Dia menelurkan sebuah teori tentang hakikat manusia di mana “esensi mendahului eksistensi” dan bukan sebaliknya. Ambil contoh sebuah gunting. Penciptaan gunting diawali dari ide tentangnya, yaitu ide mengenai sesuatu untuk memotong kertas, tali, atau apapun. Ini berarti bahwa gunting memiliki nilai yang mutlak sebagai alat untuk memotong dan bila gunting tersebut tidak mampu memotong kertas, maka itu adalah gunting yang buruk. Sedangkan manusia tercipta sebaliknya. Ia didahului oleh wujud, baru kemudian nilai-nya (atau fungsi serta ide penciptaannya) ditentukan kemudian oleh manusia itu sendiri yang berarti bahwa sepanjang hayatnya tugas seorang manusia adalah untuk selalu mencari makna dirinya. Maka sejak itu teori ini betah mendiami kepala saya.

Bukanlah hal yang mudah untuk dapat memahami ide ini secara sepenuhnya terlebih dalam usia kehidupan saya ini yang masih terlalu pendek untuk diakhiri, terutama mungkin karena untuk memahami ide ini artinya saya juga harus memahami diri saya sendiri. Tak jarang pikiran ini bermain-main. Sempat pula ia menguji sampai batas tertentu. Sampai batas di mana semuanya tergerogoti dan saya mulai tidak percaya bahwa realita sejalan dengan teori eksistensialisme Sartre tersebut. Sampai taraf kebingungan untuk menemukan gambar peta yang lebih besar untuk menentukan jalur-jalur yang selayaknya ditempuh. Terlebih lagi obrolan mengenai masa depan yang ―mungkin disebabkan oleh faktor usia yang tengah berada dalam tahap kedewasaan tingkat pemula― malah mendekatkan saya pada bayangan dystopia yang intens. Pertanyaan eksistensialisme tentang siapa dan akan menjadi apa, masih enggan terjawab. Que sera, sera, whatever will be, will be.

Oke, masa depan masih menjadi PR untuk saya tulis, entah karena saya malas, atau memang dungu. Tapi, apa memang benar peran atau fungsi seseorang dapat ditentukan oleh si individu, bukan oleh lingkungannya, kondisi geopolitiknya, latar historis, keadaan negara, tingkat ekonomi, laju inflasi, angka pendapatan kepala negara, harga bahan pokok, probabilitas terjadinya bencana alam, kepercayaannya terhadap suatu agama, headline surat kabar, dan umur bumi, umur peradaban ini. Atau mungkin memang sejak awal semuanya ada di tangan Tuhan, terhitung sejak Adam melahap buah khuldi yang terlarang itu. Sang Maha Pencipta itu mungkin memang sejak awal menciptakan semuanya sesuai dengan yang Dia inginkan, bahkan kehendak bebas manusia pun diatur sedemikian rupa sesuai dengan porsi yang telah ditentukan dan direncanakan.

Merujuk pada kekuasaan Tuhan dan peran manusia di dunia ini membawa saya pada sebuah analogi yang cukup menyimpulkan tentang bagaimana eksistensi keduanya bertaut, dan saya bicara tentang Indonesia (untuk seterusnya). Indonesia, sebuah negara kepulauan yang sangat besar, tepat bersandar di garis khatulistiwa, yang menganugerahinya dengan dua musim yang datang sillih berganti, di mana padi-padi, umbi-umbian, serta tanaman hijau tumbuh dengan dimanjakan. Pulau-pulau bertebaran, ditaburi pasir-pasir lembut, ombak berdebur dengan meriah, matahari tenggelam dalam oranye-kemerahan di Bali, sementara terumbu karang menyangga lautan yang luas. Begitu kayanya negeri ini sehingga para komodo pun memiliki pulaunya sendiri. Pohon-pohon meninggi hampir menyentuh langit dari balik hijaunya hutan, tempat burung cendrawasih bercengkrama dengan anak orangutan yang duduk di atas punggung badak bercula satu. Itu semua adalah tentang eksistensi Tuhan di Indonesia. Yang menjadikan semuanya nyata dalam satu perintah: kun fayakun! Jadi, maka jadilah!

Dan betapa telah lamanya negeri ini ‘meminjam’ eksistensi Tuhan untuk mengada sebagai sebuah negara yang berkonstitusi baiksecara de facto maupun de jure. Seringkali kita mendengar jargon-jargon ‘Indonesia negeri yang kaya akan kekayaan alam’, ‘negeri yang indah, elok, dan permai’, atau ‘negeri zamrud khatulistiwa’ menggema dari ruang-ruang sekolah dasar hingga dari balik monitor televisi yang selalu berhasil membuat kita merasakan sebentuk kebanggaan kolektif. Sesuatu yang sifatnya hoki (yang tentunya harus disyukuri juga) karena andai saja Tuhan menaruh gunung Semeru di sebelah gunung Fuji, danau Toba di alun-alun Berlin, atau pantai Karimun Jawa di Hawaii maka tanpa ‘perangkat keindahan’ itu eksistensi apa yang bertahan sebagai identitas Indonesia? Apa yang akan membuatnya bertahan sebagai negara? Keindahan itu mutlak menjadi milik Tuhan dan dengan memilikinya negara ini disebut ‘beruntung’ bukan ‘spesial’ dan memang demikianlah sifatnya bila berkaitan dengan hal ihwal ilahiah. Andaikan negara ini ditenggelamkan ke dasar laut sehingga menghilang dari peta, atas apakah dunia akan merasa kehilangan? Teritorinya berikut sumber daya alam yang terikat di dalamnya atau perannya (baca: kontribusi) dalam ‘meramaikan’ peradaban dunia?

Untuk poin yang kedua, kita masuk ke wilayah eksistensi manusia. Sebuah pertanyaan besar diarahkan pada eksistensi 230 juta lebih manusia Indonesia. Apa yang bisa diperoleh dari eksistensi sebanyak itu? Atau kalau merunut pada teori Sartre, di mana esensi mendahului eksistensi, maka apa yang disebut dengan esensi manusia Indonesia? Apa esensi Indonesia sebagai sebuah negara?

Pokok penting mengenai eksistensialisme adalah tentang bagaimana manusia dihadapkan pada tanggung jawab untuk ‘mencipta’. Bukti suatu eksistensi manusia harus didasarkan pada esensinya (fungsi dan nilainya) yang utama yakni kemampuan untuk berkreasi atau berkarya sebagai buah investasi dari instrumen primer manusia seperti otak, hati, dan panca indera. Kemampuan ini setidaknya membedakan antara realitas manusia dan binatang ataupun tumbuh-tumbuhan. Sejarah peradaban manusia selama ini merupakan rentetan momen tentang penciptaan yang berkembang dari mulai tulisan yang diukir di atas batu hingga tombol yang dipencet untuk menulis.

