Tampilkan postingan dengan label blah blah blah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blah blah blah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

Airbag Was Made For Homo Sapiens


 "A rat in a maze is free to go anywhere, as long as it stays inside the maze."

(The Handmaid's Tale, Margaret Atwood)
Dengan Waktu yang masih terus berjalan sambil meninggalkan di belakangnya jarak-jarak sejarah sebanyak yang bisa diingat oleh manusia ―lalu bumi dan karirnya yang monoton dalam mengelilingi matahari selama jutaan tahun― maka sekarang, tidak ada lagi yang tersisa dari kehidupan ini untuk dibicarakan karena semuanya sudah pernah dikatakan. Semua hal sudah diucapkan.

Ide-ide besar telah disampaikan, baik dengan dibisikkan maupun diteriakkan. Diantaranya bicara tentang revolusi, inovasi, atau ambisi tinggi untuk menaklukkan dunia. Ide-ide hebat telah selesai diceritakan, tentang penemuan, pencapaian, sampai penjelajahan menuju ruang angkasa yang tak berbatas. Ide-ide rumit mengenai filosofi, ilmu pengetahuan, dan Tuhan telah habis disabdakan dari masa ke masa. Ide-ide yang mustahil sudah pernah diumumkan, tentang masa depan, tentang langit di atas langit, sampai tentang dunia lain yang akan muncul setelah kematian datang. Pun demikian dengan ide-ide buruk tentang perang besar, kematian massal, dan kiamat yang akan meluluh-lantakkan apapun pernah ada, semua itu sudah diumumkan berulang-ulang kali.

Dan dengan kondisi tersebut, maka apa lagi yang masih tersedia untuk dibicarakan oleh manusia di peradaban baru ini? Di tepi zaman di mana semuanya sudah pernah dilakukan dan terjadi, di dalam koridor kehidupan yang mengarah kepada dinding buntu di mana kata-kata habis ditelanjangi oleh maknanya sendiri, tidak ada lagi yang bisa dibicarakan di sini selain tentang kesepian. Kesendirian. Keterasingan yang kita dandani di atas panggung interaksi.

Kita adalah produk terakhir dari pabrik peradaban modern dan kita telah dilengkapi dengan sistem autopilot. Kita ―tipe terbaru dari “kesadaran dalam kemasan”, dengan sensor dan radar untuk mengidentifikasi makna baru dari eksistensi― hidup dalam takdir versi 2.0 bahwa manusia terlahir sebagai mahluk terasing, bukan lagi sebagai mahluk sosial. Maka dalam interaksi, kebutuhan primer kita adalah untuk secara pasif diperhatikan, disadari, dikomentari, dan kebutuhan untuk dibutuhkan yang kesemuanya dilandasi atas nama citra. Dan pencitraan, itulah nama dari program di kepala kita yang membuat kita semua secara otomatis hidup dalam konsep-konsep pemasaran diri.    

Manusia telah menjadi subproduk; produk dari produk yang diciptakan oleh manusia lain dan interaksi kita adalah sebuah bentuk promosi. Cara kita berinteraksi sekarang ditentukan oleh medium yang digunakan dan karena itu kita telah terstruktur, terkonstruksi, ter-sintaks oleh karakteristik dan bentuk dari medium tersebut. Kita teridentifikasikan oleh media interaksi yang kita pakai untuk berkomunikasi dengan satu sama lain dan itu sebabnya interaksi lebih menyerupai tindakan mempromosikan media atau produk yang telah “menciptakan” kita sebagai produknya sendiri. Kita adalah agennya, staf-nya, salesman untuk gaya hidup alienasi massal yang telah termodernisasi.   

Maka kita bisa bangga tercipta sebagai mahluk terasing karena kita hidup di waktu yang tepat, saat bumi sudah miliaran kali berputar dan semuanya sudah pernah dilakukan. Di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dibicarakan selain kenihilan, ketidakbermaknaan, kekosongan. Namun begitulah kita berbicara sekarang, berkomunikasi, berinteraksi dengan sesama. Kenihilan adalah sesuatu yang “menjual”, menghibur, ringan, adiktif, menarik untuk dibicarakan, menyenangkan, menyegarkan, mencerahkan, sebagai bahan bakar utama dari mesin yang menggerakkan kebutuhan manusiawi kita untuk berinteraksi. Itulah yang kita punya, sebagai modal dari proyek bisnis besar yang disebut peradaban. Hanya itu yang bisa kita bagi dan hanya itu yang tersisa sekarang. Yang lainnya sudah pernah dibicarakan.

Tidak ada lagi ide-ide besar yang tersisa…
(dan menunggu terasa membosankan).

Senin, 23 April 2012

Narasi Adiksi

 "So play the game 'Existence' to the end, of the beginning..."

(Tomorrow Never Knows, The Beatles)

