Senin, 31 Oktober 2011

And I Keep Hittin' Repeat-peat-peat-peat-peat-peat-peat



"So intimate, perfect, and so real. Not a fan of Kirsten Dunst but I'm definitely a fan of this music video. As a band who will be only remembered in history from now on, this song is a nice souvenir from REM. The title says it all and I think I can accept their broke-up a little bit easier. I always love black & white. Woman in black & white, I can't think of any sexy pose of female other than that. Kirsten shows her quality in this. She guides my heart to feel every feelings human can do by the look of her expression. I wonder what's on her mind. But on second thought, I'd rather not to know any and just watch it. Better be that way."



"We All Go Back to Where We Belong"
R.E.M.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kepingan Surau Yang Roboh

 "Scepticism is the beginning of faith."

(Oscar Wilde)

Iman. 

Ustadz tampil di TV, berceramah, kali berikutnya berkoar-koar dalam iklan, kali berikutnya tersenyum alim di infotainment, kali berikutnya berperan sebagai dirinya sendiri dalam sinetron, beberapa saat lagi medium layar lebar ikut dirambahnya pula. Berimankah saya jika di balik kepala ini walau hanya sebersit dan diiringi keseganan, serta kelancangan yang berusaha untuk dijinakkan bertanya, apa yang telah kalian jual untuk ketenaran seperti itu? Berapakah harga untuk sebuah kemuliaan di jalan Tuhan yang telah kami bayar? Adakah diskon di dalamnya? Atau mungkin, potongan pajak? 

Mungkin suatu hari nanti saya akan berpesan pada sang anak: “Nak, jika kamu ingin mengobati orang-orang yang sakit, jadilah dokter. Jika kamu ingin mengorbankan jiwamu untuk negara, jadilah tentara. Jika kamu ingin berperan dalam menegakkan hukum, jadilah polisi. Jika kamu merasa hidup ini lebih baik dengan gubahan nada, jadilah musisi. Jika kamu merasa kata-kata begitu berarti untuk disampaikan, jadilah penulis. Jika kamu merasa setiap momen dalam hidup begitu berharga untuk diabadikan, jadilah fotografer. Jika kamu merasa setiap ilmu harus diamalkan dan disampaikan, jadilah guru. Jila kamu merasa hidup ini jadi lebih mudah dengan mengolah warna, jadilah pelukis. Jika kamu ingin mendapat uang banyak, masuk TV, bintang iklan, dan dijamin masuk surga, jadilah ustadz. Tuhan ada di TV nak!”

Ceramah Jum’at; 15, 20, 30 menit membuai hadirin dengan kantuk yang malu-malu kucing. Kami tahu arahnya ke mana, kami tahu kesimpulannya apa, kami tahu apa yang akan disampaikan; ya, kami akan menjalani hidup dalam ketakutan akan bara neraka; ya, kami akan membuka mata untuk menghakimi kekafiran; ya, kami akan terus berdoa untuk Palestina dan belajar memusuhi dunia barat; ya, kami tahu. Maka dengan tanpa maksud untuk mengingkari ketetapan untuk memerangi hantu kantuk itu, bolehkah di sela-sela rentetan ceramah saya membaca buku? Dostoyevsky atau Dickens? Mungkin Rumi atau Gibran? Atau mungkin Al Jaelani dan Imam Ghazali? Atau bahkan Abu Nawas? itu pun bila saya diizinkan untuk tertawa.