Oleh karena itu mempertanyakan eksistensi Indonesia berarti mempertanyakan ide apa yang lahir darinya. Dalam kurun waktu 10 tahun ke belakang, Indonesia tumbuh menjadi sosok yang pragmatis. Dengan pesatnya arus globalisasi serta investasi asing ditambah dengan daya beli masyarakatnya yang terfasilitasi dengan menjamurnya mall, Indonesia tumbuh menjadi materialis. Lihat bagaimana suatu kelas sosial diakui, prestise terangkat, manusia dihormati; itu semua tentang sederas apa uang mengalir dari kantong ke kantong. Segelintir masyarakat kita tumbuh menjadi gergasi konsumtif yang diakui dunia, terbukti dengan begitu cepatnya produk-produk baru luar negeri terjual habis tanpa mementingkan efektifitas pemakaiannya secara fungsional. Segelintir masyarakat yang lain melongo di ambang jurang kecemburuan dan mematri kerangka pemikiran serba instan di kepalanya untuk menuju kehidupan segala hal yang kuantitatif. Bahkan institusi seperti sekolah atau perguruan tinggi tidak lagi murni berbasis pada pengetahuan dan perkembangan cara berpikir si pelajar, melainkan memantapkan doktrinasi tersembunyi mengenai betapa pentingnya hasil akhir di atas segalanya. Dan para sarjana pun mencari kerja untuk menutupi rasa takutnya akan ketidakmampuan untuk terus membeli, walaupun pekerjaan yang dilakukan malah semakin menumpulkan otak mereka untuk berkreasi.

Memang terlalu berat sebelah bila saya mengenyampingkan sejumlah warga negara Indonesia yang telah memenuhi fungsi eksistensinya dengan berkarya. Menghasilkan sesuatu yang tidak hanya sekedar produk budaya belaka tetapi juga merupakan kreasi olah ide yang bermanfaat secara massal dan memiliki nilai intelektual yang tinggi. Walau demikian, jumlahnya tidak terlampau banyak dan kadangkala kebesaran nama mereka dipengaruhi oleh akses yang secara beruntung mereka dapatkan, baik itu akses pendidikan, pengetahuan, wawasan, atau akses lain yang menunjang pembentukan dan perkembangan kreatifitas mereka. Dan dalam ranah ‘akses’ inilah, Indonesia patut dipertanyakan fungsi kedaulatannya dalam menjamin eksistensi warganya.

Ruang-ruang kreatifitas nampaknya tidak terlalu mendapat perhatian dibandingkan ruang-ruang lain yang dibangun untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Dan entah siapa yang salah, sejak dulu kita memahami makna kata kesuksesan bersinonim dengan berlimpahnya harta benda yang kita punyai. Tak heran, dalam menyikapi era globalisasi-pun banyak orang-orang yang merasa tertuntut untuk menghasilkan uang lebih banyak atas nama kebutuhan (konsumtif) yang semakin banyak pula, bukannya tertuntut untuk memperbaharui pola pikir agar mampu bersaing dengan ide-ide dari berbagai belahan dunia yang semakin berkembang pesat.

Seorang teman pernah menceritakan tentang bagaimana seorang wakil rakyat mengaku heran dengan membludaknya jumlah ekonom, dokter, pengacara, dan insinyur, tapi negara ini justru tidak maju-maju. Teman saya itu menanggapi dengan menyatakan bahwa alasan kita mandek adalah karena kita kekurangan guru, seniman, penulis, budayawan, astronom, ilmuwan, sineas, jurnalis, penyair, cendikiawan, pelukis, dan berbagai macam profesi lainnya. Hal ini bisa saya benarkan, kekurangan profesi-profesi tersebut berarti mempersempit gejala eksistensi bagi manusia Indonesia, karena dalam menjalankan fungsinya, profesi-profesi tersebut bersimpuh pada kekuatan ide yang dihasilkan lewat proses pengolahan rasa, cipta, dan karsa yang mana mempertegas esensi manusia.

Namun di negara ini, profesi-profesi demikian bukan hanya dirasa kurang peminatnya (ditambah dengan adanya pandangan kolot yang berkaitan dengan kecilnya angka harapan kesejahteraan bila dihubungkan dengan profesi tersebut), tetapi juga negara kurang mampu memfasilitasi tumbuh-kembangnya mereka di tanah air. Sokongan negara terhadap mereka terkesan segan, terbukti dengan kurangnya ekspos serta promosi untuk memperkenalkan fungsi serta kontribusi profesi tersebut terhadap publik. Usaha negara untuk menekan jumlah pengangguran seperti membuka instansi pendidikan yang terikat langsung dengan beberapa perusahaan terkesan mengharuskan masyarakat untuk menjadi karyawan yang digaji untuk menerima perintah, asalkan masyarakat usia produktif terserap menjadi tenaga kerja. Bagi saya, masalahnya akan tetap sama saja, daya kreasi tidak terpelihara dan terlebih lagi, terasah.

Memang sudah selayaknya kita mempertanyakan esensi manusia Indonesia, dalam jumlahnya yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa, mendiami sebuah negara kepulauan yang besar dengan sumber daya alam yang bertebaran di balik garis khatulistiwa. Tidak cukup hanya ‘mengada’ namun juga harus mampu ‘menjadi’. Walau mungkin kita tidak bisa melepaskan diri dari keadaan namun keinginan kuat untuk selalu membuktikan esensi pribadi sebagai seorang individu lebih penting untuk diperjuangkan sampai kapanpun. Sampai kapan kita akan terus kerasan duduk di bangku penonton? Sampai kapan kita akan diam memperhatikan negara ini pelan-pelan tenggelam, hilang dari peta dunia dan peradaban?

Senin, 07 Februari 2011

*Ping!*


 "The production of too many useful things results in too many useless people."

(Karl Marx)

Dalam lagu milik Pink Floyd yang berjudul Keep Talking, terdapat petikan suara Stephen Hawking, ahli fisika modern, yang mengemukakan mengenai eksistensi manusia. Suaranya datar, terkesan menguliahi, ia menjelaskan: For millions of years mankind lived just like the animals, then something happened which unleashed the power of our imagination, we learned to talk.