Seperti ketika memeriksa daya penglihatan di ruang klinik mata di mana pasien dipersilahkan duduk tegak untuk kemudian menatap dan menyebutkan apa yang saja yang bisa ia lihat beberapa meter di depannya, pertama-tama pasien akan diuji dengan mata telanjang. Lalu si pemeriksa akan menanyakan, apa yang anda lihat di depan anda ─ sekarang? Coba sebutkan! Kemudian setahap demi setahap pasien dipakaikan kacamata dengan berbagai jenis lensa sampai semuanya bisa ia lihat dengan lebih jelas dan nyata. Lihat semuanya... dengarkan bagaimana orang-orang menyebut kehidupan sekarang sebagai era teknologi, era informasi, era wireless, era dunia maya, era media sosial, era web 2.0... tapi dari balik lensa kau melihatnya... ini adalah era adiksi... ketika manusia berubah menjadi stopkontak. Lucu bagaimana rokok, pil ekstasi, bubuk kokain, heroin, berubah bentuk menjadi lebih futuristik... menjadi layar dan tombol... dihisap, ditelan, dihirup, disuntik... dirangkum ke dalam satu cara, dicolokkan... karena stopkontak tidak akan memiliki esensi bila tidak dicolokkan oleh sesuatu... dan demikianlah eksistensi manusia sekarang... babak baru dari peradaban... selamat datang zat adiktif baru... selamat tinggal teori evolusi Darwin... kita adalah sesuatu yang harus dicolokkan untuk hidup, untuk menjadi manusia seutuhnya. Mungkin terdengar konyol, manusia menjadi stopkontak... tapi lihatlah lebih dalam lagi... dengan lensa yang paling presisi... maka pasien bisa melihat dengan lebih jernih apa yang ada di hadapannya... susunan huruf... berbentuk Y, diikuti O, lalu U. Dan kini kau bisa membacanya dengan jelas.   

Sabtu, 31 Maret 2012

Sirkus Kratos


 "You do it to yourself, you do, and that's what really hurts."

(Just, Radiohead)

Tidak ada yang spektakuler dari apa yang terjadi kemarin, semuanya sudah bisa saya tebak, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya karena tidak ada yang berubah dari manusia Indonesia. Begitu pun dengan skeptisisme saya yang terutama ditujukan kepada generasi penerus bangsa, atau yang dengan kehormatan mendapat sebutan sebagai agen perubahan, dan sehari-harinya hidup sebagai mahasiswa, baik yang diamini oleh mereka sendiri ataupun yang tidak.

Semuanya berawal dari berita yang begitu memanjakan mata dan telinga di sepanjang hari dan kemudian bagaimana rentetan berita tersebut memelintir perasaan saya sebagai orang yang menjulurkan lidah kepada pemerintah (atau kepada segala bentuk otoritas di Negara ini, sebagai bentuk dari empati yang bisa saya berikan) dan sekarang ditambah dengan acungan kepalan tangan saya kepada mahasiswa. Segala bentuk kekerasan, penghancuran, dan anarkisme yang mereka tunjukkan benar-benar membuat mata ini kelilipan berkali-kali. Mereka turun ke jalan, berarak-arakan, berteriak di depan megaphone, dan semuanya terlihat seperti performance art yang penuh dengan simbol-simbol tidak penting. Jika saya jurinya saya akan mengacungkan papan nilai di atas 7 untuk aksi dan di bawah 4 untuk substansi.

Yah, sebenarnya mereka bebas bertindak apapun. Tapi yang saya garisbawahi adalah ketika mereka muncul sebagai ikon yang mewakili rakyat. Siapa yang melegitimasi status tersebut? Terutama lagu untuk mahasiswa zaman sekarang, pemuda-pemudi zaman sekarang, benang apa yang menghubungkan mereka dengan rakyat sementara mereka dengan seenaknya merusak dan membakar fasilitas umum, dengan pelampiasan yang berlebihan  (dan terjustifikasi oleh momen), dengan cara yang barbar dan mengesampingkan intelektualitas yang sejatinya menjadi sikap yang mampu dihormati oleh kalangan lain? Lucu sekali, bagaimana bisa penyumbang presentase terbanyak di angka seks di luar nikah, pelaku aborsi, pengakses situs porno, penikmat obat terlarang, penghuni aktif dunia maya, target pasar peradaban konsumtif, dan pembaca buku yang pasif, merasa mampu mewakili suara rakyat Indonesia dengan demonstrasi yang tak terarah dan terkonsep dengan baik. Harus diakui bahwa zaman sekarang mahasiswa bermental hedonis lebihbanyak jumlahnya daripada yang memiliki idealisme tertentu, sehingga jika kita melihat mahasiswa mulai turun ke jalan, tidak ada perubahan yang bisa diharapkan selain status online mereka.

Memang penilaian ini tidak bisa dilepaskan dari citra yang ditampilkan oleh media (terutama pemilik medianya), saya tidak menampik bahwa ada juga sebagian lain dari mahasiswa yang menyalurkan aspirasinya dengan cara yang patut dicontoh, namun faktanya adalah sebagian besar demonstrasi berakhir ricuh dan di mana ada kericuhan di situ ada mahasiswa. Dan dari cara-cara yang mereka tunjukan itu, saya jadi yakin bahwa mahasiswa sekarang akan lebih fasih untuk menyuarakan kegalauan kehidupan percintaan pribadinya ketimbang menyuarakan hal yang lebih “berat” dan berkontribusi untuk mendandani wajah pribadi. Tidak seperti dulu lagi. 

Lalu televisi menayangkan siaran langsung di ruang rapat dewan. Dari performance art, pertunjukan berubah menjadi sirkus. Ah, terlalu banyak dan terlalu familiar jika harus saya kemukakan semuanya, saya hanya akan mencatat satu hal, bahwa hujan interupsi adalah polusi suara paling maksimal yang tidak bisa saya tolerir. Dan lagi-lagi interupsi itu pun mengatasnamakan suara rakyat.
 
Cara mereka bersidang memberi contoh yang kurang tepat bagi rakyat mengenai bagaimana proses pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan masa depan Negara diambil. Perilaku seperti itu di peradaban modern sekarang tentunya bisa digolongkan sebagai tindakan pre-historis yang membuat saya merasa dikibuli karena kalau memang demikian caranya berpendapat (dengan tidak mengindahkan nilai-nilai etika bermusyawarah dan perilaku disiplin yang mencerminkan kehormatan seseorang) maka untuk apa perlu diadakan kampanye dan pemilihan wakil rakyat, toh siapapun yang terpilih dan duduk di ruang rapat pasti hasilnya akan sama saja, intelek atau tidak.

