Minggu, 30 Agustus 2009

Afterglory

"I've been lost, I've been found, But I don't feel down."
(Half The World Away, Oasis)
Half the World Away
How can be this subtle moment and voice vanished from the wide ocean of Rock 'n' Roll?
Swallowed by a bigger, wilder wave. Eaten by a larger fish with whom he shared a life together.
But God knows, he who is destined to Live Forever will find another shelter to start over.

I Read the News Today, Oh Boy!

"As They Took His Soul,They Stole His Pride."

(Cast No Shadow, Oasis)



Basically, I would consider it as “a flower of my dreams” when on the last couple of days, including this shiny morning, I have dreamed of being around with Noel and Liam Gallagher (of Oasis). I don’t quite remember what I did there with them but of course it gave me some moment while I woke up and walked on a flashback that it was Noel and Liam I just dreamed of. And then, the internet gives me the meaning. Quite an ironic for that’s only in a dream maybe I can see them together again as from what Noel wrote on the official page of the band, he seems very serious about this.


"As of last Friday the 28th August, I have been forced to leave the Manchester rock'n'roll pop group Oasis. The details are not important and of too great a number to list. But I feel you have the right to know that the level of verbal and violent intimidation towards me, my family, friends and comrades has become intolerable.


“And the lack of support and understanding from my management and band mates has left me with no other option than to get me cape and seek pastures new


"It's with some sadness and great relief to tell you that I quit Oasis tonight People will write and say what they like, but I simply could not go on working with Liam a day longer.


“The last 18 years have been truly, truly amazing (and I hate that word, but today is the one time I'll deem it appropriate). A dream come true. I take with me glorious memories.


“Now, if you'll excuse me I have a family and a football team to indulge. I'll see you somewhere down the road. It's been a fuckin' pleasure.”


As a fan, of course it is shocking. It turns the morning into a shitty afternoon. I don’t know what happened with them but I just can tell that without Noel in the band, they won’t be the same again, not a bit. I admire Noel the most for he’s the brain and apparently a genius songwriter that really puts his best into music. Rock n roll music has so much credit of his name especially back in the 90’s.


It’s always the same old story that it was a fight under the name of sibling rivalry. A day before Noel wrote the statement, singer Amy MacDonald wrote on her Twitter: “Oasis cancelled again with one minute to stage time! Liam smashed Noel's guitar, huuuge fight!" It’s not the first time Noel left the band, but this is the first time that he did it officially (I don’t know why I hate Liam now more than ever!). God only know what’s gonna happen next.


I just hope for the best, to Noel and the band. So if this is really the end I’d like to say thank you very much Noel for the all the songs you sang and played, you have no idea what they really mean to my life, thank you, thank’s a lot. I just say that my heart always sings the same tune for you: ‘Don’t Go Away’.


Live Forever!

Kamis, 27 Agustus 2009

Kosmetika

"It is amazing how complete is the delusion that beauty is goodness."

(Leo Tolstoy)

Citra. Entah kenapa kata tersebut sekarang sepertinya telah terpatri di kepala kebanyakan orang. Tercetak di bagian otak yang mengendalikan gerak-gerik. Menjelma sebagai neurotransmitter yang ditransfer oleh syaraf-syaraf dalam tubuh. Mengalir dalam cairan darah yang menopang hidup manusia. Citra menjadi bagian dari hidup. Citra adalah pilot, arsitek, dan sutradara. Citra adalah sebuah panggung besar di mana orang-orang berlomba untuk berdiri di bawah lampu sorot. Citra adalah pantulan bayangan di balik cermin. Citra adalah sebuah identitas. Citra adalah nama. Citra adalah karakter. Citra adalah kita. Tak peduli seberapa palsunya.