Anak-anak yang kecil dan naif, lucu, riang, ceria, dan tanpa beban. Apa yang terucap dari lidah kalian itu? Berdiri di bawah lampu sorot panggung, kalian bicara akhirat, bicara dosa, bicara syetan, bicara azab, dan menakut-nakuti dengan hukuman Allah. Kalian di sana dalam balutan atribut kesucian yang seharusnya adalah gestur kepolosan yang khas dari kebeliaan. Namun kakak kagum dengan bentuk keimanan itu, terutama di saat kalian berada di usia yang bagi kakak tepat untuk bermain, untuk berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya dan belajar darinya, untuk mengarungi samudera imajinasi seluas-luasnya hingga mendarat di dataran realita nanti, untuk tertawa tanpa henti hingga akhirnya kalian menyadari bahwa tidak ada lagi yang lucu. Suatu saat nanti, semoga saja kalian tidak tumbuh menjadi seorang munafik atau seorang penyesal atas apa yang belum pernah kalian rasakan di saat kalian harus merasakannya. Toh, kalian sudah punya keimanan itu. Ataukah itu semua hanya untuk di depan kamera? Adakah orang tua kalian di bangku penonton?

Perempuan, betapa pakaianmu menunjukkan keagunganmu. Keindahan kalian adalah mukjizat ilahiah, alamiah, batiniah, lahiriah, yang menempatkan tiap lelaki yang melihat kalian di persimpangan jalan antara surga dan neraka. Maka untuk kalian, sang nabi memberi perhatian khusus, ia mewasiatkan kalian untuk dilindungi dan sebuah pakaian yang terhormat siap melapisi kulit kalian. Tapi mengapa memakai jilbab dengan alasan takut akan siksaan akhirat? Karena bagi saya itu terdengar seperti paksaan. Mengapa memakai jilbab jika hatimu masih ingin melepasnya? Bukankah ini seharusnya berhubungan dengan keikhlasan? Mengapa kalian tubrukkan jilbab itu dengan mode yang membuat kalian terlihat seperti (badut) hipster yang tersesat? Berimankah jika suara saya berseru kepada kaum di mana rasa cintaku tertambat, untuk melepas jilbab kalian dan kenakan di saat kalian siap dan tulus hati? Karena terkadang saya tidak melihat penjilbab seperti sebagaimana penjilbab seharusnya menampakkan diri; dalam kesucian, kebesaran, dan kekuatan untuk membuat jiwa ini luluh dan takluk.

Dalam keheningan ini saya mempertanyakan kadar iman di dalam diri. Dalam kebingungan saya melihat semuanya terasa berlawanan dengan apa yang saya pahami. Apakah iman saya telah luntur? Ataukah saya masih terpaku untuk melihat apa yang benar dan salah secara subjektif? Namun bukankah kalimat “Seharusnya ini tidak seperti ini” adalah juga sebuah bukti keimanan? Bukankah itu artinya ada hal lain yang dipercayai yang bisa lebih baik dari yang telah ada? Dan bukankah mempercayai sesuatu adalah pengertian dari iman? Entahlah. 

Iman. 

Lebih mudah menyebutnya jika itu adalah nama seseorang.

Kamis, 22 September 2011

The Rest is Noise

“They've been saying it for 30 years, ever since The Beatles split up, you know, that rock'n'roll's dead. When ever there's a boom there's always a bit of a lull afterwards. I suppose that avant garde punk rock will come back for a while, and it will all be shit again, and then guitar music will come back.”

(Noel Gallagher)
Untuk menemukan musik bagi saya adalah sebuah peristiwa yang penting; untuk menjadi seorang fan, pendengar setia, seseorang yang merasa terwakili dan terobati oleh gubahan lirik dan musik - terus terang, itu membawa saya pada bentuk pemahaman baru terhadap peradaban, dan menjadikan segalanya terasa lebih mudah untuk dilewati. Saya belajar dari ketiga band ini, yang bubar dalam kurun waktu 3 tahun terakhir - Oasis (2009), The White Stripes dan R.E.M. (2011) - bahwa musik bukan sekedar musik namun juga karya seni intelektual yang berinovasi di setiap era untuk muncul sebagai warisan budaya bagi generasinya; sebuah bukti audio tentang kondisi sosial, politik, dan terutama sebagai sebuah statement tentang perlawanan dan pemberontakan (karena ini adalah rock 'n' roll, walau bagaimanapun juga). Oasis muncul dalam gerakan Britpop di pertengahan 90-an, The White Stripes adalah bagian dari kebangkitan garage di awal 2000-an, sementara R.E.M. adalah pencetus college rock di awal 80-an yang menginspirasi munculnya era alternative rock di dekade setelahnya. Musik adalah sesuatu yang besar, dan bagi saya mereka membawanya ke tempat yang tepat, dnegan nilai historis dan momen-momen monumental yang menandainya, dan yang terutama lagi, mereka membawanya ke hati para pendengar - di mana tidak ada lagi tempat yang lebih tepat dari itu.