Di ruang itu semuanya bobrok dan saya tidak melihat apapun yang dilakukan atas nama rakyat, semuanya murni terselip kepentingan politik baik yang terlihat maupun tidak. Bagi saya, para anggota dewan, wakil-wakil rakyat, atau fraksi-fraksi yang hadir di sana bicara mewakili rakyat, sebaiknya mereka semua duduk dulu bersama rakyat di luar sana dan bicara mengenai kontribusi, saya yakin rakyat akan mendengarkan dengan sepenuh hati dan tanpa interupsi. 

Momen demonstrasi ini memberikan sebuah kesimpulan bahwa saat ini, jangan mudah untuk mempercayai demonstran, wakil rakyat, atau pemerintah, tapi justru ini merupakan momen yang tepat bagi kita semua untuk mulai mempercayai diri kita masing-masing, mempercayai kemampuan kita, suara kita, hati kita, jiwa kita, Tuhan kita dan segala hal yang ada pada diri kita. Terlalu lama kita menutup diri dari diri kita sendiri dan lebih suka untuk menggantungkan semuanya untuk diwujudkan oleh tangan-tangan yang lain sedangkan kita sendiri memiliki tangan. Ini adalah saat yang tepat untuk percaya bahwa takdir, nasib, peradaban, dan masa depan hanya bisa dirubah oleh diri kita sendiri (jika kita mau) maka tidak ada salahnya memberi diri kita kesempatan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, sampai kita menyerah terhadap diri kita sendiri. Dan itu saat kita mati.

Jumat, 30 Maret 2012

April Datang


 "As a nation of free men, we will live forever or die by suicide."


(Abraham Lincoln)

Kita menginginkan revolusi, kita tidak akan mendapatkan revolusi. Penyakit aslinya sudah tertanam di dalam DNA kita, mental, dan jiwa yang ditempa selama 3.5 abad dan 66 tahun sesudahnya. Apa yang kita mau adalah penebusan, yang besar-besaran, untuk menagih hutang-hutang dari dunia. Dan kebebasan. Tapi sekali budak tetaplah budak. Setidaknya, sebelum memberi kita kebebasan, beritahu kita apa itu kebebasan. Lucu sekali, karena dari rekaman sejarah, kebebasan kita hanya sebatas untuk memilih dua hal, antara menerima apa adanya atau melawan sampai momen perlawanan itu menguap dan kemudian kembali lagi ke kondisi sebelumnya, berangsur-angsur. Karena sepertinya ada hal lain yang perlu kita ketahui di samping kebebasan; cara menggunakan kekuasaan. Karena sebagai mantan budak, kita hanya tahu bagaimana cara mantan tuan dan nyonya kita menggunakan kekuasaan atas kita. Dan itu adalah sejauh mana kita mengerti tentang kekuasaan; kemarin, sekarang, dan besok.

Maka seperti bumi yang terus berputar, begitu pun takdir kita semua.

Mungkin kita berbagi udara yang sama, di bawah langit yang sama. Tapi kita sudah terlalu lama tercerai-berai. Masalahnya adalah kita tidak lagi punya musuh bersama. Satu musuh yang mana kita akan rela mencurahkan segala waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengalahkan. Musuh, yang dalam menghadapinya, kita berbagi kasih sayang dan menjalin cinta. Musuh yang berdiri tegak membentang membelakangi masa depan kita. Musuh yang merepresentasikan hutang milik kita, penebusan kita, semua yang telah diambil. Bisakah sekarang kita duduk dan memikirkan siapa/apa yang layak untuk dijadikan musuh dan menyimpulkan dari sana apa yang bisa terjadi pada kita di waktu yang akan datang?

Atau mungkin kita harus sedikit membalikkan kepala kita, sedikit berputar, atau membiarkannya menggantung melawan gravitasi; dan dari posisi itu, coba berpikir bagaimana jika tidak ada lagi yang disebut negara, tidak pernah ada  selain emblem di atas dada dan bendera. Merasakan untuk pertama kalinya, sejak bayi, menjadi manusia seutuhnya, telanjang, dan menjadi wakil dari peradaban anak-cucu-cicit Adam di dunia, di tempat penebusan sang kakek moyang atas pembangkangannya terhadap Tuhan. Menjadi manusia yang tidak dibingkai oleh batas-batas pemerintahan, menjadi manusia yang menyadari dirinya sebagai bagian dari kemanusiaan yang luas dan tanpa batas, dari mulai sejarah masa lalu hingga nanti datangnya kiamat yang telah diramalkan. Untuk menghargai diri sendiri sebagai aktor utama tanpa naskah, dengan banyak kamera di sekeliling, dan dunia menunggu kita untuk berimprovisasi.

Dan bisa jadi apa yang dimaksud dengan kebebasan itu adalah bentuk-bentuk improvisasi yang dilakukan untuk bisa terus-menerus menemukan peran terbaik yang bisa kita mainkan di sini, untuk para penonton sekalian. Kalau begitu, kedengarannya kebebasan berbagi pohon keluarga yang sama dengan kontribusi. Dan jika dua-duanya berada di satu ruangan, mungkin kita akan melihat sosok kekuasaan sejati yang layak untuk dibayar dengan tekuk lutut.
 
Jadi, siapa yang memiliki takdir kita lagi? Atau kepada siapa kali ini itu akan diserahkan dengan cuma-cuma?

Selasa, 07 Februari 2012

Vicarious

"You never really understand a person until you consider things from his point of view--until you climb inside of his skin and walk around in it."


(To Kill A Mockingbird, Harper Lee)

Bagaimana kalau selama ini ternyata kita juga lah yang salah?