Bicara mengenai citra adalah tidak lagi berputar-putar di ranah reputasi, potensi, dan pencapaian seseorang melainkan telah dipersempit dalam area “luar’ yang menyelimuti, membungkus, dan menutupi manusia. Semuanya berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya kasat mata. Citra seseorang bukan lagi sesuatu yang tersimpan di dalam diri tapi menjadi sebuah konsep artifisial yang bentuknya dapat dirancang, direncanakan, dan dibentuk sedemikian rupa sesuka hati. Jadi ini bukanlah sebuah “produk” dari proses melainkan citra telah mewujud dalam rupa dan hanya dipahami secara demikian. Lagipula, di era instan seperti sekarang, apalah artinya sebuah proses?

Ambillah contoh tayangan iklan, yang tentu saja mewakili produk tertentu. Pada hakikatnya, iklan merupakan media promosi atau perkenalan suatu produk, namun di samping itu iklan juga ternyata memiliki kekuatan yang sifatnya mempengaruhi dengan gencar mengingat frekuensinya yang besar. Dan lewat iklan-iklan inilah secara tidak sadar manusia telah digerakkan untuk mengejar suatu sosok atau citra yang didasari pada fitur atau keunggulan produk tersebut. Sesuatu yang tidak lebih dari sekedar ilusi.

Saya ingin membahas mengenai kecantikan (tentu saja ini mengenai perempuan, tanpa mengurangi rasa hormat atau merendahkan mahluk tersebut) dan bagaimana iklan telah meredefinisi maknanya. Iklan shampoo menyatakan bahwa kecantikan adalah rambut yang panjang terurai, lembut, dan berkilauan. Iklan sabun membawa pengertian pada kecantikan sebagai kulit yang halus dan menawan. Iklan kosmetik dan produk perawatan lainnya menegaskan bahwa wanita cantik haruslah memiliki kulit putih bersih, tanpa kerutan sedikitpun, tubuh langsing, barisan gigi yang mengkilat, dan tentu saja awet muda sepanjang masa. Produk pakaian dalam pembesar dan pembentuk payudara seakan mempropagandakan bagian tubuh di mana harga diri perempuan terletak.

Hasilnya bisa dilihat bagaimana itu semua mempengaruhi isi kepala perempuan. Mall-mall telah menjadi arena kontes miss universe yang tak berkesudahan. Kecantikan menjadi sebuah tema yang terus dilombakan oleh banyak perempuan. Tidak hanya produk namun perempuan juga ikut berkompetisi dengan sesamanya. Pencitraan mereka melekat pada produk-produk yang digunakan berdasarkan pada skill berdandan yang terus diperbaharui. Kondisi ini kebanyakan memakan korban para gadis-gadis muda di usia remaja yang tanggung namun tidak menutup kemungkinan mereka akan terus berpegang pada “ideologi” ini sampai tua. “Ideologi” yang mensyaratkan bahwa perempuan haruslah menjadi cantik.

Tentu saja kecantikan bukanlah suatu hal yang buruk. Saya percaya kecantikan merupakan kodrat spesial yang diberikan Tuhan kepada setiap perempuan. Oleh karenanya kecantikan bukanlah sebuah keharusan ataupun tuntutan bagi perempuan melainkan sebuah kelebihan yang sudah ada sejak lahir. Mereka bahkan tidak perlu bersusah payah untuk menonjolkannya atau bahkan menciptakannya sendiri, namun cukuplah menjadi dirinya sendiri sehingga semuanya akan terjadi secara wajar dan dalam porsi yang tepat. Yang menjadi masalah adalah ketika mereka mulai terobsesi dengan kecantikan dan berusaha untuk menampilkannya sepanjang waktu. Pulasan kosmetik justru menutupi kecantikan yang sebenarnya.

Iklan-iklan produk kecantikan telah menjadi semacam boomerang bagi perempuan. Coba kembali kepada isu gender atau emansipasi di mana perempuan selalu berada di posisi kedua dalam lingkungan sosial. Saya rasa hal tersebut takkan terjadi kalau sebagian besar potensi perempuan tidak disalurkan untuk memandangi cermin. Mungkin ada benarnya untuk mempercayai bahwa iklan kecantikan adalah senjata yang diluncurkan dalam meredam gelombang feminisme. Di tahun 70-an perempuan telah mendapatkan kedudukannya di bawah genderrang feminisme yang mereka tabuh. Mereka mulai dihargai ,dihormati, disegani karena potensi diri yang tak kalah hebat dengan kaum lelaki. Namun sekarang, produk-produk kecantikan telah memindahkan sebagian besar perempuan dari meja kerja menuju ke meja riasnya masing-masing. Ironi ini semakin bergelombang ketika para model dan selebritis secara tak sadar ikut “mendukung” proses tersebut.