Lalu tak jauh setelahnya, di awal abad 21, seorang pemuda bernama Mark Zuckerberg dengan intonasi yang terselip ambisi namun tetap santai, menjelaskan makna baru dari eksistensi manusia. Lewat kendaraan yang dinamai Facebook, ia menetapkan sebuah kata kunci yang penting, connected (terhubung), sebagai bahan bakar utama dari hubungan sosial era informatika.

Keduanya penting. Talk dan connected . Kedua kata ini sudah cukup untuk meringkas sebuah deskripsi hablumminannaas, hubungan horizontal antar individu, antar sesama manusia. Cukup untuk menjelaskan ikatan relasi asal dari dua orang manusia, yang terjalin di awal kehidupan dimanapun kemunculannya, lalu terjalin untuk selamanya dalam hubungan yang mendarah daging, seperti hubungan antara anak dan orang tuanya, yang sejatinya bersifat kodrati dan alamiah.

Namun kekhasan tersebut tak jarang harus tercederai. Tak lain karena talk dan connected tak kuasa untuk menahan ombak distorsi di pesisir peradaban baru. Maknanya timbul-tenggelam. Mencoba untuk berpegangan pada batu karang sejarah, esensinya yang uzur, yang telah teridentifikasi melewati sekumpulan era. Namun licinnya bukan main. Sementara angin digital berhembus cepat menggulung ombak berkali-kali di bawah teriknya matahari informatika. Zaman baru, tuan dan nyonya, datang lebih awal ke dermaga. Di mana semuanya dapat dilakukan dan terjadi hanya dengan menekan tombol. Termasuk eksistensi.

Tak bisa tidak, semua berubah. Tak bisa tidak, semua berganti arah. Realitas berputar-putar, terlipat, lalu jungkir-balik, dimampatkan ke dalam ruang kecil, jembatan antara yang gaib dan materi. Filsuf linguistik Ludwig Wittgenstein menyatakan bahwa “Batas bahasa saya adalah batas kenyataan saya”, sekarang definisi kalimat tersebut secara harfiah tidak lagi relevan. Apa itu batas? Dan terlebih lagi, apa itu kenyataan? Tidak jelas, mungkin saja dunia matriks.

 Sebelum terlalu jauh (saya tahu saya mulai keasyikan melenceng dari topik utama tulisan ini), kembali kepada talk dan connected, tentang bagaimana keduanya membentuk hubungan manusia yang perdana (asali) dalam lingkup interaksi yang kecil seperti keluarga (atau lebih spesifik lagi keluarga Indonesia pada umumnya). Ketertarikan saya pada keterkaitan antara teknologi dan manusia terutama pada dampak dekadensinya adalah dari sebuah tontonan di televisi (acara talk show) yang tengah mengedepankan tema yang cukup purba, yaitu seks. Seks memang sudah ada sejak lama, bahkan penyimpangannya pun sudah dimulai dari sejak jaman nabi masih menerima wahyu dari Tuhan (atau bisa jadi lebih tua lagi). Karena keberadaannya yang sudah malang-melintang itu maka yang menarik dari kisah-kisah penyimpangan seks bukanlah perbuatannya secara praksis, melainkan motif dan ide yang menggerakkan itu semua. Atau dengan kata lain lebih kepada alasan mengapa manusia pada suatu ruang dan waktu melakukannya. Dalam hal ini (tulisan ini) yang dimaksud adalah seks di era informatika.

Tak ada yang berubah dari seks, di era digital sekarang seks masih berupa hubungan sebadan (atau dua, atau tiga, lebih) yang dirangsang melalui alat kelamin (yang berbeda atau yang sama? Di era sekarang ini menjadi dilema yang sentimentil). Dulu, tujuan utamanya adalah untuk menambah keturunan. Sekarang, bisa multitafsir. Yang spesial adalah apa yang dinamakan penyimpangan kali ini erat hubungannya dengan akses. 

Era informatika ini sifatnya seperti badai tornado, cepat dan membabat habis, lebih jauh lagi, sukar untuk dihentikan. Internet ada di mana-mana, informasi berganti-ganti dalam hitungan detik dengan mantranya yang berbunyi “update” dan “upload”. Segala hal ada di dalam internet, tanpa terkecuali seks. Pomografi membabi-buta di dalamnya, bebas berbiak-beranak, memperbanyak diri tiap hari dalam bentuk gambar, foto, tulisan, dan video. Sifatnya yang massal dan masif menjadikannya sebagai salah satu dari sumber informal bagi sejumlah orang mengenai pengetahuan seks. Terutama bagi kaum remaja.

Angka seks pranikah yang tinggi (menurut data BKKBN bagi para remaja/pelajar di kota-kota besar di Indonesia) membuktikan pengaruh kuat internet pada para manusia baru versi 2.0 ini (disebut juga netizen). Mungkin fakta tersebut kurang begitu meyakinkan bila dihadapkan pada argumen modernitas di mana seks “hanyalah” seks dan keperawanan adalah produk kadaluarsa (jangan tanya tentang agama, tuan dan nyonya, dia sedang sekarat). Tapi jangan lupa, seks pranikah punya cabang atau turunannya sendiri. Sebut saja aborsi, perkosaan, pelacuran, human trafficking, hamil di luar nikah, panyakit kelamin, AIDS, cacat mental, pencabulan, kasus bunuh diri, dan banyak kemunduran lain. Apanya yang modern dari itu semua?

Saya sedikit subjektif dan egosentris untuk menanggapi angka tersebut. Saya tidak peduli dengan para remaja. Masa bodoh. Mereka ingin melakukan apa, ya terserah saja. Toh sudah lama juga saya merasa istilah “remaja harapan bangsa” terlalu berlebihan dan dipaksakan. Apa yang saya lihat dari mereka hanyalah rentetan perilaku artifisial minim pencerahan. Di (mall) mana-mana mereka sama saja, seragam dan cengengesan. 

Saya merujuk kepada anak-anak yang disadari atau tidak, menjadi korban utama dari pesatnya kecepatan teknologi. Di sekitar kepolosan mereka ancaman tidak henti-hentinya terbaharui. Pornografi hanya berjarak telunjuk atau jempol (tergantung dari dengan apa tombol ditekan). Terutama karena anak-anak telah dipersenjatai dengan alat atau perangkat (gadget) yang cukup untuk membuat iri setengah mati para anak di Afrika yang masih belajar menulis dan membaca. Inilah cara anak-anak jaman sekarang menghabiskan waktu bermainnya, dengan mata tertuju pada layar, sementara di tempat yang tidak terlihat bibit individualisme sedang ditanam kuat-kuat di otaknya.