Bicara mengenai kebebasan berekspresi di Indonesia, siapa yang telah melahirkannya: reformasi atau social network?

Yang jelas era 2000-an telah melahirkan manusia baru di nusantara, manusia yang sensitif, kritis, bersuara, bicara, sehingga bila konotasi negatifnya bisa disingkirkan dari pikiran, manusia Indonesia layak diberi sebutan manusia oral (merujuk pada kesadarannya dalam mengutarakan pendapat, walau salah satu perantaranya juga termasuk melalui teks). Tentu saja ini merupakan hal yang bagus. Setelah sekian lama mulut kita selalu dibungkam dan pikiran kita digiring dalam rambu-rambu tertentu, maka kebebasan seperti ini adalah runtuhnya tembok Berlin kita. Gerbang telah terbuka, walau mungkin kita masih merangkak, menggapai udara baru ini dengan keluguan sehingga terkadang beberapa terdengar terlalu cerewet, terkadang terlalu memaksa untuk didengar, terkadang juga senyaring tong kosong. Satu hal, masa-masa tembok pembatas itu sudah dilewati.

Adalah suatu hal yang ‘menyenangkan’ ketika negeri ini selalu memiliki berita-berita untuk dibicarakan, isu-isu untuk didiskusikan, peristiwa-peristiwa hangat yang selalu terjadi sehingga kita bisa selalu terlepas dari cengkeraman teror kebungkaman. Dan bisa jadi karena sebelumnya kita memiliki pengalaman hidup di rezim Orde Baru sehingga topik yang selalu populer untuk dibicarakan (diteriakkan bahkan diprotes) adalah topik mengenai kondisi negara dan para politisi; atau lebih tepatnya lagi, negara di tangan para politisi.

Reaksi yang ditunjukkan dari bicara mengenai topik tersebut bisa bermacam-macam. Ada geram, gerah, jengkel, dongkol, gemas, kesal, marah, menertawakan, mengkritik habis-habisan, menyerang tanpa kompromi, menyindir tajam, memparodikan dengan konyol, menyayat kepalsuan mereka dengan pisau ketidakpercayaan yang terus diasah dalam peluh asa di hari-hari demokrasi. Dan sisanya adalah pujian. Masalah korupsi adalah virus utamanya. Para politisi seakan bersatu di bawah payung korupsi melawan rakyat yang terikat oleh ketidakadilan. Berita-berita mengenai korupsi kerah putih ini terus datang silih berganti, tidak ada habisnya, selalu diperbaharui tiap tahun dengan pelaku dan modus yang bervariasi. Sifatnya yang akut seolah otomatis tercetak di DNA para politisi sementara kemiskinan yang belum teratasi menjadi parameter dari tiap penghakiman oleh masyarakat. Menghamburkan banyak uang dengan kinerja di bawah standar adalah catatan rapor yang layak diwarnai merah mengkilat.

Rakyat pun bereaksi. Berpikir betapa tak habis pikirnya para politisi tersebut mencederai amanat jutaan jiwa, bahkan tak jarang secara berjamaah dan terang-terangan. Rakyat bertanya ke mana perginya hati nurani para anggota dewan, di mana otak mereka dan mengapa sifat rakus itu begitu mengakar. Lewat atmosfer kebebasan berpendapat yang demokratis, mereka berteriak dalam satu suara. Tidak melulu melalui demonstrasi, tapi dengan medium lain yang juga mampu memfasilitasi jeritan mereka. Dari mulai acara TV, talk show, debat terbuka, petisi-petisi, forum-forum pembela rakyat, asosiasi pemuda-pemudi harapan bangsa, sindiran-sindiran yang diselipkan dalam budaya pop, atau mungkin sekedar komentar nyinyir dalam karakter terbatas huruf/angka (tidak lupa emoticon) di media sosial. Seperti singa yang dilepas dari kandang, kebebasan ini sama buasnya dengan predator kelaparan.

Rakyat adalah protagonis, setidaknya demikianlah pemahaman yang diterima. Suara-suara mereka mengarah pada moralitas dan nilai-nilai kehidupan yang luhur. Di balik protesnya, tersembunyi pula pengumuman mulia bahwa jikalau mereka terlahir sebagai politisi, tentunya mereka akan benar-benar menjadi sosok penyambung lidah rakyat, karena mereka tahu apa yang harus dilakukan oleh para politisi sementara para politisi itu semua hanyalah para pemula yang diangkat berdasarkan curriculum vitae dengan kredibilitas nol. Rakyat membangun argumen-argumen kebenaran yang disodorkan langsung di wajah para politisi. Mereka membuat ‘permainan’ dan menemukan ‘kesenangan’ tersendiri lewat cibiran, kadang itu juga bisa membangun kepercayaandiri dengan terdengar cerdas atau bijak. Yang jelas rakyat selalu benar.

Tapi bagaimana kalau ternyata rakyat telah salah menilai selama ini?

Perilaku korupsi politisi mencerminkan suatu keinginan yang besar untuk mengumpulkan uang, bahkan menggila sampai tak terkendali. Korupsi bisa jadi merupakan kejahatan yang paling jujur dalam merefleksikan sifat/mental pelaku sebagai manusia, kondisi lingkungan/manusia di sekitarnya, dan nilai-nilai kehidupan yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu tindak kriminal, eksistensi korupsi bergantung pada aspek-aspek tersebut. Mengingat skala pencuriannya yang biasanya berjumlah besar, maka korupsi politisi tidak lagi bicara motif pemenuhan kebutuhan sang pelaku dalam menjalani hidup, tapi lebih kepada ‘desire’ atau apa yang pelaku inginkan dalam hidup. Beda kasusnya dengan curanmor atau merampok bank yang kebanyakan bermotif ekonomi atau pembunuhan yang motifnya lebih emosional. Secara motif, korupsi berakar sama dengan perkosaan.