Sudah selayaknya para perempuan bangkit dan mengganti paradigma mereka. Merubah kiblat mereka dari Kate Moss ke J.K. Rowling (walaupun saya tidak membaca seri Harry Potter tapi apa yang ia capai sampai sekarang merupakan sebuah inspirasi), dari Paris Hilton ke Sofia Coppola, dari Britney Spears ke Bjork, agar mereka tidak hanya terlihat sebagai “budak-budak” produk melainkan eksis dalam karya-karya. Perempuan harus mulai bisa menghargai hidupnya bukan untuk terus menghiasi fisik mereka. Perempuan sebaiknya mampu menyalurkan kecantikan yang ia punya dalam bentuk produktifitas yang bermanfaat bukan hanya menunjukkannya di depan umum hanya demi melihat air liur laki-laki menetes membasahi jenggotnya.

Rabu, 19 Agustus 2009

Literatur

"The More You READ. The More Things You Will KNOW
The More You Will LEARN. The More Place You Will GO."



(Dr. Seuss)


Buku-buku yang harus diselamatkan seandainya kamar saya terbakar:
Fiksi

1. The Catcher in the Rye (J.D. Salinger)

Agak bingung untuk mendefinifikan isi cerita di dalam buku ini. Yang pasti novel ini terlalu singkat untuk disebut novel petualangan, terlalu aneh untuk disebut novel remaja, terlalu berlebihan untuk menyebutnya novel pencerahan, dan bahkan sebagai karya sastra pun novel ini tampak keluar jalur, atau bisa dibilang, terlalu asyik sendiri. Oleh karenanya saya cenderung suka menyebutnya sebagai novel "tentang sesuatu secara apa adanya". Holden Caulfield dikeluarkan dari sekolahnya dan salam perpisahannya ('sleep tight ya morons!') membawa dirinya ke dunia kecil di New York yang dari kedua matanya tampak jelas apa yang dinamakan kepalsuan dan bagaimana orang-orang bersikap terhadapnya. Holden bukanlah seorang yang penuh kebijaksanaan dalam menjalani hidup yang nantinya akan memberikan semacam 'petuah-petuah' tentang makna hidup. Holden hanyalah seorang remaja yang muak, gelisah, pemberontak yang berusaha melewati hari-hari sebelum natal dengan normal dan 'petualangan'-nya ini membawa saya kepada semacam perenungan mengenai apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan dalam keseharian yang penuh dengan berbagai jenis manusia. Narasi yang disampaikan Holden sepanjang novel mengalir dengan begitu bebas dan sekaligus mendatangkan kesan bahwa ternyata hidup ini penuh dengan komedi. Tiap paragraf dari novel ini memang tidak lepas dari caci-maki serta hinaan, tapi tidak terlalu sulit untuk selanjutnya menerima bahwa itulah hidup kita sejujurnya.