Ada banyak kemungkinan yang terjadi, seperti di usianya yang masih belia, anak-anak sudah melihat bagaimana penis dimasukkan ke dalam vagina. Atau mungkin ketertarikan terhadap gambar orang telanjang tumbuh sebelum mereka memasuki usia baligh. Saya ingat dulu pernah disodorkan oleh sebuah gambar siluet yang bagi saya terlihat seperti seorang wanita telanjang tapi sepupu yang masih kecil sekali melihat gambar ikan lumba-lumba. Penelitian menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena  ad aperbedaan rangsangan di otak masing-masing yang mana tiap orang hanya mampu melihat objek atau benda yang dikenal, pernah dilihat atau dibayangkan. Yang saya takutkan adalah dalam dua tahun ke depan sepupu saya akan mempersepsi gambar itu sama persis dengan saya.

Di luar sana, bisa jadi hal tersebut sudah terjadi. Anak-anak tumbuh menjadi remaja yang menanggapi seks hanya dengan nyengir. Atau seperti suku primitif dan barbar di mana status sosial dalam pergaulan sehari-hari diraih dari kuantitas aktifitas seks. Bukan hal baru ketika mendengar seorang siswi SD yang digauli teman sebayanya beramai-ramai. Atau bagaimana seks coba-coba berakhir dengan menggugurkan sang jabang bayi di kandungan. Memprihatinkan sekali di dalam negara yang selalu susah-payah untuk bangkit ini belum juga ditemukan adanya harapan tentang kebangkitan itu sendiri.

Kita tidak bisa menyalahkan rasa ingin tahu anak kecil yang tinggi. Tidak bisa juga menyalahkan perubahan jaman. Atau pornografi di internet. Tapi tanggung jawab sudah pasti ada di tangan orang tua atau setidaknya mereka yang hidup dengan anak kecil. Kecenderungan sekarang adalah bagaimana kesenangan bagi anak-anak merupakan sesuatu yang bisa dibayar. Orang tua begitu gampang memberikan anak-anak perangkat berteknologi tinggi lengkap dengan instruksi cara penggunaannya tanpa dibarengi dengan pengawasan serta edukasi. Dalih kesibukan sudah barang tentu menjadi kalimat yang sangat populer. Di sisi lain ini menjadi ironi dari teknologi yang beberapa misinya adalah untuk menghemat waktu dan memperpendek jarak yang jadinya malah mempersempit waktu luang serta memperlebar “jarak” antar individu. 

Secara lebih luas, penggunaan teknologi yang masih belum disikapi secara bijak adalah bukti ketidaksiapan masyarakat Indonesia terhadap roda jaman (bayangkan, betapa sering kita tertinggal dalam “lomba” seperti ini). Teknologi baru dan inovatif yang memiliki nilai manfaat yang tinggi hanya mampu disikapi sebagai trend belaka, seperti dalam  fashion. Alat-alat yang futuristik tidak menjadikan pemakainya sebagai manusia yang “maju”, berevolusi dalam cara pandang dan pemikiran menjadi sosok yang membawa iklim perubahan. Yang terjadi kebanyakan adalah mereka memanfaatkan teknologi untuk menjustifikasi fungsi sosial mereka yang tidak terlalu berguna atau tidak penting seperti yang biasa tertera di “status” yang mereka tulis. Bahkan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi dalam tulisan pun rasanya masih terlalu jauh dari titik terang. 

Talk dan connected, keduanya berubah. Bicara tidak lagi sekedar menggunakan mulut. Dan berhubungan sosial bukan lagi tentang berkumpul atau bertemu secara fisik. Seperti gamnbaran satir dunia utopia-dystopia dalam film animasi Wall-E yang meredefinisikan interaksi antar manusia, terhubung satu sama lain lewat jaringan komputer. Dunia maya menjadi persinggahan baru yang mengasyikkan yang terkadang membuat orang lupa akan dunia tempat bumi yang sebenarnya berputar. Ketidakmampuan orang tua dalam memaknai kedua kata tersebut sekarang mengarahkan pada komunikasi yang buruk, berujung pada kondisi anak yang menyerap segala hal yang belum pantas untuk diserap. Penyimpangan seks hanya sebagian dari akibat itu dan menurut saya menjadi prioritas utama dalam kegundahan modernitas. Padahal kemampuan berkomunikasi yang baik adalah tugas utama orang tua kepada anaknya. Kesiapan menjadi orang tua sangat perlu diperhatikan oleh siapapun. Bagi saya kini kesiapan mental untuk menjadi orang tua dan membesarkan anak tidak hanya sebatas kemampuan dalam menjawab pertanyaan anak tentang bagaimana seorang bayi dilahirkan, namun lebih dari itu, bisa jadi lebih seksual. Dan yang pasti, untuk menciptakan talk dan connected tidak hanya sebatas ranah maya.

Ada banyak spekulasi mengenai peradaban di masa depan. Ada yang meramalkan bahwa “kiamat” tahun 2012 adalah tentang berakhirnya dunia informatika. Ada juga yang menyebutkan bahwa kecepatan teknologi akan semakin tidak tersentuh. Saya tidak mendukung dan terlalu memikirkan kemungkinan tersebut. Titik berat adalah tentang bagaimana manusia dapat lebih bijak dalam menanggapi perubahan. Setelah waktu dan uang kini bergantian memperbudak manusia, bukan tidak mungkin teknologi semakin memperparah “perbudakan” ini. Jaman pasti akan berubah, cepat atau lambat, dan hanya mereka yang siap yang akan bertahan. Tentu saja, nada bicara ini mengarah pada manusia Indonesia.

Jumat, 04 Februari 2011

Pre


 "To Live is the Rarest Thing in the World. Most People Exist, That is All."

(Oscar Wilde)
“Don’t Judge A Book by Its Cover” sebuah pepatah mengatakan. Dalam kehidupan sosial, esensi kalimat tersebut begitu penting sampai ke taraf “familiar” di telinga orang-orang. Saya sendiri diingatkan lagi oleh bunyi pepatah tersebut dari mulut Tukul Arwana di acara talk show-nya. Termasuk sering ia menyelipkan kata-kata itu di antara lelucon-lelucon yang ia lontarkan. Dan ngomong-ngomong tentang Tukul, saya rasa dia telah cukup jauh mendalami makna dari kalimat mantra itu lewat pengalaman perasaan yang panjang atas bagaimana dia dilihat oleh orang lain, dari bibir sampai ke kaki, sehingga saat mengatakannya, suaranya tidak terdengar terlalu aneh. Malahan terdengar seperti perisai eksistensi yang sangat efektif dan subjektif baginya. Semacam pembenaraan terhadap ketidaksempurnaan yang sebenarnya ia akui juga. Ah, belum apa-apa saya sudah melakukan judge. 