Saya punya semacam ilustrasi cerita. Setiap politisi dilahirkan dari rakyat, apalagi karena sistem negara kita bukan monarkhi. Tersebutlah seorang anak manusia dilahirkan di sebuah desa, di pinggir kota, di pemukiman sederhana, atau di tempat manapun di Indonesia yang mencerminkan rakyat. Lalu anak ini dibesarkan oleh keluarga yang sederhana, pas-pasan, berkecukupan atau hampir berkecukupan, keluarga yang tidak kaya dan juga belum tergolong miskin sehingga mampu menyekolahkan si anak sehingga logika berpikirnya terbentuk. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang ia lihat, semakin banyak yang ia alami dalam hidup. Ia melihat apa yang disebut kelas sosial, kelas di luar sekolah di mana ia pun mengidentifikasikan diri di dalamnya. Kondisi negara, kondisi ekonomi, pemberitaan di TV, masalah kemakmuran, kriminalitas, semuanya terhimpun dalam satu judul: perbedaan kelas.

Sebelah mata anak itu melihat ke bawah, sebelah lagi melihat ke atas. Tumbuh di lingkungan cukup sederhana membuat tujuan hidupnya menjadi jelas, ke atas, menuju kelas sosial yang satunya lagi. Menyaksikan kemiskinan dan keterbelakangan telah membuat hatinya geram dan memantik motivasi kuat di dalam diri untuk memperbaiki keadaan, nasionalismenya memanas. Maka ia belajar, bekerja keras, dan berjuang sepenuh hati sementara orang-orang lain di sekitarnya tidak tahu harus berbuat apa. Baginya itu tidak menjadi soal, toh merekalah rakyat yang hendak ia wakili suaranya.

Marx, Machiavelli, The Republic, semuanya ia lahap. Ia aktif dalam pergerakan sosial, berdemonstrasi, memporovokasikan ideologi-ideologinya lewat berbagai media, beryel-yel, bergabung dengan partai politik, merumuskan program-program suci, dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin kehidupan percintaan; masa mudanya dipenuhi percikan patriotisme Soekarno baru dalam tagline pemuda harapan bangsa. Si anak bangsa ini bangkit.
Lalu akhirnya ia duduk dan menyadari bahwa semuanya sudah berubah. Hidupnya tidak lagi seperti dulu, kini ia dihormati, punya banyak relasi, memiliki kedudukan dan hidup sejahtera. Pada titik ini dia menoleh ke belakang, melihat jarak yang terbentang antara masa lalunya dan masa kini. Ia melihat dua hal.

Pertama, rakyat tidak berubah. Ia tidak menyalahkan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia mulai menyadari dengan rakyat yang seperti apa ia berhadapan. Dulu ia berada sederajat dengan mereka namun sekarang ia telah bermetamorofosis dan apa yang ia pelajari dari semuanya adalah ia meraihnya lewat kerja keras. Sementara rakyat yang lain berada dalam realita yang aneh, mereka tahu perbedaan antara keadaan buruk dan baik, namun mereka ‘betah’ berada dalam keadaan yang mereka punya dan memilih untuk mengeluh kepada Tuhan atau pemerintah terkait hal tersebut. Padahal si anak bangsa berasal dari tempat yang sama dengan rakyat tetapi ia mampu untuk merubah keadaan dirinya. Ia bertanya apa mungkin perjuangannya telah disia-siakan?

Rakyat yang ia hadapi adalah rakyat yang menuntut fasilitas umum dan beberapa hari setelah permintaannya dikabulkan, apa yang telah mereka terima itu dirusak lewat vandalisme, pencurian material, atau perusakan dan pelanggaran yang disengaja. Taman kota disulap jadi kebun sampah atau rawa gelap gulita. Shelter bus umum dicorat-coret. Pembatas jalan dijebol. Zebra cross atau jembatan penyeberangan sepi pengunjung. Trotoar dipenuhi pedagang kaki lima. Kalau sudah begitu, membangun sesuatu untuk kemudian dirusak adalah suatu tindak pemborosan, dan bukankah pemborosan sendiri merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Lebih baik menggunakan uang untuk sesuatu yang pasti dan jelas penggunaannya. Siapa yang mengkorupsi siapa?

Ia telah berjuang dengan sengit untuk menjadi seperti sekarang sementara sifat rakyatnya sendiri seperti kebal terhadap kemajuan. Ia menemukan bahwa pernyataan “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri” adalah logika yang masuk akal, ia membuktikannya sendiri.

Kedua, fungsi jabatannya tercederai oleh sikap mental yang berlaku di masyarakat. Ini merujuk pada kesepakatan umum mengenai makna dari kata sukses. Setiap orang yang belajar atau bekerja, semuanya diharapkan, didoakan untuk mencapai kesuksesan. Dan kita semua terlanjur gemar mengkonotasikan sukses dengan kekayaan.

Seorang guru tidak dikatakan sukses jika dia tidak berpenghasilan tinggi. Para orang tua senang jika anaknya menjadi dokter karena dokter biasanya sukses, apalagi dokter spesialis. Begitupun dengan si anak bangsa. Ia diharapkan untuk menjadi orang sukses oleh orang-orang di sekelilingnya. Betapa sering kita mendengar bahwa kekayaan adalah cermin kesuksesan dan terutama karena ia berasal dari kalangan bawah maka dorongan itu makin kuat. Siapa yang mau tahu tugasnya sebagai wakil rakyat, kontribusinya terhadap sosial? Apa yang dibanggakan dari keluarga seorang wakil rakyat selain kedudukan dan kekayaan atau kesuksesan yang dimilikinya? Ketika ia pindah ke Jakarta, wejangan yang didapatnya adalah agar ia bisa ‘sukses’ bukan dukungan untuk membela rakyat. Ini sudah merupakan ketetapan umum yang menggerakkan segala niatnya sehingga membuatnya merasa bahwa hidup harus membayar hutang padanya.