Ada pengalaman tersendiri dengan band-band ini. "Pertemuan" saya dengan Oasis menandai perubahan selera musik saya yang signifikan. Seorang teman tanpa sengaja menemukan kaset album keempat Oasis (Standing in the Shoulder of Giants) di WC laki-laki SMP saya dulu di sekitar awal 2000-an. Saya meminjam kaset tersebut dan langsung mendengarnya berkali-kali di suatu malam dan saat itu saya merasakan momen magis seperti "Eureka!" - saya mendapatkan sesuatu; di tengah masa anak-anak seumuran saya mendengarkan Limp Bizkit atau Blink 182, kecintaan saya terhadap Oasis tentulah berarti: saya mendapatkan sesuatu!

Kenangan saya dengan R.E.M. adalah ketika saya terbaring lemah karena sakit, di atas kasur, di dalam kamar yang gelap, saya memutuskan untuk tidur diiringi musik R.E.M. Saya ingat saya mulai tertidur saat lagu "Electrolite" diputar dan tanpa sadar lagu tersebut terus bermain di dalam tidur saya. Saya tidak ingat apakah saya bermimpi yang jelas ketika saya bangun, lagu tersebut masih terngiang di kepala lalu pelan-pelan menghilang. Dan itu terjadi berjam-jam setelahnya, artinya dalam keadaan tidak sadar lagu tersebut terus ada di dalam kepala. Saya memang tidak sembuh berkat lagu tersebut tapi pengalaman tersebut bagi saya terkesan psychedelic.

The White Stripes adalah masa SMA. Saat sedang duduk-duduk di lapangan di luar sekolah dengan seorang teman yang memegang gitar, tiba-tiba dia memainkan sebuah riff. Ia memainkannya berkali-kali tanpa kami tahu lagu apa yang tengah dimainkan. Kami hanya merasakannya sebagai riff yang "pernah didengar di suatu saat" dan "enak untuk dimainkan." Lalu beberapa hari kemudian, sebuah videoklip di MTV dari The White Stripes dengan lagu "Seven Nation Army" ditayangkan dan rasanya seperti "Nah ini dia!" - satu untuk teman saya itu dan satunya lagi untuk musik rock yang bangkit kembali.

Dan pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan terima kasih. Mendengar adalah cara terbaik untuk memperlakukan musik, untuk membuatnya hidup selamanya, dan terkenang abadi, walau saya tahu, rock 'n' roll tidak akan sama lagi.



"It's with some sadness and great relief to tell you that I quit Oasis tonight. People will write and say what they like, but I simply could not go on working with Liam a day longer. Apologies to all the people who bought tickets for the shows in Paris, Konstanz and Milan."


"The White Stripes will make no further new recordings or perform live. The reason is not due to artistic differences or lack of wanting to continue, nor any health issues as both Meg and Jack are feeling fine and in good health. It is for a myriad of reasons, but mostly to preserve what is beautiful and special about the band and have it stay that way. Meg and Jack want to thank every one for the incredible support they have given throughout the 13 plus years of the White Stripes' intense and incredible career. The White Stripes do not belong to Meg and Jack anymore, The White Stripes belong to you now and you can do with it whatever you want. The beauty of art and music is that it can last forever if people want it to. Thank you for sharing this experience. Your involvement will never be lost on us and we are truly grateful."