Tapi tak ada salahnya melakukan judge. Toh, itu sudah menjadi bagian dari manusia. Panca Indera, akal, perasaan, bahkan alat vital, semuanya adalah perangkat untuk judge. Kata sifat telah bergaul dengan kita sehari-hari, diperkenalkan dari sejak kecil, tentang bagaimana sesuatu itu indah dan bagus, buruk dan jelek, semata-mata untuk mengasah kemampuan dalam men-judge segala hal. 

Lalu kiasan tadi muncul, tentang buku dan sampulnya. Menegaskan bahwa sesungguhnya yang terlihat bukanlah yang terlihat. Bahwa manusia jauh lebih kompleks daripada sebuah lukisan, atau setangkai bunga, atau rasa makanan. Bahwa kata sifat tidak semudah itu dipasangkan dengan manusia. Bahwa semuanya adalah salah! Bagaimanapun juga panca indera kita tidak selalu bisa dipercaya. Dan kalimat  “Don’t Judge A Book by Its Cover”  berhenti di tengah-tengah tanpa memberikan solusi untuk pertanyaan selanjutnya: “Lalu bagaimana?”

Manusia berkali-kali menipu saya.  Penampilan luar lihai memainkan ilusi. Tak jarang perbuatan dan tingkah laku pun sama saja daya tipunya. Busana yang dulu mencirikan sebuah identitas kini tidak lebih hanya rekayasa pencitraan. Gerak-gerik  juga termanipulasi. Murah senyum, bertutur sopan, berwajah elok, semuanya tidak lebih dari kata-kata yang dituliskan dalam CV riwayat hidup, kalau memang yang seperti itu ada.

Tak ada yang lebih baik bagi saya (setidaknya sampai saat ini) untuk menilai manusia dari motifnya, niatnya, alasannya, raison d’etre-nya dalam melakukan sesuatu atau dalam menjadi sesuatu. Karena segala yang terlihat bisa bermuslihat  maka yang tak kasat tak mungkin berkhianat. Jalan pikiran manusia adalah mahluk yang paling jujur, lebih jujur daripada cermin dalam urusan identifikasi diri. Kemampuan manusia dalam mengutarakan alasannya terhadap segala hal yang berkenaan dengan dirinya atau yang di luarnya adalah hal yang bisa saya nilai.

Setelah membaca buku Eating Animals karya Jonathan Safran Foer,  kritik terhadap perilaku manusia didasarkan pada dua hal, yakni kesadaran dan kebiasaan. Kedua hal tersebut berhubungan langsung dengan jalan pikiran manusia. Tak sulit juga menemukan bahwa kebiasaan kadang lebih mendominasi dalam keseharian. Tidak ada yang salah dengan itu, karena kebiasaan juga hasil dari proses nalar namun yang menjadi soal adalah ketika kebiasaan itu memiliki makna lain yaitu ketidakpedulian. 

Ketidakpedulian yang dimaksud adalah mengenai bagaimana seseorang melumpuhkan arus kesadarannya sendiri untuk mengisinya dengan pengaruh lain di luar kesadarannya. Lama-lama kesadaran eksternal ini memadat ruang-ruang yang tadinya kosong dan menjadi pusat kendali dari setiap instrumen dalam diri manusia. Sehingga hasilnya menjadi aktivitas “bertindak secara otomatis”. Seperti mesin yang telah diprogram. Atau sekumpulan lemur yang meloncat ke jurang.

Akhir-akhir ini, dalam interaksi verbal saya dengan orang-orang, saya selalu mengambil posisi sebagai penanya. Dan dari semua kata tanya yang diajukan, kata “kenapa” selalu membuahkan reaksi kening berkerut, diam sejenak, berpikir, membayangkan, bertanya balik, atau menggelengkan kepala, dan lain sebagainya dari orang yang saya tanya. Jauh lebih rumit daripada bertanya “apa”, “di mana”, dan “bagaimana”, yang biasanya langsung mendapat jawaban. Dari sinilah saya berpikir tentang cara baru untuk men-judge seseorang terlepas dari gaya elegan atau rupa yang elok. Karena ketika seseorang menjawab pertanyaan “kenapa” saya merasakan orang tersebut tengah menunjukkan dirinya secara jujur. Memang orang bisa saja berbohong saat mengutarakannya, tapi alasan yang tak masuk akal juga mampu menunjukkan (sedikitnya) siapa (atau bagaimana jalan pikiran) orang yang diajak bicara.

Ketika seorang teman mengungkapkan pendapatnya tentang hidup (atau masa depan) dengan merujuk pada saya bahwa yang harus saya lakukan adalah: “Kerja, dapet duit, terus nikah, udah deh...” seketika muncul pertanyaan tentang apa yang orang-orang lakukan dalam hidup ini. Apakah karena kesadaran atau karena mengikuti apa yang sudah dilakukan atau mungkin sebut saja kebiasaan yang diwariskan turun-temurun?

Arus nir-kesadaran ini cukup sering terjadi dan terbentuk. Seperti kenapa seseorang menikah? Karena sudah saatnya (lalu bagaimana dengan cinta?). Kenapa seseorang bekerja? Untuk mencari uang (lalu bagaimana dengan proses aktualisasi diri untuk berkarya?). Kenapa seorang Muslim sholat 5 kali sehari? Karena wajib (kenapa wajib?). Kenapa harus bersekolah? Kenapa harus ikut pemilihan umum? Kenapa harus mendengarkan khutbah Jumat (kalau seringkali menjemukan dan kurang inspiratif)? Kenapa harus pergi ke mall? Kenapa harus makan sayur-mayur? Kenapa harus punya akun Facebook atau Twitter? Kenapa harus pacaran? Pliss deh, hari gini gak punya pacar...

Maka dari pertanyaan “kenapa” itu saya bisa sedikit menerapakan pernytaan don’t judge a book from its cover, atau don’t judge a facebook account from its profile picture, atau don’t judge a movie from its trailer, dan lain-lain. 

Jadi kalau kebetulan kita mengobrol dan saya mulai bertanya “kenapa” lebih baik jangan berpikir untuk sembunyi atau berbohong. Karena setiap kata yang keluar bisa jadi telah terekam di kepala. Dan setiap jawaban akan diberi penilaian. Apapun itu bisa mencerminkan pribadi seseorang bahkan saat orang tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya sekalipun. Karena tidak ada istilah ‘saya tidak tahu’, yang ada adalah ‘saya tidak peduli’.