2. To Kill a Mockingbird (Harper Lee)
Kekuatan dari novel ini adalah penggunaan sudut pandang seorang anak kecil yang polos dan lugas untuk suatu topik yang sangat serius yaitu mengenai prasangka. Hal ini sekaligus memberikan dalih sarkastis bahwa prasangka adalah sesuatu yang sifatnya kekanak-kanakkan. Scout dan Jem Finch bersama dengan ayah mereka yang tampak bagi saya tanpa cela, Atticus Finch, merupakan karakter-karakter yang patut untuk dikenang lewat dialog-dialog cerdas dan naif yang menyertai tiap peristiwa di sekitar mereka. Ketiganya merupakan sosok yang dibesarkan dan dibentuk oleh 'kehidupan' dan inilah prinsip yang saya tangkap dari seorang Atticus Finch sebagai seorang ayah bahwa ia tidak pernah menggurui anaknya melainkan membiarkan mereka berbaur dengan kehidupan, melihat, bertanya, lalu belajar darinya (sekolah terbaik adalah hidup). Novel ini adalah proses pembelajaran dari sosok 'anak kecil' (penghakiman terhadap segala sesuatu secara sepihak) menuju 'kedewasaan' yang bijak (kemampuan untuk menilai) bahwa siapapun takkan bisa pernah bisa memahami orang lain sebelum melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya. Isu rasialis yang menjadi pusat dari novel ini menambah muatan cerita ke arah hak asasi manusia sekaligus memberikan pandangan bahwa kepercayaan mayoritas tidak memiliki kekuatan apa-apa di depan mata kebenaran.

3. The Unbearable Lightness of Being (Milan Kundera)

Awalnya saya merasa agak skeptis ketika mengetahui bahwa novel ini mengangkat tema percintaan, sebuah tema yang sudah sangat mubazir. Namun ketika membacanya ternyata buku ini masuk lebih ke dalam lagi daripada sekedar percintaan antar manusia. Ini bukanlah tentang hal-hal manis romantis atau kisah-kisah patah hati melankolis, melainkan cinta yang diangkat secara lebih dewasa sebagai petualangan jiwa yang serius. Karakter-karakter tokoh sentralnya (Tomas, Tereza, Sabina) sepanjang cerita mengalami pergulatan batin yang memberikan saya sebuah hipotesis bahwa manusia dalam kondisi normalnya adalah mahluk yang kesepian dan segala sesuatu yang dilakukan merupakan upaya untuk mengatasinya. Sepanjang cerita saya seperti diajak bertamasya mengunjungi isi kepala setiap tokoh lalu bergumul ke dalam perspektif mereka yang unik, kuat, menghantui, dan provokatif. Milan Kundera telah berhasil menyempurnakan gaya narasi Leo Tolstoy sehingga saya yang membacanya seakan ikut menyelam ke dalam lautan meditasi tiap tokohnya dan mendapatkan kesan bahwa cinta ternyata terlalu dangkal bila hanya sebatas perasaan saling menyukai.

Non Fiksi

1. Summerhill School (A.S. Neil)

Summerhill School merupakan sebuah sekolah alternatif yang dicetuskan oleh A.S. Neill dengan berlandaskan pada prinsip yang terbilang berani, yaitu kebebasan, kebebasan sepenuhnya kepada anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Siswa-siswi sekolah ini bebas bermain-main sepanjang waktu, boleh ikut mangkir dari pelajaran-pelajaran yang ditawarkan sekolah, dan bebas memilih pelajaran yang mereka inginkan. Hasilnya? Mereka tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang kritis, kreatif, mandiri, bebas, bahagia, dan bahkan disiplin. Summerhill merupakan sebuah kritik terhadap sekolah-sekolah konvensional yang cenderung melupakan kodrat manusia sebagai mahluk yang selalu ingin tahu dan menggantinya dengan menjejalkan teori-teori ilmu pengetahuan yang menyetir para muridnya untuk selalu berada di dalam dunia sempit akademis. Buku ini berisi tentang pandangan revolusioner Neill terhadap dunia pendidikan yang dipraktikkan di sekolah yang didirikan sejak tahun 1921 dan berhasil membuat saya iri sekaligus merasa bahwa konsep tersebut sangat pantas untuk diterapkan di dunia pendidikan negara ini yang sekarang telah bertransformasi ke bentuknya yang parah: komersialisasi. Summerhill adalah sekolah yang mengambil pandangan bahwa kebrhasilan sebuah sekolah mesti dinilai dari kebahagiaan para muridnya bukan dari kesuksesan akademisnya.