"To our Fans and Friends: As R.E.M., and as lifelong friends and co-conspirators, we have decided to call it a day as a band. We walk away with a great sense of gratitude, of finality, and of astonishment at all we have accomplished. To anyone who ever felt touched by our music, our deepest thanks for listening." 

Kamis, 18 Agustus 2011

Di Tengah Pesta Ulang Tahun Di Pertengahan Bulan Agustus

"Children are great imitators.
So give them something great to imitate."

Anonymous

Oh ya, Indonesia ulang tahun yang ke-66. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun! Ayo semuanya datang dan rayakan. Kibarkan bendera, tepuk tangan, nyanyi-nyanyi, dan nyalakan lilin kalau perlu. Ayo, semuanya diundang. Boleh bawa kado, boleh juga tidak. Yang jelas jangan minta traktir, tidak ada yang namanya traktir-mentraktir di ulang tahun yang ini. Bukannya tidak punya uang, tapi tidak etis, terlalu kekanak-kanakkan kalau tidak mau disebut tidak mau. Pokoknya bagaimanapun juga yang penting perayaan ini harus meriah. Ayo semua tepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Kembang api bertaburan di langit.

Suasana tanggal 17 Agustus itu berlangsung ramai. Ini adalah ulang tahun besar, semuanya merayakan. Tapi kemudian, hingar-bingar itu mendadak sunyi ketika seorang anak kecil berteriak di tengah kerumunan. Anak kecil yang polos, naïf, dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu, dibalut kaos oblong dan celana pendek, dua gigi depannya tanggal, badannya kecil, begitupun kedua tangan dan kakinya, rambutnya berjambul dan suaranya lantang. Ia bertanya, “Siapa yang ulang tahun?”

Seseorang dari kerumunan, seorang wanita, menjawab, “Ini ulang tahun Indonesia, sayang,” lalu gelak tawa renyah muncul beriringan.

Anak itu diam sampai mereka semua berhenti tertawa, lalu ia kembali bertanya, dengan frekuensi lebih rendah dari sebelumnya, “Indonesia itu siapa?”

Semua yang hadir di sana membisu.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada jawaban.

Mereka saling menoleh, seolah-olah jawabannya ada di raut muka masing-masing. Tapi yang mereka temukan hanyalah tanda tanya yang sama. Lalu mereka menatap sosok presiden yang sedang duduk di singgasananya. Dalam keheranan, mereka saling berbisik.

“Itukah Indonesia? Sang pemimpin? Orang yang diberi tanggung jawab dan beban yang sangat berat untuk mengurusi kita. Juru bicara dari seluruh pelosok negeri ini. Dia yang memutuskan segala hal tentang segala hal yang terjadi di sini, di sekitar kita semua. Dia yang harus kita hormati. Tapi… bukan, bukan dia. Dia bukan Indonesia. Dia yang memimpin Indonesia. Jadi, bukan dia. Jelas bukan dia. Lihat ke sekeliling, kita semua merayakan hari ulang tahun ini, kita semua tanpa kecuali, bagaimana mungkin ini adalah ulang tahun sang pemimpin jika di antara kita juga ada yang membencinya? Kita semua sedang bersuka-cita, jadi tidak mungkin Indonesia adalah dia.”

Lalu apa? Mereka kembali sibuk mencari-cari sementara si anak kecil tadi sibuk memperhatikan tingkah laku orang-orang di depannya. Mereka melihat para wakil rakyat dan kembali berbisik.