Kamis, 16 Desember 2010

Loudspeaker

"Listen to Many,
Speak to A Few"

(William Shakespeare)
Hari Selasa 20 April 1999. Waktu belum juga menunjukkan tengah hari di Columbine High School, sebuah sekolah menengah di distrik Colorado, Amerika Serikat. Di dalam ruang kafetaria yang dipenuhi para remaja dengan santapan di atas meja serta cengkerama yang masih hangat, Eric Harris dan Dylan Klebold datang sebagai pusat perhatian. Tidak seperti biasanya, di tangan mereka adalah senjata api semi-otomatis penuh oleh peluru yang siap ditembakkan. Dan tentu saja, mereka tidak memperingatkan orang-orang di sana terhadap aksi brutal dan nekat mereka, melainkan langsung memuntahkan peluru-peluru itu tanpa rasa bersalah. Dari sana, mereka beranjak ke lorong kelas, pintu masuk Barat, dan perpustakaan ─ peluru-peluru itu terus memberondong  diselingi suara tangis histeris khas kepanikan. Total 13 orang tewas dan 21 lagi luka, semuanya tercipta dalam paket 30 menit pembantaian.

Ketika semuanya berakhir, yang berikutnya muncul adalah sorotan dunia. “Motif” adalah selebriti yang paling dicari-cari. Beberapa telah meneliti, menelaah, dan akhirnya menyimpulkan dorongan-dorongan setan yang mungkin muncul di balik kepala dua remaja tersebut. Secara ringkas, yang dipersalahkan adalah bullying, psikopat, depresi, pengaruh video game, kekerasan dalam film, dan musik provokatif. Untuk alasan yang terakhir, muncullah nama Marilyn Manson. Seorang bintang rock yang kerap kali muncul dengan imej Goth serta lirik-lirik berfaedah nihilisme. Publik yang berduka, publik yang sakit hati, publik yang cemas, dan publik yang marah, serempak mengarahkan telunjuk padanya. 

Sementara itu Michael Moore, lelaki dengan badan tambun yang seiring dengan nyalinya untuk melawan pemerintah, membedah kasus ini dengan pisau perspektif yang lain. Ia menyerang pemerintah sebagai dalang tidak langsung yang telah menciptakan panggung kekerasan di masyarakat lewat berbagai kebijakan yang menyangkut perang, pasokan senjata, serta kelonggaran akses senjata dalam ranah kehidupan sosial. Ia membuat film dokumenter “Bowling for Columbine”  sebagai senjatanya dalam menyorot permasalahan tersebut. Dan cukup sukses, setidaknya dengan ganjaran Piala Oscar.

Lalu dalam film tersebut keduanya bertemu, Moore dan Manson. Dalam upayanya untuk meraih semacam titik cerah dari berbagai tuduhan dan prasangka, Moore mewawancarai Manson di sela-sela turnya. Mungkin bagi kebanyakan orang, prosesi ini adalah saat yang tepat di mana Manson mengungkapkan penyesalannya dengan meminta maaf  dan ─terutama bagi kalangan religius, ia bertobat. Namun pada hakikatnya ekspektasi manusia memang selalu salah sasaran.

Moore: “If you were to talk directly to the kids at Columbine or the people in that community, what would you say to them if they were here right now?”
Manson: "I wouldn't say a single word to them. I would sit down and listen to what they have to say, and that's what no one did."

Pada akhirnya, ia jadi masuk akal, dan pada level tertentu ─ diterima.

Dalam lima kata terakhir yang Manson ucapkan pada petikan wawancara tersebut, serta-merta ia mengembalikan ribuan tuduhan itu pada si empunya dengan elegan. Dari balik gesturnya yang pongah terbesit kebijaksanaan yang telah selama ini dikira retak, semacam sikap lapang yang menyulap koar-koar menjadi keheningan. Khidmat dan mengintimidasi. Yang tersudut sekarang berdiri di tengah panggung. Kali ini tidak menggenggam mikrofon, namun diam dan hadir sebagai mereka yang berbeda, mereka yang perlu didengar. Secara tak kasat mata ia mengajukan klausul tuntutan pada kehidupan sosial.

Lewat “aksi”-nya tersebut, selayaknya kita sedikit menengok. Sebuah gambaran pernah diutarakan oleh Stephen Hawking: “For millions of years mankind lived just like the animals, then something happened which unleashed the power of our imagination. We learned to talk.” Tak tersangkal lagi bahwa sejak awal sejarah manusia adalah sejarah oral, sejarah bahasa yang membimbing peradaban pada garis evolusi. Sehingga terdeklamasikan dengan jelas bahwa kemampuan bicara merupakan garis batas yang mempertegas kemuliaan manusia di antara mahluk lainnya. Dengan mulutnya, bahasa dilontarkan dalam teriakan, dirumuskan dalam artikulasi, bahkan secara artistik, dinyanyikan dalam nada.

 Keutamaan tersebut pada perjalanannya telah menguak sifat abai dari manusia di mana acapkali manusia bicara namun lupa untuk mendengar. Di era sekarang, era kecepatan informasi, ruang-ruang diciptakan untuk memberikan keleluasaan gerak bagi manusia untuk bicara, mengutarakan, dan berpendapat. Dengan kaburnya batas-batas teritori dan ideologi, kebebasan berbicara menjadi otoritas yang tidak dapat dibantah. Peluru lain yang dilumasi adalah gelegar kapitalisme yang melandasi falsafah manusia modern tentang eksistensi, bukan yang dulu disebutkan oleh Rene Descartes atau Sartre, namun lebih ditekankan kepada “apa yang tampak”, dan benar-benar harfiah. Lalu kemudian, apa yang disebut sebagai era kebebasan itu kini justru secara kontradiktif hanya mampu mengelompokan masyarakat ke dalam dua kondisi yaitu keseragaman (uniformity) dan keterasingan (alienation). Atau yang dulu pernah disebut sebagai mayoritas dan minoritas. Dan dalam konteks yang lain menjadi pembicara (speaker) dan pendengar (listener).

Disadari atau tidak, kecemasan akan penerimaan dan pengakuan telah menjadi jurang ketakutan yang menganga lebar-lebar di hati manusia jaman sekarang. Betapa untuk terhisap ke dalamnya adalah sebuah mimpi buruk tentang pengucilan di mana gerigi sosial siap melumat. Maka hukum pun ditetapkan, secara tersirat mengumandangkan janji mesiah bahwa keselamatan adalah bagi mereka yang sama, bagi mereka yang mengangguk, setuju, dan menerima. Berdiri dan memutar haluan adalah tindakan anarkis, perilaku kafir yang hanya bisa ditolerir oleh pandangan sebelah mata. Gejala ini diistilahkan oleh Fredric Jameson sebagai a singular modernity.  