Saya merasa mental OKB (Orang Kaya Baru) menjembatani aktivitas korupsi wakil rakyat. Menurut saya asal muasal munculnya status tersebut bila ditelusuri berpangkal pada karakter inferior masyarakat Indonesia yang berkubang dalam kedangkalan sikap hidup. Tentunya korupsi bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi. Selain karena adanya kesempatan, korupsi pun terjadi karena adanya dorongan ilusif yang membuat si pelaku harus melakukannya dengan resiko apapun. Ini bukan semata masalah kebutuhan yang tidak terpenuhi, tapi mengarah pada usaha mengakomodasi gaya hidup perut buncit, gaya hidup yang disebut sebagai ‘sukses’. Dan si pelaku, si politisi, si wakil rakyat adalah alat yang berupa ujung logam lancip yang berdiri di atas pegangan kayu yang panjang dari sebuah tombak. Kedua bagian ini saling berpadu. Mengisi posisi masing-masing untuk menjalani fungsinya sebagai perkakas berbahaya.

Jika kembali pada bagaimana orang-orang bebas berpendapat, ada kesan kontradiktif yang tertangkap. Tidak hanya kepercayaan terhadap wakil rakyat yang luntur, kepercayaan terhadap rakyat pun mengundang tanda tanya. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk hidup sederhana jika rakyat merasa risih untuk hidup sederhana. Bagaimana bisa meminta wakil rakyat untuk tidak berfoya-foya jika diam-diam di dalam hati rakyat pun menyimpan keinginan untuk bisa merasakannya. Bagaimana meminta wakil rakyat untuk bekerja keras melayani bila rakyat sendiri memilih untuk bermalas-malasan selalu mengeluh. Bisa jadi segala kritik yang tertuju pada wakil rakyat merupakan penyaluran dari rasa iri, sehingga makin banyak orang berbondong-bondong mencalonkan diri sebagai wakil rakyat demi untuk merasakan keistimewaan yang ada. Untuk merasakan ‘kesuksesan’.

Entahlah, yang jelas selalu ada dua sisi mata uang. Dan bila kita belajar dari sejarah, kita tahu bahwa rakyat lah yang bisa merubah wakil rakyat, bukan sebaliknya. Rakyat pula lah yang bisa merubah suatu negara atau pemerintahan, bukan sebaliknya. Dan cermin adalah salah satu penemuan terpenting dalam peradaban manusia.

Senin, 19 Desember 2011

Simbiosis Transendensialisme


You can tell the size of your God by looking at the size of your worry list.  The longer your list, the smaller your God. 

(Anonymous)
Saya sudah terlalu lama hidup di dalam lingkungan yang beranggapan bahwa mempertanyakan atau bahkan sekedar berpikir tentang apa yang Tuhan lakukan adalah hal yang tabu, subversif, melenceng, atau dalam kerangka pemikiran tertentu, tindakan itu juga tergolong dosa. Yang jelas kita akan selalu menyepakati kesimpulan akhir bahwa Tuhan adalah maha terhadap apapun sehingga kita sebagai manusia, tidak punya pilihan lagi selain meratapi kekecilan kita yang luar biasa itu. Ada kecenderungan pemahaman yang menyebut karena Tuhan itu Maha Besar dan manusia hanyalah seukuran atom yang terbagi-bagi lagi dan lagi dan lagi, maka menyinggung soal Tuhan adalah sebuah upaya yang takkan terjamah oleh manusia selain dari menjamah kegilaannya sendiri. Maka terima saja kesimpulan besar itu: Tuhan adalah yang paling Tuhan di atas segala apa-apa.

Tersebutlah Tuhan yang sangat besar itu sebagai kekuatan tak terbatas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Kehadiran-Nya mau tidak mau mengecilkan eksistensi manusia. Agama muncul sebagai ideologi praktis dan teoritis dalam meletakkan pijakan-pijakan di atas jalur yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Kehadirannya mau tidak mau menggoda iman manusia.

Lalu pada prosesnya, agama memiliki fungsi lain. Melewati nalar manusia, ajaran agama berkembang sebagai medium yang mengajak manusia untuk “berdamai” dengan Tuhan. “Berdamai” dalam pengertian ketundukan tanpa syarat, penyerahan diri yang tak bisa ditawar-tawar lagi posisinya. Karena Tuhan Maha Apa Saja ―dengan kekuatan yang meliputi membelah matahari jadi dua dalam satu tiupan, membangkitkan dinosaurus dari tanah, atau menciptakan sepuluh Adolf Hitler― sedangkan manusia begitu tidak berdaya, maka “perdamaian” harus dicetuskan untuk menegaskan posisi keduanya. Ide tentang kemurkaan Tuhan dan neraka akhirat menjadi unsur penting dalam pengenalan agama yang pada ujungnya juga digunakan untuk mendefinisikan (atau mempersonifikasikan) Tuhan.

Ketaatan terhadap Tuhan jadi nama lain dari ketakutan akan Tuhan. Ketakutan seperti lutut bergetar, kencing di celana, gemeretak di gigi, yang muncul dari membayangkan Tuhan sebagai penguasa absolut dari segala penguasa yang selalu siap dengan kemarahannya untuk menghukum manusia. Maka ketakutan manusia pun dibuat menjadi absolut. Agama, dalam pengertian lain, adalah panduan untuk mempertegas rasa takut manusia terhadap hukuman-hukuman dan angkara murka Sang Pencipta. Sehingga akhirnya, agama tidak lebih dari sekedar hal-hal dogmatis.