“Mungkinkah mereka yang disebut Indonesia? Kumpulan orang yang suaranya mewakili setiap lidah dari rakyat negeri ini. Merekalah yang menampung segala aspirasi, keluh-kesah, dan mimpi dari kita semua. Mereka juga yang segala tindak-tanduknya adalah manifestasi dari kepercayaan dan amanah yang kita berikan. Jadi, mungkin saja mereka itu yang disebut… tapi bukan, bukan, sepertinya bukan. Mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan Indonesia, yang mengatasnamakan Indonesia dalam setiap langkahnya, yang dimandati oleh mimpi-mimpi Indonesia. Mereka bukan Indonesia. Dan lagi pula ada beberapa dari kita yang membenci mereka. Mana mungkin kita semua merayakan ulang tahun orang yang dibenci. Bukan mereka.”

Semakin bingung, mereka terus memikirkan dan mencari siapa itu Indonesia. Kesana-kemari mereka memalingkan wajahnya dan akhirnya pandangan mata mereka bertemu dengan rakyat Indonesia.

“Apa mungkin mereka? Sekelompok orang yang mana para pejabat sibuk dan misuh-misuh bahkan sampai kocar-kacir untuk mengurusnya. Mereka yang selalu berubah ke dalam wujud angka-angka statistik sebagai tolak ukur dari segala hal, dalam berpolitik, dalam bersosial, dalam berekonomi, dalam propaganda, dalam kampanye, dalam undang-undang, dalam anggaran belanja, dalam rencana pembangunan, dalam demonstrasi, dalam debat, dalam rapat, dalam kaleidoskop, dalam berita, dan lain-lain. Intinya nama mereka selalu didengung-dengungkan ketika berbicara tentang Indonesia. Tapi, tunggu dulu. Lihat mereka. Bukankah Indonesia ini seharusnya sudah merdeka? Lepas dari segala belenggu? Bebas dari pengaruh luar? Tidak menghamba pada kekuatan lain? Kawan-kawan, jelas sekali mereka bukan Indonesia yang kemerdekaannya sedang kita rayakan sekarang."

Semakin bingung, mereka akhirnya menjawab dengan apapun.

“Kalau begitu bendera merah putih? Lambang keberanian dan kesucian Indonesia. Tapi bendera hanyalah bendera. Hanya simbol belaka. Dikibarkan atau diinjak-injak, dia tetaplah kain. Dia hanyalah kartu nama, tanda pengenal, emblem dari Indonesia. Bukan Indonesia itu sendiri.”

“Pancasila? Dengan kelima-silanya yang tentu saja mencerminkan sebuah karakter dan nilai luhur. Ya, tapi Pancasila hanya kata-kata, tidak berwujud, Pancasila adalah mimpi kolektif di mana kita semua bersatu dan karenanya mengenal nasionalisme. Dia adalah sifat dari Indonesia, sampai kapanpun, tapi bukan Indonesia yang sedang kita bicarakan sekarang. Pancasila adalah moralitas Indonesia. Itu saja.”

“Para pahlawan yang telah gugur? Perjuangan mereka, tumpah darahnya, keringatnya, nyawanya. Mereka berperang untuk Indonesia, Indonesia, dan Indonesia. Mungkin mereka tahu siapa itu Indonesia. Tapi mereka ada di masa lalu. Indonesia tidak mungkin terus terikat dengan masa lalu.”

“Mungkinkah kita? Mungkinkah Indonesia ini adalah kita semua?”

“Tapi siapa kita? Siapakah kita yang hadir bersama-sama di perayaan ini? Apa yang menjadikan kita sama? Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua, apa yang menjadikan kita ini satu? Bendera kita? Pancasila? Masa lalu? Itu semua hanya perangkat identitas belaka, administratif, pengakuan di atas kertas, hanya bukti kewarganegaraan saja yang tidak menjamin apapun selain fakta-fakta de facto dan de jure. Kita punya satu bendera, satu Pancasila, tapi tetap saja kita tidak melamgkah menuju ke arah yang sama. Masing-masing dengan tujuannya masing-masing. Kita bicara tentang sama-sama membangun Indonesia, tapi Indonesia yang mana? Indonesia-nya siapa? Semuanya subjektif. Tidak ada yang sepaham. Kalau Indonesia adalah kita, berarti Indonesia adalah sekumpulan orang plin-plan yang kehilangan arah, tidak punya satu tujuan, tidak karuan, tidak jelas, dan oleh karenanya bingung dan tidak punya keyakinan.”