Perlu dipahami bahwa terdapat sebuah titik di mana kemampuan berbicara menjadi penyimpangan terhadap perkembangan kehidupan manusia. Di titik ini ketulian menjadi kecenderungan karena saking pekaknya suara yang masuk. Kodrat manusia ketika dilahirkan adalah mereka mendengar terlebih dahulu sebelum akhirnya mampu berbicara namun kemudian manusia justru banyak bicara dan lupa mendengar. 

Demokrasi, pantas dijadikan contoh praktis sebuah gagasan yang disalahartikan. Pemaknaan sebagai kebabasan untuk berbicara yang disematkan padanya telah mereduksi nilai lain yang seharusnya tidak boleh dipisahkan, yaitu kemampuan yang baik dalam mendengar. Demokrasi, setidaknya di negeri ini, berubah menjadi arena yang bising nan ramai tentang bagaimana setiap alternatif diperbincangkan. Layaknya sindiran yang pernah diutarakan Bob Dylan tentang negeri yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak pernah mendengarkan musik, demokrasi yang tuna rungu adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan ini semua bermula dari spektrum yang lebih kecil: kemampuan seseorang atau masyarakat  dalam mendengarkan gelombang infrasonik di sekitarnya serta nilai dasar yang dianut dalam memperjuangkan persamaan, bukan keseragaman. 

Manson memang tidak menyampaikan ide mengenai sikapnya terhadap kedua siswa pembunuh tersebut, ia tidak memberikan pandangan tentang benar dan salahnya tindakan pembantaian itu. Walaupun demikian, ia menunjukkan apa yang luput dilakukan oleh masyarakat atau juga yang terlewatkan oleh Erik dan Dylan. Di satu sisi, di dalam SMA Columbine di hari berdarah tersebut keduanya telah berhasil membuat dunia menoleh dan mendengarkan lewat “karya”-nya. Namun setelah itu, dunia luar tidak akan lagi memasang telinganya melainkan menghakimi. Karena itulah, di dalam perpustakaan yang berantakan, mereka menikmati butir peluru bersama-sama masuk ke dalam batok kepala masing-masing, lalu dengan tenang menghujam bumi, bersimbah darah dan asap yang menguap. Petualangan mereka telah selesai.

Selasa, 05 Oktober 2010

Terima Kasih dalam Huruf Kapital 'T' dan 'K'


"If  the only prayer you say in your life is 'Thank You', that would suffice."

(Meister Eckhart)

Saya terkesima, ketika di permulaan malam beberapa hari yang lalu saya mendapati diri tengah mengantri di depan kasir di dalam sebuah toko buku di Bandung. Di depan saya, berdiri seorang ibu yang tengah menyaksikan petugas kasir mencatat harga buku-buku yang dibeli olehnya. Ibu itu tidak sendirian, ia ditemani oleh dua orang anaknya, kakak-beradik, keduanya perempuan dan keduanya masih kecil, sang kakak mungkin duduk di kelas 2 SD sementara usia adiknya berada di antara usia pra-sekolah dan TK nol kecil. Sekian detik lewat, proses transaksi berhasil dirampungkan lalu akhirnya si ibu menerima buku-bukunya itu tersimpan di dalam kantong plastik bergambar logo toko buku dan langsung menyerahkannya pada si adik. Kedua anak itu tampak senang dan saya menyaksikan si ibu dengan raut bahagia dihiasi senyum, berujar tanpa ragu: “Alhamdulillah.” Kembali lagi ke awal paragraf, saya terkesima.

Perasaan yang terkumpul di dalam hati saya bukanlah sebuah kekaguman atas ucapan “Alhamdulillah” semata. Tapi lebih jauh lagi, adalah tentang bagaimana si ibu tadi mengucapkan kata tersebut lengkap dengan mimik muka yang menampilkan ekspresi syukur yang tulus, kelegaan menyejukkan yang membuat saya ingin menekan tombol rewind. Di satu sisi, itu menjadi semacam tonjokan bagi saya yang termasuk orang yang menghargai pentingnya buku ─bukan karena harganya atau tampilan fisiknya─ sebagai produk budaya yang menandakan peradaban manusia, tak pernah sekalipun mengingat terucap rasa syukur sehabis melakukan transaksi di kasir, atau sehabis menutup lembar terakhir di buku, padahal saya menyadari benar apa yang saya dapatkan dari buku. Maka setelah ibu itu pergi dan giliran saya menerima bingkisan kantung plastik dari penjaga kasir, saya mengucapkan “Alhamdulillah” di dalam hati dengan ekspresi tingkat pemula.

Momen tersebut telah menyeret saya ke dalam pergumulan yang lain, yang bisa saja disebut melebar ke mana-mana tapi berinti pada satu titik yang sama. Beberapa hari setelah itu, entah kenapa saya berpikir bahwa Tuhan pada dasarnya adalah konsep”manipulasi” pikiran manusia terhadap kekuatan dahsyat yang absolut yang mana manusia merasa aman dengan mempercayai-Nya. Bukan, ini bukan cara saya menunjukkan iman atheis karena saya sangat mempercayai keberadaan Tuhan. Tapi pernyataan tersebut lahir dari perenungan jika saya bertanya pada 100 orang tentang apa itu Tuhan bagi mereka, maka bukan tidak mungkin saya akan mendapat 100 jawaban yang berbeda yang masing-masing menyiratkan versi Tuhan yang pas, sesuai dengan kriteria tiap orang. Sehingga imej Tuhan adalah sebuah proyeksi dari seseorang yang sifatnya tentu saja personal dan ini mempengaruhi tindak-tanduk orang tersebut terhadap Tuhan-Nya itu, Tuhan yang ia percayai dalam wujud-Nya, sifat-Nya, karakter-Nya, dan bahkan kekuasaan-Nya. Orang pesimis percaya bahwa bencana alam adalah tindakan Tuhan dalam kemurkaannya yang maha hebat atas dosa-dosa yang diperbuat, sedangkan orang optimis percaya bahwa bencana yang menimpa dirinya adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang Maha Pengasih yang sedang menguji kesabarannya demi meraih kemuliaan yang lebih tinggi. Keduanya tidak salah. Dalam kitab suci Tuhan pernah diceritakan murka terhadap manusia (banjir Nuh yang melegenda itu) dan bukan rahasia umum bila Tuhan memiliki kadar kasih sayang yang tak terhingga untuk mahluk-mahluk-Nya. Siapa itu Tuhan bergantung pada siapa yang mengatakan apa tentang Tuhan.