2. Lifestyle Ecstasy

Buku kumpulan catatan dari 22 penulis ini menyoroti secara tegas dan kritis perkembangan kebudayaan pop dalam masyarakat Indonesia. Isinya menelusuri seputar gaya hidup sekitar kita yang lebih mementingkan keindahan ‘tampilan luar’ dan mengagungkan konsep pencitraan dibandingkan dengan nilai intrinsik dan potensi yang dimilikinya. Saya tersadar ketika membacanya bahwa memang masyarakat Indonesia secara pelan-pelan merusak ‘dirinya’ dengan menganut mitologi gaya hidup yang menghasilkan pribadi-pribadi konsumtif yang mengatas-namakan prestise sebagai motivasi hidup. Para penulis berhasil memaparkan fenomena ini dari berbagai sudut pandang yang menyentuh bidang-bidang industri, hiburan, teknologi, fashion, media, dan budaya simbolik yang menyiratkan bahwa mayoritas orang selama ini telah dikonstruksi oleh dunia luar dalam menemukan esensi kepribadiannya. Saya tercengang dengan isi dari buku ini bahwa dengan demikian manusia selama ini merupakan hasil rekayasa dari produk-produk yang melekat pada dirinya. Ini adalah buku yang bersifat mencerahkan, memberikan pemahaman, memperluas cakrawala sementara batin kita terus terpancing di setiap lembarnya untuk bertanya pada diri sendiri mengenai identitas kita sebagai seorang manusia.

Biografi/Memoar


1. The Motorcycle Diaries (Ernesto Guevara)

Sebuah petualangan, perjalanan, pencarian jati diri, sebuah pengembaraan luar biasa yang mengungkapkan identitas Amerika Latin oleh dua orang pemuda yang mengawalinya hanya untuk ‘gagah-gagahan’ sampai akhirnya mengubah jalan hidup mereka dan melahirkan cikal-bakal petualangan yang lebih besar lagi: revolusi. Ernesto ‘Che’ Guevara dan Alberto Granado adalah mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang berhasrat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan yang didapatkannya di sebuah koloni Lepra di Peru dengan hanya mengendarai sebuah motor bernama La Poderosa II. Walaupun akhirnya motor tersebut rusak di awal petualangan, tetap saja tidak menghalangi mereka untuk melihat dan merasakan sendiri kondisi Amerika Latin yang telah ‘dirampas’ jiwanya oleh kekuatan kapitalisme asing. Che menulis tiap catatan di dalam buku ini dengan narasi yang memukau dan bahkan filosofis. Sebagai seorang pribadi muda, sepanjang perjalanan ia menunjukkan karakter sebagai manusia yang melankolis, kritis, mengharukan, simpatik, dan secara tak terduga juga kocak luar biasa. Apa yang dilakukan Che dan Alberto merupakan suatu inspirasi bagi orang banyak bahwa perubahan takkan berhasil sebelum mengetahui secara langsung di bagian mana perubahan itu harus dilangsungkan.

2. Heavier Than Heaven (Charles R. Cross)

Kebanyakan orang mungkin hanya melihat sosok Kurt Cobain sebagai seorang rockstar jenius yang memberontak lewat musiknya yang keras dan menghentak dunia rock ‘n’ roll di awal 90-an yang sekaligus menandai munculnya era generasi baru (Generation X). Namun buku ini menyiratkan sisi lain dari Kurt sebagai seorang anak pemalu yang penuh dengan emosi dan bakat luar biasa dalam sisi artistik dan juga musikal dengan berbagai masalah yang mendera hidupnya sampai akhirnya berujung pada bunuh diri yang ia lakukan di dalam rumahnya. Untuk ukuran orang yang sangat populer, Kurt justru berjuang sepanjang karirnya untuk menolak hal tersebut karena sampai kapanpun ia tidak pernah bisa melihat dirinya sebagai seorang idola yang dipuja-puja para fans-nya. Perkenalannya dengan heroin dimulai dari keinginannya untuk mengatasi rasa sakit tak terelakkan di perutnya dan berlanjut kepada kecenderungannya untuk mengatasi tekanan ketenaran yang begitu besar di pundaknya. Kurt adalah seorang yang mencurahkan hidupnya lewat musik yang akhirnya kesulitan untuk menghadapi dirinya sendiri (‘I hate myself and I want to die’). Biografi ini mengungkapkan kisah hidupnya yang penuh lika-liku sebagai perjalanan panjang sifat kejujuran yang harus berhadapan dengan berbagai gelombang kemunafikan untuk akhirnya terbakar habis dalam kesepian.