“Kita bahkan tidak yakin dengan apa yang telah atau sedang kita lakukan sebagai bagian dari persembahan terhadap Indonesia.”

“Ya, itu dia. Berarti bukan kita yang disebut Indonesia. Siapa atau apapun Indonesia ini haruslah sesuatu yang mempersatukan kita. Suatu tujuan atau cita-cita yang mengarahkan kita bersama-sama. Dan kita sudah diberikan modal yang paling besar untuk bisa melakukannya, yaitu kemerdekaan.”

“Tapi siapa dia? Apa dia?”

Para hadirin semakin bingung. Mencari-cari kesana-kemari. Ada yang mencari di dompetnya, di saku celananya, di saku kemeja dan jasnya, di dalam tasnya, di dalam sepatunya, di lubang hidungnya, di lubang telinga, di dalam mulut, dan bahkan ada yang sampai membuka celananya. Melihat semua itu, si anak tadi tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang nyaring dan renyah terdengar oleh semua orang. Sontak semuanya memandangi ekspresi senang muka anak itu.

Salah seorang di antara mereka menunjuk dan berkata:

“Itu dia!”

“Dia?”

“Itu dia!”

“Anak kecil itu? Kenapa?”

“Sekarang saya mengerti tentang apa yang tadi kalian bicarakan. Argumen demi argumen yang dikatakan tadi akhirnya berujung pada satu hal, bahwa Indonesia tidak ada di antara kita. Yang ada di antara kita adalah kemerdekaan, dan itu pula yang sedang kita rayakan ini. Bukan Indonesia. Karena Indonesia selalu berada di depan kita, bukan di masa lalu atau masa sekarang, tapi di masa depan dan selalu demikian adanya oleh karenanya tadi kalian bicara tentang arah, tujuan, dan cita-cita. Tentang sesuatu yang harus dituju. Tapi kemudian, muncul pertanyaan mengenai tujuan apa yang akan menggerakkan kita semua bersama-sama, seperti apakah rupa Indonesia yang membuat kita harus bersatu untuk menujunya? Apakah merah putih? Burung Garuda? Baju batik? Bukan, tentu saja bukan. Tapi dia. Anak kecil itu.
    Dia adalah masa depan, dia adalah Indonesia yang menjadi cita-cita dan tujuan kita semua. Lantas apa yang akan menyatukan kita? Merah putih? Burung Garuda? Baju batik? Bukan, tentu saja bukan. Tapi lihat dia. Lihat bagaimana ia tertawa. Lihat kebahagiaan yang polos itu. Itulah kawan-kawan, itulah tujuan kita. Merah putih, Pancasila, baju batik adalah perangkat dan konsep yang bias yang justru malah membuat kita bingung karena barangkali kita sudah kehilangan semangat untuk mengorbankan segalanya untuk itu semua. Nasionalisme adalah hal yang usang dan ketinggalan zaman. Tapi, pikirkan ini, bagaimana kalau kita semua bersatu untuk berjuang, mengerahkan tenaga, pikiran, dan do’a untuk dia, untuk anak-anak. Demi mempertahankan senyum yang terlukis di wajahnya itu. Lihat baik-baik senyumnya, itulah motivasi tiap tindakan kita nantinya. Kita yang menentukan apakah senyum itu akan tetap ada atau lenyap dari wajah anak-anak.
    Membentuk Indonesia, itu tugas kita. Indonesia adalah sebuah konsep tentang apa yang akan dilihat, dinikmati, diperoleh oleh anak-anak kita, calon anak-anak kita, keturunan kita. Kita diwarisi kemerdekaan, maka anak-anak kita harus mewarisi negara ini dari kita semua, kita yang harus membentuk negara ini untuk mereka karena jika tidak, mereka akan menjadi seperti kita, bingung dan hilang arah dan tak ada yang bisa menjawab apa itu Indonesia.
    Lakukan semuanya demi anak-anak, demi generasi selanjutnya, karena bila tidak, kita tidak akan pernah bisa memerdekakan diri kita sendiri dan tentu saja kitapun tidak bisa memerdekakan negara ini. Mulai sekarang lakukan semuanya untuk dia, karena dialah cita-cita luhur kita. Anak kecil. Generasi penerus. Masa depan bangsa. Merekalah wajah Indonesia yang akan datang, tinggal bagaimana kita membentuk dan menghiasnya. Merekalah Indonesia. Kita tidak mungkin membenci mereka atau tega membuat mereka menderita kan?”