Lalu di manakah peran si ibu tadi dalam tulisan ini? Saya berpikir bahwa bagaimana seseorang “memperlakukan” Tuhan mencerminkan apa yang dia percaya tentang-Nya dan ini menjelaskan secara langsung hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Ketika saya menjalankan ibadah muslim seperti sholat 5 kali sehari, puasa, berdoa, atau melantunkan zikir di dalam hati, saya menyadari bahwa hubungan vertikal saya adalah tentang menyembah Dia yang di atas sana. Dalam sholat saya tunduk dan bersujud, dalam puasa saya melemahkan diri, dan dalam doa saya merasa pasrah atas Tuhan yang Maha Besar, yang mampu merubah manusia menjadi cecurut dan juga sebaliknya. Saya adalah serpihan debu mikroskopik yang sangat sangat kecil dan tidak berdaya. Rapuh, telanjang, dan mudah pecah-belah. Saya memandang Tuhan persis seperti yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, sebagai refleksi sosok ayah yang ideal dengan perangkat maskulinitasnya. Saya menjalani ibadah tersebut dalam kepatuhan yang khidmat sampai akhirnya semuanya menjadi rangkaian rutinitas yang digerakkan oleh mekanisme terpogram yang tidak berubah. Saya merasakan kejenuhan, kemalasan, dan terlebih lagi, perasaan kosong dalam setiap kegiatan ibadah yang saya dirikan. Saya merasakan proses sembah-menyembah yang saya jalani telah memposisikan Tuhan sebagai seorang raja adidaya, pemimpin segala pemimpin, komandan terhormat, zat yang selalu mempertontonkan “ke-Maha-Besar-an-nya” setiap waktu, dan entah kenapa itu semua membuat saya gerah. Ketundukan saya tidak beralasan dan saya mulai bertanya kenapa Tuhan merasa perlu untuk terus “menakut-nakuti” saya dengan kekuasaannya hanya untuk membuat saya menyatakan iman pada-Nya? Bukankah itu yang juga dilakukan oleh Hitler? Stalin? Darth Vader? Bahkan Fir’aun?

Dan di sinilah si ibu tadi berperan. Ketika ia mengucapakan kalimat syukur itu, saya terkesima, dan di bawah pancaran lampu neon yang menaburi kepala saya, saya mendapat pencerahan bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan bukan lagi sebuah konsep kepatuhan atau ketertundukan tanpa syarat, bukan sebuah pertalian keimanan yang diikat dengan sumpah “Aku beriman” atau “Aku berjanji”, melainkan dengan “Aku bersyukur”, “Aku berterimakasih”, atau “Alhamdulillah”; sebuah proses bersyukur tanpa henti sepanjang hayat. Kalau boleh berimajinasi, ketika seseorang bersumpah dengan mengucap “Aku berjanji”, yang terpancar di wajahnya adalah semacam raut ketegasan nan serius akan sebuah komitmen yang tinggi, sedangkan raut wajah yang mengucap “Aku bersyukur” adalah sebuah senyum ikhlas penuh kasih sayang, persis seperti ekspresi yang dipertontonkan si ibu tersebut. Dan menurut saya, tidak ada yang lebih menyejukkan selain kenikmatan menyebut nama Tuhan dengan senyum ketimbang menyebut-Nya dengan getaran ketakutan khas manusia inferior. Sudut pandang saya terhadap Tuhan berubah dan ini membantu saya untuk mengenang masa lalu yang telah saya lalui, yang dalam tawa maupun kesedihan yang terkandung di dalamnya, mampu membangkitkan perasaan syukur karena telah melalui semuanya itu.

Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk diutarakan dalam perspektif seorang muslim walaupun berangkat dari kata “Alhamdulillah”, namun secara lebih luas saya mengemukakan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah hubungan timbal-balik macam korporasi atau hubungan antara yang lemah dan yang kuat yang berlandaskan pada perintah dan larangan semata dengan pahala dan dosa sebagai konsekuensinya, melainkan sebuah seni perilaku dalam memaknai keindahan yang ada di mana Tuhan berperan sebagai si pemberi sedangkan manusia sebagai si penerima, dan akan terus seperti demikian sepanjang masa, oleh karenanya berterimakasihlah. Perasaan tersebut bagi saya telah mereduksi rasa ketakutan berlebihan atau semacam neurotik yang tidak hanya tertuju pada Tuhan saja tetapi juga pada kehidupan saya sehari-hari karena terpatri di dalam kepala potongan trailer berjudul Surga di Kanan, Neraka di Kiri. Kepatuhan yang ditimbulkan dari rasa takut membuat saya tidak mampu merasakan hidup yang seutuhnya karena terbatasi oleh regulasi dan rambu-rambu yang mengikat kuat. Dengan cara bersyukur, yang saya rasakan dalam hidup adalah keterbukaan untuk memandang sesuatu dari sisi baik dan buruknya dikaitkan dengan manfaatnya bagi kehidupan saya. Dengan sikap ini, berarti saya menetapkan value pada diri saya sendiri yang didasarkan pada apa yang Tuhan telah berikan pada saya. Saya berpendapat bahwa ketika Ibrahim menghancurkan berhala-berhala di kotanya yang ia hancurkan bukanlah wujud berhala tersebut yang dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Tuhan, melainkan konsep penyembahan itu sendiri yang terkesan seperti interaksi antara budak dan raja. Sehingga jaman sekarang, saya mengatakan bahwa kepatuhan semacam ini walaupun dilakukan terhadap Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim, adalah sebuah bentuk pemberhalaan jenis baru karena makna Tuhan telah dibiaskan dengan penguasa. Pemberhalaan semacam inilah yang membuat manusia melakukan teror terhadap manusia lain yang mereka pikir tidak disukai oleh Tuhan-nya. Bom sana, bom sini. Ledakan di mana-mana sambil mengagungkan kebesaran Tuhan. Mengerikan sekaligus menyedihkan.

Saya akui ini membuat hubungan saya dengan Tuhan tidak lagi terlalu kompleks. Dia sebagai yang tidak terjangkau tidak lagi menjejali kepala saya. Suatu hari, mungkin saya bisa mengucapkan dengan ketulusan yang sama dengan ibu itu kata “Alhamdulillah” atas apa yang telah terjadi dalam hidup. Menjadi orang yang merasa paling berbahagia dalam hidup merupakan salah satu cita-cita yang paling luhur, bukan?