3. Running with Scissors (Augusten Burroughs)

Memoar yang sangat unik, lucu, aneh, gila, kasar, mengejutkan, ekstrim, dan konyol dari kisah hidup seorang anak kecil biasa yang berada di dalam lingkaran lingkungan yang eksentrik. Ini merupakan humor gelap yang mengaburkan batas eksistensi hidup antara kenormalan dan kegilaan. Augusten kecil adalah seorang anak yang dibesarkan oleh ibunya yang labil untuk kemudian dititipkan kepada keluarga psikiater dengan karakter masing-masing anggota keluarganya yang membuat hari-harinya berjalan dalam gerak akrobatik. Ia tinggal di rumah keluarga yang percaya bahwa bentuk kotoran yang dibuang pagi hari di atas kloset sebagai pengganti ramalan zodiak di majalah, ia dan temannya melubangi atap rumah dengan gagang sapu karena dirasa terlalu rendah, ia diijinkan masuk ke rumah sakit jiwa selama beberapa hari oleh sang psikiater sebagai alasan untuk membolos sekolah, dan masih banyak lagi kejadian yang terjadi di luar nalar manusia biasa. Buku ini membuka pikiran saya bahwa menjadi normal adalah persepsi yang salah dalam bertahan hidup di dunia yang serba abstrak ini dan berpikir terbalik kadang adalah solusi yang diperlukan. Memoar ini adalah tentang pencarian jati diri yang dilakukan lewat perjalanan surealis yang menghibur.

Senin, 17 Agustus 2009

Theater

"I Love talking about nothing.
It's the only thing I know anything about."

(Oscar Wilde)
Bangun. Buka mata. Jalan kaki. “Yang kau lihat adalah yang kau dapat”. Kegilaan. Kesia-siaan. Dekadensi. Kemurungan. Dan orang-orang yang menari. Dunia sedang menghitung mundur. Peradaban sedang menghitung mundur. Tapi orang-orang masih menari. Meliuk, melompat-lompat, mengayunkan bokong di gereja mereka. Gereja baru di mana kubangan keringat lengket menutupi lantainya. Tanpa altar. Tanpa sakristi. Loncengnya pun tak pernah berdentang. Hanya bunyi-bunyian yang menyumbat otak. Menyumbat hingga ke akar-akarnya. Orang-orang menari sementara dunia sedang berusaha untuk tidak hanyut. Berpegang pada kayu yang beku. “Yang kaulihat adalah yang kau dapat.” Kapan para idiot itu akan berhenti?

Aku mual aku ingin muntah. “Buanglah sampah pada tempatnya.” Di sana yang kutemui remah-remah, sisa-sisa, tulang belulang, kotoran. Dihampiri lalat-lalat lapar. Menghisap mereka. Menghisap semuanya. Berjejalan mencicipi nanah-nanah kecabulan, kepolosan, kebanalan, kebodohan, dan buah pahit yang bernama ironi. Mau tahu tentang ironi? Ini adalah tentang sebuah tenaga, cita-cita, bahkan harapan yang sebelumnya telah membentuk kita sekarang. Mengajarkan kita bicara, mewarnai bendera kita, membelikan kita pakaian baru, lalu berteriak untuk kita hingga serak. Tapi apa yang terjadi hari ini? Lihatlah mereka dan kau akan bertanya-tanya siapa ibu mereka? Habiskan dan buang. Selalu habiskan dan buang. Tertawa dan bersenang-senang. Selalu tertawa dan bersenang-senang. Apa lagi yang masih tersisa? Lihatlah tempat sampah. Hidup tak lagi sama.