Para hadirin terdiam. Mencoba mencerna tiap perkataan yang mereka dengar dari salah satu dari mereka. Anak itu pun terdiam karena ia pusing dengan kata-kata yang tidak ia mengerti itu. Semua orang di sana kini menatap anak itu secara berbarengan. Menatap wajah polos yang belum tergurat apapun selain rasa ingin tahu dan kesenangan. Menatap kanvas putih yang belum diwarnai apapun, apakah itu merah ataupun putih. Menatap bagian dari diri mereka yang masih sangat muda, segar, dan kecil. Menatap pancaran sinar matanya yang dengan lugas menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, dan imajinasi, serta harapan yang ditujukan pada mereka, di mana senyum akan terus merekah di wajahnya bila semuanya terwujud, namun bila tidak, air matanya akan dipertaruhkan.

Dan dari sini, para kerumunan itu berpikir di dalam kepalanya masing-masing, bahwa mereka adalah anak-anak yang dulunya menangis, bahwa bapak mereka pun begitu, dan kakek mereka, dan seterusnya. Merekalah generasi yang menangis.Dan mereka berpikir bahwa apa yang sedang mereka rayakan sekarang adalah kegagalan. Kegagalan yang diwariskan turun-temurun karena Indonesia tak pernah terjawab. Lalu sambil merujuk kepada anak kecil tadi, salah satu di antara mereka berbisik:

“Andai dia tahu. Untung saja dia tidak tahu.”

Senin, 25 Juli 2011

At the Airport of Subconscious


"Solitude is fine,
but you need someone to tell you that solitude is fine."

(Honore de Balzac)


What about a rocket? It can carry someone to outer space. Moon, Mars, the ring of Saturn, or even out of the Milky Way, those are the places you want to be, right?

Well those are exciting, surely are. But the question is, are you gonna go with me?

Umm, I don’t know. I’m not sure.
 
What is it?

I don’t know. I mean, well, it’ll be pretty something to be in it, to be there, to go flying around between stars and the likes. It’ll be fun to be in Star Wars, you know, to live in science fiction. That is crazy. But…

Yeah, but?

But I’d rather go someplace else.
 
Oh really? Like where?

Just someplace else. I often think about a land where everything is not correctly colored. Where the sky is not blue but rather pale purple or maybe dark yellow, if that sort of color does exist. Where the sea is transparent so everyone can see clearly what’s under it. Where the color of the grass always changes according to my mood. And the sun beams its ray just like the lighting tricks at a rock ‘n’ roll concert, it flickers, it spins like a disco, it highlights the soul y’know what I mean? And the color of the sun is silver. Yeah, I guess so. That’s where I intend to be. Do you get the picture?

Yes of course I do, more or less, yes. That’s splendid! Sounds so girly but it’s charming anyway. Sounds like Disney’s feature. I imagine there will be talking animals as well. Or winged people?

Winged people? No, not them, I’m not that kinda girl, y’know. Winged people sound silly, so do seven dwarves and fairy godmothers. Definitely out of my clouds. I don’t approve them. But talking animals are in. Animals are pretty and they deserve language to explain their feelings about anything.