Terkait dengan lingkungan saya ―atau lingkungan yang terwakili dalam istilah Indonesia― atmosfer dogmatik yang begitu kuat terletak pada prinsip beribadah yang melekat di keyakinan umat beragama. Hal-hal yang menyangkut penghakiman prematur mengenai pahala dan dosa. Adalah suatu kelumrahan untuk menyebut bahwa tujuan beribadah adalah untuk menyenangkan hati Tuhan atau meredakan kemarahan-Nya (bayangkan sebuah bencana alam yang dikaitkan dengan dosa para penduduk tempat bencana tersebut terjadi). Jika manusia beribadah maka Tuhan tersenyum, jika manusia lalai Tuhan akan kesal. Ibadah adalah untuk Tuhan, penyerahan terbaik dari kelemahan manusia untuk Sang Maha Dahsyat. Dan jika saya tidak salah melihat, ibadah menjadi manifestasi dari karakter dan mental upeti/sesajen pengikut-Nya. Ketundukan terhadap sang Superpower. Mental yang telah membentuk wajah bangsa ini selama ratusan tahun.

***

Film The Tree of Life dirilis tahun ini. Karya sutradara Terrence Malick (setelah sekian lama vakum) ini menuai pujian dari para kritikus dan meraih banyak penghargaan. Ada satu sequence di dalamnya yang membuat saya terbius. Sebuah adegan kilas balik visual mengenai penciptaan kehidupan dari mulai pembentukan langit, galaksi, bumi, lautan, daratan, tumbuhan, mahluk bersel satu, ikan, dinosaurus dan kepunahannya, lalu akhirnya manusia yang mungil dan lemah, meringkuk di dalam janin. Adegan yang luar biasa yang memperlihatkan Tuhan sedang berkarya, menghasilkan mahakarya demi mahakarya dengan cita rasa yang tak terjangkau, ide dan kejeniusan yang tak terbendung, pertunjukan kekuatan yang Maha Arogan. Benar-benar sebuah pengalaman sinematis yang epik nan syahdu.

Memang tidak bijak untuk menjustifikasi kesahihan ide visual Terrence Malick di film itu. Apa yang dia gambarkan belum tentu apa yang terjadi sebenarnya, itu hanya upaya kecil manusia untuk melukiskan kekuasaan Tuhan dan merayakan kehidupan. Namun demikian, komplekstisitas yang ditampilkan mampu merepresentasikan kekuasaan absolut tersebut yang menunjukkan bahkan dalam mahluk sekelas protozoa pun, terdapat karakter-karakter dan fungsi alamiah yang mengarah pada ide besar di baliknya. Ini membawa saya pada keimanan yang baru. Keimanan yang tumbuh dari melihat. Pengaruh dari film itu adalah saya (berusaha) meyakini diri bahwa apapun yang ada di sekeliling saya, saya melihat (secara dramatis atau teatrikal) Tuhan (dalam karya dan ide).

Daun bukan hanya sebatas daun. Komplekstisitas di dalamnya meliputi sel-sel mikroskopik yang tersusun rapi, sistem fotosintesis, klorofil, warnanya yang khas, ukuran, pola, tekstur, tulang-tulang daun, massanya, zat-zat yang terkandung di dalamnya, termasuk juga pose manis saat dia diterpa angin atau pose romantis saat dia jatuh gugur. Begitu juga komplekstisitas partikel-partikel debu saat ia melayang di bawah pancaran batang cahaya matahari yang menembus masuk lewat jendela atau lubang pintu. Air mendidih dengan gelembung yang pecah-pecah disertai suara kumur-kumur dan asap yang muncul lalu menghilang seperti roh halus. Pupil mata yang melebar, lalu mengecil, melebar lagi, dan mengecil saat lampu senter dinyalakan-dimatikan tepat di depannya. Lalu stalagtit, stalagmit. Ubur-ubur yang sedang berenang. Burung-burung bermigrasi. Tirai ditiup angin. Detak jantung. Sifat Keilahaian itu menyulap kesederhanaan sekelas garis-garis di telapak tangan menjadi tampak elegan melebihi kekenesan dalam Blackberry atau smartphone.

Kemudian timbul pertanyaan dari dalam diri mengenai makna peribadatan. Apa sebenarnya maksud dari manusia beribadah kepada Tuhan? Sudah jelas Tuhan Maha Perkasa lalu mengapa peribadatan manusia menjadi sesuatu yang diwajibkan? Apa yang bisa manusia berikan yang sementara Tuhan tidak punya? Ketika orang-orang mensinkronisasikan kemarahan Tuhan dengan kelalaian suatu kaum dalam beribadah, apakah mereka membicarakan Tuhan yang sama? Tuhan yang menciptakan matahari dengan ukurannya yang besar dan membiarkannya melayang di langit?

Tuhan tidak memerlukan manusia. Segala hal yang dilakukan oleh manusia mungkin tidak ada artinya sama sekali bagi-Nya. Dia yang membuat laut merah dan membelahnya menjadi dua. Dia membuat semuanya, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dia adalah seniman dengan Aurora Borealis-Nya, bintang-bintang-Nya, angin tornado-Nya, dan muntahan lahar-Nya yang mencat gunung dengan warna merah terang elektrik. Dia adalah arsitek Mount Everest, air terjun Niagara, fisikawan yang menciptakan waktu, biologis yang menciptakan darah, kimiawan yang menciptakan semua yang tertera di tabel periodik. Dengan keagungan yang seperti itu, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan oleh manusia yang Maha Kecil ini? Apa yang bisa diserahkannya karena badan dan jiwa yang kita punya juga adalah pinjaman dari-Nya?