Perpustakaan ini terlihat begitu lengang. Dunia ini dibangun oleh konsep-konsep simbolis. Perpustakaan ini juga.. Bambu runcing. Orang-orang menyebut nama bambu runcing. Mengagungkan setinggi langit. Mensakralkan. Menimbulkan kesan heroik. Simbol perjuangan. Simbol perlawanan. Tak bisakah mereka menyebutkan nama lain yang lebih pantas daripada sekedar makanan rayap seperti itu? Dengan bambu runcing kita menjalani 3,5 abad penderitaan. Dengan bambu runcing kita diinjak bersama-sama dalam ketertundukan. Leluhur kita mati tergeletak di tanah karena berusaha menakuti musuh dengan bambu runcing. Sudah sejak lama kita mengasah bambu runcing diiringi doa. Sementara musuh mengasah otaknya diiringi taburan mesiu. Bahkan dari sejak awal kita telah kalah telak. Bambu runcing melambangkan segalanya. Kelemahan. Kekalahan. Ketertinggalan. Ketertutupan. Bambu runcing adalah simbol yang mendefinisikan kita di setiap pasang mata. Sebuah kepolosan yang lemah. Menemani kita selama 3,5 abad. Sampai akhirnya kita tahu cara menggunakan pena.

Berlayar dari pulau ke pulau. Mereka semua selalu duduk bersila. Menundukkan kepala. Berbisik. Mengatakan sesuatu entah pada siapa maksudnya. Pagi, siang, sore, dan malam. Bersujud dan bersujud. Padahal tanah mulai retak. Api berlari semakin cepat. Langit sebentar lagi runtuh. Air tak lagi ramah seperti dulu. Mereka hanya menangis, memohon, dan kadang berteriak. Keajaiban. Mukjizat. Pertolongan. Berkah. Kapan? Tuhan akan membereskan semua tapi kapan? Pernahkah terpikir oleh mereka bahwa pertanyaan seperti itu terdengar begitu menjengkelkan di telinga-Nya. Mungkin berikan mereka cermin. Cermin yang memantulkan bayangan kaki mereka. Tangan. Mulut. Mata. Telinga. Dan kepala. Atau bahkan wajah-wajah mereka yang elok. Apapun agar mereka berhenti merengek tentang Messiah. Ratu adil. Manusia unggul. Dan sebagainya.

Di seberang lautan tampak kerlap-kerlip lampu. Kembang api mekar di angkasa. Di sana tampak begitu bersinar. Di sinipun tak bisa mengelak dari pesonanya. Tangan-tangan menengadah, mencoba meraih tempat itu. Tapi tak ada yang bisa mencapainya. Tak ada yang bisa. Sebagian orang berbalik kembali di sini. Sebagian yang lain berusaha untuk menjadi yang di sana. Dan mereka terus memandangi tempat itu. Melepas pakaian mereka. Memulas wajah mereka. Mengganti sepatu mereka. Semuanya demi menjadi mereka yang ada di sana. Memeluk agama mereka. Berbicara dengan cara mereka. Melihat semua lewat kacamata mereka. Betapa mudah sekali semuanya luntur. Hilang diuapkan matahari. Padahal ini cuma gara-gara kerlap-kerlip lampu dan kembang api yang memanjakan mata. Dan lahirlah mereka yang menggerogoti diri sendiri. Perlahan-lahan namun berbahaya. Karena begitu tertular maka kau tak lagi seperti yang dikenal. Bola matamu takkan lagi hitam.

Luka hanya akan melebar dan membengkak. Semua yang rusak akan tetap seperti demikian. Semua hal akan terlihat bagus seberapa besarpun buruknya. Karena orang-orang akan selalu menari. Menemukan cara baru untuk menari. Menemukan musik baru untuk dinikmati. Menemukan kesenangan dalam menari. Semuanya akan pergi berbondong-bondong untuk menari. Sehingga hanya aku dan rumah sepiku ini berdua. Terkubur dalam kejamnya kesunyian. Dan dinginnya siang maupun malam. Maka aku mengakhiri hari dengan menutup mata sekali lagi. Bertanya, di manakah tempatku ini? Dan mengapa aku tak pernah merasa betah?