Hmm, they’re gonna be a bit fussy, don’t you think? Merry, crowded, noisy. They might talk about us human, about how arrogant, deadly, dangerous, and reckless we are. And that’ll be a nonstop conversation among them.

What? Uncomfortable to you?

Yeah, the noises. My idea of an excursion is to get into some kind of tranquility where I can spoil my eyes with a series of extraordinary views and surroundings. You know, it’s all about “enjoying” and that’s that. I don’t want to be in a middle of a crowd, it happens all the time in my life; I just want a special term and condition.

Okay I got it. I’m reconsidering talking animals. Maybe I’ll put dogs. They’re familiar cute pets, people rarely do any harms to them so they won’t do any bad conversation in return. All dogs go to heaven, don't they? And then it has to be a lion, the wisest of all, the king, the bravest beast, a majestic creature. Look, I’m not gonna turn this place into a state of constitutional monarchy, but it’s just that I love lion, y’know what I mean? And then a herd of dolphins. They always smile and I guess it’s alright. Mmm… well, I’ll think about the rest of the animals later. So, what about this term and condition you were saying? Any detail?

Let me think. You know, I always dream of a place with a whole chance of defying gravity. Drifting away freely. A place full of lights, fully futuristic, and the air feels like mild menthol. I’d like to be on the sky and look down to the parade of colorful light dots.

So that’s where the idea of winged people came out.

Well― mmm… not really. I’m not talking about having a pair of wings.

Wouldn’t it be nicer if using a spaceship, or a jet, to fly?

That’s right! I was thinking about that in a flash. Flying man is overrated, a bit boring. You know what, I’m thinking about a zeppelin or a gas balloon, a big one! That’s how I’ll beat the gravity.

Sounds better!

Okay. I have to be specific right now. So this place has buildings in gothic architecture with meticulous design, and they’re not in monochrome as always, they have some colors that glow in the dark. The ground can glow too; if we step on it then it will partly glow in particular colors, depends on what mood we’re in. The stars are alight in the sky, bright silver of whimsical forms arranged in tidy constellation. The moon moves in circle, revolves around the land. Fireflies spark their electricity; they look like a wave of laser beam dancing through town, so eccentric. The trees sparkle. Traffic signs sparkle. Road markings sparkle. Sculptures sparkle. Towers sparkle. The place is shining. The place is shining to cover the darkness it’s in. And that’s the way it’s gonna be.

That’s far out, man. Cruising over a shiny town in a motorized bubble. Wherever the wind blows, it won’t ever be a dull moment of sightseeing.

Exactly!

Nice! Well, you know, there are something sparkling too in my place. Mushrooms! Big mushrooms! They are transparent, like crystals; they are blue, like sapphires. Sunray radiates toward them, makes them produce several light sticks like the one from a lighthouse y’know what I mean? And then the clouds fly low. Pastel-pink-colored clouds in which I’m tangled. The air is colored in pastels too, any colors you like except black, white, and grey; that’s too much black, white, and grey in our world, isn’t it? A bit boring isn’t it?

Yeah, right. I agree. But hey, at last you mention “pink”; it won’t be complete without that color, will it? All in all, your place is so inviting and inciting. I’d like to be there.

I’d like to be in your place too, will it be too crowded if I join in?

No, no. From the beginning, it was designed to be occupied by only two people. Only two. So you are very welcome.

Ah, that’s about the same with mine. So then, when and where and who to go first?

It’s up to you.

I can’t decide, you do.

Hmm, okay. Look, there’s a sun in your place and there are stars in mine. So it’s easy, I go to yours when it’s day, and in the night you can go to mine. How about that?

Brilliant. Let’s do it now. Come to my place.

Right! Now? How?

Yes, now! Just step into my head. Come on, jump in!

Wait a minute. I guess it’ll be more interesting if we go by riding something?

Do you think so?

Yeah.

Alright then, what about a rocket?