Maka apa jadinya Tuhan jika peribadahan kita menjadi penting untuk-Nya? Bagi saya adalah kekerdilan. Kekerdilan yang amat sangat lancang ditujukan kepada Tuhan sebagai sosok yang “gampangan”. Manusia yang kerap mengaitkan (atau menghitung) pahala dan dosa dengan peribadatan mengindikasikan Tuhan sebagai sosok borjuis kecil yang manja yang ingin selalu dihibur dan disenangkan,gemar mengancam serta meledak-ledak bila kesal. Dia tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Hanya saja manusia yang terlalu egois yang menganggap apa yang dilakukannya atas nama aktivitas ibadah bakal mampu menggerakkan hati Tuhan. Bahkan jika seluruh manusia di dunia ini tidak beribadah, rasanya Tuhan tidak akan kehilangan apapun.

Namun itu bukan berarti bahwa beribadah tidak memiliki nilai. Yang akan saya tekankan di sini adalah mengenai pergeseran fungsinya.

Saya meyakini bahwa salah satu tujuan fundamental kehidupan manusia adalah agar manusia terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu-ilmu yang sifatnya teoritis tapi juga praktis, tidak hanya yang materiil tapi juga imateriil. Semua ilmu pengetahuan di dunia ini, yang telah ada maupun yang belum ditemukan, asalnya dari Tuhan. Maka setiap ilmu bila ditelusuri maka akhirnya akan mengarah kepada-Nya dengan cara masing-masing. Seperti, entah bagaimana dengan yang lain, tapi saya menemukan kebesaran Tuhan di balik terciptanya internet, tentang bagaimana ilmu-ilmu yang telah ada bisa saling terhubung untuk menciptakan teknologi ini dan yang jelas, bagaimana sebuah media mampu memperpendek jarak fisik yang terbentang adalah suatu mukjizat. Dan dengan ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini, beserta perangkat manusia yang derajatnya melebihi mahluk lain, maka suatu hubungan terbentuk, bahwa Tuhan tidak membutuhkan pemujaan dan ketertundukan manusia (hal yang sudah pasti) melainkan Dia menghendaki untuk dicari dan selalu dicari.

Yang menjadi masalah dari proses pencarian ini adalah sejak awal Tuhan tidak pernah hilang.

Karena itu, ibadah memiliki nilai. Ibadah adalah salah satu ilmu pencarian tersebut, mencari sesuatu yang tidak pernah hilang. Tuhan tidak membutuhkan manusia tetapi manusia yang membutuhkan Tuhan. Fungsi ibadah berkaitan langsung dengan manusia secara personal, bukan melulu masalah pahala dan dosa. Bukanlah kemurkaan Tuhan yang harus diperhatikan dalam hal kelalaian beribadah melainkan perkembangan diri secara psikologis (batiniah) atas apa yang telah dilewatkan dari kesempatan untuk mendekati-Nya. Sama seperti saat belajar di sekolah, seharusnya bukanlah nilai rapor yang diburu dari mengerjakan PR atau mengikuti ujian, melainkan ilmu itu sendiri, “kebebasannya” tanpa dipengaruhi institusi atau kebanggaan pribadi. Maka bukan kewajiban, ibadah adalah kebutuhan.

Saya sebagai seorang muslim punya ibadah wajib sholat lima kali dalam sehari. Jika saya tidak sholat, saya tidak perlu mengkhawatirkan tentang dosa (bukan urusan saya), tapi adalah waktu dan kesempatan yang saya lewatkan untuk secara syahdu menggerakkan badan dan jiwa mendatangi-Nya. Selain gerakan dan bacaan, sholat tentunya membutuhkan konsentrasi, kesunyian, kemurnian pikiran dan hati serta penyerahan yang ikhlas, dan itu semua perlu dilatih dengan baik dan intens (untuk itu saya diberi kesempatan lima kali sehari). Jadi ini bukan lagi masalah pahala dan dosa. Ini masalah tentang bagaimana individu mencari dan menemukan Tuhan dengan segala proses yang akan mempengaruhi jiwa dan mentalnya sebagai manusia sampai dia mati kelak. Beruntunglah mereka yang telah berhasil mencapainya sebelum ajal.

Saya tegaskan saya bukan seorang pendakwah, penyebar syiar, khotib, cendikiawan agama, ahli kebatinan, murid ahli kebatinan, atau bahkan orang alim. Tulisan ini adalah reaksi saya terhadap “kemunculan-Nya” dalam arena pop culture yang memercik semacam “reinvensi” bagi keimanan saya. Sama seperti yang lain, saya adalah manusia kecil yang kebetulan mempercayai Tuhan, yang membedakan hanyalah bentuk kepercayaan tersebut. Bagi saya, pencintraan manusia terhadap sosok Tuhan menggambarkan sosok manusia tersebut bila menjadi pemimpin.

Tuhan adalah besar sebesar-besarnya. Sementara manusia itu kecil. Namun Tuhan tidak membiarkan kita manusia berada dalam “kekecilan” karena kita adalah bagian dari Tuhan yang nantinya akan kembali pada-Nya. Ketundukan buta adalah sikap yang merendahkan kodrat manusia dan posisi Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam ketundukan terhadap-Nya kita dituntut untuk tahu alasan mengapa ketundukan itu kita jalankan. Tuhan takkan membiatkan kita tersesat karena kita memiliki akal, hati, jiwa, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, jantung, darah, sel, bahkan aroma tubuh. Apakah itu semua cukup atau tidak, hanya Bob Dylan yang bisa menjawabnya: “The answer my friend is blowin’ in the wind/The answer is blowin’ in the wind.”